rekomendasi buku bagus #3

oleh Robin Hartanto

INI CERITA hampir setahun lalu. Bermula dari niat David Hutama, ketua departemen arsitektur UPH, dan Avianti Armand, arsitek-cum-penulis mantan bos saya, untuk membuat buku yang membahas satu topik tentang arsitektur dalam format wawancara.

Mengapa wawancara?

Tentu itu hanya salah satu cara. Tetapi, pada konteks yang tepat, format wawancara bisa jadi cara yang jitu. Wawancara memungkinkan para arsitek untuk menuangkan pemikirannya dalam waktu yang lebih singkat, mengingat tidak banyak arsitek kita yang memiliki keleluasaan—dari segi waktu dan media—untuk menuliskan pemikiran-pemikiran mereka.

Di sisi lain, wawancara membuat penuangan pikiran terasa lebih jujur, tanpa banyak kata yang dimanis-maniskan. Ini juga membuat isinya kemudian punya daya jangkau yang lebih luas.

Sebagai pekerja keras di Avianti Armand Studio, dan juga sebagai satu-satunya pekerja di Avianti Armand Studio, saya otomatis terlibat dalam pembuatan buku ini.

Topik yang dipilih adalah home sebagai kualitas menghuni, yang mau tak mau terkait dengan rumah tinggal. Gampang-gampang susah. Dalam kata pengantarnya, David menyebutkan bahwa rumah tinggal di satu sisi adalah proyek arsitektur yang paling populer, tetapi di sisi lain juga yang paling kompleks. Dalam merancang rumah tinggal, ego dari arsitek dan klien/penghuni kerap kali beradu. Sementara itu, arsitek masih perlu memikirkan efisiensi programmingdan kepekaan skala dan proporsi.

Avianti dan David kemudian memilih tujuh arsitek yang dianggap berpengalaman, memiliki standing point yang jelas, dan berbeda satu sama lain. Mereka adalah Adi Purnomo, Eko Prawoto, Tan Tjiang Ay, Eko Prawoto, Andra Matin, Achmad Tardiyana, dan Sardjono Sani.  Belakangan, mempertimbangkan waktu (buku ini dijadwalkan untuk terbit di acara pameran karya-karya departemen arsitektur UPH: Place.Making, 7-22 Juli 2012) dan halangan lain, wawancara Sardjono Sani dibatalkan. Jadi, totalnya enam arsitek.

Demi tidak terlihat bodoh dalam wawancara, kami, di tim Avianti Armand Studio, tentu perlu mengerjakan pekerjaan rumah. The best questions are informed questions. Kami melakukan riset untuk membaca karya dan pemikiran keenam arsitek, untuk kemudian meruncingkan pertanyaan.

Kami membagi jadi dua macam pertanyaan: pertanyaan general dan pertanyaan spesifik.

Pertanyaan general memungkinkan untuk ditanyakan pada keenam arsitek. Seperti pertanyaan “mana yang Anda lebih suka, merancang rumah tinggal atau bangunan publik.”

Sementara pertanyaan spesifik adalah yang kami siapkan khusus untuk arsitek yang bersangkutan. Misalnya pertanyaan jahil untuk Adi Purnomo: “Yang mana adalah ‘home’, studio kerja anda atau rumah anda?” Ada juga pertanyaan yang memang terkait dengan karya masing-masing arsitek, seperti pertanyaan untuk Apep: “Apakah ada pendekatan berbeda ketika merancang rumah tinggal yang sifatnya massal?” Pertanyaan ini kontekstual untuk Apep, karena ia pernah merancang apartemen dan rumah kost.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kami diskusikan, runcingkan, dan pilahkan lagi. Tidak berarti semua pertanyaan harus diajukan. Ketika wawancara, banyak pertanyaan yang kemudian tidak ditanyakan, sementara banyak pertanyaan baru yang spontan muncul. Ruang untuk dinamika dalam bertanya selalu ada.

Setelah mendiskusikan pertanyaannya, Studio Talk: Home pun dimulai.

 .

“TIDAK ADA satu ruang pun yang sebetulnya akan bisa sama,” ucap Adi Purnomo, yang biasa akrab disapa Mamo. Obrolan berlangsung di ruang maket UPH.

Mamo memandang proses merumah sebagai hal yang cair—dialektika yang tak pernah tuntas. “Arsitektur dibuat, orang menghuni. Pada saatnya arsitektur bisa mempengaruhi yang menghuni. Tapi pada gilirannya nanti, yang menghuni mempengaruhi lagi arsitekturnya. Selalu begitu.”

Ia menggambarkan hubungan ini dengan dua karyanya yang kontras: Rumah di Ciganjur dan Studi-o Cahaya. Saat merancang rumah di Ciganjur, ia merasa egonya lebih dominan. Istri klien saat itu sangat pasif selama proses perancangan. Uniknya, setelah beberapa lama, rumah itu kemudian menjadi akomodatif bagi penghuni, dan tidak banyak diubah mereka. Sebaliknya di Studi-o Cahaya, ketika ia justru tidak merasa freak control, yang terjadi rumah itu justru banyak yang berubah.

Mamo jelas punya pemikiran tajam dan dalam. Ary Indra dari Aboday pernah menyebutnya sebagai filsuf yang menjadi arsitek. Ini karena karya-karyanya kerap kali berawal sebagai pertanyaan, dan berakhir sebagai kritik.

Misalnya dalam pendekatannya merancang rumah. Ketika seorang arsitek tentu dituntut untuk membuat rancangan senyaman mungkin untuk kliennya, Mamo punya pemikiran yang berbeda. Ia justru ingin menyediakan ruang untuk konflik.

Suatu hari, ia bertemu dengan seorang klien yang ingin setiap kamarnya ada kamar mandi. Ia kemudian menjawab, “Kadang-kadang akan lebih baik jika kita tidak memenuhi apa yang semua kita inginkan. “

“Karena ketika semua terpenuhi, semua jadi serba enak. Sementara itu, ketika ada yang tidak pas, kita mulai bertanya-tanya; momen yang sebetulnya penting. Hidup itu justru ketika kita menanyakan berbagai hal,” ucap Mamo.

Hal lain dari Mamo yang selalu bikin penasaran adalah pandangannya tentang material. Ia justru percaya bahwa material itu lebih besar stimulusnya ketimbang geometri. Tetapi yang utama bukan material itu sendiri, melainkan tatilitas yang dihadirkan oleh material itu.

“Dan menurut anda, itu bisa menentukan kualitas rumah?” tanya Avianti Armand.

“Sepertinya iya,” jawab Mamo.

“Kenapa?”

“Karena yang saya amati—pola-pola mereka mau berkegiatan di mana; memilih ini di mana; kecenderungan misalnya di situ ada apa; memilih menempatkan ini itu menghadap ke apa—ada kecenderungan untuk berhubungan dengan kualitas taktil tadi. Lebih inderawi.”

.

CUACA CERAH di Yogya hari itu semakin menyejukkan rumah Eko Prawoto. Sedari pagarnya, kami sudah disambut dengan hijau rumah ini. Halaman rumahnya dipenuhi tanaman. Ada pohon rambutan juga.

Pernah ada yang menanyakan, apakah Eko tidak takut rambutannya diambil orang. Eko lalu menjawab, “Pohonnya tidak keberatan.”

Begitulah Eko Prawoto, sejuk seperti rumahnya.

Eko orang yang luwes. Ia dekat dengan seniman-seniman, dan banyak merancang untuk mereka, antara lain: Butet, Lantip, Mella-Nindit, Nasirun, dan Sitok.

Eko merancang dengan kesadaran penuh bahwa rumah adalah untuk manusia, dan dengan tetap menghormati alam. Ia mengaku bahwa ia tidak bisa merancang tanpa pengetahuan tentang siapa yang akan menghuni.

“Saya pernah mencoba dan gagal. Pada Tanah Teduh, ada yang kurang hangat karena saya tidak mengenal siapa yang akan tinggal. Memang pada akhirnya saya terpaksa berpihak kepada alamnya, tetapi hal itu tetap sulit tanpa klien. Di sisi lain, ada juga karya-karya arsitektur yang terlalu powerful. Sedemikian kuat dan sempurnanya sehingga ia tidak membutuhkan manusia.”

Maka jalinan hubungan antara ia dan klien/penghuni selalu menjadi bagian krusial dalam rancangannya. Dialog dengan penghuni rumah dilakukan dengan intens. Ia juga akomodatif terhadap keinginan kliennya.

Misalnya, ketika ada seorang kliennya menemukan daun pintu yang ukurannya tidak sesuai dengan gambar kerja. Maka Eko akan menyesuaikan gambarnya, bukan membuang daun pintunya.

Ia juga kerap kali menyisakan ruang “kosong” dengan sengaja, untuk memancing penghuni rumah mengisi ruang. Barang-barang penuh kenangan dari penghuni juga kerap ia olah sebagai bagian dari rumah. Misalnya, pada “tangga kehidupan” Butet. Slip-slip gaji Butet, dari yang masih ribuan rupiah, ia abadikan di tangga menuju lantai dua.

Salah satu perenungan utama Eko Prawoto dalam merancang adalah pengaruh industri terhadap arsitektur, yang membatasi. Ia mengandaikannya ibarat fastfood versus slowfood.

“Kalau kita ke KFC atau McDonald’s, tersedia paket satu, paket dua… Banyak pilihan, katakan, misalnya ada tujuh belas. Tapi jika kita mau yang kedelapa belas, kita tidak bisa. Beda dengan ketika kita ke seorang ibu yang menjual gudeg. Kita bisa bilang: Saya mau tahu dua, kreceknya diperes, lalu tambah ini atau itu.”

Dalam obrolan hari itu, tampak jelas bahwa Eko memilih jadi pembuat gudeg. Baginya, ruang tidak harus “terkunci.”

.

SEJAK PERMULAAN wawancara, Tan Tjiang Ay telah menohok kami. “Membicarakan home dan mewawancarainya sebagai arsitek adalah hal yang tidak tepat,” katanya.

Saya tidak kenal Tan Tjiang Ay sebelumnya. Pak Tan bukan media darling, tidak banyak publikasi tentangnya dan ia sendiri menghindari publikasi. Dari cerita-cerita Avianti lah saya mengetahui tentangnya. Di luar itu, saya tak tahu apa-apa dan tak ada hubungan apa-apa. Kecuali satu: bahwa saya juga bermarga Tan.

Avianti sering memuji Pak Tan dalam kecermatannya akan detail. Ini membuat saya melirik sana-sini ketika sampai ke kantor kecilnya di Jakarta Selatan. Memang betul. Pada konstruksi jendela, misalnya, ia selalu membuat celah satu senti antara dinding dan kusen, agar dua permukaan yang lurus tidak langsung beradu.

Kami duduk di ruang kerjanya yang tak seberapa besar, sekitar sembilan meter persegi. Soal ini, Avianti juga sering menceritakan bahwa Pak Tan selalu membuat ruangan dengan ukuran yang cukup. Tidak pernah berlebih.

Setelah sedikit beramah-tamah, Pak Tan mengatakan bahwa arsitek sebetulnya tidak ada andil apa pun dalam menciptahome.

“Arsitek hanya membuat bangunan saja. Hopefully, that building will become a house. And hopefully, that house will become your home! But, I cannot start making a home,” ujarnya bersemangat.

Jika Eko menggunakan analogi sebagai penjual gudeg yang fleksibel, Pak Tan menganalogikan dirinya seperti penjual pisang goreng.

“Kalau kita mau jualan pisang goreng, apakah kita bertanya kepada setiap orang, apakah gulanya perlu ditambah atau tidak?  Saya sederhana saja, saya ini pedagang pisang goreng. Tetapi pisang goreng saya rasanya seperti ini. Jika kamu suka, saya bersyukur. Saya tidak mau ekspor pisang goreng saya ke mana-mana. Mungkin kalau diminta, saya akan ekspor, tetapi hanya that particuar kind of pisang goreng yang saya jual.”

Avianti lalu mencoba mengulik hal yang membuatnya penasaran dengan Pak Tan: kecermatan Pak Tan akan detail.

“Apakah itu sekadar cara untuk menyelesaikan konstruksi, satu dari bahasa Anda, atau Anda tidak nyaman jika tidak melakukan hal tersebut, atau untuk menciptakan perasaan at home?” tanya Avianti.

“Kita kembali ke definisi konstruksi: teknik, atau satu cara dalam menyambungkan dua benda menjadi satu.”

“Tapi, bukankah selalu ada cara lain yang, kita bisa bilang clumsy, tapi toh tetap tersambung?”

Pak Tan lalu menjelaskan, “Oh memang tetap tersambung. Tapi, apakah tidak ada ikhtiar untuk refining? Jika kamu melakukan segala sesuatu dengan refine, rasanya kita akan hidup di tempat yang lebih baik! Mengapa ada ngoko, basa, krama inggili? Itu menyatukan orang. Ada interaksi. Meski tidak semua orang nyaman dengan itu. Saya mencoba melakukan itu. Tapi sejauh apa, kembli ke klien. Biasanya, kalau mengerjakan dengan cara seperti itu, akan membutuhkan waktu yang lebih lama.”

Diskusi satu jam kami berlangsung santai tapi tajam. Sekalipun sudah berumur, gerak-gerik Pak Tan masih gesit dan pikirannya masih runcing.

Menjelang akhir wawancara, ia menekankan kembali bahwa pada akhirnya, end-user yang akan menentukan apakah rumah akan menjadi home.

“Ini bukan berarti arsitek tidak perlu berupaya, karena setiap perjalanan dimulai dari satu langkah kaki. Arsitek perlu membuat langkah tersebut, syukur kalau bisa dua atau tiga langkah. Lebih dari itu, sudah jadi mimpi arsitek.”

Penggambaran yang bijak. Pak Tan tampak seperti orang yang sudah tuntas bertanya-tanya, dan mengerjakan apa yang menjadi kesimpulannya.

.

MENDENGAR ARSITEK yang satu ini berbicara sangatlah seru dan menyenangkan. Pancinglah dia dengan satu-dua pertanyaan, maka dia akan bercerita dengan blak-blakan dan nyaris tanpa sensor.

Ia adalah Sonny Sutanto, arsitek lulusan Universitas Indonesia yang banyak merancang gedung-gedung komersial, terutama hotel. Kami mengobrol dengannya di Rustique, restoran elit di Plaza Senayan yang ia rancang.

Ini contoh ke-blak-blakannya. Kami saat itu sedang mendiskusikan soal programming. Sonny menekankan bahwa ada hal-hal yang sangat basic, yang sudah sewajarnya diteliti ketika merancang rumah.

“Saya selalu bikin kamar mandi yang ada lavatory di dalam. Karena apa? Karena orang Indonesia kalau cebok mesti colek-colek. Biarpun ketika saya tanya teman yang sekolah di Amerika, di sana dia cebok pakai tissue. Sekarang, ketika pulang ke Indonesia, dia pakai washer. Sesudah pakai washer, masih colek-colek. Sehabis colek-colek bukankah kotoran akan menempel di jarinya? Maka, sebaiknya ada lavatory dulu di dalam kamar mandi kalau Anda masih colek-colek. Hal yang sangat kecil seperti itu saya pikirkan.”

Lanjutan perbincangan itu sungguh bikin terbahak-bahak. Anda baca sendiri, saya tidak perlu berkomentar banyak.

“Berarti ada dua tipe orang yang eek. Pertama yang colek-colek, yang satu yang tidak,” lanjut Avianti Armand.

Sonny menjawab, “Sebenarnya washer tekanannya lebih besar dripada colekan. Cuma orang Indonesia masih tidak puas dengan itu.”

“Belum tuntas. Itu the real finishing touch. Benar-benar harus di-touch!”

“Hal lain soal urinal. Di kamar mandi harus ada urnial. Untuk saya penting, karena laki-laki kencing pasti berceceran! Kalau dia berdiri, nyasar ke sana-sini!”

“Itu berarti tidak pintar ngeker,” balas Avianti.

Dan seterusnya. Kami tenggelam dalam tawa. Begitulah Sonny, jenaka tapi mencerahkan.

Sonny menekankan pentingnya kematangan dalam merancangan. Itu berarti harus mau jadi orang yang mendegarkan orang lain. “Maturity is about listening, living together with other people, respecting different aspects,” tuturnya.

Ketika David Hutama menanyakan apakah parameter keberhasilan di rumah tinggal adalah sejauh mana cycle of activities dipertimbangkan dalam desain, Sonny menjawab ya, dan ia menekan bahwa kesalahan membaca lingkaran aktivitas ini bisa berujung fatal.

Ia menceritakan pengalamannya ketika merancang rumah untuk seorang klien. Suaminya mengorok, tapi dia harus menemani suaminya, karena ngoroknya berbahaya. Pada saat tertentu, napas suamninya bisa berhenti. Maka apabila suaminya mengorok, tetapi kemudian berhenti mendadak, ia harus segera membangunkan suaminya.

“Maka di dekat kamar utama ada satu kamar lagi yang lebih kecil. Dia tidur di situ. Tapi dia bilang, ‘Saya tetap buka pintunya, meski ngoroknya seperti knalpot motor.’”

Sonny Sutanto melihat rumah sebagai suatu kolase, serupa dengan kehidupan yang seperti puzzle. Kolase itu ia susun dengan melihat cycle of activities dan cycle of life, untuk merancang rumah yang kaya pengalaman, dan mewujudkanhome.

.

AVIANTI MENYEBUTNYA bermain: berakrobat dengan bentuk dan ruang, menunda pencapaian, dan memberikan kejutan. Saya menyebutnya eksperimen.

Kami bertemu di studionya yang serba putih di Bintaro. Untuk sebuah biro rumahan, kantornya tergolong besar dengan jumlah pegawai yang cukup banyak. Ia adalah Andra Matin, biasa disapa Aang.

Aang menceritakan pengalamannya saat menginap di lantai dua puluh tiga sebuah hotel di Tokyo yang dinding kamar mandinya dari kaca dan bisa melihat dan terlihat dari luar gedung. Ia mandi, telanjang malam-malam, matikan lampu, lalu bisa melihat Tokyo sembari tiduran di bathtub.

“Mungkin kalau digambar, orang akan kaget. Tetapi ketika mengalami langsung, baru kita sadar bagaimana luar biasanya,” ujar Aang.

Di sini lah arsitektur Andra Matin beraksi. Ia selalu mencari kemungkinan-kemungkinan lain untuk dihadirkan sebagai pengalaman.

“Utak-atiknya bisa dari berbagai sisi: program, bentuk, atau detail. Misalnya, ketika bicara tentang program, kita bisa menawarkan area servis yang biasanya di belakang untuk dipindahkan ke depan. Kamar tidur biasanya dibuat di lantai atas, mengapa tidak dicoba di bawah dan justru ruang duduk yang di atas?”

Kami lalu membicarakan rumahnya yang, saat wawancara ini dilakukan, sudah dua tahun dibangun tapi belum juga selesai.

“Bukankah this is your home? Apakah susah mengabstraksikan itu ke dalam sebuah desain, sehingga memakan waktu lama?” tanya Avianti.

“Kalau saya boleh katakan, hambatannya sembilan puluh persen adalah biaya dan kontraktornya yang proses kerjanya lama. Mengapa biaya bisa mengakibatkan waktu pembangunan yang lama? Karena saya tidak mau mengorbankan kehidupan saya dan kesenangan saya untuk bisa menyelesaikan rumah saya. Dari awal rumah ini saya rancang sampai sekarang, tidak ada yang berubah. Secara arsitektur, sebenarnya sudah selesai.”

Tetapi Avianti punya asumsi lain. Ada prinsip-prinsip yang sepertinya dipegang teguh seorang Andra Matin, karena it’s just the way he does things. Sama seperti Tan Tjiang Ay yang seolah-olah tidak bisa tidur nyenyak apabila detailnya tidak rapi.

“Dalam kasus Anda, sebenarnya hal itu terjadi juga. Pendingin ruangan harus dengan sistem VRV, kran harus Vola—walaupun pakai Toto juga sebenarnya sama-sama basah… Jadi memang ada (kualitas tertentu) yang harus dicapai, yang akhirnya mengakibatkan waktu pengerjaan tidak jadi masalah. Begitu juga dengan biaya.”

Aang lalu menjawab, “ini sebenarnya bicara soal proses dan end product-nya. Prosesnya sendiri, buat rumah saya, saya sangat menikmati…Untuk rumah yang lain, sepertinya seru kalau saya coba desain yang lain lagi. Dengan metode berpikir yang berbeda, biasanya akan dapat seusatu yang berbeda juga. End product-nya jadi lain.”

Tampaknya, kualitas produk memang jadi prioritas Andra Matin dalam merancang rumah. Mungkinkah kualitas itu yang kemudian memunculkan home?

.

SAYA TIDAK ikut dalam wawancara terakhir dengan Achmad Tardiyana, dosen ITB dan arsitek di Urbane. Tetapi, berdasarkan transkrip wawancaranya, saya melihat bahwa Apep—panggilan akrab Achmad Tardiyana—mengutamakan rancangan rumah yang seminimal mungkin merusak alam. Ini adalah prinsip etis yang ia pegang sebagai arsitek.

Ia menceritakan, ada seorang klien yang ingin semua ruangannya memakai AC, dan klien tersebut sanggup membeli. Apep kemudian mencoba meyakinkan bahwa konsumsi energinya akan sangat boros, dan klien bisa mengerti.

Contoh lain adalah ketika ia merancang di kawasan Bandung Utara. Ia mengutamakan untuk membatasi cut and fillkarena dalam konteks Bandung Utara, sangat penting untuk menjaga kemiringan tanah.

“Salah satu prinsip desain saya adalah dengan membuat rumah ramping, yang cenderung lebih sehat.” Dalam penghadiran arsitekturnya, edukasi antara dia dan klien menjadi penting.

Bagi Apep, rumah tinggal adalah sebuah proses bertinggal. Setelah sekian tahun, kita akan menambahkan benda-benda di rumah kita, sehingga terjadi persoalisasai.  Kualitas home itu sendiri erat kaitannya dengan keterikatan penghuni dengan benda-benda tersebut.

David kemudian menanyakan hal menarik: “Apakah merancang rumah tinggal harus sangat spesifik?”

Ini tentang rumah sebagai investasi. Ketika membuat arsitektur yang sangat spesifik, bisa jadi nilai jual rumah tersebut menjadi rendah, karena terlalu unik dan personal.

Tentang ini, Apep lalu berkata bahwa ia selalu menawarkan penghuni kemungkinan tersebut.

“Kebutuhan manusia sampai batas tertentu pada dasarnya sama. Yang spesifik barangkali bisa diterjemahkan dalam hal program atau ritual tertentu.”

.

SATU PERTANYAAN menarik yang ditanyakan ke semua arsitek adalah soal rumah ideal.

“Jika Anda punya budget yang tidak terbatas dalam merancang rumah Anda, di mana Anda akan membangun dan seperti apa rumahnya?”

Jawaban atas pertanyaan iseng ini, menurut saya, samar-samar menunjukkan karakter dari setiap arsitek.

Beberapa arsitek dalam buku ini memiliki jawaban yang cenderung mirip: rumah kecil dengan ruang luar yang luas.

Adi Purnomo, misalnya, mengatakan, “Saya sekarang cuma punya angan-angan yang sederhana sekali. Ruangannya kecil, dikelilingi lapangan.”

Senada dengannya, adalah jawaban Eko Prawoto, dan ia sadar betul bahwa banyak arsitek yang bermimpi sama. “Impian semua arsitek, kan, tanahnya lebar rumahnya kecil. Hal itu menjadi sangat istimewa di kota.”

Andra Matin menjelaskan rumah idealnya yang juga serupa, tetapi dengan detail yang lebih kaya. Ia ingin punya rumah di pinggir danau, lalu di pinggir lainnya adalah hutan pinus, dengan kepadatan pohon yang sangat rapat. Dengan begitu, ia ingin dinding hingga atap rumah menggunakan kaca, seolah-olah sangat terbuka.”

Jawaban berbeda muncul dari tiga arsitek lain. Sonny Sutanto menekankan pentingnya inner court bagi rumah idealnya. Ia ingin rumahnya menjadi seperti kolase yang acak—penuh lika-liku dan penuh pengalaman—dengan inner court yang menjadi pengikatnya.

Apep kembali pada prinsipnya dalam merancang, yaitu untuk meminimalisasi dampak rumahnya terhadap alam. Rumah idealnya adalah rumah yang “cukup”. Ia menjadikan penghematan energi sebagai penentu rumah ideal, karena faktor tersebutlah yang menurutnya terukur.

Tan Tjiang Ay menjawab pertanyaan ini dengan memberikan alasan untuk tidak menjawabnya. Karya-karya yang baik, baginya, justru timbul dari hambatan-hambatan. Tanpa itu, maka akan berantakan tidak karuan.

.

SELAIN KEDALAMAN pemikiran dari keenam arsitek, dialog-dialog seru dalam buku ini sebenarnya berutang banyak pada kemampuan Avianti Armand dan David Hutama dalam bercakap.

Mereka kombinasi yang pas. Avianti adalah penulis dan praktisi yang peka soal rasa, sementara David adalah seorang akademisi yang tidak letih berpikir soal jawaban pasti. Saya jadi membayangkan paduan otak kanan dan otak kiri yang bekerja optimal.

Sebetulnya buku arsitektur semacam ini bukan barang baru. Ada Talking Architecture: Interviews with Architects oleh Hanno Rauterberg. Ada 20 Japanese Architects oleh Roland Hagenberg. Yoshio Futagawa juga pernah membuatStudioTalk: Interview with 15 Architects.

Namun, setahu saya (CMIIW), untuk buku arsitektur di Indonesia, buku Studio Talk: Home adalah yang pertama. Dan mereka memulainya dengan baik.

Catatan: Kabarnya, seri kedua Studio Talk akan dibuat tahun ini. :)

Image

Judul: Studio Talk: Home, Bincang-bincang dengan 6 Arsitek

Editor: David Hutama, Avianti Armand, Robin Hartanto

Penerbit: UPH Publication

Tahun: Juli 2012

Hal: 204 halaman

3 thoughts on “rekomendasi buku bagus #3

  1. Ping balik: Diskusi Buku ‘STUDIO TALK; HOME’ | ↓

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s