Romo Mangun jalan-jalan di Frankfurt

Gambar

Romo Mangun jalan-jalan di Frankfurt, tempat Pameran Buku Internasional diadakan, 300.000 buah buku dan semakin tahun semakin bertambah. Buku ilmiah, buku seni, buku pop, buku komik, buku agama, buku antik, buku saku, buku ensiklopedi, buku…

“orang harus memilih dan kali ini prioritas perhatian lebih kami curahkan kepada buku untuk anak-anak,” tulis Romo Mangun dalam buku catatan perjalanannya ke beberapa kota di seluruh penjuru dunia, yang diterbitkan Grafiti tahun 1987.

Ia ingin bilang bahwa percuma kita menghabiskan sekian trilyun rupiah untuk universitas dan sekolah menengah, bila kita tidak mulai, tulis Romo Mangun “sangat dini pagi pada si mungil balita.”

“di negeri ‘sana’ anak-anak unyil yang belum dapat berjalan lurus sudah diberi buku. Untuk disobek-sobek? Tidak bisa, karena halaman-halamannya (cukup 6-8 saja) dibuat dari karton plastik tebal alot. Diempaskan di tanah atau dilempar-lemparkan, silahkan.”

Ia menganjurkan kepada para penerbit untuk berlomba-lomba menerbitkan buku untuk anak-anak. Dengan harga yang terjangkau tentunya. Atau jika pun mahal? Dari 150 juta orang (sebentar lagi 260 juta), pikirnya, pasti ada satu dua juta ayah-ibu yang cukup cerdas dan cukup berduit untuk menangani sendiri pendidikan dan pengajaran anak-anak mereka di luar sekolah dengan macam-macam buku yang tidak akan pernah dimasukkan dalam kurikulum Departemen Pendidikan & Kebudayaan.

Menurutnya, sejahat-jahat atau sebodoh-bodohnya orangtua, pasti mereka tidak menginginkan anak-anak mereka menjadi jahat atau terbelakang di dunia yang semakin maju ini. Sebab, modal utama manusia modern bukan uang atau tanah sawah, tetapi informasi dan kecerdasan si anak –dilengkapi kebajikan dan iman.

Di antara pengunjung Pameran Buku Internasional, yang tidak hanya dihadiri para pedagang buku, penulis, hingga kontraktor penerjemah. Hadir juga murid-murid dan mahasiswa, bapak-bapak ibu-ibu yang berkat pendidikan sejak kecil sangat menaruh minat terhadap yang disebut buku.

Menurut pengamatannya, orang Amerika membaca buku karena ingin menimba informasi. Fungsional. Orang Eropa juga begitu tetapi lebih,dengan sebentuk hubungan cinta. Buku-buku di Eropa dicetak sebagai benda seni. Sesuatu yang, menurut Romo Mangun; sebentuk pernyataan kultural ingin terhitung jenis manusia yang berkebudayaan, punya pamor dan gengsi juga.

Maka, sangatlah menarik bahwa dari sekian kios pameran, bagian yang paling dikunjungi dan selalu berjejalan pengunjung tua muda ialah bagian Sastra. Begitu juga koran-koran Jerman yang besar rupa-rupanya melihat Pameran Buku 300.000 buah ini hanya dari segi sastra, kritik sastra, resensi sastra.

Kita tidak tahu bagaimana halnya seandainya Pameran Buku Internasional setiap tahun ini tidak diadakan di Frankfurt, Jerman. Tetapi di New York atau Hong Kong.

Konon, sang Goethe-lah yang pertama-tama bercakap tentang sastra indah. Pendiri hadiah penghargaan sastra Internasional, Nobel, meminta agar Hadiah Nobel untuk sastra diberikan kepada mereka yang berkualitas perihal idealismenya.

Tetapi, segera ternyata bahwa sastra yang baik justru bukan yang idealistis berkhotbah manis. Atau pelukisan manusia yang indah, yang mempradaan kehidupan yang ‘pedagogis’ optimistis kencana. Sastra yang baik, mirip Roentgen. Jelas, tidak molek.

Dalam pidato pembukaan Pameran Buku Frankfurt itu, seorang ahli sastra, Hans Mayes, memberi dorongan yang menghibur kita. Romo Mangun menyimak dan mencatatnya;

“ia menguraikan masalah, betapa dalam zaman modern yang semakin kecil ini, batas-batas antara sastra lokal dan sastra dunia semakin hilang. Biasanya, sastra lokal dianggap sastra rendah, dengan masalah-masalah lokal tetek-bengek dan falsafah- falsafah hidup kecil. Sedangkan sastra dunia mengemban problem-problem besar, dan falsafah tinggi.”

“Meyer menceritakan keheranan pemenang Hadiah Nobel untuk sastra 1909 Selma Lagerloef dari Swedia kepada pemenang Hadiah Nobel untuk sastra 1929, Thomas Mann dari Jerman. Si guru desa Selma mengaku, ketika ia menulis cerita-ceritanya tentang kehidupan tetek-bengek daerah udik terpencil, ia tidak menduga bahwa nocel-novelnya akan dianugerahi Hadiah Nobel. Thomas Mann merasa bahagia mendengar itu, karena cerita ‘Budden-brooks’ yang ia tulis, misalnya, sebenarnya hanya untuk hiburan keluarga dan tante-tantenya, lingkaran kecil yang tertawa terbahak-bahak bila ia membacakan teksnya. Kok lalu dihadiahi ‘dinamit internasional Nobel’? ternyata, batas-batas antara sastra tinggi dan rendah, lokal dan internasional, hanya ada dalam angan-angan orang yang tidak tahu. Atau memang terlalu suka pada kemanisan foto-foto berwarna.”

Membaca catatan-catatannya, kita kembali dibuat sadar. Cerita-cerita orang-orang kecil dari sungai Mississipi oleh Willian Faulkner, riwayat orang-orang kampung Tortilla oleh John Steinbeck, desa udik di Columbia yang diceritakan oleh Gabriel Garcia Marquez, pertistiwa-peristiwa kecil lokal Jepang yang dilukiskan oleh Kawabata Yanusari, semua itu bukan ‘jagat gede’ embusan dada raksasa-raksasa yang befalsafah adiluhung, melainkan hal-hal yang biasa-biasa saja, masalah lumrah yang barangkali dinilai ‘tidak bermutu’.

Namun, dalam tangan seorang penulis ternyata dapat menggerakkan serangkaian laboratorium dan skripsi doktor-doktor cemerlang di seluruh dunia.

Akhirnya, Romo Mangun berpesan;

Jadi, para penulis muda, baik dari udik maupun tepi kanal Ciliwung, your chance! Hallo, Ponirah! (Jangan Ponny!). Hallo, Tukiran! (nggak usah; Tucky).

Mungkin begitu juga dalam berarsitektur.😀

*

selain di Frankfurt, Jerman. Romo Mangun juga jalan-jalan ke berbagai penjuru dunia. Ia telah mengunjungi kota-kota terkenal di Eropa, Asia, dan Amerika. Dan tentu saja juga dengan beberapa kota-kota di Indonesia.

catatan-catatan pejalanannya kemudian diterbitkan oleh Grafiti Pers di tahun 1987, dengan judul buku ‘Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa’. Yang saya foto ini adalah catatan ketika ia berkunjung ke Calcutta.

Gambar

“karena sudah terlanjut dilahirkan selaku orang Jawa, maka sesekali saya ingin juga ‘berziarah’ ke negeri induk salah suatu unsur penting kebudayaan Jawa,” Tulisnya. “ialah India.”

ket; Teks oleh Muh Darman. foto dokumentasi ruang17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s