Maryono

Image

SEORANG ARSITEK jogja yang baik pernah mengenalkan lelaki ini pada saya empat tahun yang lalu, ketika itu ia nampak sibuk dan terlihat tidak sedang ingin bicara. Saya mengerti dan memilih melanjutkan perjalanan ke rumah-rumah pasca bencana gempa. Setelah hari itu, saya tidak lagi bertemu dengannya, karena kesibukkan lain saya meneliti rumah-rumah di atas air.

31 maret 2012 saya pergi ke Yogyakarta, saya memutuskan mencarinya, seorang yang setidaknya bisa menceritakan dan mengerti rumah-rumah pasca bencana gempa. Kali ini saya beruntung, seorang kawan yang baru sebulan tinggal di rumahnya berniat mengantar saya.

Maryono, pria 51 tahun itu belum juga digerogoti uban, ingatannya tajam, nada bicaranya tegas, terkadang berapi-api, lalu menyulut sedikit untuk soal-soal yang menyedihkan hati dan sepasang mata tuanya ikut merah berkaca-kaca.

“Ibu dan adik meninggal ketimpa bangunan tetangga” katanya, mengenang. Sebenarnya saya merasa takut menyinggung perasaannya dan mencoba mencari tema lain. Maryono tiba-tiba lanjut berkata, “Setelah menguburkan dan kemudian mengungsikan adik ke godean, saya kembali ke ngibikan, hendak membuat tenda sementara untuk warga”. Semangatnya menyala. hari ini, saya tahu, ia sedang ingin bercerita.

Maryono fasih berbahasa Indonesia, dan hanya menggunakan bahasa jawa pada warganya. Maryono adalah ketua RT 5 di ngibikan, sebuah dusun di Bantul Yogyakarta yang pada 27 mei 2006 hancur oleh gempa berkekuatan 5,9 skala richter. Hampir seluruh rumah-rumah roboh rata tanah. Lima orang meninggal.

Maryono mengatakan pada saya, membangun kembali rumah yang hancur di ngibikan lebih kepada semangat gotong royong, sebuah rumah dengan modul struktur 6m x 7,20m bisa jadi hanya dalam waktu 12 jam saja. Pengalamannya pada dunia bangunan mendukung untuk membangun itu.

Maryono meninggalkan bangku sekolah sejak lulus SD, sejak itu ia tak pernah lagi kembali mengenyam pendidikan formal. Sejak saat itu pula ia harus membantu orang tua, juga mencari penghidupan sendiri yang tidak mudah. Di usia yang masih kanak-kanak, maryono sudah kerja jadi tenaga bangunan sebagai tukang. Dia tekun dan mempelajari betul gambar kontraktor (salah satunya prima karya) dan memahami; pelaksanaan lapangan kadang-kadang tidak pas dengan gambar. Ia memperhatikan dan bertanya, seperti di bawah pondasi mesti ada pasir, itu fungsinya apa?

“Untuk menahan penyusutan” saya menjawab setengah yakin. Ia tersenyum.🙂 saya mengartikan dalam hati “mahasiswa hari gini, siapa yang peduli”.

Meski pengetahuan teknis terjadi di lapangan tukang, tapi menekankan dimensi pertukangan (craftmenship) dalam arsitektur itu penting. Kritik keras dan kekecewaannya yang besar dalam pengajaran arsitektur di perguruan tinggi Indonesia menghilangnya kemampuan bertukang dan pengenalan akan material yang otentik.

Bangkit membangun rumah-rumah pasca bencana gempa memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, gotong royong bukan sebuah konsep yang mudah dilaksanakan pada kenyataannya, “jika diterapkan pada dusun lain, belum tentu berjalan dan berhasil, mas” maryono menjelaskan. Gotong royong yang ia dan warga lakukan sudah terbentuk jauh sebelum adanya bencana gempa.

Ia kepala RT yang tak hanya tahu menyuruh, “mungkin ini berhasil karena setiap saya mengajak gotong royong membersihkan kampung, saya pun ikut langsung bekerja”. Tradisi Kebersamaan dalam gotong royong seperti ini yang kemudian menarik perhatian dunia.

Beberapa peneliti Jepang datang melihat dan belajar, mereka mempelajari lagi apa yang dulu mereka miliki namun hilang oleh modernisasi; nilai kebersamaan. Tim juri penghargaan tertinggi untuk arsitektur Negara berkembang ‘aga khan award’ menempatkan proyek ngibikan pasca gempa dalam daftar finalis peraih penghargaan bergengsi tersebut.

Dunia arsitektur seperti menemukan jawaban di ngibikan, kita tidak lagi akan bisa bicara tentang krisis lingkungan atau pemanasan global atau perubahan lingkungan tanpa adanya nilai kebersamaan. Proyek ini lebih memperlihatkan masih adanya nilai-nilai kebersamaan itu. “Keistimewaannya bukan pada arsitekturnya, tapi pada proses yang terjadi, pada nilai-nilai kebersamaan yang tetap kita praktekkan” maryono menambahkan.

selain menggunakan material yang ada dan masih bisa dipakai, maryono dan warga ngibikan mendapat bantuan dana kemanusiaan dari kompas. Pembangunan pun dimulai dengan apa yang ada di sekitar; kerangka kayu, campuran kayu kelapa dengan kayu bekas yang ada, sambungan dengan baut, dinding bata setinggi 1m, bagian atas rangka kayu dengan penutup kayu, anyaman bambu atau bahan bekas yang ada, penutup atap fibrecement gelombang. Penghematan juga pemanfaatan penggunaan bahan ini berhasil menekan biaya pembangunan hingga 10juta untuk satu rumah.

Tiga setengah bulan bekerja bersama, komunitas harmonis dengan 65 kepala keluarga (290 warga) yang bermata pencaharian utama tukangbangunan, petani, tukang becak, pedangang pisang, penjual kue, berhasil membangun enam puluh lima rumah. Warga ngibikan bangkit bersama. Ketika saya tanyakan bagaimana perasaannya, ia terlihat bahagia.

Maryono mengatakan pada saya bahwa ini sangat ‘dasar’ sebagai kelangsungan kehidupan, tapi ini juga sangat rapuh jika kita tidak waspada dan cukup peka melihat, menghargai dan mengupayakan ikatan kebersamaan ini agar tidak hilang. “kuncinya” katanya “pada nilai-nilai kehidupan”.

Malam semakin larut, maryono teringat besok ia mesti ke bandara, ia akan terbang ke singapura. “ada instalasi yang harus dikerjakan” katanya. Saya Tanya apakah ia betah di sana, ia jawab “tidak” katanya “saya lebih damai dengan kehidupan di Ngibikan”.

One thought on “Maryono

  1. Nandyhandayani

    …..inspirasi banget n pantes buat jd cermi kita terutama sy……hidup kita nasib kita siapa yg tahu kita cuma bisa mengira2 n berusaha……

    Buat temen2 yg satu visi, satu misi,mari kita tingkat kan kualitas krja kita,insfirasi kita,dan jgn lupa krjaan kita sangat g ada batas’a selagi kita bisa selagi kita mampu,bukan halangan buat kita maju….sukses buat semua…,.salam.nandydhh…..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s