Diskusi Buku ‘The Pating Tlecek Ruang Arsitektur’ di Bandung

Image

Diskusi Buku ‘The Pating Tlecek Ruang Arsitektur’
Sabtu 23 maret 2013, pkl 18:30 s/d 20:30
LABO the mori Jl.Bukit Dago Utara 22 Bandung

Pembicara;
Yoshi Fajar Kresno Murti (arsitek, penulis, dan koordinator research IVAA Jogja)

Penanggap;
Achmad Tardiyana

Moderator;
Muh Darman

Sekilas Tentang Acara:
Acara diskusi buku ini merupakan kelanjutan dari program review buku di blog ruang17 (www.ruang17.wordpress.com) yang bertujuan untuk merekomendasikan sejumlah buku-buku arsitektur terbaru yang menarik untuk dibaca. Dimulai pada januari 2013, hingga bulan maret 2013 ini telah menampilkan tiga buah rekomendasi judul buku, diantaranya; zaman baru generasi modernis, the pating tlecek ruang arsitektur, dan talk about home.

Untuk membahas lebih jauh mengenai buku-buku yang sudah direko- mendasikan, maka diadakanlah acara diskusi buku ini. Dan untuk yang pertama akan menampilkan Yoshi Fajar Kresno Murti sebagai penulis buku The Pating Tlecek Ruang Arsitektur, sebuah buku yang bercerita tentang rumah seniman Eko Nugroho, karya terbaru arsitek Eko Prawoto.


pating tlecek berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari. Makna dari kata tersebut mengacu kepada bentuk atau kondisi yang ‘tidak aturan’ di dalam konteks bentuk atau kondisi yang stabil. Misalnya bisa ditemui dalam kalimat: “kotoran burung itu pating tlecek mengotori seluruh taman.” Dalam kalimat tersebut, keberadaan kotoran burung itu tidak bisa diprediksi posisinya, kerena mereka berada dimana-mana di seluruh taman tanpa bisa dibikin pola yang jelas. Pating tlecek dalam kasus tulisan ini merupakan istilah yag digali dari karya-karya seni rupa Eko nugroho yang sesungguhnya dengan tepat menggambarkan konsep ruang dan aktivitas yang terjadi serta menjadi wajah dari realitas urban kita, yang ‘tanpa aturan’, kompleks, dan sulit dibikin pola yang jelas karena selalu berangkat dari konteks yang lokal, kongkrit, dan spesifik.

Dalam hubungan rumah dan arsitektur, pating tlecek menggambarkan ketegangan antara rancangan arsitek yang berlandaskan pada pengaturan/pengorganisasian ruang-aktivitas dan praktik sehari-harinya yang arbitrer (semaunya sendiri, tanpa aturan). pating tlecek dalam hal ini menjadi representasi dari realitas yang seolah ‘tanpa aturan’ dari (tata) ruang kota kita. Kondisi pating tlecek semacam ini yang harus diakui, ditemui, dipahami dan diekplorasi, yang barangkali justru dikembangkan dalam penataan kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s