Pabrik Penyulingan Minyak Atsiri

Image

Adi purnomo yang akrab disapa Mamo, tak begitu terkejut ketika layar di kanannya tak dapat menampilkan slide presentasi. Ia masih punya sisa satu layar di kirinya. Hari minggu yang cerah di bulan Mei 2009, Mamo hadir sebagai pembicara dalam seminar arsitektur di Bandung. Ia tampil dengan selera berpakaian yang cerah, berbeda dari sebelumnya yang lebih sering hitam-hitam. “Mungkin Mamo punya kehidupan baru,” komentar moderator Baskoro tedjo, menggoda.

Slide-slide awalnya menampilkan foto perjalanan terkait dengan tema seminar waktu itu; eksplorasi material. Foto ijuk dan bambu di Bali, bata di Trowulan, kayu di Kalimantan, genteng di Kediri, dan batu di Yogyakarta. Tapi ada satu yang nampak berbeda, ia menampilkan susunan roster satu bangunan pabrik tua yang terletak di Tawangmangu. Saya yang ketika itu ikut hadir, tiba-tiba bertanya-tanya dalam hati; itu bangunan apa?

Waktu berlalu, Juli 2010, Kami bertemu di Solo. Dalam rencana mengunjungi site proyek rekan kontraktornya yang terletak di Tawangmangu, Mamo tiba-tiba mengajak mampir melihat bangunan pabrik tua itu. Kali ini saya beruntung. Bersama seorang rekan kontraktornya, kami bertiga pergi meninggalkan Solo dan menuju kaki gunung Lawu, Tawangmangu, tempat site proyek dan bangunan pabrik tua itu berada.

“Monumental,” komentar Mamo, setibanya kami di sana. Tapi bangunan yang hampir seluruh bagian dindingnya tersusun dari kerawang itu tak sempat kami masuki, waktu mengharuskan kami patuh pada rencana lain; mengunjungi site proyek rekan kontraktornya.

“Site yang menyenangkan,” komentar saya dalam hati, setibanya kami di sana. Di kaki gunung Lawu, tepat di tepi sungai yang masih alami, kami menghabiskan waktu hingga petang, diselingi ngobrol dan mencicipi ubi goreng yang hangat, perlahan-lahan senja pun datang, bangunan pabrik tua pun terlupakan.

Sejak itu, saya tidak lagi mengingatnya. Satu-satunya bahan yang saya pegang hanyalah foto, tanpa sempat masuk dan ngobrol dengan penjaga. Beberapa foto yang sempat saya jepret pun berakhir di facebook.

“ini di mana?” Avianti armand bertanya dalam komentarnya di facebook. Belum sempat saya menjawab, Achmad Tardiyana yang akrab disapa pak Apep sudah menimpali dengan menulis komentar serupa; “iya, ini di mana?” tulisnya, penasaran.

Saya menjawab seadanya dan komentar pun mulai ramai berdatangan. Keterbatasan bahan membuat diskusi di facebook itu tak lengkap, sebuah kenyataan yang memanggil saya untuk mencari tahu.

4 November 2012, hari masih pagi ketika bus yang saya tumpangi bergerak menanjak ke arah Tawangmangu. Cuaca cerah, pemandangan di luar lebih banyak hijau oleh pohon-pohon yang entah apa namanya.

Pagi itu saya memutuskan kembali mengunjungi bangunan pabrik tua di Tawangmangu. Djoko, teman saya di Solo, berniat menemani perjalanan. Menurut Djoko, ia juga pernah melihat bangunan pabrik tua itu dari jalan, ketika suatu hari ia bervakansi ke Tawangmangu. “Tapi melihatnya hanya sepintas” terangnya.  Ketika saya tanya berapa lama perjalanan dengan bus? Ia kemudian menghitung dan menjawab “sekitar sejam lebih.” Cukup lama. Kami pun mengisi waktu perjalanan di bus dengan ngobrol pekerjaan dan sampai juga ke obrolan seputar penulisan arsitektur di Indonesia.

“Saya pikir buku itu hanya kumpulan foto dengan penjelasan yang minim,” saya mulai membuka obrolan yang merujuk pada serial buku yang berisi kumpulan arsitek, lalu ada rumah dan villa, yang berjumlah 50 dalam satu buku. Djoko nampak setuju mendengar pendapat saya.

Djoko pernah bekerja sebagai arsitek di Jakarta, di biro arsitek Achmad Djuhara. Setelah beberapa tahun kerja di Jakarta, ia lalu kembali ke kota asalnya; Solo. Tapi ia tak hanya tahu tentang gambar, ia juga pembaca yang baik, tak hanya tentang buku-buku arsitektur, ia juga membaca buku-buku sastra. Kami lanjut ngobrol tentang buku terbaru Ayu utami; Lalita. Buku yang sedikit banyak bercerita tentang candi Borobudur. Cara penulisannya pun menarik, membaca buku tersebut, pembaca seperti masuk ke dalam diagram konsentris, seperti dalam denah candi Borobudur. Kami sama-sama terinspirasi.

Obrolan kami pun berlanjut ke buku so-lil-o-Quy yang ditulis pak Apep, “buku itu dicetak lagi gk yah?” Djoko bertanya-tanya. Saya kemudian menyampaikan kabar terakhir yang saya dengar dari penulisnya bahwa buku tersebut sedang dalam tahap perbaikan beberapa typo dan kemungkinan akan diterbitkan. “Penerbitnya?” kami bertanya-tanya dan berharap buku bagus itu mendapat penerbit yang juga bagus.

“Kalau buku ‘arsitektur yang lain’ Avianti armand?” tanya Djoko. “Wah kalau itu gk usah ditanya, bagus banget,” saya menjawab seadanya. Djoko pun bercerita kalau ia baru membeli buku puisi Avianti armand; perempuan yang dihapus namanya. “Saya titip beli sama teman di Jakarta,” terangnya “karena buku itu hanya dijual di toko buku aksara Kemang.” Mendengar ceritanya, saya semakin yakin bahwa buku yang baik, di mana pun ia berada, akan selalu dicari, meski ia hanya dijual di satu tempat.

Perjalanan menanjak terlalui, kami terus lanjut ngobrol sampai lupa waktu. Tanpa terasa bus yang kami tumpangi mulai berjalan menurun, satu bukit telah dilalui. Pemandangan diluar masih sama hijau oleh pohon-pohon yang entah apa namanya. Ketika bus mulai menanjak lagi, nampak bangunan pabrik tua yang akan kami kunjungi mulai terlihat, kami bersiap-siap turun.

Bus berhenti tepat di seberang gapura desa, Kami turun dan mulai berjalan kaki sekitar 100 meter ke dalam.

Matahari mulai naik, cuaca cerah dan cukup panas. kantor kepala desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, terlihat di sebelah kanan jalan. Tak ada aktifitas di kantor tersebut, saya pun menyadari bahwa ini hari minggu, libur. Kami singgah sebentar di warung sebelahnya, membeli minuman dingin untuk menghilangkan dahaga.

Lalu Kami lanjut berjalan menuju bangunan pabrik tua yang hanya tinggal beberapa langkah saja dari kantor kepala desa Plumbon.

“Nampak sepi,” kata Djoko sembari melihat bangunan pabrik tua itu dari luar pagar.

“bagaimana cara kita masuk?” saya mulai bertanya-tanya dan kami pun mencari cara.

Djoko pandai bahasa Jawa, sedang saya hanya mengerti bahasa sunda. Kelebihan Djoko ini sangat membantu ketika kami diterima di teras rumah keluarga yang menjaga bangunan pabrik tua ini. Bahasa ternyata dapat membuat suasana menjadi cair dan akrab.

Tak lama kemudian, oleh bapak Maryanto, penjaga bangunan pabrik tua ini, kami diajak berkeliling masuk ke dalam hingga setiap sudut bangunan. Beliau menjadi tour guide yang ramah. Usianya 52 tahun. “Saya di pabrik ini sudah dari tahun 1985, ikut dididik di dalam pabrik, kalau istri saya bantu memasak untuk karyawan di dalam, setelah pabrik ini bubar dan tak lagi aktif, saya ditarik untuk menjaga pabrik ini,” terang Maryanto yang sudah menjaga pabrik ini selama kurang lebih 20 tahun.

Ia dan keluarganya tinggal di bangunan karyawan yang masih berada dalam area pabrik, meski ia mengakui juga punya rumah di bukit seberang. Kami mulai berjalan meninggalkan bangunan karyawan dan mulai mendekat ke bangunan utama. Sesekali Maryanto berbicara dalam bahasa Jawa, Djoko pun dengan senang hati meladeni.

“Djoko, tolong bilang ke bapak pakai bahasa Indonesia” saya bisik protes ke Djoko yang mulai keasikan ngobrol dalam bahasa Jawa. Rupanya pak Maryanto mendengar dan mengerti, ia pun segera kembali berbahasa Indonesia. Saya mulai tenang.

“Dari Bulgaria,” jawab Maryanto ketika saya menanyakan arsiteknya. Tapi ia tak tahu siapa namanya, yang ia tahu bangunan ini dibangun pada tahun 1964 dan mulai beroperasi di tahun 1966. “Tapi bangunan ini tak 100% selesai, mungkin baru sekitar 80%,” terangnya. Ketika saya tanya kenapa, ia menjawab tegas “G30S.”

Hampir-hampir saja saya menjerit ‘Anjritttt…!!!

Tapi cepat-cepat saya dan mungkin juga Djoko mencari cara menutupi keterkejutan itu dengan tenang dan mulai bertanya-tanya dalam hati; apa maksud Maryanto mengatakan G30S? Apa hubungan bangunan ini dengan peristiwa G30S? Saya dan mungkin juga Djoko jadi penasaran.

Pada 1961 sampai dengan 1969, melalui presiden Soekarno, pembangunan Nasional Semesta Berencana dilaksanakan, yang kemudian dimasa orde baru (orba) sering diolok-olok sebagai proyek mercusuar. Proyek-proyek di tahun tersebut antara lain; Monumen nasional, di Jakarta pada tahun 1961 oleh arsitek Sudharsono. Gedung Pola, di Jakarta pada tahun 1962 oleh arsitek Silaban. Conefo (sekarang DPR-MPR), di Jakarta pada tahun 1964 oleh arsitek Sujudi.

Dilihat dari tahun pembangunannya (1964-1965), besar kemungkinan bangunan pabrik ini juga masuk dalam daftar sejumlah proyek mercusuar bung Karno, yang lalu ‘hilang’ dari catatan dokumentasi arsitektur Indonesia karena letaknya yang jauh di kaki gunung Lawu, Tawangmangu. Dan mungkin juga karena proses pembangunannya yang terkena pergolakan politik di Indonesia, G30S.

“20% tenaga ahli dari Bulgaria yang mengerjakan bangunan ini pergi waktu pecah G30S, yang ketika itu Bulgaria dinggap komunis, mereka pergi demi keselamatan.” Maryanto mulai menjelaskan sembari mengajak kami masuk ke dalam pabrik.

Tiga buah Boiler besar meyambut, “Dulu ada sembilan, enam yang lain sudah dijual,” kata Maryanto “juga dengan genset, dijual!” saya menyadari kalimatnya, sudah tentu, itu bukan kehendak Maryanto. Sebagai karyawan yang bertugas menjaga, ia tak bisa apa-apa ke atasannya. Apa boleh buat.

Ketika saya bertanya siapa pemiliknya, Maryanto hanya bisa mengatakan “yang punya orang Jakarta. Sekarang milik perorangan. Dulu namanya Citronella waktu dikelolah BUMN, dan waktu dikelolah perorangan diganti nama jadi PT Intan Purnama Jati.”

Maryanto kemudian menjelaskan Boiler tersebut berfungsi sebagai penyuling minyak atsiri.

Minyak atsiri merupakan senyawa organik yang berasal dari tumbuhan dan bersifat mudah menguap, mempunyai rasa getir, dan bau mirip tanaman asalnya. Minyak atsiri dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang, atau sering pula disebut minyak essential. Bahan baku minyak ini diperoleh dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, buah, biji, kulit batang, akar, dan rimpang.

“Sereh, akar wangi, cengkeh, dan kayu putih” Maryanto mulai menyebutkan jenis-jenis tanaman yang pernah disuling pabrik ini untuk bahan baku industri parfum, bahan pewangi, aroma, farmasi, kosmetika dan juga aromaterapi.

Pada masa soekarno setelah dekrit presiden 1959, politik luar negeri Indonesia banyak melakukan kerjasama dengan negara komunis blog-timur. Besar kemungkinan pabrik penyulingan minyak atsiri ini merupakan bentuk kerjasama tersebut, antara Indonesia dan Bulgaria.

Mungkin kerjasama itu karena di Indonesia sedikitnya tersebar 40 jenis tanaman atsiri, antara lain sereh, akar wangi, nilam, dll. Juga sejak perang dunia II, minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia.

Pembangunan pabrik yang berlokasi di pegunungan kemungkinan besar disebabkan karena ingin lebih dekat dengan bahan baku, dimana syarat tumbuh dan budidaya sereh umumnya tumbuh di daerah dengan ketinggian 4.000 mdpl dengan curah hujan 1.800-2.500 mm/thn.

Tapi pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata.

“Dulu namanya sereh rakyat” kata Maryanto. Menurutnya, tenaga kerja dari warga sekitar pada waktu itu berjumlah sekitar 20 orang.

Tapi itu dulu, ketika pabrik ini masih aktif. Hari ini suasana sepi. Kami hanya bertiga dalam pabrik yang seperti mati suri. Hening, Kicau burung semakin terasa. Saya menengadah ke atas melihat burung-burung terbang dan hilang di antara celah-celah lubang kerawang. “Itu burung sriti,” kata Maryanto -seperti membaca pikiran saya, “dulu pernah mau dibuat sarang walet, lubang-lubang kerawang pun ditutup untuk dijadikan sarang, tapi setelah jadi, waletnya nggak mau datang, selain itu ada burung sriti, juga nggak mau.”

Rencana menjadikan bangunan ini sebagai sarang walet pun batal.

Dari lantai dasar kami manapaki tangga ke lantai atas, yang hanya terpisahkan oleh split level dari lantai dasar. Ruang terasa luas, saya bisa melihat halaman depan yang ditanami singkong dan jagung. Pada bagian pintu gerbang, mata saya tertuju pada gardu yang dilengkapi dengan timbangan. “bahan baku yang masuk langsung ditimbang di gerbang” terang Maryanto ketika saya menanyakan.

Kami lalu berjalan ke halaman belakang, mengambil jarak untuk melihat dan mulai menyadari bangunan ini memang terlihat monumental. Semakin saya mengamatinya, semakin saya menyadari bahwa pabrik penyulian minyak atsiri ini tak hanya punya nilai arsitekural yang bagus, tapi juga punya nilai sejarah yang menarik.

Beberapa catatan tentang arsitektur modern indonesia di tahun 1960-an yang kemudian memiliki kesamaan semangat dengan bangunan pabrik penyulingan minyak atsiri ini, antara lain; arsitek Silaban mempertahankan semangat arsitektur tropis dengan jangkauan overhang yang lebar dan dinding kerawang yang mengingatkan pada anyaman bambu. Pada bangunan pabrik penyulingan minyak atsiri ini juga terdapat semangat yang sama, terutama pada penggunaan kerawang pada hampir seliruh bagian dinding bangunan.

CIAM (congre’s international d’architecture modern) memperkenalkan suatu monumentalitas baru untuk memberi pengalaman yang mereka percaya akan mengubah sifat dan identitas manusia. Pada bangunan pabrik penyulingan minyak atsiri ini juga terlihat semangat yang sama, terutama pada monumentalitas bangunan. Ini juga diperlukan pasca kolonial untuk menghilangkan mental budak masyarakat Indonesia, menghilangkan memori kolonial dan membangun era baru.

Tapi yang pasti, apa pun misi arsitekturnya, bung Karno tahu ia tak suka berpikir di dalam istilah ‘kayu dan genteng’ apalagi ‘usuk-usuk dan reng-reng dari kayu’. Untuk gedung yang penting, beliau lebih tertarik pada beton, besi, dan perunggu. Sesuatu yang lebih tahan lama seperti monumen, kalau bisa sesuatu dari “batu pualam jang bisa tahan makannja sang kala, zaman, sedikitnya 1.000 tahun,” Kata bung Karno pada pidato pertemuan dengan para peserta ‘Sajembara Projek Tugu Nasional di Istana Negara’ 27 juni 1960.

Tapi pada tahun awal kemerdekaan Indonesia tidak mengalami ‘zaman mesin’ yang melandasi gerakan arsitektur modernisme. Kita belum punya industri produksi bahan dan alat bangunan yang kuat untuk bikin beton, baja, lempengan kaca, dan bahan estetis lainnya untuk mendukung estetika modernisme.

Karenanya benar juga apa yang kemudian Maryanto katakan, bahwa “sebagian material didatangkan langsung dari Bulgaria, seperti besi yang masih tahan dan tak juga keropos hingga sekarang, biar pun terus diterpa hujan.” Maryanto menjelaskan sambil memperlihatkan bagian besi yang dimaksud; pada tepi teras depan, pada railing tangga, juga pada anak tangga. Kami sama-sama mengaguminya.

Djoko yang sedari awal sibuk mengambil gambar tiba-tiba memanggil saya mendekat. “Ada struktur yang terpisah” katanya, seraya menunjuk dua kolom struktur yang rapat namun menyisahkan celah.

“Bangunan ini sering terkena gempa pada tahun 1975-an, sehari bisa sampai terjadi 25 kali gempa,” kata Maryanto yang membuat saya dan Djoko kembali terkejut,  “meskipun begitu,” lanjutnya “bangunan tetap tahan tanpa retak,” terangnya, bersemangat.

Saya kemudian menyadari bahwa pemisahan struktur itu ditujukan untuk membagi tekanan ketika terjadi gempa. Suatu antisipasi gempa melalui pemikiran struktur untuk bangunan yang cukup besar sudah diterapkan di bangunan ini.

Djoko seperinya mulai tertarik pada struktur, ia lalu mengambil beberapa gambar kolom dan balok yang nampak berbeda dari biasanya. “kolomnya mengecil di bawah, dan baloknya menggembung di tengah,” katanya seraya memperlihatkan hasil jepretan. Saya jadi penasaran dan mengamatinya secara langsung.

Kolom yang mengecil pada bagian bawah sepertinya ditujukan untuk memusatkan aliran beban, sementara balok di atasnya yang menggembung pada bagian tengah sepertinya dibentuk mengikuti kemiringan atap yang nyaris datar.

Kami sama penasaran dan meminta izin untuk naik ke lantai atap, Maryanto mengiyakan. kami menaiki tangga dengan semangat.

Berdiri di atas atap, kami menyadari bahwa bangunan pabrik ini dikelilingi oleh sawah, sawah, dan sawah. Hanya ada beberapa rumah dan juga sekolah dasar di sekitar. Cukup tinggi. Kami bisa melihat bukit seberang. Maryanto tiba-tiba menunjuk rumahnya. “Yang cat warna pink, pak?” saya bertanya sambil mengamati deretan rumah di bukit seberang. Maryanto mengiyakan dan menjelaskan kenapa rumahnya dicat warna pink. “Anak perempuan saya suka,” katanya “biar terlihat cerah aja.”

Dari tempat saya berdiri di tepi atap, terlihat lahan pabrik ini cukup luas. Menurut Maryanto, luasnya seluas 2 hektar. Semak-belukar hijau tumbuh liar. Di kejauhan terlihat sawah yang mulai menguning. Pemandangan yang indah. Di lahan pabrik dekat bangunan terlihat tanaman singkong dan jagung. Lahan pabrik ini sudah beralih fungsi untuk bercocok tanam.

Beberapa semak-belukar juga terlihat menutupi Rel, ketika saya menanyakan tentang rel di bawah itu, Maryanto menjelaskan bahwa Rel itu dipakai untuk membuang limbah ampas yang sudah disuling. Sekitar 50 meter dari bangunan pabrik, limbah lalu dibakar atau dijadikan kompos. “Tapi sekarang sudah macet total,” katanya “jadi sudah tidak lagi menyuling. Juga karena bahan baku yang sulit didapat.”

Setelah Djoko selesai memotret, dari atap kami bertiga lalu turun kembali ke bawah dan sampai juga ke area laboratoriun dan penyimpanan minyak dari proses penyulingan.

Sejenak saya dan Djoko enggan melangkah masuk, Maryanto juga nampak tak menganjur kami ke sana. Untuk masuk, kami harus melewati lorong gelap yang menghubungkan satu ruang ke ruang lain. Hanya ada sedikit cahaya di ujung lorong, dengan satu bangku kosong yang terlihat muram di tengah jalan. Bulu kuduk saya merinding!

Merasa sudah cukup berkeliling bangunan, kami lalu berjalan keluar, kembali ke bangunan karyawan di mana keluarga Maryanto tinggal.

Matahari mulai naik ke atas, siang di kaki gunung Lawu terasa panas. Di teras keluarga Maryanto, kami disuguhi minuman yang cukup menghilangkan dahaga. “Capek juga keliling pabrik ini,” kata saya kepada Djoko yang cukup puas memotret bangunan. Kami istirahat sejenak sebelum kemudian pamit pulang.

Djoko kembali ngobrol dengan Maryanto dalam bahasa Jawa, saya pun asik saja mengikuti, meski banyak kosa kata yang saya tak paham. Entah apa yang mereka obrolkan, tapi melihat mereka, saya jadi sedikit-banyak belajar bagaimana tata krama dalam hidup yang bersahajah masih ada di desa ini. Saya lebih banyak diam.

Lalu Maryanto dengan wajah cerah bicara dalam bahasa indonesia “iya, hati-hati di jalan, kapan-kapan mampir lagi.” Saya jadi tahu obrolan sudah selesai.

Di tepi jalan Saya dan Djoko menunggu bus yang jarang lewat sambil makan bakso di warung tepi jalan. Sambil duduk makan, saya pun kembali berpikir; sebenarnya, apa yang saya lakukan ini tak ubahnya seperti Pengamen, yang bernyanyi mengisi kekosongan di warung makan. Bedanya, saya tak bernyanyi. Saya menulis, dan tak ubahnya pengamen, jika ada yang mendapat manfaat dari tulisan saya, ia bisa memberikan Tip melalui donasi. Begitulah cara kerja saya.

Djoko ternyata mengikuti liputan saya tentang Benni di Tegel Kunci Jogja, dari ngobrol di meja makan dengannya, ia rupanya mendapat manfaat, senang dan mendukung liputan yang saya kerjakan.

Bakso di mangkuk hampir habis, sebelum meninggalkan warung, Djoko begegas lebih dulu ke kasir, dia membayar semua makanan. Saya begitu berterima kasih sehingga tak tahu harus bilang apa.

Setelah bus datang, kami naik dan pulang.

Bangunan pabrik tua semakin jauh di belakang.

-Muh Darman-

2

3

4

5

 

pabrik3

pabrik4

6

7

8

One thought on “Pabrik Penyulingan Minyak Atsiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s