cerita singkat SketchWalk Bandung Vol. 1

Ia hampir membubuhkan setempel di lengan kanannya, “mau buat tatto, Om. Boleh?” katanya seperti minja ijin. Saya bingung. Tapi tiba-tiba ibunya memanggil, terdengar seperti “Pita…,” dan yang dipanggil langsung kembali mengambil posisi, di depannya: bangunan-bangunan tua Bandung. Dengan semangat, ia kembali menggambar.

Saya pun tenang, setelah membubuhkan stempel SketchWalk Bandung di kertas gambarnya, anak itu tak jadi lanjut membubuhkan stempel di lengannya. Tapi mungkin pangeran kecil dalam dongeng Antoine de Saint-Exupery akan berkata dalam hati: “orang dewasa memang aneh.”

Hari itu Minggu 7 april 2013, cuaca cerah berawan. Diantara peserta yang kebanyakan orang dewasa, terdapat juga beberapa orang tua yang membawa anak-anaknya ikut dalam acara SketchWalk Bandung. Acara yang pertama kali diadakan di kota Bandung ini mengambil lokasi sketsa yang dimulai dari kantor pos besar dan berakhir di galeri Sarasvati.

“Karena jumlah peserta yang banyak, jadi akan dibagi dalam tiga kelompok.” Pak Ichsan sebagai koordinator mulai membuka acara, ia lanjut menjelaskan bahwa “Teman-teman bisa bebas memilih ikut kelompok yang dipandu oleh pak Apep,pak Thamrin, atau saya sendiri.”

Pagi itu peserta memang banyak, kurang lebih ada 80 orang. Saya pun memilih ikut dalam kelompok yang dipandu oleh pak Thamrin.

Sekitar pukul 08:30 para peserta mulai menyebar. Ada yang di trotoar jalan, ada yang di jembatan penyeberangan, dan, astaga! Perempuan itu lebih nyentrik dengan duduk di atas pagar. Saya pun tertawa terkikik sebelum mulai sketsa di sekitar kantor pos besar.

Satu menit, dua menit, tiga menit, … tak terasa sudah sejam. Sketsa saya belum juga jadi-jadi. Dalam hati saya menjerit “Ah, bosen, nyerah!” Saya pun menyudahi dan memilih melihat-lihat hasil sketsa teman-teman yang lain. Agak malu-malu, mungkin sedikit membanding-bandingkan. Dan ternyata saya memang harus banyak latihan.

Saya pun menghampiri pak Thamrin. Pemandu kelompok. Dengan maksud melihat sketsanya untuk sedikit banyak mendapat inspirasi. Duduk di bangku portabel kecil yang ia bawa sendiri, ia nampak lebih tenang dari yang lain. Dengan selera berpakaian yang santai, ia seperti asik sendiri mengamati dan mensketsa bangunan Swarha di seberang kantor Pos Besar. Melihat sketsanya, dalam hati saya berkata “astaga!” Ia memang master.

Image

Sejumlah Cat-cat air ia campur, entah racikan seperti apa yang kemudian membuat warnanya terasa lembut. Tapi yang kemudian saya tahu, dengan sedikit kekentalan, ia menyelesaiakan bagian bayangan. Luar biasa. Hingga saya hampir lupa mengamati huruf W pada sign Swarha tergambar U di sketsanya. Saya melihat huruf itu memang sedikit patah. Ia memang sangat detail.

Pak Thamrin adalah seorang arsitek di Bandung. 5 april 2013,dua hari sebelum acara SkecthWalk Bandung, saya berkunjung ke kantornya di jalan Rasamala 15. Berniat menjadi volunter, saya pun ikut duduk rapat bersama panitia yang kebanyakan adalah pegawai kantor Pasagi, tempat pak Thamrin bekerja.

Sebelum mulai membagi tugas dalam acara, pak Thamrin lebih dulu mengajak melihat-lihat beberapa hasil sketsa peserta SketchWalk di Chao Praya22-24 Februari 2013, sebuah acara sketsa yang ia ikuti dalam tiga hari di Bangkok.

Infokus mulai menampilkan gambar, pak Thamrin mulai bercerita. “Coba perhatikan yah, warna coklat gelap itu adalah kopi,” Ia mulai bercerita bagaimana penggunaan warna tak hanya datang dari cat air dan tinta, yang biasa tersedia di toko. Bahan pewarna ternyata juga bisa datang dari yang ada di sekitar kita. “Mereka pakai macam-macam, ada kopi, ada teh, dll” katanya, bersemangat.

Mendengarnya ceritanya, panitia dan volunter yang hadir jadi seperti ingin lebih banyak tahu. Ia pun lanjut bercerita tentang karya-karya lain peserta SkechWalk di Chao Praya dan sampai juga ke karyanya sendiri.

“Hari pertama sketsa saya masih terasa tegas seperti sketsa arsitek pada umumnya,” ia mulai menjelaskan karyanya yang terlihat detail dan tegas.“tapi perlahan-lahan saya mulai terpengaruh, dengan gaya sketsa yang lebih ke art” dan ia mulai menampilkan hasil sketsanya di hari-hari berikutnya yang mulai kehilangan ketegasan dan detail, meski begitu, kekuatan menangkap suasana melalui sketsanya menjadi semakin dahsyat.

Puas mendengar cerita yang cukup membuat bersemangat, panitia dan volunter pun diberi tugas masing-masing. Saya kebagian menjaga checkpoint 1, tempat peserta membubuhkan stempel SketchWalk Bandung.

SEKITAR pukul 09:30 checkpoint 1 mulai ramai, saya mulai menghampiri peserta. Sambil menunggu mereka membubuhkan stempel, saya pun mulai melihat-lihat hasil sketsa mereka.

Kebanyakan dari mereka punya sketsa yang bagus-bagus. Dan sebagai bukti telah menjalankan tugas sebagai penjaga checkpoint 1, saya pun meminta mereka berfoto bersama. Mereka nampak senang. “woo.. ayo foto-foto, ini saya mau twit pic,” ajak saya, semangat.

Image

Pak Apep yang sedang ada di checkpoint 1 pun tak kalah eksis, “Man, ini tolong ambilkan gambar,” pintanya, seraya memberikan BlackBerry-nya. Suasana menjadi cair dan akrab. Mereka lalu bersantai sambil ngobrol, sebelum kemudian kembali melanjutkan perjalanan sambil sketsa.

Sekitar pukul 11:00 di checkpoint 2 peserta antar kelompok mulai saling membaur, saya yang sebelumnya bersama pak Thamrin kini bertemu pak Ichsan. Beliau membubuhkan Stempel di kertas yang telah penuh dengan cat air.Setelah membubuhkan stempel, ia lalu berjalan ke ruang di antara dua bangunan tua, di gang dengan sedikit cahaya, ia mulai duduk menggambar. Sepertinya ia memang spesialis kegelapan.

mendekati pukul 12:30 checkpoint 3, di checkpoint terakhir ini Pita kembali minta stempel SketchWalk Bandung, ia sudah menghasilkan lebih dari lima gambar. Luar biasa! Dan kini ia hendak membubuhkan stempel pada gambar-gambar terbarunya.

Ketika saya melihat gambarnya, saya tiba-tiba seperti kembali ke masa kanak-kanak. Gambar-gambar yang membawa memori. Dalam hari saya berkata; ia memang anak yang pandai menggambar, mengekspresikan diri, sampai-sampai stempel ia mau cap di lengannya. Seperti mau buat tatto.

Saya hampir tertawa tapi tak jadi, bapaknya, pak Erwinthon datang mengajak ngobrol tentang penginapan backpacker, tentang pabrik penyulingan minyak atsiri di Tawangmangu, dan sampai juga ke tentang Romo mangun. Saya pun lebih banyak mendengarkan.

Tak lama kemudian Pita mengingatkan bapaknya, “pak itu lihat,” katanya sambil menunjuk ke peserta yang mulai kembali berjalan ke tujuan terakhir: galeri Sarasvati. Bapaknya mengiyakan, kami pun lanjut ngobrol sambil jalan.

Awalnya saya mengira galeri sarasvati adalah sebuah bangunan baru yang berada di antara bangunan-bangunan tua. Pikiran saya pun tiba-tiba mengingat ruas jalan Braga dimana satu bangunan hotel baru berdiri setelah menghancurkan bangunan tua di area tersebut.

Tapi ternyata galery sarasvati adalah sebuah galeri yang memanfaatkan bangunan tua, pemiliknya, pak Lin che wei, pun ikut dalam acara SketchWalk Bandung. Ia tampak sangat mendukung dan punya selera yang bagus terhadap bangunan-bangunan tua.

Kadang kala, saya bertanya dalam hati, apa yang terjadi dengan anak-anak di bandung kelak, 10 atau 15 tahun mendatang, ketika mungkin tak ada lagi bangunan-bangunan penuh sejarah yang bisa mereka lihat.

Di depan galeri sarasvati, saya dan pak Erwinthon lanjut ngobrol. Pita yang aktif bergerak tiba-tiba menghampiri kami, ia senyum-senyum. Pak Apep yang ada di dekat kami pun menyapa Pita, “senang yah jalan-jalan sambil menggambar,” sapanya, hangat. Tapi Pita tak menggubris. Bapaknya lalu cerita bahwa pita bisa mengalahkan bapaknya dalam banyak hal, kecuali makan. Mendengar itu, Pita ngambek tapi tetap tidak menggubris. Ia masih saya melihat saya sambil senyum-senyum, saya mengerti, saya lalu memberinya stempel SketchWalk Bandung dan ia pun pergi membawanya entah kemana.

Mungkin ia pergi membuat tatto.

-Muh Darman-

One thought on “cerita singkat SketchWalk Bandung Vol. 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s