‘Arsitektur Waktu Luang dan Gaya Hidup Metropolis’

‘Arsitektur Waktu Luang dan Gaya Hidup Metropolis’

by Achmad D. Tardiyana*

”Work hard, play hard”.  Rasanya semakin sering kita mendengar istilah ini terutama diantara golongan menengah urban seperti Jakarta.  Golongan masyarakat ini di satu sisi semakin sibuk dan semakin keras bekerja, namun disisi  lain semakin intens juga melewatkan waktunya di berbagai fasilitas yang disediakan untuk mengakomodasi kesenangan mereka dalam menikmati hidup.  Pemanfaatan waktu luang ini tentu saja berkaitan dengan disposable income mereka yang semakin tinggi.  Dengan semakin tingginya pendapatan, maka semakin tinggi pula nilai uang yang bisa mereka  belanjakan.  Dengan demikian ‘waktu luang’ akan selalu diupayakan  untuk memenuhi gaya hidup tertentu yang berkaitan dengan pola konsumsi.  Waktu luang ini  adalah waktu yang dianggap berkualitas sebagai bagian dari proses  reproduksi sosial yang dilakukan secara spesifik melalui kegiatan yang menyenangkan di dalam sebuah fasilitas yang dirancang untuk memanjakan experience atau pegalaman.

Dalam satu dekade ini terjadi fenomena yang menarik dalam dunia arsitektur yang berkaitan dengan gaya hidup ini. Bisa dikatakan setelah krisis ekonomi tahun 1998, muncul berbagai fasilitas yang berkaitan dengan pemanjaan waktu luang melalui berbagai fasilitas seperti café, resto, spa, lounge, fitness centre, hotel butik dan sebagainya. Tapi bukankah fasilitas semacam itu telah ada jauh sebelumnya? Memang begitu, tapi fasilitas itu tidak berkembang secara kuantitas maupun kualitas seperti yang kita saksikan saat ini.  Bisa dikatakan café culture atau budaya nongkrong di café baru berkembang dalam satu dekade ini. Berbagai fasilitas ini telah berkembang sedemikian rupa dengan mengembangkan berbagai tema yang sangat spesifik untuk bisa masuk ke dalam persaingan usaha yang sangat  keras.  Namun seperti lazimnya sebuah dunia yang penuh persaingan, maka budaya arsitektur waktu luang ini telah menghasilkan eksplorasi-eksplorasi rancangan yang menarik agar selalu kompetitif.  Seperti yang dikatakan Virginia Postrel, seorang jurnalis budaya, kualitas mengenai “look” dan “feel” atau  kualitas sebuah rancangan dianggap mampu memberikan sebuah nilai lebih dan bisa dikatakan menjadi sebuah kebutuhan dari sebuah persaingan.  Dengan semakin tingginya tingkat persaingan diantara penyedia fasilitas gaya hidup semacam ini, maka  semakin tinggi kreativitas mereka dalam mengeksplorasi dan mengembangkan arsitektur waktu luang ini dengan menawarkan program dan suasana yang unik.

Masayarakat konsumer

Fenomena  ini tentu  tidak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat kita yang telah bergeser ke arah masyarakat konsumer. Masyarakat ini muncul sebagai konsekuensi logis perkembangan sistem kapitalisme  global yang telah mengalami metamorfosa. Masyarakat konsumer ditandai oleh bergesernya penekanan moda produksi kapital yang telah bergeser dari sistem yang berbasis produksi kearah konsumsi. Dengan berkembangnya gelombang ketiga ekonomi yang berbasis pada jasa, terjadi perubahan besar bagaimana masyarakat mengkonsumsi.  Tentu saja proses mengkonsumsi sudah terjadi saat perdaban manusia terbentuk, tapi kondisi masyarakat saat ini telah mencapai titik yang ekstrim dimana keberadaannya, disadari atau tidak, ditentukan oleh bagaimana mereka mengkonsumsi.  Konsumsi telah menjadi suatu proses penting penciptaan identitas.

Di awal abad 20, ahli sosiologi Georg Simmel dan Thorstein Veblen  menjelaskan bahwa konsumerisme muncul dalam sebuah proses dimana  seseorang  berusaha untuk berbeda dengan orang lain sehingga seseorang mampu mengekspresikan identitas sosial yang berbeda.  Gejala ini muncul sebagai respon terhadap kondisi yang menyeragamkan dari kekuatan mekanisasi dan teknologi yang didorong oleh industrialisasi selain implikasi dari urbanisasi. Kontras dengan pandangan Max Weber tentang pengendalian hasrat, masyarakat mulai mengkonsumsi sebagai moda utama dalam mengekspresikan diri. Konsumerisme menjadi bahasa umum dalam membaca dan menafsirkan tanda-tanda budaya. Pola ini mengalami percepatan pada paruh kedua abad dua puluh.  Hal ini sejalan dengan bergesernya negara kesejahteraan (welfare state) dimana negara memiliki peran yang besar dalam sistem ekonomi  kearah neo- liberalisme dimana swasta memegang peran yang sangat besat. Aspek-aspek yang tadinya banyak dikendalikan dan disediakan oleh negara seperti infrastruktur, pendidikan dan perumahan sekarang lebih banyak diserahkan ke dalam mekanisme pasar dan dikendalikan oleh swasta.  Dengan demikian proses komodifikasi berbagai aspek kehidupan kita saat ini semakin meluas.

Dengan hadirnya peran swasta yang sangat besar maka, usaha untuk melakukan berbagai simulasi melalui berbagai bentuk pencitraan agar masyarakat semakin selalu tergoda untuk mengkonsumsi semakin intensif.  Ini berkaitan dengan apa yang dikatakan Jean Baudrillard bahwa “the fundamental problem of contemporary capitalism is no longer production, but the contradiction between a virtually unlimited productivity and the need to dispose the product. It becomes vital for the system at this stage to control not only the mechanism of production, but also consumer demand”.  Kebutuhan golongan menengah metropolis  akan fasilitas waktu luang sejalan dengan proses yang dikatakan Baudrillard. Dengan semakin meningkatnya waktu yang digunakan golongan menengah urban dalam berbagai fasilitas waktu luang dan semakin tingginya tingkat kebutuhan kita pada fasilitas-faslitas itu, maka bisa dikatakan kita telah sepenuhnya berada di dalam sebuah masyarakat konsumer.

Namun kebutuhan untuk mengkonsumsi ini tidak datang begitu saja. Kebutuhan tersier ini sebetulnya merupakan sebuah proses simulasi dan pencitraan yang kompleks. Proses pencitraan ini memanfaatkan kecenderungan manusia dalam menyalurkan hasratnya. Hasrat manusia yang pada dasarnya bersifat imitatif, bahwa apa yang kita miliki paling pribadi dan personal, hasrat kita, tidak sepenuhnya milik kita: kita mengikuti hasrat orang lain.  Seperti yang dikatakan seorang pengamat sosial  “we want what others want, because they want it”.  Kita menginginkan gaya hidup tertentu karena teman sekantor kita melakukannya. Maka nonkronglah kita di Starbucks, walaupun kita bukan penikmat kopi atau sama sekali tidak peduli dengan rasa kopi. Kita nongkrong di tempat seperti itu karena itu sudah kita pilih menjadi gaya hidup.

Estetisasi kehidupan keseharian

Apabila hasrat kita untuk mengkonsumsi didasarkan pada kualitas penampilan obyek, maka segala sesuatu diangkat pada level estetik.  Oleh karena itu penampilan fisik seseorang menjadi sangat penting sehingga begitu banyak orang berusaha untuk mengubah penampilannya dengan berbagai cara. Jean Baudrillard menyebut cara-cara ini sebagai proses estetisasi. Maka apabila cara tadi dilakukan untuk menyempurnakan penampilan tubuh melalui  penataan rambut, operasi plastik, perbaikan gigi, manicure dan pedicure, pelangsingan tubuh dan sebagainya, maka tubuh telah mengalami proses estetisasi.  Istilah pria ‘metroseksual’ lahir dari proses estetisasi tubuh ini. Nilai seorang pria akan banyak ditentukan oleh citra yang ditampilkannya yang mendapat sentuhan salon, pakaian yang mengikuti trend terakhir, wangi dan licin.

Bagaimana proses estetisasi tubuh ini dikonsumsi tercermin pada bagaimana arsitektur merayakan ini. Fitness centre misalnya, bukan lagi menjadi fasilitas olah raga yang tempatnya tidak menarik dan  tertutup, tapi bisa berada ditengah-tengah shopping mall yang ditata sedemikian rupa secara transparan sehingga pengguna bisa menikmati suasana shopping mall dan sebaliknya pengunjung shopping mall bisa menikmati pengguna di dalam ruang kaca itu.  Pada level estetik ini pengalaman atau proses mengalami menjadi penting. Seperti pada kasus fitness centre diatas, semua proses bekegiatan di dalam fasilitas ini dimanipulasi sedemikian rupa menjadi sebuah rangkaian pengalaman  yang difasilitasi oleh serengkaian tata letak, komposisi bentuk, tekstur, material dan suasana tertentu.

Dengan demikian gaya hidup metropolis ini pada dasarnya adalah serangkaian kegiatan keseharian yang telah diangkat pada level estetik tertentu sehingga memiliki nilai dan gengsi tertentu pula. Dalam konteks ini proses meminum kopi telah diangkat menjadi sebuah pengelaman yang berbeda dengan hanya menyeruput kopi di rumah pada saat sarapan, tapi telah diletakkan dalam konstelasi sistem penanda yang berkaitan dengan identitas sosial. Proses minum kopi telah mengalami proses signifikasi yang menenempatkan pelakunya dalam status sosial tertentu.  Untuk menjadi bagian dari permainan penanda dan status sosial ini, para pelaku rela mengeluarkan biaya yang jauh lebih tinggi dari seharusnya harga secangkir kopi.  Nilai estetik yang menjadi bagian dari proses signifikasi ini ternyata memiliki harga yang sangat tinggi. Arsitektur memiliki peran yang sangat besar disini.

Arsitektur waktu luang

Arsitektur sebagai sebuah wadah kegiatan tentu saja mengalami perkembangan yang menarik dalam mengakomodasi gaya hidup metropolis ini.  Gaya hidup metropolis yang sangat mengandalkan pada suasana atau pengalaman memerlukan sebuah wadah yang memungkinkan pengalaman atau sensasi indrawi itu terjadi. Ruang, bentuk, tekstur, pencahayaan semuanya diarahkan untuk merangsang munculnya sebuah pengalaman yang unik. Oleh karena itu arsitektur menjadi sarana yang sangat penting dalam  mengangkat pengalaman pada tingkatan yang tinggi untuk mencapai suatu suasana tertentu.   Dalam konteks ini, arsitek didorong untuk menjadi semakin kreatif agar bisa menghasilkan suasana yang unik. Suasana ini bisa saja merupakan sesuatu yang futuristik, sesuatu yang mengingatkan pada kelompok etnik atau budaya tertentu.  Bahkan ada sebuah café yang mengembangkan tema bedroom, dimana para pelanggan  seakan-akan berada di diatas tempat tidur.

Saat ini fasilitas waktu luang yang berkembang paling gencar adalah cafe. Cafe  tidak saja menjadi fasilitas waktu luang tapi telah menjadi sarana bisnis dalam suasana yang lebih santai. Sebagian orang bahkan menjadikan cafe sebagai tempat untuk bekerja dsn mencari inspirasi.  Bisa dikatakan sebagian besar  golongan menengah metropolitan Jakarta melewatkan waktunya secara signifikan di fasilitas ini.

Budaya café menjadi salah satu fenomena dimana arsitektur dan rancangan interior memiliki peran yang sangat besar. Ditengah persaingan yang semakin tajam, kualitas rancangan menjadi salah satu faktor yang menentukan. Hal ini bisa kita perhatikan dalam perkembangan café saat ini yang terus berusaha untuk semakin inovatif dalam menawarkan suasana yang baru.  Café Lara Jonggrang di kawasan Menteng misalnya, merupakan sebuah upaya untuk menghadirkan kembali suasana Jawa kuna yang mistis dengan penggunaan elemen-elemen arkaik, penataan lighting yang sangat redup dan warna-warna yang cenderung berat.  Sementara ada café lain yang menawarkan suasana Maroko yang eksotis.  Secara arsitektural, cafe menawarkan demikian banyak kemungkinan suasana yang sangat menarik untuk dieksplorasi.

Kecenderungan lain yang menarik adalah kemampuan cafe dalam beradaptasi dengan bangunan historis. Bahkan beberapa cafe menawarkan suasana masa lalu dengan sentuhan baru ini sebagai daya tariknya. Cafe Batavia misalnya, menjadi contoh dari gelombang pertama budaya cafe pasca  krisis ekonomi yang memanfaatkan keberadaannya di dalam salah satu bangunan tertua di Jakarta  Kota. Kecenderungan yang sama  muncul pada beberapa cafe di kawasan Cikini Jakarta.  Saya kira ini adalah salah satu hal yang positif dari perkembangan cafe dimana suasana bangunan tua dan nostalgia yang ingin dibangun sejalan dengan usaha konservasi bangunan dan lingkungan.  Namun bisa dikatakan saat in, cafe lebih banyak bermunculan di shopping-mall. Cafe yang dikembangkan di dalam fasiltas ini lebih banyak merupakan gerai-gerai waralaba yang selalu berpenampilan sama dimana pun.

Fasilitas baru yang banyak bermunculan saat ini adalah lounge. Fasilitas ini merupakan perkembangan dari sebuah cafe atau kelab malam yang menawarkan suasana yang lebih santai dan suasana khusus. Pada fasilitas ini musik memegang peranan yang sangat besar sebagai elemen pembentuk suasana.  Karena suasana lebih santai yang ingin diciptakan, lounge lebih banyak menyediakan tempat duduk berupa sofa yang dibuat berkelompok.  Berbagai tema telah dikembangkan semata-mata untuk menciptakan keunikan sebuah pengalaman. Bahkan ada sebuah cafe dan lounge yang memperkenalkan tema tempat tidur sebagai suasana yang ingin dibangun.

Contoh lain yang menarik untuk diamati adalah toko buku.  Kita selama ini mengenal toko buku bukanlah tempat yang menarik untuk dikunjungi, kecuali oleh peminat buku.  Namun saat ini, kita bisa  melihat bagaimana sebuah toko buku menawarkan sebuah pengalaman yang tidak saja menarik penggemar buku tapi pelanggan lain yang lebih luas. Selain tata letak, display, pencahayaan, dan event-event khusus toko buku menawarkan suasana nyaman dengan menyediakan sofa bahkan  café.  Sehingga dengan kenyamanannya kadang-kadang orang tidak lagi menyediakan waktu secara khusus untuk berkunjung kesana tapi menjadi semacam gaya hidup melewatkan waktu luang. Syukur-syukur kalau menemukan buku yang menarik. Toko-toko buku yang berkaitan dengan gaya hidup biasanya merupakan gerai internasional atau yang secara signifikan menjual buku-buku penerbitan asing.  Saat ini beberapa toko buku lokal sudah mengarahkan pengembangan tokonya ke arah sana. Bahkan salah satu toko buku terbesar di Indonesia  yang selama ini dikenal hanya sebagai toko buku biasa bersedia utuk mengubah citranya agar bisa masuk ke sebuah shopping mall yang mensyaratkan toko bukunya diarahkan ke sebuah fasilitas gaya hidup.  Pada titik ini substansi rancangan mulai memainkan peranan yang sangat penting karena dia dituntut untuk mampu menciptakan sebentuk pengalaman yang tidak hanya mencari buku tapi sebuah pengelaman gaya hidup.

Fasilitas lain yang sedang mengalami booming adalah pusat-pusat perawatan tubuh berupa.  Fasilitas ini dibutuhkan sejalan dengan proses pencitraan tentang tubuh yang sempurna. Setelah dibujuk rayu melalui berbagai media, semakin banyak orang yang merasa perlu untuk membentuk tubuhnya sesuai dengan tubuh sempurna yang ditawarkan iklan. Tentu saja industri perbaikan penampilan ini merupakan bisnis yang sangat  besar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan fasilitas gaya hidup ini merupakan faktor pendorong berbagai inovasi asritektur. Dengan adanya keinginan untuk menghasilkan suasana yang sangat unik, arsitektur waktu luang mendorong arsitek dan perancang untuk mengembangkan kemampuannya untuk menghasilkan rancangan-rancangan cutting-edge yang inovatif. Pada kasus ini arsitek bisa memanfaatkannya sebagai sarana untuk mengembangkan berbagai kemungkinan penggunaan material dan eksplorasi ruang.

Gaya hidup urban dan ruang-ruang publik kita

“The body, landscape, time, all progressively disappear as scenes. And the same for public space: the theatre of the social and the theatre of politics are both reduced more and more to a large soft body with many heads. Advertising in its new dimension invades everything, as public space (the street, monument, market, scene) disappears. It realizes, or, if one prefers, it materializes in all its obscenity; it monopolizes public life in its exhibition… It is our only architecture today: great scenes on which are reflected atoms, particles, molecules in motion. Not a public scene or true public space but gigantic spaces of circulation, ventilation and ephemeral connections (Jean Baudrillard, “The Ecstasy of Communication”).

Gaya hidup golongan menengah perkotaan  memiliki potensi untuk menghidupkan ruang-ruang publik urban, namun di Jakarta  gaya hidup ini lebih terkonsentrasi di dalam bangunan-bangunan komersial seperti shopping mall. Perkembangan gaya hidup saat ini di kota-kota besar tampaknya belum banyak membawa dampak yang  positif pada ruang-ruang publik kota di Indonesia. Saat ini gaya hidup urban justru masih merupakan sebentuk pelarian dari kondisi ruang publik yang dianggap tidak nyaman dan tidak bersahabat. Kegiatan ini lebih banyak mengambil tempat di tempat-tempat privat dan tertutup seperti cafe dan mall yang tidak berkaitan langsung dengan ruang publik. Di kota besar seperti Jakarta misalnya, gaya hidup urban ini terjadi di mall-mall besar yang menjamur di berbagai bagian kota.  Hal ini salah satunya  diakibatkan oleh terjadinya kesenjangan ekonomi yang sangat jauh antara golongan masyarakat yang berada di ruang-ruang publik  yang didominasi oleh masyarakat golongan bawah dengan masyarakat golongan menengah keatas yang mampu membeli gaya hidup di dalam mall-mall itu. Berbeda dengan kota-kota Eropa, dimana budaya cafe sangat terikat dengan erat dengan ruang publik dimana sebagian besar kegiatan cafe misalnya selalu tumpah ke ruang-ruang publik. Di kota-kota tetangga kita di Singapura, Kuala Lumpur atau Bangkok  kita menemukan  contoh bagaimana gaya hidup urban ini bersinggungan dengan berbagai kegiatan lain  yang bersifat keseharian di ruang publik.

Gaya hidup metropolis di Jakarta, yang penuh dengan sofistikasi, tampaknya  hanya berhenti pada ruang-ruang privat, karena begitu memasuki ruang publik, pada saat mengendarai kendaraan misalnya, masyarakat kota dari hampir semua kalangan kembali dengan sikap yang tidak mencerminkan sikap urban yang seharusnya penuh dengan toleransi dengan  tidak menghiraukan  tata tertib dan peraturan. Saling  salip dan saling sodok dengan membunyikan klakson sekeras-kerasnya  menjadi pemandangan sehari-hari.

Di ruang-ruang publik terjadi juga berbagai gaya hidup keseharian yang penuh dengan perjuangan hanya untuk mendapatkan kesempatan hidup. Warung-warung kopi di kaki lima harus berebut tempat dengan pejalan kaki diatas ruang yang seadanya. Kecenderungan pembangunan kota yang sangat beorientasi pada pengembangan privat tidak disertai oleh visi pengembangan ruang publik memadai semakin mempertajam perbedaan gaya hidup keseharian sebagian besar masyarakat dengan ’gaya hidup’yang telah mengalami estetisasi yang hanya ditujukan  untuk dikonsumsi oleh golongan menengah keatas.

‘Tulisan pernah dimuat di Majalah Skala+’

*Pengajar pada Program Studi Arsitektur  dan Rancang Kota ITB

Associate Principal, PT Urbane Indonesia, Bandung

Merdeka untuk Merdesa

Merdeka untuk Merdesa:

Membaca Buku Teles & Buku Garing[1]

by :

Galih W. Pangarsa

FTUB Malang

galih.wp@gmail.com

Rumah adat Manggarai, Flores


Manusia dewasa sangatlah lemah-ringkih, jauh dari kemuliaannya, bila ia hidup-individual seorang diri. Arsitektur Nusantara yang sempat dewasa dan menyesuaikan diri dengan kekinian zaman pun pasti akan tetap peka dan ringkih ―kalau dipaksa menjadi individu ―karena, ia dikodratkan sebagai makhluk individu-sosial. Pasti akan tertanggalkan pula kemuliaannya. Ia tak lagi berharga, menderita, dan mati dalam hidup. Jika yang lalu mati, bisakah pengetahuan arsitektur yang dipelajar-didikan di kampus-kampus Indonesia mengetahui benih kehidupan jabang bayi Arsitektur Nusantara masa-depan, membidani kelahirannya, lalu menjaga kehidupan dan menumbuh-kembangkannya di atas asas yang tetap? Apa itu?

Arsitektur pernaungan nan iyup (melindung-naungi) ―yang hanya dapat melangsungkan hidupnya pada masyarakat yang berperikemanusiaan nan guyub (damai-rukun). Arsitektur sebagai wadah kehidupan individual dan kota selaku wadah kehidupan komunal merupakan satu continuum. Arsitektur pernaungan tak dapat hidup di perkotaan yang individualistik. Jika pernyataan itu dibalik, jelaslah masalah apa sebab terjadi proses pemunahan Arsitektur Nusantara: individualisme perkotaan yang makin tak memberi hak hidup lingkungan arsitektur pernaungan. Padahal alam Nusantara (tadinya) lebih dari layak sebagai pernaungan. “Indonesia adalah bocoran surga“, kata Kyai Bejo, Cak Nun alias budayawan Emha Ainun Najib. Saya sependapat. Sayang tak seberapa jumlah manusia di negeri ini yang dapat mensyukurinya.

Arsitektur: Aktifitas Spiritual -Intelektual Yang Terpadu

Lalu bagaimana keterpaduan antara kehidupan individu dan sosial pada Arsitektur Nusantara? Pada fenomena lokalitas atau kesetempatan yang memuat konsep kekinian, ada universalitas atau kesemestaan. Di sisi lain, pada universalitas atau kesemestaan yang mengandung konsep kelanggengan, ada fenomena lokalitas atau kesetempatan. Nilai-nilai kesemestaan tak dapat diterapkan tanpa penjabaran pada fenomena kesetempatan. Dalam kesepasangan prosesnya, fenomena kesetempatan tak akan punya arah penumbuh-kembangan yang tepat-bijak-pasti, tanpa pengkristalan pada nilai-nilai kesemestaan. Sama persis pada kehidupan manusia: tanpa spiritualitas, kehidupan intelektualnya keras-kasar-kering mengerontang; tanpa intelektualitas, kehidupan spiritualnya hanyalah hitam-khayal-imajinasi panjang.

Arsitektur Nusantara bagai mengikuti hukum alam dunia flora. Di masa lalu, ada banyak ragam bhineka Arsitektur Nusantara yang tumbuh dari biji buah tradisi. Ia menjadi pohon yang bisa identik, bisa pula luwes-sigap-selalu berjuang mengaktualisasikan dan menyesuaikan diri dengan keadaan lahan baru tempatnya tumbuh ―bahkan mampu menjadi bonsai sekali pun, jika lingkungannya tak mengijinkan ia tumbuh normal. Sekarang, tradisi arsitektur masa lalu Nusantara laksana daun kering atau dahan yang sudah nyaris mati lapuk. Tak ada lagi yang berbuah. Matikah ia? Tidak!

Dahan ranting daun kuning coklat tua segera lenyap fisiknya. Bukan hancur, tetapi menjadi zat hara di dalam tanah, esok lusa muncul kembali sebagai tunas muda jenis tanaman baru: sebuah proses open ending. Sebagai salah satu contoh saja, ada praksis dari Arsitek Eko Prawoto. Konsep lawasan dan detailing-nya ibarat himpunan dari remah-remah dahan-ranting-daun. Boleh juga diibaratkan himpunan dari serpihan-serpihan, sisa-sisa artifak peradaban arsitektur lokal (dalam kasusnya, umumnya adalah arsitektur rakyat Jawa) yang tadinya berhamburan. Agar lanjut, zat hara penghidup yang hakiki mesti ditemukan dahulu dan dirumus-tumbuhkan lanjut ke dalam konsep-konsep berkonteks kesetempatan dan kekinian. Apakah itu? Sifat dasar kemanusiaan. Energi fitrah ini ibarat zat hara ini tak dapat hancur dan berhenti hidup, mengikuti keberadaan manusia. Mengikuti kemanusiaan yang diwadahi alamnya.

Lokalitas Indonesia dengan keberagaman tradisi arsitektural di berbagai tataran, mulai dari filosofi, paradigma, teori, dan metoda, adalah sebuah modal-kekuatan yang luar biasa. Lokalitas itu bukan mesti didapat dengan mengedepan-utamakan “grand architecture“, arsitektur masyarakat kalangan atas seperti misalnya kraton —yang sudah terlanjur dianggap sebagai “ikon budaya Jawa“ sebagai satu-satunya pustaka bahan pelajaran.

Ada perpustakaan yang jauh lebih kaya koleksinya dan tak memerlukan kartu anggota apalagi membayar biaya meminjam bacaan: Arsitektur Nusantara. Dalam tradisi belajar orang Jawa, ada istilah buku garing (kering) dan buku teles (basah). Buku garing ialah tulisan (harafiah, cetakan-analog-digital) untuk manusia, buku teles adalah fenomena alam-semesta termasuk lingkungan binaan manusia (istilah Pak Josef: tanpa teks). Jika ditinjau lebih dalam, pada buku garing dan buku teles, masih ada ranah meta-empirik. Ada aksara dari suara, ada aksara dari bunyi. Suara berbeda dengan bunyi. Manakah yang mesti kita pelajari? Dengan alat apakah?

Saya cenderung mengatakan bahwa Arsitektur Nusantara adalah arsitektur masa depan, buah dari ilmu arsitektur yang juga berpihak kepada alam dengan adil, selain menjadi alat bagi manusia untuk memakmurkan dirinya. Ilmu yang menempati titik perimbangan sumbu horizontal-intelektual-lokalitas dan sumbu vertikal-spiritual-universalitas. Untuk tumbuh, ia hanya membutuhkan siraman air kebeningan ruhani dan ketajaman akal dengan gayung kegigihan dari perigi keuletan. Kebeningan ruhani dan ketajaman akal itulah alat baca buku teles dan buku garing sekaligus. Baik membaca mapun menulis arsitektur, keduanya adalah aktifitas ruhaniyah-spiritual dan akliyah-intelektual secara terpadu. Jangan mengharapkan Arsitektur Nusantara masa depan sama dengan masa lalu. Yang masa lalu tinggal remah-remah dahan-ranting-daun.

Jika Arsitektur Nusantara masa depan tersirami di sepanjang pematang dua sumbu universalitas-lokalitas, ia akan terus-menerus mengidentifikasikan jati-dirinya sesuai dengan dinamika waktu dan ruangnya. Ketepatan dalam tiap jengkal sumbu vertikal-horizontal dalam proses-menerus menemu-kenali diri itu akan mendudukan Arsitektur Nusantara sebagai persawahan arsitektur lokal, nasional, regional dan sekaligus mondial dengan tepat dan pasti ―tanpa kecanggungan apa pun untuk menumbuh-kembangkan rerumpunan padi kebudayaan dan bulir-bulir peradabannya yang makmur.

Kita akan menyaksikan bukan hanya peradaban arsitektur profan yang Nusantara. Tetapi juga arsitektur kelenteng-kelenteng yang Nusantara dan bukan kelenteng-kelenteng Fujian atau Guangdong; bukan vihara-vihara Chiangmai atau Yangoon tetapi vihara-vihara yang Nusantara; bukan candi-candi Orissa atau Angkor tetapi candi-candi yang Nusantara; bukan pura Bali atau pura Lombok Barat saja, tapi pura yang Nusantara. Juga, gereja-gereja dan kapel-kapel yang Nusantara dan bukan yang Eropa Timur atau Barat; masjid-masjid dan mushola-mushola yang Nusantara dan bukan Arab, bukan Turki, bukan Iran dan bukan pula yang India Moghul. Kita akan menyaksikan peradaban Nusantara yang kuat dan kokoh.

Namun Nusantara yang demikian itu bukan berarti Nusantara yang mesti mengganti semua ciri komunitas-ide-kosmologis lintas-regional. Ada bahasa konvensional-mondial yang dengan sangat santun tetap dihargainya untuk memelihara kehidupan bangsa-bangsa nan damai: stupa, meru, altar, lonceng, salib, kubah, minaret,… Nusantara menjadi tuan rumah yang santun sekaligus bijak. Yang kurang sesuai diterima dulu dengan sabar; yang telah sesuai diterima tidak denga tergesa, namn dengan syukur, sampai pada akhirnya semua dapat duduk santun-bersila bersama di atas tikar anyaman peradaban Nusantara nan bersahaja.

Lebih penting lagi, adalah ciri utama ketunggalan geografi-sosial-budaya Nusantara-nya: Luwes-terbuka dalam segala pengertian, setimbang individual-sosial namun penuh dinamika dalam pernaungan lingkungan hunian dan kota yang dibina bersama. Itulah kesamaan ciri Arsitektur Bangsa Nusantara yang multi-kultural.


Konservasi tanaman langka,

Kebun Raya Purwodadi.


Arsitektur Bangsa Nusantara

Inti dasar Arsitektur Bangsa Nusantara ialah arsitektur iyup-terlindung-naungi ruang lingkungan-pepohonan nan ijo royo-royo; arsitektur dalam lingkungan yang guyub-rukun-damai dengan rajutan ruang sosio-budaya nan adem-ayem-tenterem. Arsitektur Bangsa Nusantara hakikatnya arsitektur rakyat. Bukan dalam arti “sama-rata-sama-rasa“, tetapi

berfitrah jamak-majemuk ―yang tetap akan mengerucut menurut kodrat-ketetapannya. Bukan pula untuk menjadikan yang di atas sebagai berhala sesembahan bagi yang berposisi di bawahnya. Demikianlah, sehingga sebenarnya, tidak perlu debat nasional tentang nasionalisme dalam arsitektur di Indonesia. Yang diperlukan ialah membuktikan tumbuhnya rasa kemanusiaan ―spiritualitas yang dapat mengika-satu-padukan kebhinekaan ke arah meluhur-muliakan manusia. Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangruwa.

Untuk membangun kekokohan berbangsa itu, perbedaan-perbedaan keyakinan tak perlu diperuncing. Perlakukanlah persis seperti adicara perdesaan menyantap tumpeng: Bukan justru melanggengkan puncak tumpeng dengan medali atas prestasi starchitect dan gengsi starchitecture. Marilah kita potong puncaknya yang memang sudah bertamsil cabai merah-terbelah ―yang membuat perut siapa yang menyantapnya menjadi gerah. Puncak itu ialah nilai-nilai universalitas atau kesemestaan yang pasti berbeda-beda menurut setiap keyakinan tiap lokalitas-daerah-suku-ras-golongan-kaum-kelompok-komunitas-insan-individu warga-bangsa. Yang perlu dibina-bersama dengan sikap saling memberi berasas belas kasih dan kemudian didaya-manfaatkan untuk memperkuat sifat memberi daripada meminta, ialah bagian bawah yang penuh lauk-pauk. Itulah jatah rakyat. Rakyat bangsa tumpeng yang suka damai saling harga-menghargai, saling selamat-menyelamatkan, saling hidup-menghidupi. Itulah rakyat Bangsa Nusantara.


Generasi muda, merekalah pemilik masa depan bangsa.

Bocah-bocah desa, Sikka

Sayangnya, terlalu banyak pemimpin yang lalai jika bagian atas itu mesti dipotong dan alpa pula bahwa yang dipimpin adalah rakyat berkebhinekaan sangat tinggi. Ia khilaf bahwa puncak tumpeng yang lancip-bertelur adalah peringatan agar tak sedetik pun ia boleh lengah. Pemimpin memang bagai telur di ujung tanduk kewaspadaan berujung sangat tajam: penuntutan tanggung-jawab atas apa-dan-siapa yang dipimpin. Sungguh sangat disayangkan, jika ada yang bertahun-tahun justru memberi contoh untuk merompak tandas segala kemakmuran lauk-pauk tumpeng kehidupan berbangsa itu ke bagian atas ―dengan selera perut yang terlanjur terbakar gerah cabai merah. Pada batas ketahanan alamiahnya, tumpeng itu pasti roboh-hancur dalam hitungan menit, tanpa seorang pakar politik pun sanggup memprediksi sebelumnya. Bukankah itu sudah (berkali-kali) terjadi?

Arsitektur Bangsa Nusantara yang mengutamakan keadilan, kedamai-tentraman, keselaras-serasian hidup bersama antarmanusia dan antara manusia dengan masyarakat-alam“[2] hanya akan lahir lewat prasyarat. Lewat jiwa kemanusiaan nan halus-lembut penuh belas-kasih. Lewat jari-jari ruhani yang cekatan tak kenal lelah menyiapkan gelaran tikar kebangsaan yang bersahaja, dan merupakan anyaman segala kebhinekaan. Lewat daya juang yang membebaskannya untuk memancarkan keluhuran nilai-nilai kesemestaan. Indonesia-nya jiwa kemanusiaan dan jemari ruhani yang kedengaran senyap itu, sebetulnya berdaya-ketenagaan sangat dahsyat. Bukan hanya menyangkut arsitektur saja. Tetapi menyangkut pengembalian harkat kemanusiaan semua Bangsa Nusantara. Bunyinya luas-berdentang-gema, membangunkan juang sekalian anak negeri memerangi gelap hidup budaya bangsa: merdeka!

Merdeka untuk merdesa[3].


[1] Muatan tulisan ini diambil dari Pangarsa, 2008, Arsitektur untuk Kemanusiaan. Teropong Visual Culture atas Karya-karya Eko Prawoto, Lanas Wastu Grafika, Surabaya, khususnya bagian kesimpulan. Tulisan ini disajikan untuk Diskusi “Implementasi Kearifan Lokal Menuju Arsitektur Berkelanjutan”, 12 Agustus 2008, Jurusan Arsitektur UNS, Surakarta. Juga terbit di http://arsiteknusantarawacana.blogspot.com/

[2] Pangarsa, 2006. Merah-Putih Arsitektur Nusantara, Andi, Jogjakarta, h 26

[3] Merdesa, artinya layak, patut, beradab (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1988). Merdeka dengan penuh perjuangan untuk meraih kembali nuansa hidup berperi-keadaban yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan. Terimakasih kepada Ki Bimo (Bimurwoto B. Gutama, aktifis Dialog Sosial-Budaya, Malang) yang mengingatkan kembali istilah merdesa tersebut kepada saya.

keribetan

by Gacanti Swastika

bingung.
mau lulus jadi apa.
3 tahun kuliah hampir berlalu begitu aja (apa karna gw yang bego ya) tanpa ngedapetin apa-apa.
keribetan jadi mahasiswa tingkat akhir : gak punya cukup modal buat jalan sendiri. jalan sendiri, dilepas, ngurus ini dan itu, ya ampuuunn.
tugas belom ada apa-apanya, bahkan sampe skg belum pernah menghadapi klien, gimana caranya, prakteknya. gw mabok teori. tiap hari ke kampus disisipin teori ini dan itu. sebagai mahasiswa yang baik ya ngikutin aturan main. kan yang punya kampus bukan gw..

5 orang. ngobrol. cewe-cewe.
gw : “lo lulus mau jadi apa?”
judith : “boim mah mau jadi pns…”
anak-anak : “hahahahaha….” (tertawa)

gw : “apa iya gw jadi pns ya?” (desperately asking desperate question)
anak-anak : “hahaha” (ketawa lagi lebih miris)

masuk kelas. setelah hampir 3 jam di studio dan selesai makan siang sambil gosip.
asisten masuk kelas.
gw : “pak ini akhirnya saya bikin solusi ini buat bangunan saya…”
asdos : “……” (ekspresi datar)
gw : “…….” (kebingungan)
asdos banyak bicara soal : ekonomis, praktis, respon tapak, tangga kebakaran.

………….. (hening)
ngerjain lagi.

ada yang missing.

ada yang missing

ada yang missi

ada yang mis

ada yang m

ada yan

ada y

ad

a

……………………………………………………………. (kebingungan)

5 cewek. ngumpul. becanda-becanda.
gw : “gw lagi bayangin 5 atau 10 tahun yang akan datang”
betsy : “kenapa?”
gw : “kita pasti udah pada gendut gendut… terus ketemuan… lo pada bawa anak-anak lo”
betsy : “iya pas ketemuan telfon dulu : iya nih gw harus jemput anak gw dulu nih….”
anak-anak : “hahahahahaha” (ketawa, kali ini lebih keras. pertanda dalem hati bener kalik ya besok begitu?”
gw : (kebingungan)

5 orang cewek. tingkat akhir. tinggal ketemu satu/dua semester mentas sudah jadi sarjana.
sudah?
jadi sarjana?

sarjana arsitektur,
terus di belakang nama kita ada tambahan titel. gaya.

ASTRID MIRANDA, S.T
YUDITH NOVA, S.T
ADINDA AJENG, S.T
DEVI SUPRIHARTINI, S.T
LEUSERINA MAGDALENA, S.T

dan gw : GACANTI SWASTIKA, S.T

sudah. mikir nya gw akhirnya mentok sampe sarjana aja, tapi habis itu ngapain. ini kuliah gw mau ngapain sih.
gw belajar apa ngerjain tugas sih.

gw belajar

apa

ngerjain tugas sih

intinya apa sih

(kebingungan)

…………….
……………
………….
………..
………
…….
…..

..
.

besok pagi. ketemu anak-anak lagi.

5 orang cewek. ketawa-ketawa.

dari 5 ini. mau pada jadi apa.