jalan

-foto gang sesama, by darman-

-foto aksi KeukenBDG yg sy ambil tanpa minta ijin dari Astri Puji Lestari-

J a l a n sebagai ruang yang penuh ketakterdugaan telah mengakar dalam kebudayaan orang jawa. Kita bisa melihat, Ketika romo mangun menjadi penasehat tata kota Yogyakarta, ia mengusulkan untuk membuat arkade di depan toko-toko Malioboro, dengan tujuan menciptakan ruang publik seperti yang ada di kota-kota Eropa. Yang terjadi, arkade itu diserobot oleh pedagang kaki lima, yang menjual barang yang sama persis dengan toko resmi di belakangnya -hanya saja, dengan tidak membayar pajak sah melainkan membayar jatah preman. Sebuah ketakterdugaan yang kemudian menjadikan jalan sebagai ruang umum kota yang tidak tertib dan tidak dimengerti; ruang yang dijalankan lebih berdasarkan hukum rimba.

Usaha merebut kembali jalan sebagai ruang umum kota coba dilakukan oleh beberapa generasi yang jauh lebih muda.

sebut saja ‘gang sesama’. di sebuah gang, jalan kecil yang sudah terlanjur tergambar sebagai akses jalan yang sempit, tak rapi, dan tak aman mungkin akan segera terbantahkan ketika saya menemukan sekumpulan bocah-bocah kecil yang sedang asik bermain di gang kampung yang terletak di bukit mulya bandung. Bocah-bocah itu memanjat, beberapa di antaranya yang lebih berani akan bergantungan, lalu seperti tarzan mereka teriak; auwooo uu wooo…

Lagi-lagi, sebuah ketakterdugaan terjadi. Apa yang sedang dipanjat, lalu bagaimana mereka bisa bergantung di ruang sempit bernama gang? Seorang arsitek wanita indonesia, sarah ginting, menjawab pertanyaan itu dengan menciptakan ruang bermain anak pada lahan kota yang terbatas. Dibantu mahasiswa arsitektur unpar dan itb, ia kemudian merangkai papan, menegakkan tiang ayunan, dan yang menarik; membuat wahana gantung di jalan gang.

Bocah perempuan yang lebih tenang akan memilih duduk di ayunan, bocah  laki-laki yang lebih berani dan aktif akan mencoba bergantungan, berbahaya? Tidak, mereka hanya lebih dekat dengan keberanian. Melihat hal itu, setiap  yang peka akan dibuat sadar bahwa dalam satu bentuk permainan terdapat beragam pelajaran. permainan juga pelajaran itu, bisa dibuat dan didapatkan di mana saja, termasuk di jalan gang.

Lalu yang sedang ramai diperbincangkan di jalan bandung akhir minggu yang lalu adalahKeukenBDG, “dengan moto mereka spice of space, mereka melakukan gerilya menempati ruang ruang jalan dan publik, mengundang komunitas lokal untuk menjadi koki dan memasak kemudian membagi secara gratis, salah satu usaha mengembalikan pada publik  ruang ruang yang menjadi komoditas pasar”. Paskalis, menuliskannya seperti itu.

saya tidak sempat hadir dan hanya mengikuti melalui dunia maya saja. Semoga minggu depan yang lain saya bisa ikut memeriahkan. Sebab siang itu menyisakan kegetiran, seperti daging panggang yang tergigit lalu tertelan, juga kerinduaan akan kesempatan lain yang mungkin. Yang barangkali juga tak mungkin. (Semoga minggu depan yang lain menjadi mungkin -karena, lagi-lagi, di jalan, ada banyak ketakterdugaan)

Tapi karena ketakterdugaan, jalan kemudian juga bisa menjadi tempat terbunuhnya seseorang -mungkin juga lebih.  Siapa yang bisa menjamin kita bisa selamat di jalan?

Kamu sangat dramatis, man. Kata pacar saya. Tidak. Saya sangat realistis, bantahku.

Statistis mengatakan, ”Sepanjang April 2011, Jakarta Pusat menjadi wilayah yang paling banyak terjadi aksi kejahatan di jalan. Tingkat kejahatan bulan April dalam satu bulan terakhir, Jakarta Pusat menempati peringkat pertama daerah rawan kejahatan, dengan 323 kejadian,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar, Rabu (11/5/2011) di Polda Metro Jaya. JAKARTA, KOMPAS.com

jalan mengandung resiko kematian yang besar. Terlebih di kota besar, dimana terdapat kecenderungan yang besar bagi orang untuk tidak memperhatikan nasib orang lain. Tingkat kejahatan di jalan sudah sangat memprihatinkan, kalau tidak dibilang mengkhawatirkan. Beragam jenis kejahatan, mulai yang ringan hingga berat, dari yang dilakukan perorangan hingga sekelompok orang, bahkan dalam suasana ramai maupun sepi. Ketakterdugaan itu, mengharuskan kita tetap merasa was-was dalam ruang umum yang semestinya nyaman. Kita lalu dibekali dengan tips-tips;

  • Pastikan anda menggunakan sabuk pengaman, mengunci pintu dan menutup jendela.
  • Hindari menaruh barang berharga pada tempat yang mudah terlihat. Usahakan untuk menyimpan di tempat yang tersembunyi dan mudah dijangkau (sekiranya diperlukan)
  • Hindari penggunaan ponsel saat mengemudi. Selain mengurangi konsentrasi, terkadang emosi kita akan mengalami perubahan, sementara konsentrasi sangat dibutuhkan saat anda mengemudi.
  • Jika terpaksa anda harus berhenti (baik diperempatan maupun karena kerusakan), usahakan mencari tempat yang cukup ramai.

Dan terakhir, Jangan lupa untuk selalu berdo’a pada tuhan.

Sebuah jalan mungkin bisa menjadi cermin kota. Cermin itu tentu bisa cekung, bisa cembung, bisa retak pula. Membaca begitu banyak kejadian di jalan belakangan ini, saya jadi teringat sajak sapardi.

Susah benar menyebarang di Jakarta ini;/hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib./Dan dalam usia yang hampir enam puluh ini,/astagfirulah! rasanya di mana-mana ajal mengintip

Di jalan, ketika ketakterdugaan lewat dan wajar, orang tak lagi bertanya kenapa seseorang mati.

🙂

One thought on “jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s