Benni di Tegel kunci

Image

SUATU HARI YANG CERAH saya menemani seorang arsitek bertemu klien barunya, ia orang yang sangat sibuk dan seperti tak punya banyak waktu untuk diskusi, tentang rumah yang akan ia bangun, ia langsung menanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun rumah ini, arsitek di sampingku diam sebentar, seperti menghitung waktu, arsitek ini kemudian menjawab “saya belum bisa memastikan, tapi yang saya tahu, untuk pengerjaan lantai saja, mesti menunggu lima bulan hingga tegel yang dipesan datang.” Saya 100% yakin klien barunya ini akan berkata; terus gue harus bilang WOW gthu?, Tapi cepat-cepat ia menutupi keterkejutan itu dengan hanya bilang Ooo…

Tegel yang dimaksud adalah Tegel cap kunci Jogja.

2 oktober 2012, kereta berhenti di stasiun Tugu Jogja setelah menempuh sekitar 390km perjalanan dari Bandung. Seorang tukang ojek menghampiri ketika saya baru saja keluar dari pintu timur stasiun, saya tanya apa ia tau jalan KS Tubun no.95? ia langsung menjawab sepuluh ribu saja. Saya mengartikan ia tau.

Usianya cukup tua, wataknya bersahajah, dan seperti menjalani hidup dengan santai, ia tidak terburu-buru mengendarai motor dan cukup tenang mencari alamat yang dituju. “pokoknya di depan bangunan ada tulisan pabrik tegel dan beton kunci, pak” saya menerangkan sebentar sebelum akhirnya sampai.

Saya sedikit lebih beruntung bisa berkunjung langsung ke pabrik tegel ini, kebanyakan pengguna hanya memesan tegel lewat telepon dan mengirim gambar denah lewat internet. Kemajuan teknologi mempersingkat hidup tapi juga menghilangkan kesempatan-kesempatan lain, kesempatan melihat dan memahami proses.

Saya menyampaikan demikian ketika seorang penanggung jawab pabrik menanyakan maksud kedatangan saya. Benni, laki-laki kulit hitam bertinggi sekitar 170cm ini adalah orang yang bertanggung jawab di pabrik tegel kunci ini. Tamu yang datang ia terima dengan sikap ramah dan terbuka. Ia perantau dari Indonesia timur yang mencari pekerjaan di jogja, eman tahun sudah ia bekerja di pabrik ini. Pengetahuan pembuatan tegel kunci ia dapati secara otodidak, “dari setiap pengalaman, terdapat pelajaran,” ia mulai serius, saya mulai fokus.

Di teras depan pabrik, benni bercerita tak hanya soal pembuatan, ia juga lancar bercerita sejarah pabrik yang selesai dibangun 1927 ini. “meski sudah selesai dibangun 1927, tapi pabrik baru mulai beroperasi dua tahun setelahnya, 1929” benni lanjut bercerita. Saya mulai merekam setiap detailnya.

Didirikan pertama kali dengan nama pabrik Midden Java oleh dua orang belanda, Louis Maria Stacker dan Julies Gerrir Corrane. Tapi tanpa alasan yang benni tak tahu, tahun 1931 Julies Gerrir Corrane mengundurkan diri dan 50% sahamnya digantikan oleh Ir.Liem Ing Hwie, seorang tionghoa.

Pada penjajahan Jepang sekitar tahun 1942 banyak warga negara Belanda pergi meninggalkan Indonesia.  Tak terkecuali dengan Louis Maria Stacker, Ia juga pergi meninggalkan Indonesia, sehingga keseluruhan pabrik kemudian dimiliki oleh Liem Ing Hwie.

Tapi kepemilikan Liem Ing Hwie hanya bertahan tiga tahun, pada masa kemerdekaan 1945 pabrik ini diambil alih oleh pemerintah, dan baru pada 1947 dikembalikan lagi kepadanya.

Pabrik ini sempat berhenti produksi pada tahun 1949 karena adanya agresi militer Belanda, kegiatan produksi baru mulai lagi tahun 1950. Pada 1957 pemerintah mengambil alih semua perusahaan yang pernah di miliki Belanda tidak terkecuali Midden Java.

Pada 1963 Firma Tegel Fabrik Midden Java oleh Pemda Daerah Istimewah Yogyakarta diganti nama yang hingga kini terkenal dengan nama pabrik Tegel dan Beton cap Kunci. Tahun 1973 perusahaan dikembalikan kepada ahli waris Ir.Liem Ing Hwie Yaitu Keluarga bapak Suleiman.

“Kadang ada saja orang yang tidak tau bahwa tegel ini masih diproduksi, mereka biasanya kaget” kata benni “tapi tidak mesti bilang WOW gthu” ia mulai menjelaskan dengan ringan, saya mulai tenang.

Kekagetan itu dianggapnya wajar saja, “mungkin karena tegel ini terlihat antik” kata benni, menjelaskan sembari mengajak saya masuk melihat proses pembuatan.

RUANG dalam pabrik ini dipenuhi rak-rak penyimpanan tegel, hanya tersisa sedikit ruang untuk pekerja, usia mereka beragam. Dua puluhan hingga 30-an. Beberapa dari mereka asik bekerja sambil sesekali mengikuti syair lagu yang terdengar dari radio.

“Suasana memang dibuat senyaman mungkin, sebab pembuatan tegel di pabrik ini punya cara yang lain, cara yang kadang sulit dipahami oleh pabrik modern yang menuntut kecepatan dalam jumlah yang banyak, proses pembuatan tegel kunci di sini masih handmade, mungkin karena itu kami harus menjaga perasaan pekerja dengan membuat suasana yang nyaman, saya yakin, musik dapat menciptakan suasana”. Ah, benni mulai serius lagi.

Tahun 1997 pabrik ini hampir tidak dapat bertahan karena persaingan dalam pasar modern. Pada waktu itu pabrik ini seperti mati suri hingga menimbulkan kekhawatiran kelangsungannya. Hingga suatu hari, seorang pengrajin dari seni logam institut seni indonesia tertarik mempelajari cetakan motif tegel kunci. Mega, namanya. Perempuan ini memperbaiki cetakan motif tegel kunci yang terbuat dari logam, setelah mencoba membuat dan berhasil, ia lalu bertemu ahliwaris pabrik dan mencoba membantu manajemen untuk revitalisasi dengan fokus pada pasar artistik sekarang. Mereka pun bekerjasama memperbaiki cetakan lama dan membeli mesin dari pabrik yang sudah tidak beroperasi.

“Halo selamat pagi…” tiba-tiba benni menerima telepon, “motifnya saja yah pak, sekitar 82 meter itu empat bulan, pak”

“Ada klien yang barusan telpon” benni lanjut bercerita, “awalnya mereka mau pesan 710 meter tapi tidak jadi karena mendengar kami baru bisa selesai mengerjakannya delapan bulan. Karena deadline mereka empat bulan, mereka lalu menguranginya dan hanya pesan 82 meter untuk yang motif saja. Ini yang kadang-kadang menjadi permasalahan,” benni mulai curhat.

“Yah kadang-kadang begitu, mas. Harusnya kami dapat order banyak jadi berkurang karena waktunya sedikit” lanjutnya “Kami juga kadang tidak enak ke klien, awalnya sudah janji tida bulan nanti kenyataannya mundur dua minggu hingga satu bulan. Tapi kita mengusahakan tepat waktu.”

Belajar dari pengalaman kapasitas pabrik lama yang kurang memenuhi jumlah pemesanan, pabrik tegel kunci lalu membuat pabrik baru, “bangunannya sudah jadi, mungkin akan beroperasi awal tahun 2013,” lanjutnya.

Benni menemani saya melihat proses pembuatan, khususnya pada bagian tegel motif. Tegel kunci terkenal karena jumlah motifnya yang terbilang banyak, “jumlahnya ada 100 motif, mas” kata benni, menerangkan “Kadang orang tidak perlu datang ke jogja untuk pesan, mereka bisa hanya mengirim gambar denah dan memilih motif yang akan diterapkan di denahnya. Prosesnya pun agak lama, mungkin karena jumlah pilihannya yang banyak”

Mendengar ceritanya, saya jadi sedikit merenung; banyaknya pilihan dalam hidup seharusnya membuat manusia lebih bahagia, faktanya, justeru membuat hidup lebih rumit dan membingungkan. Sebuah paradoks.

Berbenturan dengan kultur deadline proyek sekarang yang ingin cepat selesai dan tak mau menunggu lama, pemesan lalu biasanya hanya datang dari arsitek-arsitek yang cukup idealis dengan proyek rumah pribadi. Benni mulai menyebutkan nama-nama arsitek Indonesia yang dimaksudnya, mulai dari yori antar, budi lim, andra martin, marco kusumawijaya, hingga arsitek sekaliber eko prawoto. “tapi yori antar yang paling sering” katanya, menambahkan.

Mereka mesti menunggu dalam jangka waktu yang cukup lama, tergantung dari antrian produksi, jika order semakin banyak, antrian juga banyak. Untuk seratus meter, biasanya mereka mesti menunggu 4-5 bulan. “Karena ini custom jadi kami tak ada stok barang.” lanjutnya.

Beberapa pemesan memaklumi dan mengerti, selain karena pembuatannya yang masih manual, pengeringan tegel juga masih tergantung pada cuaca. “Jika hujan,  kami menggunakan bantuan kipas angin untuk pengeringan” lanjutnya lagi.

Di ruang dalam pabrik ini, Benni mulai menerangkan lebih spesifik cara pembuatan tegel, tidak mudah ternyata. Prosesnya cukup rumit dan butuh kesabaran. Benni seperti juru masak yang lancar menerangkan; pertama-tama tuangkan adonan basah, dilanjutkan dengan adonan kering lalu masukkan ke mesin press, “ya seperti masukan kue ke oven aja” katanya, bercanda. Setelah keluar dari mesin press, tegel lalu diangin-anginkan setengah hari sebelum kemudian direndam di air selama satu sampai dua hari, “untuk merapatkan pori-pori tegel dan memperkuat strukturnya sehingga tak mudah pecah” lanjutnya. Setelah itu dikeringkan selama tiga sampai empat hari lalu kemudian dibawa ke gudang. Benni menunjuk satu ruang di depan, di ruang itu, tegel pun siap dikirim.

Pengetahuan pembuatan tegel ini dipertahankan turun temurun persis seperti jaman dulu, mereka memperbaiki cetakan lama peninggalan belanda, juga dengan membeli mesin pabrik lain yang sudah tak beroperasi. Karena proses pembuatan handmade inilah yang kemudian menjadikan tegel kunci ini bisa bertahan di saat orang sudah mulai jenuh dengan produk pabrik. Regenerasi juga dilakukan dari tukang yang tua ke tukang yang muda.

Ketika saya menanyakan apa kesulitan proses pembuatan, benni hanya menerangkan pada bahan pewarna masih impor dari Belanda, “di Indonesia bahan ada tapi kualitas kurang baik” Katanya, menjelaskan. “ juga pada teknik pewarnaan, pemakaian warna yang setelah dicampur langsung dipakai akan berbeda dengan pemakaian warna yang sudah dicampur lama 1-3 hari ” kata benni “warnanya berbeda meski bahan sama”

Seluruh ruang dalam pabrik sudah kami jelajahi, setiap sudut sudah saya rekam dan foto. Sebuah bangunan pabrik yang sederhana dan fungsional, nyaris tak ada akrobat geometris yang mengada-ngada. Kami sama-sama meninggalkan ruang dalam pabrik.

Di teras depan menjelang waktu istirahat, kami lanjut duduk bercerita tentang hal remeh-temeh dan akhirnya sampai juga ke soal hantu. Menurut benni, bangunan pabrik ini punya ‘penghuni’ dari dunia lain. Tapi dia dan pekerja pabrik tegel tidak keberatan hidup berdampingan dengan hantu. Sebab mereka terbiasa bergaul dengan berjenis-jenis hantu. Tapi hantu genderuwo bukan hantu pada umumnya. Hantu jenis ini tidak ingin tinggal berdampingan dengan manusia. Mereka ingin membangun negeri hantu. “mungkin mereka ingin pakai tegel kunci juga” katanya, tertawa.

Diakhir-akhir obrolan, benni sedikit banyak bercerita tentang tips memasang tegel yang baik, seperti proses pemolesan yang semestinya dilakukan satu bulan setelah dipasang, “menunggu tegel kering” katanya.

“Teorinya begini,” kata benni “tegel memang sudah kering, tapi jika dipasang dengan adukan semen, tegel kembali basah, karena tegel punya pori-pori dan penguapan masih berlangsung setelah pemasangan. Kira-kira satu bulan tegel baru benar kering dan pemolesan pun boleh dilakukan.”

Saya pun menangkap maksudnya, ia ingin bilang kalau tegel kunci ini bukan barang ‘sembarangan’, ia sering menolak pemesan yang meminta cepat 1-2bulan mesti produksi 100meter. “saya ingin tetap mempertahankan kualitas, bukan kuantitas” kata benni, mengakhiri.

Langit Jogja mulai gelap ketika saya pamit pulang, cuaca akhir-akhir ini memang sulit diduga, gemuruh mulai terdengar di langit. Berjalan keluar pabrik saya menoleh sekali ke belakang, saya melihat benni memandang ke langit mendung di atas sebelum menjatuhkan pandangannya ke ruang pengeringan tegel, seperti ada harapan dalam pandangannya, mungkin pemesan tegel mesti lebih sabar menunggu.

-Muh Darman-

Image

Image

6 thoughts on “Benni di Tegel kunci

  1. Ping balik: video tegel kunci « ↓

  2. Wid

    setelah baca artikel ini setidaknya saya jadi lebih sabar dan mengerti…soalnya lagi nunggu pesenan tegel kunci nih dah 5 bulan belum juga ditelpon ma pabrik…pengen segera dipasang.

    Balas
  3. Nandyhandayani

    Untuk pelengkap dan memperbaiki kua litas tlg
    1.pinggir nya d perhatiin bnyak yg gk nyiku tiap mau d pasang harus d ratain pake gerinda dulu jd lumayan meng hambat
    2.ujung nya yg ada bekas potongan jd nyambil/kurang rata kalo bisa jgn terlalu runcing mendingan aga bulet kalo gk d halusi,…itu masukan ku yg udah memasang sendiri?….tnks…..salam….nandydhh

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s