ArtJog13 ; Maritime Culture

Akhir minggu kemaren, saya main ke Jogja. Karena bosen di Bandung, atau lebih tepatnya; jenuh. “Mungkin perlu refreshing,” pikir saya. Jadilah saya ke Jogja, yang antara lain untuk melihat acara ArtJog13. Catatan di bawah ini saya tulis dalam bentuk yang santai, saya pikir, tak perlulah terlalu serius, ada kalanya kita perlu santai. Refreshing sejenak, selamat membaca.


Berikut ini adalah fasade depan gedung Taman Budaya Jogja.

IMG_3981

IMG_4017

Seperti pada tahun sebelumnya, halaman muka Taman Budaya kerap menjadi pusat perhatian dalam perhelatan ArtJog. Para seniman komisi seperti Farhansiki misalnya, pada tahun 2009, mengubah halaman muka pameran dengan karya stensil berukuran 14×24 meter di atas tumpukan seng bergelombang. Sementara di tahun 2010, Eko Nugroho menampilkan lebih dari 40 figur sarkastiknya, dengan latar belakang jingga yang menyala.

Menurut informasi yang saya baca, karya Eko Nugroho secara tidak langsung juga mengkritisi konsidi seni rupa pada saat itu.

kemudian di tahun 2012, halaman muka Taman Budaya dikerjakan oleh Joko Avianto, dengan instalasi ribuan jalinan bambu. Karya ini sekaligus merepresentasikan tema ArtJog12; Looking East-a Gaze Upon Indonesian Contemporary Art.

Tiga karya di atas tidak sempat saya lihat langsung, beberapa foto dokumentasi membantu, yang berujung pada ‘penyesalan’ karena tak melihat langsung. Begitulah, tak cukup menikmati karya hanya melalui foto.

Pada penyelenggaraan tahun ini, saya rasa perlu menghadiri, biar tidak menyesal tentunya. Hehe… dan … Wooowww… Kerenn … haha …

Tim artistik ArtJog13 mendesain Fasade bangunan Taman Budaya dengan material bekas Tong/drum wadah minyak, material tersebut dikreasikan menjadi lembaran besi hingga bisa direka selayaknya dinding kapal. Melalui instalasi ini, tim artistik berusaha membawa hadirin untuk dapat membayangkan visualisasi tema yang diusung; Maritime Culture.

Dan selebihnya mari masuk melihat 100an karya… hmm… (diupload gk yah, banyak banget… haha) baiklah… saya coba upload beberapa karya yang menarik menurut saya yah.🙂

IMG_3999

Tidak sedikit seniman di ArtJog13 yang menggunakan Buku atau majalah sebagai media berkarya. Sebut saja ‘Catatan dari Ambon’ karya kolaborasi R.E. Hartanto bersama Tarlen Handayani, lalu ada Dedi Sufriadi dengan judul ‘Catatan Pinggir #1’, Yuli Prayitno dengan karya ‘Kita mewarnai, Kalian mengabukan’.

Nama-nama seniman di atas masih ‘asing’ bagi saya, mungkin juga bagi teman-teman, tapi paling tidak saya mengetahui Tarlen Handayani dari Tobucil Bandung. Jika teman-teman pernah melihat buku ‘handmade’ so-lil-o-quy pak Apep, itu adalah hasil kerja tangan Tarlen.

Berjalan keliling ruang pameran, dimana sekitar 100an karya dipajang, saya hampir melewati satu karya yang juga menggunakan Majalah sebagai media berkarya, seniman ini wajib dilihat, siapa lagi kalau bukan karya dari peraih Tokoh Seni Pilihan 2012 versi majalah Tempo. Ya, itu dia; Anusapati.

IMG_4000

Karya instalasinya terletak di ruang belakang pameran, sebuah perahu dengan material utama menggunakan majalah lifestyle asing.

Karya ini diilhami oleh penemuan sebuah kapal kuno di situs Punjul Harjo, Rembang, pada tahun 2008. Berdasarkan bahan-bahan yang digunakan serta teknik pembuatannya, kapal yang ditemukan dalam kondisi relatif utuh ini diidentifikasi sebagai kapal nusantara dari abad VII. Konstruksi yang rumit dan canggih khas wilayah Asia Tenggara pada kapal itu juga membuktikan bahwa masyarakat Nusantara kala itu sudah memiliki teknologi kelautan yang sangat maju.

Pada karya instalasinya ini, Anusapati hendak mengingatkan kita pada fakta historis tersebut, sedangkan penggunaan material utama berupa majalah lifestyle asing, adalah sebagai representasi dari kondisi sekarang, dimana masyarakat Indonesia yang telah terputus dari tradisi bahari warisan nenek moyangnya, sehingga dalam hubungan dengan bangsa-bangsa lain lebih berperan sebagai konsumen, dari produk teknologi, bahan pangan, hingga informasi, ketergantungan pada negara-negara lain yang tidak terhindarkan.

Karya Anusapati ini, pada akhirnya bisa dilihat sebagai kritik terhadap masyarakat Indonesia, khususnya di perkotaan, sekaligus mengingatkan mereka agar tidak melupakan jatidirinya sebagai bangsa besar yang mempunyai latar belakang sejarah budaya yang panjang dan beralih menjadi bangsa yang konsumtif.

Selebihnya, berdiri di depan karya ini, saya jadi lebih banyak termangu.🙂

IMG_3906

karya Yudi Sulistyo di ArtJog13 ini berjudul ‘World Without Sea‘, dengan menggunakan material kertas, besi, kayu, dan benda-benda yang ditemukannya, Yudi membuat dua buah kapal laut, dilengkapi sayap yang berbaling-baling. Di atas kapal? sebuah pemukiman yang acak, menyerupai kampung.

IMG_3943

Beberapa karya di ArtJog13 adalah ‘Video installation’, seperti karya Mella Jaarsma yang berjudul The Landscaper.

Mella tertarik pada ekspansi yang dicapai selama masa penjajahan. Bagaimana pemerintah Belanda dapat berkuasa di daerah yang sangat jauh dari ‘rumah’, dengan jarak satu setengah tahun berlayar pulang pergi? –Mella, bertanya- VOC harus bergantung pada hubungannya dengan bangsawan lokal, kaum elit dan kapten Cina, untuk menaklukkan wilayah dan mempertahankan kekuasaan.

IMG_3967

Cara memahami waktu, ruang, jarak dan kecepatan pada masa itu akan sangat berbeda dengan apa yang kita alami saat ini.

Mella menggunakan pemandangan indah ‘Mooi Indie’, yang dicat dan diukir oleh orang-orang Jatiwangi di sepanjang Jalan Raya Pos yang dikenal sebagai jalan darah. Sesuatu yang indah –namun karena sejarahnya yang kejam- lanskap yang meyakitkan ini dibangun menjadi sebuah rok yang dikenakan oleh seorang penari Sufi yang terus menari dan berputar hingga ia rubuh.

Sebenernya, saya tidak begitu mengerti karya Mella. Yang saya mengerti adalah bagaimana seorang ibu yang membawa keempat anaknya melihat pameran ini.

IMG_3968

Dan kau tahu, anak yang paling kecil –yang digendong- tiba-tiba menjerit ketakutan ketika diajak masuk ke ruang instalasi Video yang gelap.

“Mamaaaaa Taakkuuutttttttttttt……!!!!!”

“Iya,,, adoohhh susah yah bawa anak-anak ke pameran…”

Hahahahah…

IMG_3989

Yang ini adalah seniman yang sedang ‘hangat-hangat’nya diperbincangkan, ya itu dia; Eko Nugroho. Pada karyanya yang berjudul ‘Museum of Mentality’, Eko Nugroho ingin mengajak kita untuk kembali menyadari kesalahpahaman.

Kesalahpahaman apa yang ia maksud?

Eko Nugroho menjelaskan bahwa Mental atau kejiwaaan, adalah identitas manusia yang kerap memperngaruhi pola pikir dan tindakan. Bangsa ini diwujudkan dengan sebuah mental perjuangan untuk kemerdekaan yang besar. Dan, menurut Eko Nugroho, kemerdekaan bangsa ini dibentuk dengan mental membangun kembali bangsa yang runtuh dikarenakan penjajahan.

Ketika reformasi bergulir untuk bangsa ini, muncul pula benih-benih demokrasi yang kuat dari bangsa ini. Pencarian dan transisi bangsa ini menuju ke arah demokrasi yang sesungguhnya meskipun menghadapi banyak tantangan yang sangat besar. Dan saat ini bangsa yang telah terbangun indah ini berhadapan dengan mental penghancur bangsa. Ruang demokrasi telah dipergunakan beberapa pihak sebagai alat pemecah belah bangsa ini.

Eko Nugroho ingin menajak kembali menyadari kesalahpahaman ini semua dan mari kita mengembalikan sebuah demokrasi yang sehat dan dewasa untuk generasi penerus. Dan sudah saatnya topeng-topeng berkedok demokrasi itu dimasukkan dalam kotak kaca dan dimuseumkan.

Tidak perlu kita gunakan lagi topeng-topeng itu.

IMG_3991

Agus Suwage, A-ha! Ini dia karyanya. Sebuah instalasi berjudul ‘Menghidangkan Mitos’. Menurut Agus Suwage, sesuatu menjadi mitos karena pengalaman empirik manusia. Seringkali kekuatan (politik) tertentu kemudian muncul dan menungganginya. Kanjeng Ratu Kidul sang penguasa laut Jawa, sup sirip hiu dapat menambah kekuaran seseorang; dan beragam mitos lainnya adalah sebentuk kekuasaan yang, menurut Agus Suwage, harus dikenali.

Yuk! Mari makan untuk menambah kekuatan!😀

IMG_3908

IMG_3911

IMG_3979

See You at ArtJog14 …

Acara ArtJog13 berlangsung hingga 20 Juli 2013, jika foto-foto ini tak cukup dinikmati. Ada baiknya, sekali-kali, Ya datanglah langsung. Sambil Ngabuburit, mungkin jadi rekomendasi yang pas. :)

-Muh Darman-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s