Yogyakarta di bulan Desember

 

Eko prawoto

Yogyakarta di bulan Desember

Cuaca Yogyakarta mulai dingin oleh gerimis yang turun sore ini, orang-orang mulai mencari tempat berteduh di sekitar titik Nol kota yang ramai di akhir minggu, beberapa terlihat berpasangan, beberapa terlihat sendiri seperti sedang mencari. Kemana pasanganmu? apa yang sedang kau cari? Dan Yogyakarta seperti bernyanyi dalam benak saya; walau kini engkau telah tiada kan kembali, namum kotamu hadirkan senyummu yang abadi.

Tapi akhir minggu ini saya tidak sedang ingin pacaran, melankolis di waktu ini bukanlah hal yang tepat, jadwal pacaran bentrok dengan jadwal pameran seorang arsitek;

EKO PRAWOTO, GEDUNG EX DE JAVASCHE BANK, TITIK NOL KOTA YOGYAKARTA. 15 desember 2012.

Pukul lima sore;

saya masuk ke dalam ruang pameran, di luar gerimis mulai turun. Ini pengalaman pertama saya melihat pameran dan instalasi karya arsitek eko prawoto, meski sebenarnya ini bukanlah kali pertama ia mengadakan pameran. Sebelumnya, di usianya yang tepat ke-50, ia pernah mengadakan pameran dalam bentuk rangkaian acara bersama teman-teman senimannya, empat tahun lalu.

Bangunjiwo Yogyakarta, 7 agustus 2008.

Meski rambut hitamnya belum digerogoti uban, tapi perawakannya berkata ia tak lagi muda. Usianya sudah lima puluh tahun, ia punya selera berpakaian yang rapih dan bagus, terkadang warna hitam polos pakaiannya membuat ia seperti ahli silat yang baru turun gunung, apakah ia pernah mencoba bertapa? atau berguru pada seseorang yang sakti? -saya bertanya dalam hati. Tapi mungkin ialah satu-satunya arsitek yang menarik perhatian saya dari sekian arsitek indonesia yang menyimpan sejumlah keunikan, tak hanya karya-karya arsitekturnya, tapi juga tentang karya-karya instalasinya.

Sebenarnya ia sosok yang paradoks, terkadang “ia eksis justru karena ada sesuatu dalam dirinya yang absen.” Tulis sitok srengenge dalam sebuah kado ulang tahun. Sitok srengenge adalah satu dari sejumlah seniman yang merasakan sentuhan kreatif arsitek eko prawoto pada desain rumahnya. Berada di tengah hutan yang nyaris tanpa tetangga, pengalaman memasuki rumahnya seperti pengalaman keluar rumah, ruang luar dan dalam begitu cair hingga kita tak lagi mengerti di mana batas ruang. Mungkin sesekali arsiteknya akan mengingat perkataannya bahwa manusia hanyalah seorang yang lewat di alam.

Dan memang alam menjadi bagian dari kehidupan yang terus menginspirasinya, juga mengenai prinsip kehidupan yang paradoks dimana ia eksis justru karena ada sesuatu dalam dirinya yang absen. “Daun luruh demi bunga. Lalu bunga gugur demi buah,” Seperti berpuisi, sitok srengenge mencoba menggambarkan proses kreatif arsitek rumahnya, Eko prawoto, “begitu pula dalam budaya, aktivitas manusia, setiap pencapaian masyaratkan kerelaan atas hilangnya sesuatu. Selalu. Sikap rela atas kehilangan itu bisa juga dimaknai sebagai syarat, tebusan, usaha, pengorbanan.” Tulis sitok srengenge yang turut berpartisipasi merayakan ulang tahun eko prawoto dengan meminjamkan lahan rumahnya di Bangunjiwo sebagai tempat instalasi.

Arsitek Eko prawoto memang dikenal sebagai arsitek rumah sejumlah seniman di yogyakarta, sebut saja aktor Butet kartaredjasa, musisi Djaduk ferianto, penyair Sitok srengenge, hingga pelukis sekaliber Nasirun pun pernah merasakan sentuhan kreatif arsitek kelahiran Purworejo 13 agustus 1958 ini. Kini, di usianya yang sudah setengah abad, ulang tahun pun dirayakan dengan sebuah rangkaian acara, satu di antaranya; instalasi.

“Sebenarnya saya tidak punya rencana khusus untuk ulang tahun saya” Eko prawoto menerangkan “Ini tidak akan sangat menarik untuk menampilkan gambar saja. Oleh karena itu saya mendekati teman-teman seniman saya.” Katanya dengan nada bersahajah.

Kedekatannya dengan beberapa seniman Yogya diakuinya memberi wawasan pemikiran yang baru, ia juga menemukan bahwa kegiatan berkesenian ini dibutuhkan untuk memaknai kehidupan, “kesenian kontemporer tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan hubungan timbal balik yang positif dengan sekitarnya” katanya.

Dan ia melakukannya melalui instalasi.

Berbeda ketika mendesain sebuah rumah, di mana ia sering dihadapkan pada aspek-aspek yang fungsional, pada karya instalasi ia nampak lebih banyak bereksplorasi pada proses dan nilai-nilai kehidupan yang diartikulasikan. “karena instalasi sifatnya relatif pendek, maka kita tidak bisa merencanakan secara fungsional semuanya di depan, tapi instalasi itu merupakan suatu struktur yang terbuka pada kemungkinan aktifitas yang akan terjadi” katanya menerangkan.

Untuk karya instalasi ulang tahunnya yang kelimapuluh ini, ia membuat dua seri; Leng dan Lung. Tapi saya melihat pada Lung saja, karena dialah arsitek indonesia yang menurut saya paling terobsesi pada bentuk Lung, yang merupakan perpanjangan dari pangkal. Pada kunjungan ke beberapa karyanya, saya banyak menemui bentuk Lung perpanjangan pangkal tadi, hingga bentuk itu kemudian terulang lagi pada karya instalasinya. Maka, saya mulai mencari dan bertanya dalam hati; apa sebenarnya arti Lung bagi Eko prawoto?

Seorang perenung Jawa, Ki Ageng suryamentaram, pernah menggunakan Lung sebagai perlambang sikap hidup yang adaptatif: genah wayah, empan papan. Yang berarti bagaimana kita membawa dan menempatkan diri secara tepat saat dan tapat tempat.

Dari situ saya sedikit mengerti, instalasi Lung yang ia buat di usia ke-limapuluh tahunnya ini, selain menjadi media pentas teater garasi, juga mungkin adalah gambaran titik refleksinya.

Seperti ajaran tentang mulur-mungkret yang, selain mengandung petuah tentang kemampuan ber-iritabilita, juga bisa ditafsirkan sebagai sikap skeptis yang selalu mempertanyakan kembali sebagai yang sudah ada dan yang akan diadakan, demi kematangan pemikiran dan tindakan.

Pukul enam magrib;

Eko prawoto, istri dan anaknya hadir dalam acara pameran ini. Tapi saya tidak melihat anak pertamanya, Bara prawoto, di mana dia? Setelah pertanyaan itu saya jadi teringat, suatu hari minggu di musim hujan 2010, saya pernah berkunjung ke rumahnya.

Hari itu, Eko prawoto nampak sedang bersiap menerima tamu mahasiswa dari Palu, Sulawesi Tengah. Kami ngobrol sebentar sebelum akhirnya beberapa mahasiswa datang.

Di ruang studionya yang terletak di atas garasi rumahnya, saya ikut membaur melihat beberapa slide presentasi yang ia tampilkan ke tamu mahasiswa di depannya, seperti dosen yang memberikan kuliah, ia nampak terbiasa membawakan materi presentasi. Wajar saja mungkin, karena tak hanya sebagai arsitek, ia juga adalah dekan dan dosen arsitektur UKDW Yogyakarta.

Mereka berdiskusi, saya asik sendiri. Duduk di belakang bersama anak pertamanya, Bara prawoto, kami asik bercerita ngalar-ngidul soal motor, soal iphone, soal macbook, soal fotografi, dan soal-soal selain arsitektur. Kadang kami lupa waktu, ayahnya di depan seperti memanggil mematikan infokus. Diskusi selesai, para mahasiswa tamu pamit melanjutkan perjalanan.

Ruang studio telah kosong, makanan ringan untuk tamu telah dihabiskan. Saya pun ikut-ikutan pamit karena gerimis mulai turun, Bara mengeluarkan motor, berniat mengantar saya ke stasiun.

“Makan dulu yuk, man” katanya dalam perjalanan.

Saya mengiyakan, mungkin percakapan di rumahnya tadi belum cukup. Kami lantas lanjut ngobrol sambil makan soto di sekitaran stadion Mandala krida Yogyakarta.

“Sebenarnya karya ayah tidak semuanya bagus, nanti sebelum ke stasiun bisa singgah lihat karyanya, kalau lihat, kamu pasti enggan tuk percaya itu karya Eko prawoto” Bara mulai bercerita sambil sesekali menikmati soto ayam di depannya, kali ini ia banyak bercerita tentang karya arsitektur ayahnya. Ketika saya tanya tentang karya instalasi, ia hanya berkata “lebih banyak terbangun di luar negeri, man. Di dalam sedikit.” Katanya dengan nada kecewa.

Cuaca di luar gerimis, Yogya musim hujan, kami sama-sama menikmati soto yang hangat dan lanjut ngobrol sebelum ia menantar saya ke stasiun. Tapi siapa yang harus menimbang perasaan kecewa tadi? Akhirnya saya juga yang harus mencari tahu. Sebab saya yang terlambat mengetahui, ketika dunia luar sudah lebih dulu menghargai, sejak tujuh tahun yang lalu, jauh dari Indonesia.

Musim semi, Italy, 2003.

Di tengah perjalanan kereta dari Roma menuju Florence, Eko pratowo duduk dan melihat pemandangan di luar, ia nampak bahagia, tahun ini ia adalah satu dari sekian peserta yang diundang dalam acara Arte Architettura Paesaggio, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Associazione Arte Continua dari San Gimignano yang mencoba membentuk keseimbangan baru antara desa dan kota, dan juga menciptakan hubungan baru antara Seni, Arsitektur dan Landscape.

Ini adalah tahun ketiga sejak pertama kali diadakan pada 1996, setiap tahun seniman internasional dari enam negara berbeda diundang untuk merancang sebuah proyek khusus untuk tujuan mempromosikan wilayah, para seniman menghabiskan beberapa waktu di deerah dan kemudian masing-masing menghasilkan karya pada site tertentu dalam ruang publik. Dalam acara yang memasuki tahun ketiga ini, ia, Eko prawoto, membawa nama negaranya, I n d o n e s i a.

Senang tapi juga gelisah, mungkin itulah ekspresinya ketika ia bercerita bahwa “pada saat itu diundang dan memang tak tahu harus buat apa?” katanya mengingat.

Duduk di dalam kereta yang terus bergerak menuju Florence, Eko prawoto seperti ‘galau’ mencari inspirasi, “kadang dalam proses pencarian saya menjadi kesepian” katanya, ia lalu hibur dirinya dengan melihat pemandangan alam di luar kereta, jerami dalam bentuk silinder menarik perhatiannya, “itu telah menjadi elemen landskap yang bagus” katanya seperti mendapat inspirasi.

Bounconvento musim semi adalah waktu yang baik melihat petani memanen jerami. Eko prawoto sekilas tigak lagi galau dengan inspirasi yang dicarinya, tapi hatinya belum puas, sejumput rasa ingin tahu telah timbul dalam perjalanan kereta itu, dan seperti pada proses kreatifnya yang selalu dimulai dari menenggelamkan diri dengan kehidupan sekitar, ia kemudian masuk dalam kehidupan dan mulai ngobrol banyak dengan warga sekitar.

“Ada keluhan petani yang merasa konstribusinya kurang dilihat, juga persoalan alam, dan persoalan turisme” katanya mengenang.

Setelah menyelami kehidupan sekitar, ia kemudian kembali ke permukaan dan memilih site di daerah in between, “dibilang daerah kota tidak dan dibilang daerah desa juga tidak” katanya seraya menjelaskan bagaimana material jerami yang ia lihat dalam perjalanan kereta tadi kemudian digunakannya pada instalasi.

“Saya menyusun jerami ke atas, menjadi seperti konstruksi monumen bagi petani dan juga alam” katanya, instalasi itu lalu menjadi semacam struktur yang menjadi koneksi antar banyak pihak; kota dan desa, petani dan alam, juga bumi dan langit.

Pengunjung yang datang dan melihat dari jauh itu sebagai karya instalasi yang sangat kokoh sekali. Tapi, ketika mereka melihat dari dekat, mereka melihat itu adalah rumput yang sangat rapuh, “mungkin ketegangan ini juga yang mereka suka” katanya mengenang.

Pukul tujuh malam;

Sejak itu, ia mulai banyak menerima undangan membuat instalasi di luar negeri. Pada satu sudut ruang pameran ini, terpajang foto karya-karya instalasinya, beberapa di antaranya adalah Bamboo shrine, anyang public art project, korea 2005. Kamikatsu, jepang. The Temple, esplanade Singapura 2010. The Temple, Louis Vuitton, Prancis 2011. Dan yang terbaru, Murbazzar, Austria, 2012.

Dari semua karya instalasinya, saya paling suka dengan dua karya yang terakhir; The Temple dan Murbazzar.

Pada instalasi The Temple dalam galeri Louis Vuitton di prancis. Eko prawoto mencoba membenturkan sifat keabadian dan kesementaraan, antara sesuatu yang intangible (bersifat tak benda) dan tangible (bersifat benda).

Instalasi yang ia susun dari meterial bambu itu seperti mengajak pengunjung memaknai kembali warisan budaya Indonesia tapi dari sudut pandang material yang berbeda, jika pada candi kita menemukan material batu yang abadi, pada karya instalasi The Temple pengunjung akan menemukan material dengan sifatnya sementara; bambu.

Instalasi The Temple dengan menggunakan material bambu yang sementara itu seperti ingin menyuarakan bahwa nilai spiritual pada candi yang bersifat benda (tangible) sesungguhnya adalah sesuatu yang abadi, tapi juga bisa punah jika kita tidak menjaganya, apalagi dengan perkembangan globalisasi yang semakin tak terelakkan.

Untuk menangkap maknanya memang mesti menggunakan hati, ya, seperti kata ‘pangeran kecil’ Antoine de saint, “on ne voit bien qu’avec le coeur. L’essentiel est invisible pour les yeux” –dengan menggunakan hati, kita bisa melihat dengan jernih, sesuatu yang begitu penting justru tak terlihat kasat mata.

Prancis sepertinya memang menjadi tempat orang jatuh cinta, seorang pengunjung pameran yang datang melihat instalasinya seperti langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, Le Coup de foudre, begitulah cinta pada pandangan pertama dalam bahasa prancis. Pengunjung tersebut lantas menawar instalasi The Temple untuk menjadi koleksinya.

Harga dari Louis Vuitton ia sanggupi, tak disebutkan berapa nilainya, mungkin seperti seorang kolektor yang tak lagi peduli berapa uang yang akan ia keluarkan untuk sesuatu karya yang ia inginkan. Dan hingga hari ini, instalasi The Temple tetap berdiri, menjadi miliknya, di Prancis bagian selatan.

Lalu instalasi terakhir yang saya suka; Murbazzar.

Pada instalasinya di Murau Austria ini, ia memilih menggunakan kayu pinus yang masih banyak terdapat di daerah tersebut, pilihan penggunaan material ini pun didukung dengan masih adanya keahlian pertukangan masyarakat sekitar.

Hari demi hari ia habiskan dengan menjelajahi daerah sekitar Murau, hasilnya, ia dapati memori plaza yang sekian ratus yang tahun dulu adalah sebuah pasar hewan.

Dari hasil menyelami daerah sekitar itu, ia lalu ingin mengangkat memori tempat dan mengaitkannya pada satu sisi perekonomian Eropa saat ini yang mulai goyang. Ia melihat pengrajin dari komunitas-komunitas kecil dalam tekanan persaingan yg luar biasa.

Gagasan itu ia gabungkan dalam karya instalasinya, ia mengajak beberapa orang yang punya hobi yang tergabung dalam komunitas punya potensi. Mereka lalu dihadirkan dalam struktur instalasi yang ia buat. Tiap struktur dihiasi dengan hasil kerajinan dari 30 komunitas yang ada di Murau.

Lewat karya instalasi yang jadi seperti sebuah karya bersama ekspresi dari kota Murau, saya melihat ia membuktikan pernyataannya, ketika usianya limapuluh di tahun 2008 yang lalu “kesenian kontemporer tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan hubungan timbal balik yang positif dengan sekitarnya

pukul tujuh lebih tiga puluh;

Setelah seluruh ruang pameran saya jelajahi, saya pun menghampirinya, kali ini ia masih punya selera berpakaian yang bagus, hitam polos pakaiannya seperti kontras dengan selera pakaian fancy anak dan istrinya yang selalu menemani.

Tamu yang lain sudah pamit pulang, ruangan mulai sepi, kami duduk ngobrol berdua.

“Sebenarnya pameran ini bukan kepada bagaimana menunjukkan karya, tapi bagaimana menjadikannya wacana,” kata Eko prawoto seraya menjelaskan bahwa dalam pameran ini ia ingin mengajak pengunjung untuk terlibat langsung dalam proses ‘pencarian’ yang ia lakukan.

Caranya? “Dalam pameran ini saya buat tiga sekuens yang tematik” katanya, menerangkan.

Sekuens pertama ia namakan ‘jembangan memori’; lima buah jembangan besar ia isi dengan beberapa visualisasi pemikiran serta pengaruh-pengaruh yang ia rasakan cukup dominan dalam ‘membentuk’ serta mengarahkan proses pencarian berarsitekturnya.

Visualisasi itu beberapa tentang Romo mangun, tentang kampung, tentang kerajinan, tentang tektonika, dan tentang alam yang, “jika kita bisa melihat, sebenarnya ada potensi di situ” katanya.

Lalu masuk ke Sekuens kedua yang ia namakan ‘arsitektur sebagai pencarian bersama’; merupakan kumpulan dokumentasi beberapa karya arsitekturnya. Baginya, karya arsitekturnya muncul sebagai rangkaian interaksi dan kolaborasi antar klien, para tukang, keadaan site serta pengaruh nilai sosial serta budaya yang ada.

Eko prawoto mengatakan “Pada sekuens kedua ini, saya ingin memperlihatkan contoh kecil bagaimana saya menggunakan visualisasi sikuens pertama (tentang Romo mangun, tentang kampung, tentang kerajinan, tentang tektonika, dan tentang alam) pada karya-karya saya yang ada”

Dan yang terakhir, sikuens ketiga yang ia namakan ‘arsitektur mau kemana?’; pada bagian terakhir ini, ia ingin mengajak pengunjung berpartisipasi.

Setiap pengunjung yang telah mengalami dua sikuens sebelumnya kemudian diberi kesempatan memilih beberapa gambar yang tersaji pada ‘amben’ yang tersedia. Dari pilihan gambar yang mereka ambil, mereka lalu membuat pernyataan, komentar, ungkapan, atau catatan kritis dalam sebuah kertas yang tersedia.

“jadi nanti akan ada banyak pernyataan kebudayaan” katanya seraya menerangkan kumpulan pernyataan itu nantinya akan dipotret dan mulai besok akan ditampilkan pada layar proyektor yang tersedia. “jadi ini seperti pameran bersama saja” katanya mengakhiri.

Sebelum pamit pulang, saya sempat iseng menanyakan rencana instalasinya ke depan, tapi Eko prawoto hanya menjawab “wah,, saya kan hanya pengamen, tergantung undangan.” katanya, tertawa ringan.

Hari sudah malam, saya pamit pulang.

Keluar dari gedung ex de javasche bank saya berjalan menuju stasiun Tugu dalam gerimis yang sederhana. Melewati malioboro Yogyakarta kembali bernyanyi, musisi jalanan mulai beraksi di antara mereka yang berpasangan dan juga yang sendiri, di mana pasanganmu? Dan lagu itu mengalun merdu seiring laraku kehilanganmu.

-muh darman-

jembangan memori

jembangan memori

sejumlah karya instalasi

sejumlah karya instalasi

3 thoughts on “Yogyakarta di bulan Desember

  1. Ping balik: rekomendasi buku bagus #2 | ↓

  2. ayen

    saya tertarik dengan tulisan mas/bapak. jika boleh tahu. siapa nama istri dan anak yang hadir di pameran tersebut? jika diperbolehkan boleh kah saya menggali banyak tentang biografi bapak eko prawoto lewat blog ini? saat ini saya sedang menjalankan tugas kuliah menulis karya ilmiah tentang bapak Eko prawoto. terima kasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s