rekomendasi buku bagus #1

Ia tak ingat lagi persisnya kapan, “hampir 20 tahun yang lalu” tulisnya. Pada suatu sore yang cerah di balkon kahin Center di Cornell University, seorang guru besar yang akrab dipanggilnya “Pak Ben” dengan sabar mendengarkan rencananya untuk menulis tentang keunggulan ‘arsitektur tradisional’. Tidak mudah ternyata, ketika ia sudah kehabisan kata-kata menjelaskan, Pak Ben yang sedari awal dengan sabar mendengar pun akhirnya bicara.

“Saya tidak begitu tahu bidang arsitektur, tapi kenapa yah anda bisa tertarik pada hal-hal yang tradisional saat orang-orang di Indonesia berusaha menjadi modern.”

Singkat cerita, diskusi mereka sore itu pun ditutup dengan ungkapan enigmatik Pak Ben yang kira-kira berbunyi “Indonesians (or better javanese) seem to have no difficult in assuming modernity and in absorbing anything that is new, but it is more difficult for them to leave traditional ways behind them.

Akhir tahun 2012, dari sebuah situs jejaring sosial facebook, seorang teman merekomendasikan buku yang baru selesai ia editori; ZAMAN BARU DAN GENERASI MODERNIS. Abidin kusno, penulisnya, seorang yang “hampir 20 tahun yang lalu” berdiskusi dengan Pak Ben mencoba melakukan pencarian yang diperlukan untuk memahami modernitas.

Apa hubungan antara kedua dunia yang berbeda namun saling bertautan itu? apakah pertarungan antara ‘tradisi’ dan modernitas’ di dunia arsitektur itu sama dengan sosial-politik? Kenapa pengertian ‘modern’ sering disalah kiprahkan sebagai ‘barat’? apakah yang modern itu bukan tradisi Indonesia? Kenapa Orde Baru takut pada ‘modernitas’?

“Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah lama dan masih menghantui saya,” tulis Abidin kusno, seraya menerangkan bahwa tujuan buku ini adalah untuk memberi modernitas sebuah tempat dalam sejarah arsitektur Indonesia, dan lebih jauh lagi menjadikan modernitas sebuah tradisi Indonesia.

Apa yang dimaksudnya dengan ‘modernis’? Sejujurnya, bagi generasi saya yang lahir di awal abad ke-21, tidak mudah memahami buku ini –yang sebagian besar membahas periode abad ke-20. Bagaimana cara membacanya? Itu adalah pertanyaan saya yang pertama, menyusul pertanyaan saya yang kedua, apa isi buku ini? Maka, seminggu lamanya mula-mula saya mencari cara, menenangkan diri, lalu duduk membaca buku ini pelan-pelan, mencari tahu apa maksudnya.

Dan beginilah isi buku ini setelah saya membacanya:

Dibagi dalam lima bagian yang masing-masing terdiri dari sejumlah catatan-catatan yang singkat, buku ini menceritakan arsitektur yang jauh dari sekedar urusan gambar dan bangunan.

Dimulai dengan bagian ‘Krisis Representasi’ –yang merupakan bagian pertama buku ini- yang antara lain bercerita bahwa dalam sejarah Indonesia, abad ke-20 sebenarnya adalah abad perkotaan. Ditandai dengan jumlah penduduk kota yang semakin bertambah juga perkembangan pers dan periklanan yang semakin marak.

Kondisi itu membuat masyarakat semakin tanggap terhadap teknologi dan budaya kota yang dianggap baru, dan yang lebih penting lagi; perubahan sosial ini mengundang kaum muda untuk bergerak maju meninggalkan ‘tradisi’ yang kini dianggap kuno.

“Generasi muda ini suka berpakaian gaya Barat, bersepatu mengkilap, berambut minyak, berkaca mata warna, dan jas putih dengan dua atau tiga pulpen di kantong dada,” tulis Abidin kusno, “pemuda-pemudinya gemar berjalan-jalan di kota sambil bergandengan tangan, doyan keluar masuk restoran yang berlampu remang-remang, suka minum limun, menulis surat, membaca buku dan koran.”

Sejenak saya berhenti membaca dan mulai membayangkan, bagaimana keadaan semangat generasi muda pada waktu itu? yang suka setelan baru, membayangkan dunia luar, ingin setara dengan orang Eropa, memiliki rasa merdeka, dan yang terpenting; merasa berhak untuk maju. Saya membayangkan Minke –tokoh Tetralogi bumi manusia, Pramoedya Ananta Toer.

Reaksi pemerintah Hindia Belanda sangat hati-hati menghadapi era baru ini, singkatnya; modernitas yang membuat kaum muda terpesona dan gelisah itu perlu disiasati agar tak menjurus menjadi pergerakan anti-kolonialisme. Caranya?

 

Selain membentuk Balai Pustaka untuk menerbitkan buku yang pada umumnya mengetengahkan konflik antara tradisi dan modernitas. Pemerintah Hindia Belanda juga menggunakan arsitektur untuk meredam gejolak modernitas dan mengarahkannya ke jurusan yang bisa membantu kestabilan hubungan kolonial.

“Perlu ditekankan di sini,” tulis Abidin kusno, “bahwa para arsitek ini, meskipun mendapat tugas dari pemerintah, mereka bukanlah antek-antek pemerintah kolonial. Ada di antara mereka yang justru punya sentimen anti-kolonial, berjiwa sosialis, dan mempunyai misi untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia melalui arsitektur yang dianggap berada di atas politik.”

Para arsitek Belanda yang tiba di Indonesia pada awal abad ke-20 umumnya adalah lulusan dari Delft Technische Hoogeschool, mereka bisa dilihat sebagai kelompok pembaharu yang datang dengan seperangkat metode perancangan dan ide-ide baru seni bangunan di Eropa. “Di daerah jajahan, mereka mendapat kesempatan untuk mencoba merancang dengan bebas, bahkan lebih bebas daripada di Eropa sendiri,” tulis Abidin kusno.

Kreatifitas para perancang Belanda ini tidaklah hanya berasal dari pengaruh dinamika kehidupan di Eropa. Sebaliknya, desain-desain mereka dipengaruhi oleh perubahan sosial masyarakat dan politik kebudayaan pemerintah Belanda di Indonesia. Pertanyaannya kemudian adalah Bagaimana arsitektur memberi bahasa yang tepat pada lingkungan yang sedang mengalami pancaroba?

 

Masih di abad ke-20, Abidin kusno menjelaskan bahwa selain sebagai abad perkotaan, abad ke-20 juga adalah abad memajang diri. Diadakannya expo Koloniale Tentoostelling pada 1914 di Semarang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk pertama kalinya melihat bangunan sebagai barang pajangan. Pengunjung dengan bebas menyaksikan kemajuan bangsanya melalui koleksi seni arsitektur, kekayaan daerah, dan pembangunan di Hindia Belanda.

Arsitek yang ikut merancang pameran ini, Henri Maclaine Pont, mempunyai wawasan yang tidak kalah besar. Sejak pameran Semarang, Maclain Pont sudah mulai tekun mengembangkan suatu pemikiran arsitektur yang berwawasan Nusantara. Didukung oleh studi-studi Orientalis dan arkeoligis, ia mencatat dan menganalisis tipologi struktur bangunan daerah dan yakin bahwa struktur bangunan tradisional mempunyai ‘rasionalitas’ arsitektur modern.

Dengan dukungan ‘bapak arsitektur modern Belanda’ H.P. Berlage, Maclaine Pont dan kawan-kawan di Hindia Belanda berupaya menghidupkan seni bangunan Indonesia. Menurut Maclaine Pont, proses pembangunan di Hindia Belanda semestinya berangkat dari sumber daya setempat dan diolah dengan budaya lain untuk menjadi suatu langgam baru. “ia ingin menunjukkan kepada dunia arsitektur dan mungkin juga kepada pemerintah kolonial, bahwa seni bangunan daerah di Indonesia bisa menjadi bagian dari gerakan arsitektur modern di dunia,” tulis Abidin kusno.

Kita tidak mengetahui pemikiran politik Maclaine Pont, tapi teknik-teknik penyajian arsitekturnya, yang mempersatukan elemen-elemen bangunan daerah dalam satu komposisi sinkretis yang utuh, telah mempengaruhi pendekatan ‘arsitektur Indonesia’ pada 1980-an, saat ketika ‘identitas’ bangsa dianggap penting oleh negara untuk diterjemahkan ke dalam bentuk bangunan.

CATATAN-CATATAN Abidin kusno dalam buku ini selanjutnya bergerak maju ke alam arsitek dan arsitektur pembaharuan, seperti antara lain pada catatan; semangat zaman baru dan fantasi art deco, pergerakan kota dan pemukiman utopia, estetika zaman normal, Sukarno dan dekolonialisasi, transformasi diri dan modernis, penjelajahan diri arsitek muda Indonesia (AMI), arsitektur memori, hingga catatan ‘subjektifitas baru? Masa depan modernisme’ yang sudah masuk pada awal abad ke-21, abad dimana generasi saya hidup.

Tapi, saya tidak akan menceritakan semuanya di sini, dari 21 catatan yang ada, saya hanya akan menceritakan secara singkat satu catatan yang menarik bagi saya, yaitu pada catatan ‘lunturnya pilar kekuasaan tradisional jawa.’

BALIK BUWONO; menggeser kekuasaan Keraton.

Perubahan zaman makin terasa sejak dimulainya perkembangan jaringan kereta api dan jalan lintas di pulau Jawa. Jalan Pos Besar (Groote Postweg) yang dimulai pada masa Daendels dan melintasi Jawa dari arah Timur-Barat sudah menggoyahkan kedudukan simbolisme keraton.

“Jalan Pos yang melintang Barat-Timur dan menghubungkan kota-kota di sepanjang Pulau Jawa ini melawan orientasi Utara-Selatan alun-alun keraton” tulis Abidin kusno.

Memasuki era 1930-an, ‘pusat’ kota bukan lagi keraton, melainkan jalan yang dipenuhi toko-toko. Pusat aktivitas keraton yang tersembunyi di balik tembok tidaklah mampu bersaing dengan jalan raya yang terbuka untuk masyarakat luas.

Abidin kusno menganalisa bahwa bila kompleks keraton bukanlah tempat umum dan tidak dapat selalu dimasuki dengan bebas, jalan raya justru mencoba menarik perhatian orang.

“Di kota-kota keraton, jalan raya telah menggantikan alun-alun kota sebagai simbol zaman baru,” tulis Abidin kusno, “jelaslah bahwa melunturnya kekuasaan keraton berkaitan dengan makin berkembangnya kota sebagai pusat perdagangan.”

Sebagai bagian dari jaringan perdagangan, toko-toko di jalan raya kini menduduki posisi yang menarik perhatian, terutama saat berakhirnya masa depresi, jalan raya makin dipenuhi oleh toko-toko pedagang Tionghoa.

Bangunan-bangunan dan toko-toko yang saling bersaing menampilkan wajah ‘modern’ di sepanjang jalan besar menimbulkan pemandangan yang kontras dengan bangunan pemerintahan atau keraton yang harus dihadapi dengan hati-hati. “perwajahan bangunan mulai berperan sebagai bagian dari iklan yang dipajang untuk menarik hati, salah satu gaya yang paling menonjol di sepanjang jalan kota besar adalah langgam art deco,” tulis Abidin kusno.

Lalu apa yang bisa diambil dari catatan ‘lunturnya pilar kekuasaan jawa’? apakah penjelasan mengenai bangunan di sepanjang jalan yang berwajah art deco hanya berujung pada langgam saja?

Jawabannya tidak. Sebab, seperti yang ia simpulkan pada akhir buku ini bahwa; hanya jika modernisme diartikan sebagai jiwa pembaharuan yang terikat pada kondisi sosial dan politik, maka kita bisa membebaskan modernisme dari langgam arsitektur tertentu.

MEMBACA CATATAN-CATATAN dalam buku ini menyadarkan saya tentang sejarah Indonesia, yang ternyata melahirkan banyak modernis yang memberontak dengan berbagai pemikiran, teknik, dan ekspresi, menurut kondisi sosial dan politik tempat mereka berada.

Saya rasa generasi yang hidup di awal abad ke-21 mesti banyak belajar dari generasi abad ke-20, salah satunya melalui catatan-catatan dalam buku ini, buku yang menceritakan arsitektur yang jauh dari sekedar urusan gambar dan bangunan.

-muh darman-

Image

Judul buku : ZAMAN BARU dan GENERASI MODERNIS sebuah catatan arsitektur

Penulis : Abidin kusno

Penerbit : Ombak, 2012. Jogjakarta.

harga : Rp 45.000

176 hlm (xviii + 158)

*untuk pemesanan bisa langsung via sms ke nomer HP 082324699245 a.n Putri.

One thought on “rekomendasi buku bagus #1

  1. Johnnie R. Kennedy

    Ruang publik, sebagaimana dipakai oleh Abidin Kusno di dalam buku ini adalah suatu tempat yang secara fisik bisa ditunjukkan dan bisa ditempati, seperti jalan, lapangan, museum, dan bahkan pusat perbelanjaan. Ruang publik pada kenyataannya bisa dijadikan wadah yang mampu menyimpan banyak memori kolektif orang. Karena itu, ia tidak pernah bebas dari pemaknaan oleh berbagai pihak yang mengisi ruang tersebut dengan berbagai benda, makhluk, bangunan, pengumuman, peraturan, monumen, pagar, cerita, representasi, dan pertunjukkan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s