tuhan

(pada saat cuaca cerah dan senja telah tiba, ruang ini bermandikan cahaya senja yang masuk melalui bukaan pada sisi barat-kiblat. selanjutnya; suara azan)

Pada mulanya sebuah pengalaman; sensasi yang timbul ketika pertama kali melihat kabah, tepat di depan mata kepala sang arsitek yang untuk pertama kalinya berdiri, lalu sujud; tanda kemenyerahan manusia di hadapanNya.  Di hadapannya adalah sebuah kubus, selimutnya hitam, dengan sosoknya yang memang besar, tapi- kecuali kaligrafi pada kiswah yang membungkusnya- ia praktis tanpa keelokan, tanpa ornamen, tanpa keinginan menjadi impresif. Ia berdiri begitu saja di halaman masjidil haram, tak menyentak.

Ka’bah; sebuah bentuk yang tenang, jauh lebih tenang dibandingkan dengan gaya arsitektur manapun di dunia ini. Karena pembangun pertama tahu; ambisi kita untuk kemegahan, kekerasan hati untuk keunggulan, hanya akan pucat pasi pada detik kita menyadari posisi kita yang sesungguhnya. Dan kubus itu adalah sebuah produk kesadaran, sebuah pernyataan kerendahan hati, sesuatu yang kemudian dijadikan inspirasi oleh arsitek ridwan kamil ketika pertama kali berpikir tentang masjid di kota baru parahyangan.

begitulah, sebuah masjid hadir dalam bentuk kotak yang kemudian mudah tertebak seperti kebanyakan desainnya yang menganalogikan sesuatu ke dalam bentuk bangunan.

Tapi memang benar jika kemudian sebuah tempat dapat bercerita banyak. Berada di dalam masjid kota baru parahyangan, pengalaman pribadi saya menyadari; bukan hanya secara pikiran, melainkan juga secara fisik, bahwa tuhan tak ada di sini, bahwa tuhan tak di mana-mana, tetap jauh- tak terangkum dari tempat saya berdiri. Tuhan tak ada dalam jangkauan jarak. Tapi, pada momen ketika saya merasakan kembali hal-hal yang sebenarnya dahsyat namun tersisih, seperti ketika saya mendengar suara gemercik air kolam di tepi mimbar, cahaya 99 lampu yang merembes keluar dari almatur yang berukirkan asmaul husnah, angin yang pelan-pelan masuk melalui celah lubang udara pada kulit bangunan, juga cahaya matahari senja yang perlahan turun ke barat adalah momen yang lebih tepatnya dialami ketika berada di dalamnya.

jarak antara manusia dan tuhan memang punya pesonanya sendiri, dan saya pun ‘menyerah’ di bawah bayang-bayang keakbaran-nya. TUHAN, itu adalah waktu ketika saya melihat cahaya senja yang keemasan masuk ke dalam ruang yang hening. Dan dalam detik itulah ia sangat dekat. Menyenangkan🙂

8 thoughts on “tuhan

  1. alex pujiyanto

    dear
    ruang 17

    cukup menarik artikel..ini masjid kota baru parahyangan….

    Buat saya pribadi..karya bangunan ibadah umat muslim….bangunan ini jelas bertolak belakang sekali pada masjid masjid umumnya di indonesia…..

    sangat imajinatif…artikulasi pada fasade bangunan…yang bertuliskan Allah…yang juga berfungsi sebagai ventilasi udara .buat saya wow..and wow
    ensensi berkeyakinan dalam pencitraan fisik memang idealnya…tidak diseragamkan..mendasarnya
    manusia mempunyai kebebasan dalam merefleksikan nilai- nilai ketahuidan….tanpa harus lari dari esensi ajaranya.

    dan saya kira Arsitek yang merancang bangunan masjid kota baru parahyangan ini patut mendapat apresiasi yang baik..untuk perkembangan arsitektur bangunan ibadah di indonesia.

    terima kasih

    alex pujiyanto

    Balas
  2. Tja' Joel93

    Super Mantabz … !!!
    Konsep kemegahan yang dipadu keprasahan/penyerahan diri dengan konteks kedekatan sang Khaliq … hmmm, oke full.

    Balas
  3. plentiswae

    Subhanalloh, indah sekali. ” Barang siapa yang membangun mesjid di dunia maka Alloh SWT akan membangunkan rumah bagi kita di Surga ” ( AlHadits )

    Balas
  4. ken

    Mas Darman, thx atas sharing-nya, sementara saya belum sempat mengunjungi mesjid ini, hanya sempat membayangkan dari foto2 dari blog ini dan foto2 dan layout-nya dari web2 lainnya, yg saya penasaran adalah lighting pada malam hari, juga dari tempat wudhu menuju area shalat apakah ada jalur khusus tanpa alas kaki, atau mesti pake sandal atau gmn biar ga kotor? mungkin bisa diceritakan jg, thx.

    Balas
  5. nind

    bentukan bola di kolam depan imam agak sedikit menggelitik, karena bertuliskan Allah. Mengesankan adanya personifikasi atau perlambangan Allah pada bulatan tersebut, sementara Islam tidak mengenal personifikasian Allah. Kabah sendiri bukan perlambang Allah,tetapi pengingat kepada Allah dan pemersatu arah ibadah umat islam kepada Allah.
    lain halnya dengan sutrah, yaitu pembatas ketika kita shalat sendiri. sutrah dapat berbentuk benda yang diletakan di depan tempat sujud, yang bertujuan sebagai batas orang supaya orang jangan melangkah diantara sutrah dan yang melaksanakan shalat.
    maaf kalo pengetahuan saya yang kurang.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s