STARCHITECT

by; effan adhiwira –salah satu orang utama di balik Proyek Green School di Bali ketika dia aktif di PT Bambu Bambu. Ia membantu mengembangkan mimpi John Hardy dalam membuat bangunan ramah lingkungan dan perilaku orang-orang di dalamnya. STARCHITECT adalah tulisan pertama yang ia buat untuk dipublikasi oleh ruang17. terima kasih yang tulus untuk mas effan. selamat menikmati.🙂

STARCHITECT

-kecamukan hati-

Hoho… udah agak basi sih emang..

Gosip iklan rokok yang pakai model sang arsitek yang membahana diseluruh penghuni dunia perarsitekan, baik yang mengaku-ngaku arsitek atau yang bukan arsitek sama sekali.

Tapi kali ini bukan gosip kok,  cuma sekedar “kecamukan hati” saya sebelum tidur beberapa hari ini…

IKLAN TV

Kalau lebih jeli disimak… sejak bertahun-tahun yang lalu profesi kita (karena termasuk saya juga) ini memang cukup menarik untuk dijadikan “model” atau “gambaran” manusia sukses yang seiring dengan langkah kesuksesan produk yang sedang diiklankan. Digambarkan seorang manusia dengan jerih payahnya, banting tulang, menerima cercaan dan kegagalan, berusaha meniti karir hingga akhirnya sampai pada sebuah titik menjadi “arsitek bintang” yang dipuja-puja banyak orang…. Ya.. jadi STARCHITECT!

Masi inget iklan sebuah bank, “saya arsiteknya!, tapi kalau tanya bagaimana cara mendidik calon arsitek..tanya bapak saya” (1) atau sebut saja iklan obat mata, iklan kopi, iklan rokok beda merek, dan banyak iklan lainnya sampai si mbak Agnes Monica memakai plot kehidupan arsitek buat pidio klipnya ( lupa judulnya, dan yang jelas saya kurang suka dengan jalan ceritanya… kesannya kangmas arsiteknya ga peduli sama sang pasangan, malah asik berkutat dengan proyeknya… atau jangan2 memang demikian adanya?..:p)

Intermezzo…

Yang bikin saya bertanya2… hampir di setiap iklan selalu saja ada cewe cantik di ending cerita berdiri manis di sisi kangmas arsitek yang tersenyum cool. Semoga demikian adanya juga di kehidupan nyata…😀

Karena, menurut survey waton saya (yang kurang dapat dipercaya tentunya) terhadap para bakal calon mertua yang menganut paham “bibit, bebet, bobot”… profesi arsitek memang salah satu profesi yang menjanjikan penghidupan yang baik masa depan disamping profesi dokter dan pengacara.

Jadi ingat :

 Balon Mertua (BM) :”oohh ada temennya  ***** ya?”

 Balon Arsitek (BA)   : iya Bu… mau main sebentar”

BM  : “hmmm…. masnya kuliah dimana?”

BA   : di *** Bu (salah satu kampus tertua di jogja)

BM  : oooh…. Ambil jurusan apa??? (sambil tersenyum dan      membukakan pintu pagar)

BA :arsitektur Bu…

BM : oooh “WIS arsitek TUR ***!” (2)… mari2 masuk, tunggu dulu di ruang tamu, si ***** sedang  dikamarnya, nanti ibu panggilkan, masnya mau minum apa????”

Huahahahaha…. Memang agak didramatisir sih… Cuma kira2 begitu jalan ceritanya.  Intinya, memang dalam kebiasaan pola pikir masyarakat kita, profesi arsitek adalah profesi yang “wah”, yang “tinggi”, yang “bintang”…. Ya, lagi2 STARCHITECT.

SINISME

Lah terus kok sekarang banyak yang nyinyir… abis lihat iklan rokok terbaru itu. Dan istilah “STARCHITECT” akhirnya mulai banyak mencuat di diskusi2 dan pergunjingan2 (sekali lagi baik oleh teman2 arsitek atau yang bukan arsitek sekalipun).

…..”iih, arsitek sok selebritis”….(3)

….” Saya sih mau jadi arsitek biasa aja ah, ga mau jadi starchitect kaya dia.. norak!”…. (4)

….” Saya masih ngga habis pikir apa hubungannya profesi arsitek dengan sebatang rokok”….(5)

Itu sedikit komentar yang sempat saya dengar dari berbagai sumber (kali ini agak dapat dipercaya). Sinisme ini lebih personal kayanya, mungkin karena kali ini yang jadi model iklan adalah arsitek beneran, tidak seperti iklan2 sebelumnya yang mencari model tampan rupawan dan maha cool untuk jadi sang arsitek.

Intermezzo lagi…

Eh udah pernah ada iklan arsitek yang cewe ngga ya? Selain yang jadi bos arsitek di iklan obat mata itu?

….

Starchitect! Lha njuk ngopo???

1.Kok bisa men-judge dia sok selebritis??… lha wong baru jadi bintang iklan sekali dan bintang pidioklip sekali (kalau ga salah, itupun pidioklip yang sifatnya memberi semangat buat kaum muda Indonesia), dan setau saya dia ga pernah masuk infotainment yang isinya lagi marak kawin-cerai para bintang kita di ranah yang lain.

2. Ya itu sebuah pilihan, mau jadi arsitek “biasa” saja, dengan proyek yang “biasa” saja, dengan publikasi yang tentunya “biasa” saja juga. Sing penting iso urip. Asalkan ini murni ungkapan dari komitmen hati, bukan ungkapan iri hati yang terselubung karena ngga pinter liat peluang dan skill yang ngga nyandak .

3. Kalau belom habis, dihabiskan dulu waktu berpikirnyaaa.. coba ditelisik berapa persen aristek kita yang merokok? Dan berapa persen dari arsitek kita yang “doyan” ngelembur demi mengejar hasil yang maksimal ?.. Nah, temen ngelemburnya itu apa? Walau saya tidak merokok (saya lebih memilih minum wedhang ronde (6) hampir sebagian besar memilih rokok sebagai teman yang paling akrab. Saya pernah sekantor dengan teman arsitek perokok berat yang kalau melihat dia sedang bekerja di mejanya,  hanya berupa kotak monitor yang dikelilingi asap rokok disekitarnya.

Itu tadi secara harafiah…. Kalau secara modal kapitalisme, memang perusahaan rokok lah yang sedang jumawa. Apakah lebih tidak habis pikir kalau melihat event olahraga (yang notabene menjunjung tinggi semangat hidup sehat) disponsori oleh beberapa perusahaan rokok (yang notabene dianggap sebagai benda laknat perusak kesehatan) ???

Ini masalah pencitraan produk menurut saya (mungkin teman2 dari advertising lebih ahli membahasnya). Bahwa semangat juang menjadi juara, kesuksesan sebuah tim olahraga tertentu, dan kualitas kesuksesan seorang arsitek menjadi analogi pencitraan yang dipilih sebuah produk atas kualitas dan sukses yang mereka capai.

Jadi, profesi arsitek dipilih sang pengiklan yang tanggap akan “kekerenan secara eksplisit” yang banyak diamini masyarakat kita pada umumnya. Bukan karena arsitek harus merokok, atau arsitek harus jadi selebritis dan norak. J

Si mas arsitek di iklan itu memang sudah terkenal (sudah ngeSTARCHITECT) sebelum jadi bintang iklan deh. Dan mungkin justru karena dia arsitek terkenal yang membuat produk tersebut memilihnya untuk jadi salah satu bintang iklannya. Bukan karena setelah jadi bintang iklan kemudian baru terkenal (kaya artis2 kita yang banyak merintis dari bintang iklan, pemain sinetron, kemudian main film horror dan lanjut membuat album rekaman..hehe).

Intermezzo lagiii…

(Padahal hal itu sempet jadi cita2 saya… jadi arsitek sekaligus main sinetron, main film horror dan lanjut buat album rekaman…hahahahaha. )

 

Salah ya jadi STARCHITECT??…

Ngga ah… menurut saya malah sebuah prestasi yang harus dicapai.

Lha… Oom Santiago Calatrava, pakde Norman Foster, paklik Renzo Piano, serta simbah Frank Gehry yang sangat saya kagumi itu semuanya STARCHITECT jee…!! Bahkan Meneer Rem Koolhaas yang bakal datang ke negri ini aja disambut gila2an untuk didengarkan ilmu2nya.

Yap.. itu dia ILMUnya!!!… esensi STARCHITECT menurut saya adalah kedalaman ilmu yang dimilikinya. Pengalaman panjang perjalanan karirnya yang tidak bisa digantikan dengan text book apapun. Jurus-jurus suksesnya memenangkan tender dan mengerjakan tantangan desain. Bahkan sampai ceritanya bangkit dari kegagalan-kegagalan yang menerpa.

Menjadi “BINTANG” untuk menjadi yang diatas, yang mudah dilihat dan dicontoh, memberi panutan terhadap banyak pengagum disekitarnya, menjadi cahaya pencerah dengan ide-ide cemerlangnya untuk masa depan dunia yang lebih baik, dan menularkan kisah kesuksesannya yang dapat menginspirasi.

Jadi wajar to… kalau sang STARCHITECT dipilih jadi model iklan??… lha wong menginspirasi kok.

SIKAP DIRI

Kalau masalah sikap personal setelah jadi STARCHITECT, memang hal  lain lagi…. Setiap orang mempunya gaya berpenampilan, gaya berbicara, dan gaya mengkomunikasikan ide yang berbeda-beda. Mungkin disini para pengkritis (kalau tidak boleh saya bilang penyinyir) melihat secara kasat mata saja. Tidak lebih melihat dari prestasi apa yang telah dia capai.

 “Ahh, gayane kemlithi (7).. mentang2 lagi ngerjain proyek di Eropa dan Cina !”

Whe lhaa.. dipercaya menangani proyek di Eropa dan Cina itu ya berarti emang cukup mumpuni lho. Coba dilihat ke diri kita sendiri, jangan-jangan kita yang suka ngomentarin orang ini akan lebih kemlinthi dibanding si mas itu kalo tiba2 dapet proyek besar seperti itu. Lha wong belom pasti dapet proyeknya aja kadang kita udah sesumbar banyak hal ke kerabat2 dan handai taulan lainnya…🙂

Menjadi di atas memang banyak godaan dan terpaan anginnya. Tapi saya kira kalau proses kita menuju ke atas itu dilalui dengan penuh perjuangan dengan peluh dan pengorbanan. Secara alamiah kita akan sangat menghargai sebuah proses dan tahapan-tahapan kehidupan… Jadi ora kemlinthi.. :p

SIKAP SAYA..

Saya sih jujur dari hati yang paling dalam… MAU JADI STARCHITECT !! hehe..

Hidup itu harus fokus dan totalitas… (saya sudah mengurungkan niat menjadi pemain sinetron, pilm horror dan artis rekaman).. saya adalah seorang arsitek!

Justru dengan jadi seorang STARCHITECT saya dapat lebih diperhatikan dan didengar untuk menyalurkan ide2 saya untuk perubahan dunia ke arah yang lebih baik, (klo belum jadi STARCHITECT… “kowe kuwi sopoooooo??? Keakehan cangkem thok.. hehe)

Perjuangan memang tidak mudah… mungkin berawal dari menjadi STARCHITECT se RT, kemudian merambah ke se kecamatan, sampai jadi cukup terkenal “Se Jawa Tengah dan Purwokerto” (8)..

Kalau dari sekarang sudah ada yang mulai menyebut saya STARCHITECT (entah dari ketulusan hari yang paling dalam atau hanya sindirian biasa) … makasih banyak.

Teruuus…

Seperti pada status saya beberapa hari yang lalu,

Nanti kalau saya sudah terkenal  (STARCHITECT)… bakal ditawari model iklan apa yaaa?? Hehehehe..

Denbaguse yang sedang belajar nulis artikel arsitektur..😀

110615

Catatan jempol (kalau kaki sepertinya kegedean… :p):

1)cuplikan kalimat dari sebuah iklan bank yang selalu terngiang2 di telinga saya.. dan sempat jadi trendsetter gaya saya pada saat kuliah saat karya saya ditanya “siapa ini yang desain?”

2)”WIS(wakarman) ARSITEK-TUR UGM”… saya ambil dari sebuah desain pemenggalan kata yang cerdas tentang nama Himpunan Mahasiswa kami dari kakak2 angkatan saya. “Wis arsitek, tur UGM”… artinya “ sudah arsitek, kuliahnya di UGM pula..:p”

3)…sebuah komentar spontan dari salah satu arsitek pengunjung GreenSchool setelah melihat nama mas arsitek itu terukir di salah satu bangunan.

4)…sebuah status FB dari salah satu anggota friendlist saya yang kemungkinan besar saya ngga kenal bener.. Cuma sempet baca saja.

5)..sebuah komentar di akhir sebuah imel di salah satu milis arsitek di Indonesia

6) wedhang ronde : minuman jahe campur kacang dan kolangkaling… sangat enak disruput waktu malam sambil nongkrong (harusnya… bukan sambil ngelembur..:p)

7) kemlinthi : bahasa jawa yang kadang sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia, agak sombong, bertingkah cari perhatian, pecicilan laah.. (lho ini bahasa jawa lagi)

8)”se Jawa Tengah dan Purwokerto”: sebuah gambaran tentang “ketenaran yang maksimal” yang diucapkan mas Didi Crow, gitaris Power Slaves saat coaching clinic di Jogja beerapa tahun yang lalu.

🙂

3 thoughts on “STARCHITECT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s