rekomendasi buku bagus #2

Eko prawoto, entah bagaimana lagi cara menuliskannya. Sedikitnya sudah ada dua penulis membuat buku karya arsitekturnya dan entah sudah berapa banyak media meliput karya-karyanya. Lalu, kira-kira apa lagi yang belum ditulis tentangnya?

Saya sendiri, pernah membuat liputan ketika ia mengadakan pameran di bulan desember 2012 di Yogyakarta, waktu itu saya sedikit bingung memulainya, dengan cara apa lagi menulis tentangnya?, tapi akhirnya saya coba saja, menulis dari sudut pandang ia sebagai seniman instalasi. Kurang lebih seminggu menulis di pertengahan bulan desember 2012, liputan itu selesai dan saya beri judul ‘yogyakarta di bulan desember’.

Waktu berlalu.

Akhir januari 2013, satu bulan setelah saya menulis ‘yogyakarta di bulan desember’, sebuah paket kiriman saya terima, isinya sebuah buku; The Pating Tlecek Ruang Arsitektur. Yoshi fajar kresno murti, pengirimnya, ia memberikan kepada saya buku yang baru selesai ia tulis di akhir tahun lalu. Saya tidak tahu maksudnya, hanya di halaman depan, tepat di atas tanda tangannya, terbaca ‘selamat menulis, muh darman’. Saya pikir mungkin dia sedang ingin berbagi semangat.

Satu halaman, dua halaman, tiga halaman, hingga kurang lebih seratus empatpuluh sembilan halaman buku ini saya baca, menyenangkan. Sebuah buku cerita rumah Eko Nugroho, karya terbaru arsitek Eko prawoto. Diam-diam dalam hati saya kagum; lagi, tambah satu lagi buku tentangnya. Tapi, dengan cara seperti apa Yoshi menuliskannya?

Mari kita lihat.

Pertama-tama, jangan harap menemukan kumpulan gambar atau foto dengan penjelasan yang minim dalam buku ini, yang seperti itu bisalah ditemukan di sejumlah majalah-majalah arsitektur yang telah banyak menampilkan karya-karya arsitek Eko prawoto terutama pada rumah-rumah seniman di Yogyakarta.

Arsitek Eko prawoto memang dikenal sebagai arsitek rumah sejumlah seniman di yogyakarta, sebut saja aktor Butet kartaredjasa, musisi Djaduk ferianto, penyair Sitok srengenge, hingga pelukis sekaliber Nasirun pun pernah merasakan sentuhan kreatif arsitek kelahiran Purworejo 13 agustus 1958 ini.

Mungkin hanya Agus suwage yang berbeda, untuk arsitek rumahnya di Yogyakarta, ia memilih Andramatin. Wujud bangunannya pun punya gaya yang berbeda, nyaris seluruh kulit bangunan tertutup oleh lubang angin, “untuk bangunan ini saya terinspirasi oleh celah-celah lubang bilik bambu pada rumah jawa,” kata arsiteknya pada satu kesempatan pameran di jakarta.

Tapi soal selera tak perlu diperdebatkan, orang bisa bebas memilih arsitek untuk rumahnya, yang tiap-tiap arsitek punya cara berbeda dalam mendesain, tak terkecuali dengan Eko prawoto. Dalam buku The Pating Tlecek ini diceritakan bagaimana proses desain duo eko; eko prawoto dan eko nugroho, seniman dan arsitek, berkolaborasi.

Tapi Yoshi yang saya kenal dalam buku ini tidak ingin menulis seperti dalam majalah-majalah arsitektur, ia memilih sudut pandang yang berbeda, “pembicaraan bukan dimulai dari pembahasan unsur-unsur desain, fungsi maupun simbol. Tidak juga dimulai dari teknik pembangunannya. Tetapi dimulai dari hubungan yang integral antara proses hidup Eko nugroho, pengalaman ruang tinggal, juga proses pembangunan rumah itu sendiri,” tulisnya.

Saya setuju.

Seperti pada bagian dimana Yoshi menceritakan kehidupan Eko nugroho sebelum memiliki rumah sendiri. Diceritakan bahwa Eko nugroho, seniman yang belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan lebih senang keluyuran di antara komunitas dan jaringan seni di seantero Yogyakarta, punya cara sendiri dalam menyiasati ruang kontrakannya seluas 5 m x 6 m.

Hidup selama lebih dari tiga tahun di kampung kota Yogyakarta, bersama keluarganya, ruangan yang mereka kontrak selalu berubah dan berkembang. Dari satu kamar menjadi enam kamar, dengan pola sekat ruang yang dinamis, tanpa organisasi ruang yang jelas.

Yoshi menganalisa bahwa konsep ruang dan aktivitas yang terjadi dalam ruang hidup Eko nugroho telah menjadi gambaran dari realitas urban kita, yang ‘tanpa aturan’ dan sulit diprediksi posisinya. Dalam bahasa jawa, kondisi itu mendapat istilah pating telecek. Seperti “kotoran burung itu pating telecek mengotori seluruh tanaman,” artinya; keberadaan kotoran burung itu tidak bisa diprediksi posisinya, karena mereka berada dimana-mana di seluruh taman tanpa bisa dibikin pola yang jelas.

Pengertian itu kemudian dilanjutkan oleh Yoshi dalam hubungan rumah dan arsitektur. Pating tlecek, menurut Yoshi, menggambarkan ketegangan antara rancangan arsitek yang berlandaskan pada pengorganisasian ruang-aktivitas dengan praktik sehari-hari yang lebih arbitrer -semaunya sendiri, tanpa aturan.

Mungkin sebuah kebetulan yang pas dan menarik bila kemudian Eko nugroho mendapatkan Eko prawoto sebagai partner arsitek rumah yang akan ia bangun. Diceritakan dalam buku ini, mirip dengan Eko nugroho, Eko prawoto selain belajar arsitektur di universitas, juga banyak belajar arsitektur dari keluyuran di antara kampung-kampung Yogyakarta. Pada kampung ia berguru dan bersekolah mengenai kenyataan. Bagi Eko prawoto, kampung terus menjadi ‘sekolah’nya hingga sekarang.

Kondisi duo Eko ini menurut Yoshi, akan memancing pembicaraan mengenai pemahaman dan gagasan ruang dari kampung-kampung Yogyakarta. Ruang dan tempat yang menjadi eksplorasi sekaligus realitas yang digeluti duo Eko; Eko prawoto dan Eko nugroho.

Cerita pun berlanjut.

Selain pating tlecek, ada juga the history of manggon. Seperti memasuki cerita yang penuh kejutan, dalam hati saya bertanya; istilah apa lagi ini?

Yoshi menulis “buku ini sengaja menggunakan istilah-istilah dari kombinasi bahasa lokal (bahasa jawa) dengan bahasa inggris. Pilihan terhadap istilah-istilah ini sejalan dengan karakter dari judul-judul karya seni rupa Eko nugroho selama ini.”

Di bagian catatan kaki buku ini dijelaskan bahwa manggon merupakan kosakata dari bahasa jawa. Berasal dari kata ‘nggon’ yang berarti tempat, lalu menjadi ‘manggon’ yang berarti menempati. Penggunaan kata ‘manggon’ biasa digunakan dalam konteks bertempat tinggal. Judul ‘the history of manggon’ dimaksudkan untuk mengisahkan proses bertempat tinggal keluarga Eko nugroho.

Pada bagian ini, diceritakan bahwa sewaktu pertama kali menempati rumah barunya, semalaman keluarga Eko nugroho tidak bisa tidur. “ada perasaan belum nyaman” kenang Mita, istri Eko nugroho. Esoknya mereka memutuskan kembali ke rumah kontrakan lama, meski barang-barang di kontrakan sudah kosong. “kami kebingungan. Meski begitu, akhirnya kami balik lagi ke rumah baru.”

Yoshi mengkritisi praktik hidup sekarang ini dimana orang modern jarang mengenal lagi transisi, tetapi instan-isasi, melompat dari satu pembatasan ke pembatasan yang lain. pokoknya sudah terima jadi, beres. Seperti di developer mungkin. Padahal, proses transisi sendiri sesungguhnya sebuah proses yang selalu menimbulkan ketegangan dan memang sudah semestinya dilalui. Seperti pada momen transisi keluarga Eko nugroho di rumah barunya.

Saya paling suka pada bagian dimana Yoshi bercerita dalam alam pikiran tradisional, dimana transisi dipraktikkan dengan adanya ritual. “ritual dalam membangun rumah,” tulis Yoshi “sudah umum dikenali secara turun temurun, dijalankan sebagai tanda berakhirnya satu tahap pembangunan untuk memasuki tahap selanjutnya.”

Diceritakan bahwa rumah Eko nugroho dalam proses pembangunannya juga melalui serangkaian ritual. “Rangkaian ritual membangun rumah dalam tradisi jawa,” tulis Yoshi “umum dikenal dalam tiga momen, pertama yaitu pada saat mulai membangun, kedua yaitu pada proses membangun, dan yang terakhir selametan yang diadakan sebagai semacam penanda selesainya pembangunan rumah.”

Dari bagian ini, kita bisa belajar bahwa tradisi bisa hidup bukan karena tidak dipratikan atau karena generasi muda tidak tertarik melakukannya lagi, tapi karena memang tidak ada kesempatan.

Setelah melalui rangkaian ritual membangun rumah, cerita the history of manggon Eko nugroho kemudian berlanjut ke proses menempati rumah barunya. Bagi Eko nugroho, rasanya ‘aneh’ juga ketika pertama kali berjalan atau beraktivitas di rumah tanpa menyenggol, menabrak ataupun menjatuhkan benda-benda. Sebuah kebiasaan yang biasa ia lakukan di rumah sebelumnya yang sempit.

Menempati rumah barunya yang lebih luas membuat ia merasa lapang dengan keluasan ruangannya, tapi juga membingunkan sekala, ritme, dan proporsi ruang yang dialaminya.

“sesungguhnya Eko nugroho sekeluarga sedang bernegosiasi dengan ruang dan tempat yang baru,” tulis Yoshi “persoalannya terletak pada bagaimana kelenturan struktur dan ruang yang tercipta di dalam rancangan sebuah rumah mampu mengelola ketegangan struktur dan rancangan ruang dengan kehidupan penghuni yang terus bergerak dan tumbuh.”

Cerita pun terus berlanjut.

Diakhir buku ini ada nggabung to the collaboration. Seperti pada bagian yang lain, catatan kaki selalu disertai untuk menjelaskan istilah. Apa itu nggabung? Berasal dari kata bahasa Jawa, kata ini ditemukan dan dipilih dari istilah percakapan sehari-hari. Eko nugroho menyebut bahwa nggabung merupakan salah satu metode-nya dalam menjalani apa saja, termasuk dalam berkarya. (mungkin juga dalam menempati rumah).

Nggabung berasal dari kata gabung, dalam bahasa indonesia berarti ‘menjadi bagian’, tambahan awalan ‘ng’ dalam bahasa Jawa menjadikan kata ini lebih bermakna sebagai ‘proses menjadi bagian’. Nggabung dalam konteks rumah Eko nugroho diartikan sebagai proses yang terus-menerus untuk menjadi bagian dari konteks setempat; ruang, nilai, dan kebiasaan dari orang-orang setempat.

Diceritakan bahwa selama proses membangun rumah, keluarga Eko nugroho menyesuaikan diri dengan cara nggabung; ikut dengan kebiasaan tukang-tukang. “Dengan mengikuti kebiasaan mereka tersebut,” tulis Yoshi “komunikasi yang terjadi diantara mereka berjalan lancar. Bahkan ada salah satu tukang yang jaga malam, sampai sekarang tetap menjadi penjaga rumah tersebut.”

Dengan adanya mbah Muji –tukang yang kemudian menjadi penjaga rumah- yang sudah lama menjaga di lingkungan rumah Eko nugroho, dan telah lama dikenal oleh kedua desa sekitar, hubungan keluarga Eko nugroho dengan tetangga di kedua desa terjalin dengan baik. Ikut nggabung dengan kebiasaan setempat, dari mulai ronda hingga kerja bakti.

Rumah keluarga Eko nugroho setelah selesai dibangun lalu kemudian ditempati ternyata mempunyai proses hidupnya sendiri. Studio, kantor dan juga ruang pamer kecil dibangun menjadi satu site, menjadi kompleks rumah keluarga Eko nugroho. Diceritakan bagaimana kehadiran studio Eko nugroho –selain menjadi media koneksi antar pekerja seni yang lain- juga telah membangun jaringan ekonomi dan sosial dengan tukang-tukang bordir dan tukang membatik dari desa-desa sekitar. “mereka menjadi partner studio Eko nugroho dalam menghasilkan karya-karya seni rupa,” tulis Yoshi di bagian akhir buku ini.

Komentar beberapa teman yang telah membaca buku ini pun muncul, macam-macam, ada yang bilang “gaya menulisnya tidak enak dibaca”, “pembahasannya kurang mendalam”, hingga “beberapa detail cerita dibiarkan lepas tanpa penjelasan yang rinci.”

Tapi apa pun itu, buku ‘The Pating Tlecek Ruang Arsitektur’ saya pikir telah menambah satu lagi daftar buku arsitektur indonesia dengan sudut pandang penulisan yang berbeda. Dengan cerdik, Yoshi tidak kehabisan akal ketika menulis tentang Eko prawoto, ia menulis dengan mengambil sudut pandang penghuni rumah.

Tak berlebihan kemudian jika di balik sampul depan buku ini dicantumkan komentar Eko prawoto, yang menulis bahwa “ini konsep buku arsitektur yang sangat menarik. Saya pikir, perspektif penghuni memang harus dikedepankan dan diartikulasi. Ini yang biasanya tenggelam atau ditenggelamkan oleh arsiteknya…”

-muh darman-

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

2 thoughts on “rekomendasi buku bagus #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s