taman terapung di kali semarang

-juara pertama lomba desain konsep HUT SKETSA 22, integrated education urban space for children 2011-

by: Gustav Anandhita, Cahya Mustika Alam, Hengky Arga Pradita 

tertulis “Semarang kaline banjir, ojo sumelang yen dipikir.. “

dalam sebuah penggalan lirik lagu yang menceritakan kondisi kali Semarang yang selalu menjadi langganan banjir. Padahal ketika membaca sejarah, dahulu semarang pernah disebut sebagai Vanesia van Java. Karena kala itu, Kali Semarang sangat berperan dengan transportasi sungainya dalam membawa kebutuhan sehari-hari juga barang dagangan dari luar Semarang.

Dan di Kali Semarang pulalah kita bisa melihat sejarah perkembangan Kota Semarang. Ada kawasan Pecinan, Kota Lama, Jembatan Berok, Sleko, Kampung Melayu, dan Boom Lama, kawasan-kawasan yang punya banyak bangunan bersejarah, dan dikenal menyimpan sejarah perkembangan Kota Semarang tentang sosial ekonomi, budaya, dan politiknya.

Namun sekarang kebanggaan masa silam  itu hanya tinggal kenangan. Mungkin ikut larut dalam genangan banjir rob yang setiap saat bisa datang menyerang gang-gang sempit pemukiman di Kali Semarang. Ya, kenyataan menarik ketika sebuah pemukiman padat bertemu dengan banjir rob, kenyataan yang kemudian menimbulkan banyak masalah, satu di antaranya adalah hilangnya tempat bermain untuk anak-anak.

Mungkin ketika dalam kondisi tak banjir, anak-anak bisa merebut jalan raya, gang sebelah rumah, atau di atas jembatan sebagai tempat bagi mereka untuk bermain. Akan tetapi, ketika banjir datang dan menggenangi daratan, kesempatan mereka bermain sudah tak ada lagi. Tenggelam.

Sampai di sini sudah bertemu 2 masalah utama: Banjir + Pemukiman Padat.

  • Saat banjir tidak lagi bisa dibendung dan dicegah, maka yang terpikir adalah sebuah “lapangan” yang mampu beradaptasi dengan banjir dengan cara mengapung. Seberapapun ketinggian air bukan menjadi masalah ketika “lapangan” ini bisa mengapung di permukaan airnya. Ide ini muncul ketika memperhatikan getek yang menjadi transportasi penyeberangan di Kali Semarang.
  • Masalah kedua adalah warga tidak memiliki lagi lahan untuk membuatkan lapangan bermain bagi anak-anak mereka. Lalu kami melirik sebuah tempat luas di depan pemukiman mereka yang belum dimanfaatkan, yaitu Kali Semarang. Karena sangat disayangkan jika “space” yang sangat luas ini hanya menjadi tempat pembuangan sampah.

Dengan memperhatikan masalah tersebut, secara sederhana kami mendesain sebuah lapangan bermain yang anti banjir dan dapat terapung di Kali Semarang.


Secara desain mungkin sangatlah biasa, hanya meniru bentuk kapal secara sederhana. Dalam kapal ini kami membagi menjadi 2 fungsi, yaitu Geladak Kapal dan Kabin Kapal:

  • Geladak Kapal: Area ini merupakan space untuk menempatkan permainan anak-anak. Disaat yang berbeda, mainan-mainan yang berada di atas geladak dapat dpinggirkan atau dipindahkan. Sehingga tercipta space yang cukup lapang. Jadi mainan tersebut bersifat portable. Ketika mainan yang berada di atas geladak dipinggirkan, maka geladak kapal ini dapat digunakan untuk bermain permainan tradisional yang membutuhkan ruang yang lapang, seperti lompat tali, gobak sodor, engklek, dan lainnya. Untuk keaman, area ini dilengkapi pagar dan juga jaring pengaman di sisi-sisinya. Meskipun kontrol orangtua juga dibutuhkan untuk menemani mereka bermain.
  • Kabin Kapal: Bagian belakang kapal ini berfungsi sebagai kelas sore untuk pelajaran tambahan. Guru les bisa dari sukarelawan atau orang tua sendiri, dilengkapi dengan papan tulis dan meja lesehan. Mulai dari les gambar, menulis, menyanyi dapat dilakukan di kelas ini. Dan dengan penuh harapan, kelas ini juga bisa juga digunakan untuk kelas gratis bagi mereka yang kurang mampu/anak jalanan. Mengingat di dekat tapak terdapat Pasar Johar, dan banyak anak-anak putus sekolah yang menjadi kuli dan pengamen.

Untuk bagian atas, difungsikan sebagai “PAGUPON” (kandang burung dara), karena kebanyakan anak-anak di sini suka Gaburan/balap burung. Dikarenakan lahan yang sangat sempit dirumah, jadi kami buatkan sebuah kandang burung terpadu. Tempat ini juga bisa menjadi deck untuk loncat ke sungai, mengingat banyak anak-anak yang suka mandi di sungai.

Pernah terlontar sebuah pertanyaan dari seorang kawan. Kenapa kalian seolah mendukung dan membiarkan anak-anak bermain dan mandi di air sungai yang tampak kotor itu?

Bukannya tanpa alasan, kami memiliki sebuah misi dengan  “menaruh” tempat bermain di Kali, maka anak-anak dilatih memiliki kepedulian dan rasa memiliki terhadap Kali Semarang sejak dini. Dan bagi orang Tua yang menemani mereka bermain, pasti akan berharap tempat bermain anak-anak mereka sehat dan bersih. Maka secara tidak langsung orangtua juga tersadar untuk menjaga dan merawat kebersihan Kali Semarang yang menjadi tempat bermain anak-anak mereka. Kami berharap para orangtua tidak akan lagi membuang sampah dan limbah ke sungai, karena ketika mereka mengotori kali, berarti mereka samasaja telah meracuni anak mereka.

“Melarang anak-anak bermain di tempat kotor bukanlah hal yang bijak, tapi membersihkan tempat bermain anak mereka yang kotor barulah langkah yang tepat untuk anak mereka maupun untuk lingkungan.”

Selain tidak adanya tempat bermain bagi anak-anak pemukiman padat ternyata juga menyebabkan terbatasnya lahan untuk Ruang Terbuka Hijau. Hal ini berdampak juga pada anak-anak, mereka tidak mengenal berbagai tanaman, padahal negara kita merupakan negara subur yang memiliki jutaan jenis tanaman. Segala macam tanaman seperti bunga, sayuran dan tanaman obat-obatan hanya mereka ketahui dari foto di buku atau sayuran hasil panen yang dijual di pasar.  Satu-satunya kendala untuk berkebun adalah tidak adanya lahan, sementara sumber air sangatlah melimpah. Untuk itu kami akan menciptakan “lahan bercocok tanam” itu.

Dengan ini kami mencoba memberikan alternatif Ruang Terbuka Hijau berupa “Kebun Terapung”. Dengan konsep seperti Taman Terapung sebelumnya. Tempat ini mencoba memberikan  space untuk anak-anak belajar berkebun, menanam dan merawat tanaman. Dengan media ini diharapkan anak-anak memiliki kepedulian dan rasa cinta terhadap kelestarian tanaman dan lingkungan sejak dini.

Dengan rak-rak tanaman yang dibuat bertrap, memudahkan peletakan tanaman yang ditanam di dalam pot ataupun kaleng bekas. Keberadaan kebun bunga yang terapung di atas Kali Semarang  diharapkan akan memberikan nuansa asri serta warna-warni bagi lingkungan sekitar. jadi Kita bisa berlama-lama nongkrong di Kali Semarang sambil mengajari adek-adek kita bercocok tanam. Dengan sistem pengelolaan dan status milik pada Desa. Maka akan menjadi taman bersama layaknya taman-taman di perumahan yang elit.

“Di saat sudah tidak  mungkin menghijaukan daratan yang penuh dengan beton. Maka kami akan menghijaukan Kali Semarang di permukaan-nya”

🙂

One thought on “taman terapung di kali semarang

  1. Ibra

    ide yang menarik walau secara desain masih sederhana, atau mungkin memang sengaja dibuat mengikuti imajinasi anak-anak yg cenderung sederhana?

    saya rasa ini bisa benar2 diaplikasikan, terutama yang kebun terapung, jika diolah dengan benar bisa menjadi pendapatan alternatif bagi masyarakat. Tapi untuk taman bermainnya saya rasa orang tua masih belum berani melepas anaknya bermain di tempat yg masih dianggap “kotor” dan “bahaya” bagi anak-anak.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s