Kelingan

Setelah Mengikutsertakan Rakyat (http://membacaruang.com/2014/02/24/mengikutsertakan-rakyat/) dalam proses revitalisasi desa, seperti dalam project stone-paved road, Home Stay, Coffe and batik Center, dan project from brick to fish, Selanjutnya Singgih S kartono mulai mengikutsertakan Pengunjung Desa untuk ikut membantu memikirkan perkembangan desa yang lebih baik.

Seperti apa kegiatannya?

Berikut ini catatan tiga hari (18, 19, 20 maret 2014) selama mengikuti International Conference on Village Revitalization bertema it’s time back to village di Desa Kandangan dan Desa Caruban, Temanggung. Jawa Tengah.

PEMBERIAN NAMA TEMPAT, biasanya mengandung maksud tertentu. Seperti nama tempat bedasarkan topografi atau keadaan alam tempat itu, Boven Digoel di Irian, misalnya. Ada juga nama tempat yang mengingatkan kita pada profesi utama sebagian penduduknya, seperti Pegangsaan, Penjaringan, dan juga Petukangan. Dan masih banyak lagi, tak terkecuali dengan tempat yang diberi nama karena harapan, seperti nama Dusun ‘Kelingan’ yang dalam bahasa Jawa berarti teringat; mungkin, ada harapan agar Dusun itu selalu teringat.

Dan memang itulah yang terjadi.

Tiga hari mengikuti International Conference on Village Revitalization, kita tak akan pernah lupa dengan ‘kelingan’. Kebun kopinya, jalan batu terasah yang ditata rapih, suara anak-anak yang ceria bermain di sore hari, juga kebun bambunya yang dijadikan tempat Konferensi dan diskusi.

Kelingan merupakan Dusun dari Desa Caruban, Temanggung, Jawa Tengah.

Di dusun inilah, usai Bamboo bike tour pagi hari (spedagi) keliling desa, peserta berkumpul dan berdiskusi. Tapi mengikuti bamboo bike tour yang dipandu langsung oleh ketua pelaksana acara, Singgih S kartono, jangan bayangkan kita hanya dimanjakan dengan sajian pemandangan Desa yang indahnya saja. Bamboo bike tour yang ia buat tak hanya mengajak pengunjung Desa melihat keindahan Desa saja, di program ini ia juga mengajak untuk melihat permasalahan Desa dan kemudian berpikir.

“Sampah ini misalnya,” Ucap Singgih ketika melihat pelastik di parit sawah, ia kemudian menerangkan, “Ada perubahan komsumsi dalam masyarakat desa. karena kemajuan yang pesat, perubahan komsumsi yang sebelumnya tak ada di desa, menjadi ada; seperti komsumsi yang memakai pembungkus pelastik. Desa kemudian memiliki sampah yang mereka sendiri kemudian tak tahu harus diolah seperti apa. Ini perlu sistem pengolahan sampah yang terpadu.“

Bersepeda melewati pematang sawah, Singgih sempat teringat peristiwa meletusnya Gunung Kelud, “Waktu abu letusan Gunung Kelud sampai di Desa Kandangan, saya melihat ada banyak sarang laba-laba di sawah,” Terang Singgih di antara para peserta yang kebanyakan datang dari Jepang, “Ya mungkin alam sudah mengatur cara mengatasi hama secara alami, tapi mungkin karena penyemprotan pestesida, laba-laba di sawah itu ikut mati.”

Penjelasannya mengingatkan saya pada buku ‘Secret Life of The Plant’. Di Rusia pada Oktober 1970, jutaan pembaca koran diperkenalkan pada gagasan bahwa tanaman mengkomunikasikan perasaan mereka pada manusia, ketika Pravda menerbitkan sebuah artikel yang berjudul ‘Apa yang Dikatakan Daun pada Kita.” Reporter Pravda, V. V. Chetkov, mengatakan bagaimana ia menyaksikan kejadian luar biasa ini di Moskow, ketika mengunjungi Laboratorium Iklim Buatan di Akademi Ilmu-ilmu Pertanian Timiryazev. Dengan bantuan perangkat elektronik khusus yang sangat sensitif, Chentkov mengakui “di depan mata saya, kecamba gandum benar-benar berteriak ketika akarnya dicelupkan ke dalam air panas.”

Bisa dibayangkan bagaimana ‘perasaan’ padi di sawah yang disemprot pestisida, padahal ia sudah punya pelindung hama secara alami? Bagaimana mungkin ia bisa menghasilkan padi yang baik, jika ia tak bahagia?

Kami berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta telah dirancang sedemikian rupa sehingga tak satu pun telah diciptakan dengan sia-sia. Tapi kebanyakan dari manusia tidak mengerti.

Singgih kemudian mengajak peserta bersepeda mengunjungi sawahnya, dengan mengembangkan pertanaman campuran atau polikultur, ia membudidayakan berbagai jenis tanaman pertanian pada lahan yang sama. Sistem ini meniru keanekaragaman ekosistem alami dan menghindari pertanaman tunggal atau monokultur.

Sebagai contoh adalah penanaman jagung bersamaan dengan kacang tanah dalam satu lahan dalam satu tahun. Pemilihan pola polikultur ini dipengaruhi salah satunya oleh aspek lingkungan. Seperti pada daerah Desa kandangan yang dimana aspek ketersediaan air begitu kurang, juga irigasi teknis yang tidak tersedia. Juga curah hujan yang tidak merata mungkin tidak akan mencukupi kebutuhan air untuk tanaman yang membutuhkan banyak air seperti padi.

Untuk meminimalisir gagal panen, maka pada musim di mana hujan sangat minim, lahan ditanaman dengan tanaman yang hanya membutuhkan sedikit air, seperti jagung atau kacang tanah.

Bicara mengenai ketersediaan air, Singgih lantas memperlihatkan ‘embung’ tadah hujan yang ia buat. “Dalamnya sekitar 3 meter, sebagai persediaan air pada musim kemarau. Ya ini airnya semua dari air hujan.” Terang Singgih di tepi ‘embung’ yang mengambil setengah hektar dari dua setengah hektar luas sawahnya.

LAIN DI SAWAH, lain juga di jalan pemukiman penduduk. Melintasi jalan beraspal yang mulai rusak, Singgih menjelaskan bahwa jalan beraspal yang dibuat di desa sebenarnya kurang tepat, dan ia mengusulkan kembali pada jalan terasa batu yang ditata rapih dengan pola yang unik.

Peserta yang bertanya-tanya kemudian menjadi tahu, Singgih punya alasan yang kuat;

“Pertama, Ilmu Desa dan Ilmu Kota.” Terang Singgih, “Jalan aspal ini ilmu orang kota dan uangnya, uang Orang Desa. Nah, kalau jalan ini rusak.” Lanjut Singgih yang kemudian memancing berpikir, “Yang punya ilmu siapa? Yang keluar biaya siapa?”

“Juga jalan desa yang di aspal membuat pengendara melaju cepat, padahal di Desa tak dibutuhkan aktivitas yang cepat. Akibatnya bisa timbul kecelakaan di jalan. Lalu kalau hujan, di jalan aspal air tak meresap, tapi mengalir ke tepi jalan, berarti tambah uang lagi buat saluran. Kalau jalan perkerasan batu, air hujan meresap.” Ujar Singgih sambil memperlihatkan jalan perkerasan batu yang tersisa di Desa. “Mungkin sebentar lagi jalan ini akan diaspal pula, karena itu kita mesti berlomba mengedukasi warga.”

Menyimak penjelasannya, saya berpikir kembali. Bukankah ini paradox; satu sisi ia ingin menarik ‘external resources’ untuk masalah di Desa, tapi satu sisi ia juga menghindari ‘ilmu orang kota’.

Ecternal resources yang seperti apakah yang diharapkannya? Jika boleh saya tebak, yang diharapkannya adalah mereka yang dengan segala kerendahan hati mau belajar kembali pada kearifan lokal Desa, agar pembangunan bisa lebih selaras dan punya akar pada tradisi setempat.

Di lingkungan pemukiman warga Desa ini kami lanjut bersepeda, dengan melintasi jalan yang memperlihatkan bahwa sebenarnya Pemerintah setempat tidak punya arah Desain Jalan yang jelas. Seperti terlihat jalan yang di beton hanya pada dua sisi; kanan dan kiri jalan, dan mengabaikan bagian tengah.

“Melihat pembangunan seperti ini warga jadi bingung,” terang Singgih sambil memperlihatkan satu bagian tengah jalan tersebut di depan satu rumah yang kemudian oleh warga disemen, “dan mereka kemudian merespon, yang sayangnya malah membuat Desain Jalan –pembangunan Desa- semakin tidak jelas.”

Bersepeda di pemukiman warga, terlihat rumah-rumah lama dengan atap pelana yang menerus hingga ke teras. Tapi ada juga yang rumah baru dengan gaya ‘rumah sinetron’.

Seperti hadirnya pagar tinggi depan rumah. Kenyataan ini menggambarkan mengenai masalah pemahaman masyarakat yang kurang tepat mengenai keamanan, atau juga semakin kurangnya interaksi sosial dalam Desa. Kami berkesimpulan, bahwa penyelesaian permasalahan keamanan sebenarnya bukan hanya persoalan fisik, tapi juga hubungan sosial yang dibangun bersama-sama.

Tak hanya fenomena pagar yang tinggi, kecepatan membangun masyarakat juga terlihat kurang selaras dengan akar budaya mereka. Rumah-rumah yang terbangun terlihat meninggalkan akar budaya mereka, atap-atap yang tak lagi menjangkau teras, diganti dengan plat datar yang nyaris tak berfungsi menghalau panas dan hujan.

“Masyarakat melihat apa yang ada di media,” Singgih menjelaskan “dan karena cepatnya arus informasi, masyarakat tak punya waktu untuk mengendapkan informasi dan merenungkan. Yang terjadi kemudian hanyalah penerimaan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan mereka.”

Pikir saya; mungkin karena medianya juga yang kurang bagus.

Sepanjang jalan bersepeda, kami dihadapkan dengan sejumlah permasalahan Desa yang sebagian kemudian diangkat menjadi bahan diskusi Siang hari, ketika kami beristirahat, di bawah tenda dalam rimbunan kebun bambu Dusun Kelingan.

Kebun Bambu

 (sketsa Kebun Bambu)

DI HARI KEDUA, 19 maret 2014. Di antara sekitar 45 peserta yang kebanyakan datang dari Jepang. Hadir juga Ibu Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Maria Pangestu. Ikut konferensi di bawah tenda dalam hutan bambu Kelingan, Maria pangestu dan peserta duduk menyimak presentasi-presentasi yang diutarakan langsung oleh mereka yang melakukan program dalam revitalisasi Desa.

Presentasi pertama adalah project From Brick to Fish, oleh Mas Fery dan Mas Burhan.

Di project ini, diceritakan bagaimana usaha pembuatan batu bata di wilayah pertanian Desa ternyata punya dampak negatif pada lingkungan. Petani yang memiliki lahan persawahan, ketika musim kemarau, mengambil lapisan tanah subur (top soil) untuk dijadikan batu bata, ini adalah kenyataan yang mengkawatirkan dan perlu solusi pemecahan masalah.

Fery yang menjadi pembuat batu bata, kemudian bercerita bagaimana permulaan ia mencoba beralih dari pembuat batu bata ke budidaya ikan Lele.

“Awalnya saya bertemu pak Singgih, yang waktu itu bersepeda melewati kebun dan tempat saya membuat batu bata. Setelah ngobrol dan berdikusi, atas usulan pak Singgih, saya jadi tertarik membuat kolam ikan Lele.”

Slide presentasi kemudian memperlihatkan foto kolam ikan Lele yang awalnya ia buat seadanya di kebun.

“Ya ini adalah inisiatif awal saya sendiri, kemudian pak Singgih melihat dan kembali berdiskusi. Lalu direncanakan bantuan pada saya untuk membuat kolam di sebelah rumah, agar lebih mudah terpantau dan kemudian mendapat ‘pendampingan’ dari tenaga ahli di bidangnya.” Terang mas Fery yang kemudian ditambah oleh penjelasan dari mas Burhan hingga selesai.

Pertanyaan menarik dari peserta adalah apakah keuntungan penjualan ikan Lele bisa mencukupi, atau paling tidak sebanding dengan penghasilan dari membuat batu bata?

Mas Burhan yang menjadi rekan mas fery menjawab, bahwa project ini masih dalam tahap permulaan, jadi belum terlihat keuntungan yang maksimal.

“Tapi dari hasil panen terlihat keuntungan yang lumayan cukup, dan warga sekitar yang melihat juga mulai mencoba membudidayakan ikan Lele. Menurut kami, ini adalah project jangka panjang yang kami harapkan juga dapat memberi dampak positif pada lingkungan,” ujarnya.

Selanjutnya ada Ibu Lilis dan mba Yuni, yang bercerita tentang batik Kelingan. Ceritanya cukup menarik; Kebun kopi dan batik center ini ditemukan tak sengaja oleh Singgih ketika bersepeda pagi. Diceritakan bagaimana awalnya Singgih melihat gubuk di kebun kopi dan menemukan tempat juga alat-alat pembuatan batik. Ia kemudian penasaran dan mencari tahu, hingga hari ini terwujudlah project Coffe and Batik center di Dusun Kelingan.

Untuk motif batik sendiri, ibu Yuni menjelaskan bahwa “Kelingan awalnya belum punya motif batik. Saya kemudian mengembangkan motif yang terinspirasi dari alam Dusun Kelingan,” terangnya.

Di layar infokus kemudian terlihat beragam motif batik yang ia buat.

“Ini ada motif daun bambu, batang bambu, … hingga motif biji kopi.” katanya seraya menambahkan bahwa semua motif-motif batik itu adalah bagain dari Dusun Kelingan; hutan bambu juga kebun kopinya.

Ibu Lilis sebagai pendamping juga menceritakan bagaimana ia mengembangkan metode pewarnaan batik dengan menggunakan pewarna alami, yang antara lain dengan menggunakanekstrak daun tembakau.

Presentasi dan diskusi kemudian mengalir di antara peserta dan presentator, dan di sela presentasi dan tanya jawab, Maria Pangestu mendapat kesempatan menyampaikan tanggapannya.

“Saya sudah datang ke acara konferensi di beberapa tempat di Indonesia dan luar Negeri, tapi konferensi di Desa ini memang berbeda dan menarik.” Ujarnya. Dijelaskan bagaimana pengembangan pariwisata yang saat ini sedang diupayakan adalah bagaimana agar para pengunjung (wisatawan) tidak hanya datang menikmati pemandangan lalu pulang. Tapi bagaimana agar pengunjung yang datang juga bisa ikut memberikan sumbangsi pikiran untuk kemajuan Desa.

“Ya Singgih juga cerita, bahwa ini masih percobaan dan belum terbayang nantinya akan menjadi apa. Tapi paling tidak ia sudah mencoba,” ucapnya.

Menanggapi Maria Pangestu, Singgih berkomentar tentang Staf Pemerintahan yang seharusnya menjadi ‘pelayan’ masyarakat.

“Saya orangnya keras terhadap pemerintah yang tak melayani masyarakatnya, tidak peduli dan tidak peka terhadap masyarakatnya. Tapi kalau Pemerintahannya peka dan melayani masyarakat, seperti ibu Maria Pengestu, ya saya jadi patuh,“ kritik dan candanya mencairkan suasana.

Pamit meninggalkan acara yang sebentar lagi berakhir, Maria pangestu kemudian menyempatkan berfoto bersama peserta dan juga warga Dusun Kelingan. Usai berpamitan, peserta kembali duduk untuk menyimak presentasi terakhir hari ini. Dan inilah bagian yang tak kalah penting untuk disimak; presentasi arsitek-arsitek muda yang berkontribusi dalam project Homestay.

Ada Errik Irwan, arsitek yang baru saja resign dari sebuah studio arsitektur di Bali. Ia menjadi arsitek kolaborasi bersama Nico dan Singgih di tiga project Homestay, terutama untuk Homestay Batik dan kopi Center Kelingan.

Ia mengaku awalnya tidak punya rencana khusus terlibat jauh dalam project Homestay bersama pak Singgih, “Awalnya ya saya berkunjung ingin melihat persiapan kegiatan dan membantu sekitar seminggu, tapi melihat keadaan yang tak bisa ditinggal pergi, ya akhirnya saya putuskan untuk ikut hingga tuntas.” Ujarnya memulai presentasi.

Dengan gambar-gambar yang menurutnya ‘yang penting komunikatif dan dimengerti tukang’ ia berkreasi seluas mungkin.

“Ya saya orangnya tidak bisa terlalu serius, jadi kadang saya gambar yang lucu-lucu.”

Terlihat disela-sela gambar-gambar kerjanya yang menyerupai komik, muncul karakter-karakter tokoh yang ia gambar dengan jenaka. Seperti karakter orang sedang berpose pada lubang bulat di dinding bata ekspose. Dan beragam gambar-gambar juga cerita dibalik proses pembuatan yang membuat peserta terhibur juga tercerahkan hingga akhir presentasinya.

Berbeda dengan Errik yang santai dan konsisten. Nico, arsitek dari Desa sekitar kandangan, juga ikut membantu dalam project Homestay, tapi karena kesibukan menyelesaikan tesis S2-nya di Semarang, ia mesti membagi waktu. Seperti juga Kristo dan teman-teman lain yang sedikit banyak telah berkontribusi dalam project Homestay.

 

FH

(image sketsa salah satu Homestay)

DUA HARI TELAH BERLALU, dan sampailah pada Hari terakhir.

Konferensi berlansung sejak pagi hari, menghadirkan sembilan pembicara dari dalam dan luar begeri, antara lain ada Daichi iwase dari Thailand dengan tema Pariwisata yang berkelanjutan, Eko Prawoto dari Indonesia yang menyampaikan pemikiran tentang arsitektur pedesaan, hingga Praveen dari India yang sedikit banyak membawa pemikiran Gandhi tentang Desa.

I would say that if the village perishes India will perish too. India will be no more India. Her own mission in the world will get lost. The revival of the village is possible only when it is no more exploited. Industrialization on a mass scale will necessarily lead to passive or active exploitation of the villagers as the problems of competition and marketing come in. Therefore we have to concentrate on the village being self-contained, manufacturing mainly for use. Provided this character of the village industry is maintained, there would be no objection to villagers using even the modern machines and tools that they can make and can afford to use. Only they should not be used as a means of exploitation of others.” – M. K. Gandhi

Setiap pembicara terus bergantian presentasi dan diskusi, hingga menjelang sore hari sampailah pada presentasi terakhir, Singgih S Kartono.

Tak banyak slide presentasi yang ia tampilkan. “Saya tidak membuat slide presentasi, dan tak ingin bicara terlalu banyak. Apa yang saya lakukan ini yang bisa teman-teman lihat,” Ujarnya.

Ia kemudian hanya menampilkan satu slide presentasi, yaitu selembar media cetak Entho Chotot. Media yang ia buat bersama istrinya, Tri Wahyuni, sekitar tahun 1999, di sinilah ia bercerita bahwa program revitalisasi Desa yang sekarang sudah dilakukannya sebenarnya adalah ide dan harapannya yang sudah ia tulis jauh hari.

“Ya di media Entho Chotot ini saya pernah menulis, terutama tentang Desa nadnagnaK,” terang Singgih.

Saya kemudian mendapat salinan media ini, dan membaca. Seperti tentang jalan Desa, ia menulis; Kondisi Dusun ini mengagumkan, wujud fisiknya teratur, rapi dan asri. Semua jalan sudah ditrasah batu yang ditata sangat rapi dengan pola-pola yang unik.

Mungkin inilah mimpi Singgih yang kini sudah mulai terwujud. Tentang jalan Desa yang ditrasah batu, yang ditata sangat rapi dengan pola-pola yang unik.

“Ya saya tidak bisa banyak bicara tentang apa itu revitalisasi Desa. Tapi teman-teman datang ke Desa, melihat kenyataan masalah di Desa, dan kemudian berdiskusi untuk kemajuan Desa yang lebih baik, itu juga merupakan usaha revitalisasi Desa.” katanya mengakhiri.

Sambil menunggu acara penutupan, peserta kemudian mengisi waktu luang untuk berkeliling Dusun Kelingan. Saya kemudian berjalan-jalan bersama peserta dari Jepang juga Indonesia. Kami mengunjungi pengrajin tas di sekitar Dusun Kelingan.

Melihat pengrajin yang sudah punya pasar yang cukup bagus, saya memilih duduk-duduk di luar rumah pengrajin. Hingga senja turun dan kami kembali ke kebun bambu Dusun Kelingan. Dengan perjalanan yang sesekali melihat keindahan gunung sumbing.

“Can you see that mountain?”

“Yes, I can. Beautiful”

“That mountain name is Sumbing.”

“O ya.. in Japan we have a Mountain, the cone shape like that”

“I know, let me guess; That Fuji, right?

“Wow… you know… ”

“Hehe…😀 “

Dan percakapan kami terus mengalir sepanjang jalan, tentang apa saja yang kami lihat di Desa.

Acara penutupan diisi oleh pertunjukkan tiap-tiap kelompok; Diiring akustik gitar, kelompok biru memulai pertunjukan dengan bernyanyi “… Ingatlah Hari ini…” Yang menariknya, anggota kelompok yang datang dari tiga negara berbeda kemudian membacakan harapan tentang desa, dalam bahasa India, bahasa Jepang, dan tentu saja bahasa Indonesia.

Lain kelompok biru, lain juga kelompok merah. Dan juga kelompok kuning. Masing-masing membawakan pertunjukan dengan cara yang membuat suasana menjadi semakin meriah.

Warga mulai berbaur ketika persiapan pentas Wayang Godhong dilakukan, pertunjukan yang berjalan kurang lebih dua puluh menit ini mengalir di sisa malam, berkisah tentang pak Singgih yang datang ke Dusun Kelingan dan mengajak warga untuk lebih menjaga alam dengan pembangunan yang berakar pada budaya setempat.

“Saya tidak menyangka wayangnya bercerita tentang program ini,” Ujar Singgih menutup acara, “Ya terus berjuang, Hidup Kelingan!”

MALAM SEMAKIN larut ketika peserta kembali ke Homestay. Sebelum esok pulang dan berpisah, mereka yang bermalam di Homestay tepi sawah yang hening, maupun mereka yang bermalam di Homestay kebun kopi yang hangat, mungkin akan memandang langit sama yang penuh bintang, dan kita bisa memetik satu pesan;

Akhirnya, setelah tiga hari mengikuti International Conference on Village Revitalization, apa yang bisa kita dapatkan antara lain adalah pelajaran, bahwa dengan sejumlah permasalahannya, Desa membutuhkan Sumber Daya Manusia (external resources) untuk memberikan sumbangsi pikiran bagi solusi pembangunan Desa yang lebih baik. Ini sebuah pesan tersirat, bagi mereka yang mencari kerja di Kota; it’s time back to village.

🙂

 

-Tulisan dan illustrasi oleh Muh Darman-

*keterangan: Harap maklum jika ada beberapa bagian acara, atau ada peristiwa selama acara yang tidak ditulis, dikarenakan kesibukan penulis sebagai Volunteer untuk Tour Guide di acara ini.😀

One thought on “Kelingan

  1. Muhammad Azamuddin T

    Reblogged this on Blog Mas Azam and commented:
    catatan tiga hari (18, 19, 20 maret 2014) selama mengikuti International Conference on Village Revitalization bertema it’s time back to village di Desa Kandangan dan Desa Caruban, Temanggung. Jawa Tengah. -oleh Muh. Darman-

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s