Wormhole

Arsitek Eko Prawoto, atau yang akrab disapa pak Eko, baru-baru ini kembali membuat instalasi di Singapura. Dengan karya terbarunya ini, beliau terhitung sedikitnya sudah tiga kali membuat instalasi di Singapura, sekali di Itali, sekali di Austria, dua kali di Jepang, sekali di Prancis, sekali di Belanda, … dan jarang sekali di Indonesia. Beliau memang lebih sering berkarya di luar negeri.

Berikut ini tanya-jawab Eko Prawoto bersama admin blog ruang17 seputar Instalasi terbarunya, kesenian, kerakyatan, pemuda, dan hal-hal lain yang menarik untuk diketahui.

1381586_10201555419901571_1823145475_n

Kabarnya bapak baru pulang dari Singapura, ada kegiatan apa?

Iya mas, ini baru dari pembukaan Singapore Biennale 2013, kebetulan saya menjadi salah satu peserta disana.

Pak Eko cukup sering diundang buat instalasi di Singapura, bapak tidak bosan?

Saya pikir setiap undangan merupakan kesempatan untuk belajar tentang banyak hal. Mengupayakan instalasi yang site spesifik dan kemudian bisa berkomunikasi dg masyarakat merupakan aspek yang menurut saya sangat penting. Jadi ini bukan tentang sekedar membuat karya instalasi namun sebagai upaya untuk berkomunikasi. Jadi ya ini bukan soal bosan atau tidak bosan. Singapura memiliki setting yang unik, penuh paradox karena itu selalu menarik…:)

1379632_10201555408381283_521533575_n

561912_10201555391380858_27915546_n

559977_10201555385100701_832629720_n

Apa yang ingin bapak sampaikan pada instalasi yang terbaru ini?

Instalasi ‘Wormhole’ lebih sebagai reaksi atas urban setting disana , mengupayakan menghadirkan ruang luar yang intim dan hangat serta mendorong interaksi manusia.

Sepanjang yang bapak rasakan, apakah pengunjung instalasi bisa menangkap pesan yang bapak sampaikan?

Sejauh komentar yang saya dengar agaknya masyarakat cukup senang dengan karya ini. Ketika suatu karya sudah dibuka, maka sepenuhnya akan menjadi hak publik. Merekalah yang berhak menilainya.

Mungkin nanti akan ada tulisan atau tanggapan yang dibuat untuk mengetahui reaksi publik yang lebih utuh.

Apa ‘pengertian’ kesenian di luar negeri dan di negeri ini?

Saya pikir pada hakekatnya seni itu sama, ini tentang manusia dan kemanusiaannya. Singapore memang secara ekonomi lebih melaju dibanding negara ASEAN yg lain. Namun ada harga yang harus dibayar untuk kemajuan ini. Misalnya kedekatan dengan alam nyaris hilang. Masyarakat sangat mekanistik dan rutin, terfragmentasi dan terus bergerak dengan kecepatan tinggi, sangat sedikit waktu untuk merenung. Ini fenomena jamak kota besar dan negara maju.

Seni akan juga bisa mewacanakan aspek ini, memberikan ruang psikologis untuk emosi maupun yang spiritual.

575733_10201555400421084_136558920_n

Pak Eko pernah kuliah di Berlage Belanda, sebenarnya; apakah perbedaan peran antara mahasiswa di sini dengan mahasiswa di sana?

Sejalan dengan semakin terbukanya informasi dan juga didukung oleh kemajuan sarana transportasi dan komunikasi maka ada kecenderungan bahwa ekspresi dunia menjadi semakin seragam. Jadi semakin sulit untuk mencari perbedaan dalam situasi sekarang ini. Namun kalau toh kemudian harus dicari….ya mungkin pada kesadaran berpikirnya. Kemandirian berpikir dan bertindak memerlukan kesadaran serta percaya diri yang lebih besar. bukan sekedar kekuatan ego namun lebih pada kesadaran atas kebenaran yang sedang diupayakan. Masyarakat negara maju memang didorong untuk berpikir kritis dan mandiri. Sementara kita masih lebih sering ikut2an trend atau semacam itu…walaupun tidak semuanya ya.

Bagaimana menurut pengamatan bapak tentang generasi muda, khususnya mahasiswa sekarang?

Generasi muda sekarang memiliki akses pada informasi dan ter-exposed pada pilihan2 yang sangat banyak,bahkan mungkin terlalu banyak. Ini dapat dilihat sebagai potensi namun bisa juga sebagai masalah besar jika kita salah menyikapinya. Pilihan yang teralu banyak membuat kita kurang jeli berpikir kritis , terlena dan menjadi konsumtif saja. Dalam kubangan pilihan yang sudah sangat banyak apakah kita masih juga mengupayakan ada alternatif lain?. Persoalan besarnya adalah tentang ketrampilan memilah dan memilih. Ini yang memerlukan tingat kesadaran yang berbeda itu…tentang pemahaman atas wacana yang lebih besar,tentang pemetaan persoalan dan tentang peran strategis yang akan dimainkan. Sepertinya ini tugas besar kan?

Dalam keadaan arus media informasi internet yang cepat, bagaimana bapak melihat posisi mahasiswa?

Kalau ini ingin dilihat sebagai potensi maka akses terhadap informasi adalah sangat luar biasa. Hanya ini membutuhkan ketrampilan lain yang juga penting yaitu kemampuan untuk merefleksi dan merelasikan. Informasi pada dirinya sendiri belumlah bermanfaat, namun ketika kita mengolahnya dan mengupayakan untuk menggapai sebuah solusi maka ini akan sangat berdaya guna. Persoalan besarnya mungkin adalah menemukan persoalan dalam keberadaan kita. Mahasiswa haruslah mampu dan mau berpikir kritis dan mandiri,peka dan berempati terhadap kehidupan diluar dirinya…

Pesan bapak ke mahasiswa?

Menjadi muda adalah sebuah kesempatan. Ini akan segera berlalu. Manfaatkan kemudaan ini untuk melakukan yang bermanfaat dan memberikan dampak besar dalam perbaikan kehidupan. Perubahan selalu dimulai oleh yang muda…

ngibikan bangkit

Dusun Ngibikan, Jogja.

Apakah tiap arsitek harus mengangkat kehidupan rakyat kecil dalam tema karyanya?

Tentu tidak selalu ya. Sangat bergantung pada konteks dan situasinya. Nah, kalau kemudian kita berbicara Indonesia dalam keadaan sekarang , maka ada banyak persoalan besar yang berkait dengan kehidupan rakyat kecil. Tentu ini bukan tugas arsitek saja, namun lebih sebagai panggilan besar bagi pemikir dan pelaku kehidupan. Pilihannya apakah kita akan ambil bagian sebagai solusi atau sebagai problem ?. Tidak ada posisi yang netral,kita harus memilih peran itu….sekecil apapun. Ini tentang panggilan jaman ini saya kira…

Bapak dulu belajar langsung ke Romo Mangun, apakah bapak sanggup seperti Romo Mangun?

Ya sampai sekarangpun saya masih belajar dan terinspirasi oleh pemikiran dan ketajaman beliau dalam membaca kehidupan. Romo YBM merupakan tokoh besar yang memiliki kemampuan yang sangat beragam. Saya beruntung mendapat kesempatan belajar banyak dari beliau. Namun saya juga sangat menyadari atas berbagai keterbatasan yang saya miliki. Saya sementara ini masih mencoba menyusuri jalan panggilan saya…inipun masih dengan tertatih…

Sebenarnya masyarakat yang bagaimana yang bapak idam-idamkan?

Mungkin gambaran ideal secara singkat adalah kehidupan masyarakat yang berkeadilan dan semoga juga makmur…Sementara kita ini kan sedang belajar menjadi bangsa yang modern dan berdaulat,rasanya kok juga masih susah banget…

Pak Eko arsitek iya, seniman iya, apa ikut politik juga?

Berasitektur dan berkesenian adalah juga berpolitik. Namun bukan politik dalam artian kekuasaan atau uang. Namun lebih dalam artian politik hati nurani. Sedapatnya kita mesti menyuarakan tentang kebenaran universal ini…tentang memanusiakan manusia seperti YBM merumuskannya berpuluh tahun yang lalu.

Pak Eko sudah umur 70-an, jalan-jalan ke luar negeri, fisik tidak protes?

Haha..I am old but not yet that old. Itu akan terjadi 15 tahun lagi ya.

Tentu kekuatan fisik sudah sangat berbeda. Tapi ya, nikmati saja dan jangan memaksa diri…

Bapak kalau lagi santai, ke mana saja? Denger-denger sering ke pasar loak, pasti pak Eko koleksinya banyak.

Iya pasar loak merupakan salah satu tempat yang saya suka. Bisa ngobrol dan berbincang tentang apa saja dengan siapa saja. Pasar merupakan tempat yang sangat inspiratif, terbuka dan juga tidak hirakhis…

Terakhir: Apa yang bapak anggap sebagai guru dalam hidup ini?

Alam, sejarah, kehidupan, teman, kebudayaan-kesenian….(ternyata banyak juga guru kehidupan🙂

IMG_8346

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s