Arsip Kategori: event

Kelingan

Setelah Mengikutsertakan Rakyat (http://membacaruang.com/2014/02/24/mengikutsertakan-rakyat/) dalam proses revitalisasi desa, seperti dalam project stone-paved road, Home Stay, Coffe and batik Center, dan project from brick to fish, Selanjutnya Singgih S kartono mulai mengikutsertakan Pengunjung Desa untuk ikut membantu memikirkan perkembangan desa yang lebih baik.

Seperti apa kegiatannya?

Berikut ini catatan tiga hari (18, 19, 20 maret 2014) selama mengikuti International Conference on Village Revitalization bertema it’s time back to village di Desa Kandangan dan Desa Caruban, Temanggung. Jawa Tengah.

PEMBERIAN NAMA TEMPAT, biasanya mengandung maksud tertentu. Seperti nama tempat bedasarkan topografi atau keadaan alam tempat itu, Boven Digoel di Irian, misalnya. Ada juga nama tempat yang mengingatkan kita pada profesi utama sebagian penduduknya, seperti Pegangsaan, Penjaringan, dan juga Petukangan. Dan masih banyak lagi, tak terkecuali dengan tempat yang diberi nama karena harapan, seperti nama Dusun ‘Kelingan’ yang dalam bahasa Jawa berarti teringat; mungkin, ada harapan agar Dusun itu selalu teringat.

Dan memang itulah yang terjadi.

Tiga hari mengikuti International Conference on Village Revitalization, kita tak akan pernah lupa dengan ‘kelingan’. Kebun kopinya, jalan batu terasah yang ditata rapih, suara anak-anak yang ceria bermain di sore hari, juga kebun bambunya yang dijadikan tempat Konferensi dan diskusi.

Kelingan merupakan Dusun dari Desa Caruban, Temanggung, Jawa Tengah.

Di dusun inilah, usai Bamboo bike tour pagi hari (spedagi) keliling desa, peserta berkumpul dan berdiskusi. Tapi mengikuti bamboo bike tour yang dipandu langsung oleh ketua pelaksana acara, Singgih S kartono, jangan bayangkan kita hanya dimanjakan dengan sajian pemandangan Desa yang indahnya saja. Bamboo bike tour yang ia buat tak hanya mengajak pengunjung Desa melihat keindahan Desa saja, di program ini ia juga mengajak untuk melihat permasalahan Desa dan kemudian berpikir.

“Sampah ini misalnya,” Ucap Singgih ketika melihat pelastik di parit sawah, ia kemudian menerangkan, “Ada perubahan komsumsi dalam masyarakat desa. karena kemajuan yang pesat, perubahan komsumsi yang sebelumnya tak ada di desa, menjadi ada; seperti komsumsi yang memakai pembungkus pelastik. Desa kemudian memiliki sampah yang mereka sendiri kemudian tak tahu harus diolah seperti apa. Ini perlu sistem pengolahan sampah yang terpadu.“

Bersepeda melewati pematang sawah, Singgih sempat teringat peristiwa meletusnya Gunung Kelud, “Waktu abu letusan Gunung Kelud sampai di Desa Kandangan, saya melihat ada banyak sarang laba-laba di sawah,” Terang Singgih di antara para peserta yang kebanyakan datang dari Jepang, “Ya mungkin alam sudah mengatur cara mengatasi hama secara alami, tapi mungkin karena penyemprotan pestesida, laba-laba di sawah itu ikut mati.”

Penjelasannya mengingatkan saya pada buku ‘Secret Life of The Plant’. Di Rusia pada Oktober 1970, jutaan pembaca koran diperkenalkan pada gagasan bahwa tanaman mengkomunikasikan perasaan mereka pada manusia, ketika Pravda menerbitkan sebuah artikel yang berjudul ‘Apa yang Dikatakan Daun pada Kita.” Reporter Pravda, V. V. Chetkov, mengatakan bagaimana ia menyaksikan kejadian luar biasa ini di Moskow, ketika mengunjungi Laboratorium Iklim Buatan di Akademi Ilmu-ilmu Pertanian Timiryazev. Dengan bantuan perangkat elektronik khusus yang sangat sensitif, Chentkov mengakui “di depan mata saya, kecamba gandum benar-benar berteriak ketika akarnya dicelupkan ke dalam air panas.”

Bisa dibayangkan bagaimana ‘perasaan’ padi di sawah yang disemprot pestisida, padahal ia sudah punya pelindung hama secara alami? Bagaimana mungkin ia bisa menghasilkan padi yang baik, jika ia tak bahagia?

Kami berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta telah dirancang sedemikian rupa sehingga tak satu pun telah diciptakan dengan sia-sia. Tapi kebanyakan dari manusia tidak mengerti.

Singgih kemudian mengajak peserta bersepeda mengunjungi sawahnya, dengan mengembangkan pertanaman campuran atau polikultur, ia membudidayakan berbagai jenis tanaman pertanian pada lahan yang sama. Sistem ini meniru keanekaragaman ekosistem alami dan menghindari pertanaman tunggal atau monokultur.

Sebagai contoh adalah penanaman jagung bersamaan dengan kacang tanah dalam satu lahan dalam satu tahun. Pemilihan pola polikultur ini dipengaruhi salah satunya oleh aspek lingkungan. Seperti pada daerah Desa kandangan yang dimana aspek ketersediaan air begitu kurang, juga irigasi teknis yang tidak tersedia. Juga curah hujan yang tidak merata mungkin tidak akan mencukupi kebutuhan air untuk tanaman yang membutuhkan banyak air seperti padi.

Untuk meminimalisir gagal panen, maka pada musim di mana hujan sangat minim, lahan ditanaman dengan tanaman yang hanya membutuhkan sedikit air, seperti jagung atau kacang tanah.

Bicara mengenai ketersediaan air, Singgih lantas memperlihatkan ‘embung’ tadah hujan yang ia buat. “Dalamnya sekitar 3 meter, sebagai persediaan air pada musim kemarau. Ya ini airnya semua dari air hujan.” Terang Singgih di tepi ‘embung’ yang mengambil setengah hektar dari dua setengah hektar luas sawahnya.

LAIN DI SAWAH, lain juga di jalan pemukiman penduduk. Melintasi jalan beraspal yang mulai rusak, Singgih menjelaskan bahwa jalan beraspal yang dibuat di desa sebenarnya kurang tepat, dan ia mengusulkan kembali pada jalan terasa batu yang ditata rapih dengan pola yang unik.

Peserta yang bertanya-tanya kemudian menjadi tahu, Singgih punya alasan yang kuat;

“Pertama, Ilmu Desa dan Ilmu Kota.” Terang Singgih, “Jalan aspal ini ilmu orang kota dan uangnya, uang Orang Desa. Nah, kalau jalan ini rusak.” Lanjut Singgih yang kemudian memancing berpikir, “Yang punya ilmu siapa? Yang keluar biaya siapa?”

“Juga jalan desa yang di aspal membuat pengendara melaju cepat, padahal di Desa tak dibutuhkan aktivitas yang cepat. Akibatnya bisa timbul kecelakaan di jalan. Lalu kalau hujan, di jalan aspal air tak meresap, tapi mengalir ke tepi jalan, berarti tambah uang lagi buat saluran. Kalau jalan perkerasan batu, air hujan meresap.” Ujar Singgih sambil memperlihatkan jalan perkerasan batu yang tersisa di Desa. “Mungkin sebentar lagi jalan ini akan diaspal pula, karena itu kita mesti berlomba mengedukasi warga.”

Menyimak penjelasannya, saya berpikir kembali. Bukankah ini paradox; satu sisi ia ingin menarik ‘external resources’ untuk masalah di Desa, tapi satu sisi ia juga menghindari ‘ilmu orang kota’.

Ecternal resources yang seperti apakah yang diharapkannya? Jika boleh saya tebak, yang diharapkannya adalah mereka yang dengan segala kerendahan hati mau belajar kembali pada kearifan lokal Desa, agar pembangunan bisa lebih selaras dan punya akar pada tradisi setempat.

Di lingkungan pemukiman warga Desa ini kami lanjut bersepeda, dengan melintasi jalan yang memperlihatkan bahwa sebenarnya Pemerintah setempat tidak punya arah Desain Jalan yang jelas. Seperti terlihat jalan yang di beton hanya pada dua sisi; kanan dan kiri jalan, dan mengabaikan bagian tengah.

“Melihat pembangunan seperti ini warga jadi bingung,” terang Singgih sambil memperlihatkan satu bagian tengah jalan tersebut di depan satu rumah yang kemudian oleh warga disemen, “dan mereka kemudian merespon, yang sayangnya malah membuat Desain Jalan –pembangunan Desa- semakin tidak jelas.”

Bersepeda di pemukiman warga, terlihat rumah-rumah lama dengan atap pelana yang menerus hingga ke teras. Tapi ada juga yang rumah baru dengan gaya ‘rumah sinetron’.

Seperti hadirnya pagar tinggi depan rumah. Kenyataan ini menggambarkan mengenai masalah pemahaman masyarakat yang kurang tepat mengenai keamanan, atau juga semakin kurangnya interaksi sosial dalam Desa. Kami berkesimpulan, bahwa penyelesaian permasalahan keamanan sebenarnya bukan hanya persoalan fisik, tapi juga hubungan sosial yang dibangun bersama-sama.

Tak hanya fenomena pagar yang tinggi, kecepatan membangun masyarakat juga terlihat kurang selaras dengan akar budaya mereka. Rumah-rumah yang terbangun terlihat meninggalkan akar budaya mereka, atap-atap yang tak lagi menjangkau teras, diganti dengan plat datar yang nyaris tak berfungsi menghalau panas dan hujan.

“Masyarakat melihat apa yang ada di media,” Singgih menjelaskan “dan karena cepatnya arus informasi, masyarakat tak punya waktu untuk mengendapkan informasi dan merenungkan. Yang terjadi kemudian hanyalah penerimaan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan mereka.”

Pikir saya; mungkin karena medianya juga yang kurang bagus.

Sepanjang jalan bersepeda, kami dihadapkan dengan sejumlah permasalahan Desa yang sebagian kemudian diangkat menjadi bahan diskusi Siang hari, ketika kami beristirahat, di bawah tenda dalam rimbunan kebun bambu Dusun Kelingan.

Kebun Bambu

 (sketsa Kebun Bambu)

DI HARI KEDUA, 19 maret 2014. Di antara sekitar 45 peserta yang kebanyakan datang dari Jepang. Hadir juga Ibu Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Maria Pangestu. Ikut konferensi di bawah tenda dalam hutan bambu Kelingan, Maria pangestu dan peserta duduk menyimak presentasi-presentasi yang diutarakan langsung oleh mereka yang melakukan program dalam revitalisasi Desa.

Presentasi pertama adalah project From Brick to Fish, oleh Mas Fery dan Mas Burhan.

Di project ini, diceritakan bagaimana usaha pembuatan batu bata di wilayah pertanian Desa ternyata punya dampak negatif pada lingkungan. Petani yang memiliki lahan persawahan, ketika musim kemarau, mengambil lapisan tanah subur (top soil) untuk dijadikan batu bata, ini adalah kenyataan yang mengkawatirkan dan perlu solusi pemecahan masalah.

Fery yang menjadi pembuat batu bata, kemudian bercerita bagaimana permulaan ia mencoba beralih dari pembuat batu bata ke budidaya ikan Lele.

“Awalnya saya bertemu pak Singgih, yang waktu itu bersepeda melewati kebun dan tempat saya membuat batu bata. Setelah ngobrol dan berdikusi, atas usulan pak Singgih, saya jadi tertarik membuat kolam ikan Lele.”

Slide presentasi kemudian memperlihatkan foto kolam ikan Lele yang awalnya ia buat seadanya di kebun.

“Ya ini adalah inisiatif awal saya sendiri, kemudian pak Singgih melihat dan kembali berdiskusi. Lalu direncanakan bantuan pada saya untuk membuat kolam di sebelah rumah, agar lebih mudah terpantau dan kemudian mendapat ‘pendampingan’ dari tenaga ahli di bidangnya.” Terang mas Fery yang kemudian ditambah oleh penjelasan dari mas Burhan hingga selesai.

Pertanyaan menarik dari peserta adalah apakah keuntungan penjualan ikan Lele bisa mencukupi, atau paling tidak sebanding dengan penghasilan dari membuat batu bata?

Mas Burhan yang menjadi rekan mas fery menjawab, bahwa project ini masih dalam tahap permulaan, jadi belum terlihat keuntungan yang maksimal.

“Tapi dari hasil panen terlihat keuntungan yang lumayan cukup, dan warga sekitar yang melihat juga mulai mencoba membudidayakan ikan Lele. Menurut kami, ini adalah project jangka panjang yang kami harapkan juga dapat memberi dampak positif pada lingkungan,” ujarnya.

Selanjutnya ada Ibu Lilis dan mba Yuni, yang bercerita tentang batik Kelingan. Ceritanya cukup menarik; Kebun kopi dan batik center ini ditemukan tak sengaja oleh Singgih ketika bersepeda pagi. Diceritakan bagaimana awalnya Singgih melihat gubuk di kebun kopi dan menemukan tempat juga alat-alat pembuatan batik. Ia kemudian penasaran dan mencari tahu, hingga hari ini terwujudlah project Coffe and Batik center di Dusun Kelingan.

Untuk motif batik sendiri, ibu Yuni menjelaskan bahwa “Kelingan awalnya belum punya motif batik. Saya kemudian mengembangkan motif yang terinspirasi dari alam Dusun Kelingan,” terangnya.

Di layar infokus kemudian terlihat beragam motif batik yang ia buat.

“Ini ada motif daun bambu, batang bambu, … hingga motif biji kopi.” katanya seraya menambahkan bahwa semua motif-motif batik itu adalah bagain dari Dusun Kelingan; hutan bambu juga kebun kopinya.

Ibu Lilis sebagai pendamping juga menceritakan bagaimana ia mengembangkan metode pewarnaan batik dengan menggunakan pewarna alami, yang antara lain dengan menggunakanekstrak daun tembakau.

Presentasi dan diskusi kemudian mengalir di antara peserta dan presentator, dan di sela presentasi dan tanya jawab, Maria Pangestu mendapat kesempatan menyampaikan tanggapannya.

“Saya sudah datang ke acara konferensi di beberapa tempat di Indonesia dan luar Negeri, tapi konferensi di Desa ini memang berbeda dan menarik.” Ujarnya. Dijelaskan bagaimana pengembangan pariwisata yang saat ini sedang diupayakan adalah bagaimana agar para pengunjung (wisatawan) tidak hanya datang menikmati pemandangan lalu pulang. Tapi bagaimana agar pengunjung yang datang juga bisa ikut memberikan sumbangsi pikiran untuk kemajuan Desa.

“Ya Singgih juga cerita, bahwa ini masih percobaan dan belum terbayang nantinya akan menjadi apa. Tapi paling tidak ia sudah mencoba,” ucapnya.

Menanggapi Maria Pangestu, Singgih berkomentar tentang Staf Pemerintahan yang seharusnya menjadi ‘pelayan’ masyarakat.

“Saya orangnya keras terhadap pemerintah yang tak melayani masyarakatnya, tidak peduli dan tidak peka terhadap masyarakatnya. Tapi kalau Pemerintahannya peka dan melayani masyarakat, seperti ibu Maria Pengestu, ya saya jadi patuh,“ kritik dan candanya mencairkan suasana.

Pamit meninggalkan acara yang sebentar lagi berakhir, Maria pangestu kemudian menyempatkan berfoto bersama peserta dan juga warga Dusun Kelingan. Usai berpamitan, peserta kembali duduk untuk menyimak presentasi terakhir hari ini. Dan inilah bagian yang tak kalah penting untuk disimak; presentasi arsitek-arsitek muda yang berkontribusi dalam project Homestay.

Ada Errik Irwan, arsitek yang baru saja resign dari sebuah studio arsitektur di Bali. Ia menjadi arsitek kolaborasi bersama Nico dan Singgih di tiga project Homestay, terutama untuk Homestay Batik dan kopi Center Kelingan.

Ia mengaku awalnya tidak punya rencana khusus terlibat jauh dalam project Homestay bersama pak Singgih, “Awalnya ya saya berkunjung ingin melihat persiapan kegiatan dan membantu sekitar seminggu, tapi melihat keadaan yang tak bisa ditinggal pergi, ya akhirnya saya putuskan untuk ikut hingga tuntas.” Ujarnya memulai presentasi.

Dengan gambar-gambar yang menurutnya ‘yang penting komunikatif dan dimengerti tukang’ ia berkreasi seluas mungkin.

“Ya saya orangnya tidak bisa terlalu serius, jadi kadang saya gambar yang lucu-lucu.”

Terlihat disela-sela gambar-gambar kerjanya yang menyerupai komik, muncul karakter-karakter tokoh yang ia gambar dengan jenaka. Seperti karakter orang sedang berpose pada lubang bulat di dinding bata ekspose. Dan beragam gambar-gambar juga cerita dibalik proses pembuatan yang membuat peserta terhibur juga tercerahkan hingga akhir presentasinya.

Berbeda dengan Errik yang santai dan konsisten. Nico, arsitek dari Desa sekitar kandangan, juga ikut membantu dalam project Homestay, tapi karena kesibukan menyelesaikan tesis S2-nya di Semarang, ia mesti membagi waktu. Seperti juga Kristo dan teman-teman lain yang sedikit banyak telah berkontribusi dalam project Homestay.

 

FH

(image sketsa salah satu Homestay)

DUA HARI TELAH BERLALU, dan sampailah pada Hari terakhir.

Konferensi berlansung sejak pagi hari, menghadirkan sembilan pembicara dari dalam dan luar begeri, antara lain ada Daichi iwase dari Thailand dengan tema Pariwisata yang berkelanjutan, Eko Prawoto dari Indonesia yang menyampaikan pemikiran tentang arsitektur pedesaan, hingga Praveen dari India yang sedikit banyak membawa pemikiran Gandhi tentang Desa.

I would say that if the village perishes India will perish too. India will be no more India. Her own mission in the world will get lost. The revival of the village is possible only when it is no more exploited. Industrialization on a mass scale will necessarily lead to passive or active exploitation of the villagers as the problems of competition and marketing come in. Therefore we have to concentrate on the village being self-contained, manufacturing mainly for use. Provided this character of the village industry is maintained, there would be no objection to villagers using even the modern machines and tools that they can make and can afford to use. Only they should not be used as a means of exploitation of others.” – M. K. Gandhi

Setiap pembicara terus bergantian presentasi dan diskusi, hingga menjelang sore hari sampailah pada presentasi terakhir, Singgih S Kartono.

Tak banyak slide presentasi yang ia tampilkan. “Saya tidak membuat slide presentasi, dan tak ingin bicara terlalu banyak. Apa yang saya lakukan ini yang bisa teman-teman lihat,” Ujarnya.

Ia kemudian hanya menampilkan satu slide presentasi, yaitu selembar media cetak Entho Chotot. Media yang ia buat bersama istrinya, Tri Wahyuni, sekitar tahun 1999, di sinilah ia bercerita bahwa program revitalisasi Desa yang sekarang sudah dilakukannya sebenarnya adalah ide dan harapannya yang sudah ia tulis jauh hari.

“Ya di media Entho Chotot ini saya pernah menulis, terutama tentang Desa nadnagnaK,” terang Singgih.

Saya kemudian mendapat salinan media ini, dan membaca. Seperti tentang jalan Desa, ia menulis; Kondisi Dusun ini mengagumkan, wujud fisiknya teratur, rapi dan asri. Semua jalan sudah ditrasah batu yang ditata sangat rapi dengan pola-pola yang unik.

Mungkin inilah mimpi Singgih yang kini sudah mulai terwujud. Tentang jalan Desa yang ditrasah batu, yang ditata sangat rapi dengan pola-pola yang unik.

“Ya saya tidak bisa banyak bicara tentang apa itu revitalisasi Desa. Tapi teman-teman datang ke Desa, melihat kenyataan masalah di Desa, dan kemudian berdiskusi untuk kemajuan Desa yang lebih baik, itu juga merupakan usaha revitalisasi Desa.” katanya mengakhiri.

Sambil menunggu acara penutupan, peserta kemudian mengisi waktu luang untuk berkeliling Dusun Kelingan. Saya kemudian berjalan-jalan bersama peserta dari Jepang juga Indonesia. Kami mengunjungi pengrajin tas di sekitar Dusun Kelingan.

Melihat pengrajin yang sudah punya pasar yang cukup bagus, saya memilih duduk-duduk di luar rumah pengrajin. Hingga senja turun dan kami kembali ke kebun bambu Dusun Kelingan. Dengan perjalanan yang sesekali melihat keindahan gunung sumbing.

“Can you see that mountain?”

“Yes, I can. Beautiful”

“That mountain name is Sumbing.”

“O ya.. in Japan we have a Mountain, the cone shape like that”

“I know, let me guess; That Fuji, right?

“Wow… you know… ”

“Hehe… 😀 “

Dan percakapan kami terus mengalir sepanjang jalan, tentang apa saja yang kami lihat di Desa.

Acara penutupan diisi oleh pertunjukkan tiap-tiap kelompok; Diiring akustik gitar, kelompok biru memulai pertunjukan dengan bernyanyi “… Ingatlah Hari ini…” Yang menariknya, anggota kelompok yang datang dari tiga negara berbeda kemudian membacakan harapan tentang desa, dalam bahasa India, bahasa Jepang, dan tentu saja bahasa Indonesia.

Lain kelompok biru, lain juga kelompok merah. Dan juga kelompok kuning. Masing-masing membawakan pertunjukan dengan cara yang membuat suasana menjadi semakin meriah.

Warga mulai berbaur ketika persiapan pentas Wayang Godhong dilakukan, pertunjukan yang berjalan kurang lebih dua puluh menit ini mengalir di sisa malam, berkisah tentang pak Singgih yang datang ke Dusun Kelingan dan mengajak warga untuk lebih menjaga alam dengan pembangunan yang berakar pada budaya setempat.

“Saya tidak menyangka wayangnya bercerita tentang program ini,” Ujar Singgih menutup acara, “Ya terus berjuang, Hidup Kelingan!”

MALAM SEMAKIN larut ketika peserta kembali ke Homestay. Sebelum esok pulang dan berpisah, mereka yang bermalam di Homestay tepi sawah yang hening, maupun mereka yang bermalam di Homestay kebun kopi yang hangat, mungkin akan memandang langit sama yang penuh bintang, dan kita bisa memetik satu pesan;

Akhirnya, setelah tiga hari mengikuti International Conference on Village Revitalization, apa yang bisa kita dapatkan antara lain adalah pelajaran, bahwa dengan sejumlah permasalahannya, Desa membutuhkan Sumber Daya Manusia (external resources) untuk memberikan sumbangsi pikiran bagi solusi pembangunan Desa yang lebih baik. Ini sebuah pesan tersirat, bagi mereka yang mencari kerja di Kota; it’s time back to village.

🙂

 

-Tulisan dan illustrasi oleh Muh Darman-

*keterangan: Harap maklum jika ada beberapa bagian acara, atau ada peristiwa selama acara yang tidak ditulis, dikarenakan kesibukan penulis sebagai Volunteer untuk Tour Guide di acara ini. 😀

ArtJog13 ; Maritime Culture

Akhir minggu kemaren, saya main ke Jogja. Karena bosen di Bandung, atau lebih tepatnya; jenuh. “Mungkin perlu refreshing,” pikir saya. Jadilah saya ke Jogja, yang antara lain untuk melihat acara ArtJog13. Catatan di bawah ini saya tulis dalam bentuk yang santai, saya pikir, tak perlulah terlalu serius, ada kalanya kita perlu santai. Refreshing sejenak, selamat membaca.


Berikut ini adalah fasade depan gedung Taman Budaya Jogja.

IMG_3981

IMG_4017

Seperti pada tahun sebelumnya, halaman muka Taman Budaya kerap menjadi pusat perhatian dalam perhelatan ArtJog. Para seniman komisi seperti Farhansiki misalnya, pada tahun 2009, mengubah halaman muka pameran dengan karya stensil berukuran 14×24 meter di atas tumpukan seng bergelombang. Sementara di tahun 2010, Eko Nugroho menampilkan lebih dari 40 figur sarkastiknya, dengan latar belakang jingga yang menyala.

Menurut informasi yang saya baca, karya Eko Nugroho secara tidak langsung juga mengkritisi konsidi seni rupa pada saat itu.

kemudian di tahun 2012, halaman muka Taman Budaya dikerjakan oleh Joko Avianto, dengan instalasi ribuan jalinan bambu. Karya ini sekaligus merepresentasikan tema ArtJog12; Looking East-a Gaze Upon Indonesian Contemporary Art.

Tiga karya di atas tidak sempat saya lihat langsung, beberapa foto dokumentasi membantu, yang berujung pada ‘penyesalan’ karena tak melihat langsung. Begitulah, tak cukup menikmati karya hanya melalui foto.

Pada penyelenggaraan tahun ini, saya rasa perlu menghadiri, biar tidak menyesal tentunya. Hehe… dan … Wooowww… Kerenn … haha …

Tim artistik ArtJog13 mendesain Fasade bangunan Taman Budaya dengan material bekas Tong/drum wadah minyak, material tersebut dikreasikan menjadi lembaran besi hingga bisa direka selayaknya dinding kapal. Melalui instalasi ini, tim artistik berusaha membawa hadirin untuk dapat membayangkan visualisasi tema yang diusung; Maritime Culture.

Dan selebihnya mari masuk melihat 100an karya… hmm… (diupload gk yah, banyak banget… haha) baiklah… saya coba upload beberapa karya yang menarik menurut saya yah. 🙂

IMG_3999

Tidak sedikit seniman di ArtJog13 yang menggunakan Buku atau majalah sebagai media berkarya. Sebut saja ‘Catatan dari Ambon’ karya kolaborasi R.E. Hartanto bersama Tarlen Handayani, lalu ada Dedi Sufriadi dengan judul ‘Catatan Pinggir #1’, Yuli Prayitno dengan karya ‘Kita mewarnai, Kalian mengabukan’.

Nama-nama seniman di atas masih ‘asing’ bagi saya, mungkin juga bagi teman-teman, tapi paling tidak saya mengetahui Tarlen Handayani dari Tobucil Bandung. Jika teman-teman pernah melihat buku ‘handmade’ so-lil-o-quy pak Apep, itu adalah hasil kerja tangan Tarlen.

Berjalan keliling ruang pameran, dimana sekitar 100an karya dipajang, saya hampir melewati satu karya yang juga menggunakan Majalah sebagai media berkarya, seniman ini wajib dilihat, siapa lagi kalau bukan karya dari peraih Tokoh Seni Pilihan 2012 versi majalah Tempo. Ya, itu dia; Anusapati.

IMG_4000

Karya instalasinya terletak di ruang belakang pameran, sebuah perahu dengan material utama menggunakan majalah lifestyle asing.

Karya ini diilhami oleh penemuan sebuah kapal kuno di situs Punjul Harjo, Rembang, pada tahun 2008. Berdasarkan bahan-bahan yang digunakan serta teknik pembuatannya, kapal yang ditemukan dalam kondisi relatif utuh ini diidentifikasi sebagai kapal nusantara dari abad VII. Konstruksi yang rumit dan canggih khas wilayah Asia Tenggara pada kapal itu juga membuktikan bahwa masyarakat Nusantara kala itu sudah memiliki teknologi kelautan yang sangat maju.

Pada karya instalasinya ini, Anusapati hendak mengingatkan kita pada fakta historis tersebut, sedangkan penggunaan material utama berupa majalah lifestyle asing, adalah sebagai representasi dari kondisi sekarang, dimana masyarakat Indonesia yang telah terputus dari tradisi bahari warisan nenek moyangnya, sehingga dalam hubungan dengan bangsa-bangsa lain lebih berperan sebagai konsumen, dari produk teknologi, bahan pangan, hingga informasi, ketergantungan pada negara-negara lain yang tidak terhindarkan.

Karya Anusapati ini, pada akhirnya bisa dilihat sebagai kritik terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di perkotaan, sekaligus mengingatkan mereka agar tidak melupakan jatidirinya sebagai bangsa besar yang mempunyai latar belakang sejarah budaya yang panjang dan beralih menjadi bangsa yang konsumtif.

Selebihnya, berdiri di depan karya ini, saya jadi lebih banyak termangu. 🙂

IMG_3906

karya Yudi Sulistyo di ArtJog13 ini berjudul ‘World Without Sea‘, dengan menggunakan material kertas, besi, kayu, dan benda-benda yang ditemukannya, Yudi membuat dua buah kapal laut, dilengkapi sayap yang berbaling-baling. Di atas kapal? sebuah pemukiman yang acak, menyerupai kampung.

IMG_3943

Beberapa karya di ArtJog13 adalah ‘Video installation’, seperti karya Mella Jaarsma yang berjudul The Landscaper.

Mella tertarik pada ekspansi yang dicapai selama masa penjajahan. Bagaimana pemerintah Belanda dapat berkuasa di daerah yang sangat jauh dari ‘rumah’, dengan jarak satu setengah tahun berlayar pulang pergi? –Mella, bertanya- VOC harus bergantung pada hubungannya dengan bangsawan lokal, kaum elit dan kapten Cina, untuk menaklukkan wilayah dan mempertahankan kekuasaan.

IMG_3967

Cara memahami waktu, ruang, jarak dan kecepatan pada masa itu akan sangat berbeda dengan apa yang kita alami saat ini.

Mella menggunakan pemandangan indah ‘Mooi Indie’, yang dicat dan diukir oleh orang-orang Jatiwangi di sepanjang Jalan Raya Pos yang dikenal sebagai jalan darah. Sesuatu yang indah –namun karena sejarahnya yang kejam- lanskap yang meyakitkan ini dibangun menjadi sebuah rok yang dikenakan oleh seorang penari Sufi yang terus menari dan berputar hingga ia rubuh.

Sebenernya, saya tidak begitu mengerti karya Mella. Yang saya mengerti adalah bagaimana seorang ibu yang membawa keempat anaknya melihat pameran ini.

IMG_3968

Dan kau tahu, anak yang paling kecil –yang digendong- tiba-tiba menjerit ketakutan ketika diajak masuk ke ruang instalasi Video yang gelap.

“Mamaaaaa Taakkuuutttttttttttt……!!!!!”

“Iya,,, adoohhh susah yah bawa anak-anak ke pameran…”

Hahahahah…

IMG_3989

Yang ini adalah seniman yang sedang ‘hangat-hangat’nya diperbincangkan, ya itu dia; Eko Nugroho. Pada karyanya yang berjudul ‘Museum of Mentality’, Eko Nugroho ingin mengajak kita untuk kembali menyadari kesalahpahaman.

Kesalahpahaman apa yang ia maksud?

Eko Nugroho menjelaskan bahwa Mental atau kejiwaaan, adalah identitas manusia yang kerap memperngaruhi pola pikir dan tindakan. Bangsa ini diwujudkan dengan sebuah mental perjuangan untuk kemerdekaan yang besar. Dan, menurut Eko Nugroho, kemerdekaan bangsa ini dibentuk dengan mental membangun kembali bangsa yang runtuh dikarenakan penjajahan.

Ketika reformasi bergulir untuk bangsa ini, muncul pula benih-benih demokrasi yang kuat dari bangsa ini. Pencarian dan transisi bangsa ini menuju ke arah demokrasi yang sesungguhnya meskipun menghadapi banyak tantangan yang sangat besar. Dan saat ini bangsa yang telah terbangun indah ini berhadapan dengan mental penghancur bangsa. Ruang demokrasi telah dipergunakan beberapa pihak sebagai alat pemecah belah bangsa ini.

Eko Nugroho ingin menajak kembali menyadari kesalahpahaman ini semua dan mari kita mengembalikan sebuah demokrasi yang sehat dan dewasa untuk generasi penerus. Dan sudah saatnya topeng-topeng berkedok demokrasi itu dimasukkan dalam kotak kaca dan dimuseumkan.

Tidak perlu kita gunakan lagi topeng-topeng itu.

IMG_3991

Agus Suwage, A-ha! Ini dia karyanya. Sebuah instalasi berjudul ‘Menghidangkan Mitos’. Menurut Agus Suwage, sesuatu menjadi mitos karena pengalaman empirik manusia. Seringkali kekuatan (politik) tertentu kemudian muncul dan menungganginya. Kanjeng Ratu Kidul sang penguasa laut Jawa, sup sirip hiu dapat menambah kekuaran seseorang; dan beragam mitos lainnya adalah sebentuk kekuasaan yang, menurut Agus Suwage, harus dikenali.

Yuk! Mari makan untuk menambah kekuatan! 😀

IMG_3908

IMG_3911

IMG_3979

See You at ArtJog14 …

Acara ArtJog13 berlangsung hingga 20 Juli 2013, jika foto-foto ini tak cukup dinikmati. Ada baiknya, sekali-kali, Ya datanglah langsung. Sambil Ngabuburit, mungkin jadi rekomendasi yang pas. 🙂

-Muh Darman-

Diskusi Buku ‘STUDIO TALK; HOME’

Image

Diskusi Buku ‘STUDIO TALK; HOME’

Sabtu, 11 Mei 2013

18:30 s/d 21:00

LABO the mori Jl.Bukit Dago Utara 22 Bandung

Pembicara

David Hutama

Avianti Armand

Robin Hartanto

Moderator

Muh Darman

Apa jadinya jika seorang sastrawan dan arsitek Avianti Armand berkolaborasi dengan dekan arsitektur kampus David Hutama? Tahan dulu, karena penulis muda Robin Hartanto juga ikut membantu.

Mereka lalu bersama-sama membuat satu buku berjudul ‘STUDIO TALK; HOME’, sebuah buku bincang-bincang dengan 6 arsitek yang mereka pilih, dari sang senior Tan Tjiang Ay,  Eko Prawoto, Adi Purnomo, … hingga Andra Matin yang digosipkan juga akan meluangkan waktu –sejam sebelum diskusi buku- untuk berbagi cerita perjalanannya di Jepang.

Sebenarnya, acara diskusi buku ini tak akan lengkap tanpa kehadiran teman-teman mahasiswa/i arsitektur juga rekan-rekan arsitek. Karenanya datanglah, dan jangan lupa, bawalah jaket karena Bandung cukup dingin di malam minggu.

Jadi, teman-teman, inilah hasil kolaborasi Avianti Armand, David Hutama, dan Robin Hartanto, sebuah buku ‘STUDIO TALK; HOME’ yang akan kita diskusikan bersama-sama langsung dengan mereka.

Acara diskusi buku ini merupakan kelanjutan dari program review buku di blog ruang17 (www.ruang17.wordpress.com) yang bertujuan untuk merekomendasikan sejumlah buku-buku arsitektur terbaru yang menarik untuk dibaca.

Dimulai pada januari 2013, hingga bulan maret 2013 telah menampilkan tiga buah rekomendasi judul buku, diantaranya; zaman baru generasi modernis, the pating tlecek ruang arsitektur, dan studio talk; home.

Untuk membahas lebih jauh mengenai buku-buku yang sudah direkomendasikan, maka diadakanlah acara diskusi buku ini, dengan mengundang langsung para penulis buku arsitektur tersebut.

Review buku ‘STUDIO TALK; HOME’ bisa dibaca di link berikut

(https://ruang17.wordpress.com/2013/02/25/rekomendasi-buku-bagus-3/)