Mission Impossible

Malam itu hampir-hampir saya tak percaya, ia nampak masih muda, tapi mungkin karena mataku terhalang oleh gelap dan kurangnya cahaya di halaman belakang kediaman Anton lukas di Jogja, karya arsitek Eko prawoto, tempat acara diskusi buku terbaru Andi achdian, sang guru dan secangkir kopi, sebuah buku tentang Ong hok ham.

Malam itu untuk pertama kalinya saya bertemu Linda christanty, ngobrol sebentar lalu minta tanda tangan di dua bukunya yang berisi kumpulan liputan dalam bentuk jurnalisme sastrawi, sebuah liputan jurnalistik mendalam yang ditulis secara sastrawi, temanya macam-macam; dari pereman hingga ustadz. Saya membayangkan bagaimana jadinya jika arsitektur ditulis dengan mendalam yang, meminjam istilah Tempo, perlu dan enak dibaca. Sebuah liputan yang sayup dalam gemuruh media arsitektur dewasa ini, bukan?

Setelah pertemuan di Jogja itu, saya tak lagi bertemu dengannya, hingga pada satu kesempatan diskusi buku ‘seekor anjing mati di bala murghab’ di Solo. Sebuah buku cerpen terbarunya setelah dua buku sebelumnya meraih penghargaan Katulistiwa Literary Award berturut-turut; rahasia selma dan kuda terbang mario pinto. Setelah itu, tak ada lagi pertemuan, selain tentunya di facebook.

Beberapa hari yang lalu, melalui note facebooknya, Linda menulis tentang keberanian dan rasa takut, sebuah artikel untuk edisi desember majalah MORE, yang antara lain bercerita tentang keputusannya pergi ke Aceh di tahun 2005 untuk mendirikan sebuah kantor berita dan melatih anak-anak muda Aceh pascakonflik untuk jadi wartawan atau penulis.

Keputusannya itu membuat sejumlah orang heran. Pertama, menurut mereka situasi di Aceh masih panas dan keselamatan tidak terjamin. Kedua, menurut mereka, Linda pasti gagal.

Tapi tanpa disadari, hampir enam tahun Linda menjalani kehidupan dan bekerja di Aceh. Mahasiswa-mahasiswa yang bergabung sebagai kontributor enam tahun yang lalu, kemudian memenangkan sejumlah penghargaan jurnalistik yang bergengsi seperti Mochtar Lubis Award. Saingan mereka adalah wartawan-wartawan media-media besar, dalam dan luar negeri. Beberapa dari mereka sekarang tengah melanjutkan studi ke luar negeri. Tujuannya untuk memperoleh ilmu dan menyiapkan sekolah jurnalisme. Linda yakin bahwa mereka kelak akan menjadi penulis,  wartawan dan intelektual yang jauh lebih baik darinya.

BULAN lalu Linda pergi ke Bangkok, Thailand, untuk hadir sebagai pembicara dalam seminar tentang media. Ia bertemu teman lamanya, seorang wartawan dan editor yang bekerja di Pattani, Thailand Selatan, wilayah yang berstatus darurat militer. Menurut Linda, teman lamanya itu sangat pemberani. Di hari seminar diselenggarakan, bom meledak di Pattani dan disiarkan di televisi. Dia mendirikan radio komunitas dan bekerja bersama anak-anak muda di sana. Mereka berbincang-bincang dengan peserta yang hadir setelah seminar usai. Salah seorang mengajukan pertanyaan padanya, “Bagaimana mengatasi masalah dan begitu berani mengambil risiko?”

“Dengan membayangkan diri sebagai anggota pasukan elite Delta Force,” jawabnya. Bergerak cepat, disiplin, terlatih, waspada dan kesepian karena menyimpan rahasia.

“Barangkali mereka menganggapnya tidak serius.” Lanjutnya, tapi “Sesungguhnya, imajinasi sangat penting untuk membuat orang mampu melewati saat sulit dan bahaya.”

Ya, betul Linda, dan sekarang saya mulai membayangkan sedang dalam sebuah Mission Impossible.

OK! BAIKLAH..,

Sebut saja ini versi cetak dari liputan yang ada di blog ruang17 akhir-akhir ini, tentang tegel kunci hingga sosok Maryono di dusun Ngibikan Jogja. Liputan itu ditulis dalam bentuk narasi yang kurang lebih berjumlah 2.000 kata, satu kenyataan yang menyadarkan bahwa ia lebih nyaman dibaca di atas kertas. Sebagai sebuah liputan dalam majalah gratis, misalnya. Selain juga sudah bisa dibaca di blog.

Setelah Mission tadi, Impossible kemudian muncul; dari mana dana versi cetak majalah gratis tadi?

Setelah mba Avianti Armand mengusahakan sponsor ke Holcim –yang kemudian kandas di tengah jalan, saya kemudian mencoba cara lain yang bisa saya lakukan, yaitu jualan kaos. Haha…

Kaosnya seperti apa? Ini dia…

 Image

Ini adalah kaos sketsa pak Apep yang dibuat terbatas –bahasa kerennya limited edition- 50 kaos. Kaos ini dijual dengan harga yang sama dengan ongkos produksi. Lalu dimana sumbangannya? Untuk sumbangan donasi biaya cetak majalah gratis ruang17, pembeli bisa menambahkan sendiri sesuai dengan kemampuan.

Contoh;

Harga kaos Rp 40.000, mau donasi Rp 5.000, jadi pembeli bisa transfer Rp 45.000 + biaya ongkos kirim via tiki. (biaya ongkos kirim disesuaikan dengan kota tujuan)

Angka donasi dibebaskan sesuai dengan kesanggupan pembali, sedang harga Rp 40.000 adalah murni biaya ganti ongkos produksi kaos.

ket;

bahan kaos : Cotton Combed 30s

ukuran yang tersedia : L (20) – M (20) – XL (10)

Penjualan kaos pak Apep ini –seperti coba ulangi lagi agar lebih jelas- adalah dalam rangka mencari tambahan dana cetak majalah gratis ruang17, lebih jelas tentang majalah gratis ruang17 juga rincian biaya cetaknya bisa dilihat pada link di bawah ini;

https://ruang17.wordpress.com/2013/02/06/liputan-panjang-nyaman-di-kertas/

Hingga tgl 27 februari 2013, kaos sketsa pak Apep ini sisa 20 kaos lagi, dan kaos ini akan selesai produksi di awal bulan depan, tepatnya tanggal 4 maret 2013 –setelah menerima gaji. Jika teman-teman berminat pesan bisa langsung menghubungi inbox page facebook ruang17 berikut ini:

http://www.facebook.com/pages/Ruang17/132422433508258

TANPA berpanjang lebar lagi, akhirnya, kita semua punya peran dalam hidup. Seperti Linda dan jurnalis lainnya, mereka mencoba meningkatkan mutu jurnalisme dalam masyarakat, sebab –mengutip Bill Kovach- makin bermutu jurnalisme dalam masyarakat, maka makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang akan dibuat. Dan jurnalisme itu meliputi semua, tak terkecuali dengan arsitektur, bukan?

Tapi, tenang saja. Dalam keadaan sulit ini, toh saya tetap enjoy dengan membayangkan sedang dalam Mission Impissible, dan jika tak terwujud, mungkin saya akan beralih ke judul film yang lain, bagaimana dengan judul-judul film yang baru-baru ini menyabet penghargaan oscar? life of Pi, Misalnya. haha…

-Muh Darman-

One thought on “Mission Impossible

  1. Ping balik: Versi cetak ruang17, laporan; cerita dibalik proses pembuatan. | ↓

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s