Buku ‘secret project’ ruang17, untuk 50 tahun Muhammad Thamrin.

Buku ini awalnya adalah ide De Gayantina Thamrin, istri dari pak Thamrin, yang berniat mengadakan ‘secret party’ untuk acara 50 tahun suaminya.

Kejutan pun dipersiapkan, salah satunya buku ini;

Datang dengan persiapan yang mendadak, buku ini kemudian dikerjakan dengan deadline yang kurang dari empat hari. Kurang lebih 90 buah sketsa karya pak Thamrin di-scan, kemudian bersama bu De Thamrin kami memilih beberapa sketsa yang terbaik. “Ternyata tak semua sketsa pak Thamrin bagus,” pikir saya ketika melihat-lihat. Banyak juga sketsa yang tak tuntas, mungkin semacam uji coba atau latihan.

Dari kurang lebih 90 sketsa, kami lalu menetapkan sekitar 40 buah sketsa yang masuk dalam buku, dengan mengelompokkan dalam beberapa kategori, antara lain sketsa bangunan, makanan, lingkungan, dan lain-lain.

Untuk sketsa makanan, bu De punya kenangan lucu, “Saya biasanya makan makanan yang sudah dingin, sebab menunggu pak Thamrin sketsa makanan sebelum makan,” kenangnya. Hehe.

Akhirnya, kami lanjut ke tahap berikutnya, menentukan jenis kertas. karena dibuat hanya untuk satu buku, maka kami memilih jenis kertas Canson. “Jangan tanggung-tanggung lah..,” kata bu De, yang sehari-hari bekerja sebagai administrasi di kantor Pasagi; kantor dan studio arsitektur pak Thamrin.

Ada satu bagian yang cukup merepotkan dalam proses pembuatan buku ini, apakah itu? bukan lay out, bukan binding buku, tapi menunggu sejumlah ucapan sepatah-kata juga beberapa gambar sketsa wajah pak Thamrin dari teman-temannya, ada dari dalam dan luar negeri, mulai tulisan dari Seksan, pak Ichsan, hingga pak Eryudhawan yang menyerupai puisi. 🙂

*

ruang17 book handmade adalah sub project ruang17 yang dikerjakan sendiri, awalnya adalah buku Pabrik Penyulingan Minyak Atsiri, buku kumpulan liputan yang pernah dipublikasikan di blog ruang17. Dengan bentuk handmade, ruang17 mencoba menawarkan alternatif lain dalam pembuatan buku, khususnya buku-buku arsitektur dan desain.

*

Dan tibalah pada hari acara, selasa 14 Februari 2014. Sebelum diserahkan, seperti yang telah kami rencanakan, cover buku yang masih polos kemudian diberi sentuhan akhir oleh bu Tjutju, seorang yang jago dalam bidang kaligrafi Cina. Saya lupa menanyakan arti tulisan di cover buku ini, mungkin sesuatu yang berkaitan dengan ucapan selamat ulang tahun yang ke-50 pak Thamrin.

Dan inilah buku ‘secret project’ ruang17 book handmade, foto-foto ini adalah jepretan kamera pak Thamrin yang diupload di FB-nya setelah acara ulang tahunnya selesai. Di caption beliau menulis; Terima kasih yang tak terhingga kepada teman2 yang sudah bergerilya menyiapkan buku yang indah ini sebagai kado kejutan ulang tahun saya. Ini hadiah terindah yang pernah saya terima. Terima kasih. *terharu*

 1522115_10202883888606058_1223246486_n

1551713_10202883889326076_835846423_n1604402_10202883889006068_1137171238_n1609685_10202883889446079_1798714033_n1609834_10202883890726111_2064861071_n

Selamat ulang tahun pak Thamrin, kejutan selesai, salam sketsa. 🙂

Tanya-Jawab Bersama Setiadi Sopandi

cung1

Pertengahan tahun 2013 terbit buku ‘Sejarah Arsitektur’ yang ditulis oleh Setiadi Sopandi, seorang arsitek yang juga dosen sejarah arsitektur di Universitas Pelita Harapan. Buku dengan tebal 262 halaman ini berisikan sejumlah pembahasan dengan dukungan data-data yang kuat.  “Ini hasil pengembangan mata kuliah sejarah yang saya ampu selama kurang lebih 5 tahun,” terangnya ketika ditanya tentang cerita proses pembuatan bukunya. Dari sembilan pertanyaan Tanya-Jawab ini, admin coba selipkan satu pertanyaan seputar ‘Tim kurator paviliun Indonesia di acara Venice Biennale Architecture 2014’, sedang delapan pertanyaan lainnya adalah seputar buku dan pengajaran sejarah. Selamat membaca 🙂

Buku ini dimulai dari arsitektur Mesir purba, kenapa tidak mendahulukan dengan perkenalan arsitektur kita sendiri?

Coba perhatikan lagi deh, buku ini dimulai dengan tema. Temanya adalah sistem struktur. Hanya bab terakhir yang membahas soal arsitektur sebagai pengetahuan teoritik dan disiplin. Bab-bab sebelumnya membahas arsitektur sebagai bangunan dan konstruksi. Jadi tidak penting mengenai dimulai dengan apa. Lagipula sulit sekali mendefinisikan “arsitektur kita” itu yang mana, kalaupun iya, kenapa harus begitu. Peninggalan Hindu Buddha kita didatangkan dari India, meskipun memiliki kekhasan tersendiri, di tataran apa kita menyatakan bahwa ini “milik kita” mana yang masih milik orang India. Kalaupun kita yakin bahwa – mungkin – ada arsitektur yang milik kita banged gitu deh, lalu gunanya apa didahulukan? Bukankah sebaiknya kita mendahulukan wanita, ibu hamil, manula dan anak-anak? Hehehehe.

Data dalam buku ini lumayan banyak, bisa cerita proses pencariannya?

Ini hasil pengembangan mata kuliah sejarah yang saya ampu selama kurang lebih 5 tahun. Sumber-sumbernya jelas, ada buku-bukunya. Ada yang disadur langsung, ada yang saya gabung-gabung dari beberapa sumber berbeda. Banyak yang dari buku bergambar untuk anak-anak. Intinya semua materi Sejarah Arsitektur Dunia sebenarnya mudah diakses dan melimpah. 

Bagaimana pandangan anda antara ‘asing’ dan ‘lokal’ dalam produksi buku pengetahuan sejarah?

Saya agak bingung dengan arah pertanyaannya. Tapi saya coba jawab aja. Pada jaman pra-industri, gagasan (akan ruang dan bentuk dan konstruksi) bisa asing namun eksekusi senantiasa lokal. Makin modern, semuanya bisa asing sekaligus lokal. Batasnya makin tidak jelas. Dulu material sulit dibawa terlalu jauh karena kendala transportasi, sekarang material dari ujung dunia bisa berakhir dimanapun juga. Informasi semakin cepat dan tembus kemana-mana. Dalam menuliskan dan menyusun sebuah paparan wawasan (dalam konteks kuliah pengantar sejarah arsitektur), kita mesti menempatkan diri pada waktu dan ruang kita berdiri dan melihat sejarah arsitektur dunia yang terbentang ribuan tahun. Tentunya, hal yang harus ditanyakan di awal adalah: apa manfaat kita mempelajari itu semua, atau pertanyaannya dipersempit: kita mau cari apa, apa yang kita butuhkan dari sejarah? Bagaimana arsitek-arsitek besar belajar dari sejarah? Dari sana kita mulai jalan dan menjelajah keluar masuk ruang dan waktu.

Kebanyakan mahasiswa arsitektur cenderung tidur saat pelajaran sejarah, apakah hal ini juga berlaku di kelas anda?

Mahasiswa arsitektur cenderung tidur di pelajaran apapun juga kalau mereka ngantuk dan dosennya gak marah. Tanya yang lain aja lah.

Ceritakan bagaimana anda mengajar sejarah arsitektur?

Duh. Panjang dong. Prinsipnya gini, yang terakhir saya selalu lakukan adalah membuat simulasi dalam workshop. Mirip permainan taman kanan-kanak, mahasiswa disuruh membawa seperangkat alat dan bahan. Bisa berupa kertas, alat tulis, balok kayu, lembar karton, rangka besi, benang, bata, selotip, macam-macam lah. Dalam satu semester kami membuat beberapa workshop (dinilai sebagai tugas) yang dikerjakan langsung di studio, masing-masing workshop memiliki aturan main, waktu, dan penilaian. Ada yang sifatnya kompetitif, ada juga yang sifatnya kolaboratif. Masing-masing ada 1 atau 2 pokok pikiran yang dijelaskan di awal, namun ada banyak wawasan dan pengalaman yang ditanamkan selama proses berlangsung. Tema workshop sangat beragam dan senantiasa berubah tiap tahun, tergantung koordinasi dengan studio perancangan dan warna kurikulum yang ditentukan jurusan. Workshop bisa digunakan untuk menjelaskan bedanya sistem struktur tiang dan balok dengan sistem tumpuk serta mengajak mahasiswa untuk merasakan perbedaan ruang dan bentuk yang dihasilkan dari keduanya. Bisa juga workshop diarahkan untuk menelaah konstruksi geometri vaulting bangunan-bangunan monumental. Dari sana bisa memahami gaya-gaya beban dalam bekerja. Selain itu, mahasiswa juga bisa paham bagaimana membuat bouwplank di lapangan, karena “menggambar di lapangan” tentu tidak sama dengan “menggambar di atas kertas”. Di lapangan kita tidak bisa pakai CAD atau penggaris puluhan meter, jadi kita harus menggunakan alat-alat lain. Merasakan bahan juga penting karena melibatkan ketrampilan dan pemahaman tactile, yang akan mustahil hanya diceritakan oleh dosen. Fungsi dan program juga bisa disimulasikan dengan cara bermain seperti itu.

Kampus Universitas Pelita Harapan punya publikasi sendiri (UPH Press), bagaimana ceritanya bisa sampai diterbitkan Gramedia, apa tidak tergoda oleh penerbit khusus arsitektur?

Distribusi Gramedia terbukti paling luas di Indonesia. Hampir setiap kampus di Indonesia punya penerbitan, tapi karena kendala distribusi, banyak tulisan-tulisan para pengajar dan karya-karya mahasiswa akhirnya tidak terakses oleh publik. Ini pemikiran utamanya.

Selama menyusun buku ini, hal menarik apa yang anda dapatkan?

Menulis itu menyenangkan, karena selalu ada pengetahuan baru yang di dapat sepanjang penyusunan. Ilmu kalau dituliskan dan disebarkan senantiasa bertambah. Tidak berkurang.

Anda adalah satu dari empat orang Tim kurator paviliun Indonesia di acara Venice Biennale Architecture 2014, bisa sedikit cerita tentang proses kurator?

Wah, panjang. Proses lengkapnya bisa disimak di ketukangan.wordpress.com Prinsipnya, kurator adalah pencerita. Kurator harus memiliki sebuah kisah untuk diceritakan bagi publik. Aktor-aktor, tempat-tempat, peristiwa-peristiwa yang dijalin dalam cerita bisa jadi bukan sesuatu yang asing bagi publik. Namun tugas kurator adalah membuat semua bisa digabung – diorkestrasi, dikoreografikan – dan menghasilkan sebuah hiburan, sekaligus sebuah pengetahuan yang bermanfaat dan menginspirasi orang banyak.

Terakhir: apakah menulis buku sejarah memberikan penghasilan yang cukup?

Penghasilan utama saya adalah dari praktek arsitektur. Profesi saya yang lain adalah mengajar. Menulis adalah bagian dari tuntutan profesi mengajar. Jawaban singkatnya: tentu tidak.

cung2

DETAIL BUKU

Penulis                        : Setiadi Sopandi

Judul                           : Sejarah Arsitektur

Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan pertama       : 22 Agustus 2013

Jumlah Halaman        : 262

Harga toko Buku Gramedia : Rp 78.000

 

SINOPSIS

Buku ini merupakan sebuah pengantar singkat menuju dunia arsitektur yang luas, yang terbentang sejak ribuan tahun silam dan tersebar di berbagai pelosok dunia. Paparan ini tidak disajikan selalu runut kronologis, melainkan secara tematik dimulai dari yang paling sederhana secara konstruksi hingga bentuk-bentuk yang lebih kompleks. Kompleksitas ini juga tidak dipahami sebagai sebuah aktivitas membangun secara fisik belaka, namun juga meliputi aktivitas “membangun” teori yang telah dilakukan manusia sejak awal “berarsitektur”. Disajikan dengan diagram-diagram yang lugas dan informatif, buku ini diharapkan dapat dengan mudah diserap oleh para mahasiswa maupun para arsitek dan memperkaya lebar pandang dalam memahami kekayaan khazanah arsitektur dunia.