berbahasa

dalam diskusi Pemikiran dan Karya Mangunwijaya yang diadakan oleh Freedom Institute, 12 Mei 2011, selain berbicara mengenai sastra romo mangun, ayu utami juga berbicara mengenai karya arsitektur romo mangun dalam makalah yang ditulisnya sebagai berikut;

—–

Marilah kita lihat pendekatan arsitekturnya. Beginilah ia menulis tentang berasitektur, yang menunjukkan pandangan tentang dekatnya arsitektur dengan kesusastraan, sehingga bolehlah kita mencari jawaban bagi kesusastraan pada pendekatannya terhadap arsitektur:

Oleh karena itu, bila kita berasitektur, artinya berbahasa dengan ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan bahan material dan suasana tempat, sudah sewajarnyalah kita berasitektur secara budayawan; dengan nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik. Bahkan kalau mungkin, walaupun tentu saja tidak setiap orang mampu: dengan puisi. (Eko A Prawoto, Catatan Kurator dalam Tektonika Arsitektur Y.B. Mangunwijaya, katalog pameran, Rumah Seni Cemeti (1999), hal. 4; ia kutip dari Wastu Citra (Gramedia:1970)

Apa gerangan yang ia maksud dengan “berbahasa dengan ruang dan gatra, garis dan bidang, material dan suasana tempat”? Romo Mangun dikenal sebagai arsitek yang selalu mencoba berdialog dengan lokalitas dan keaslian atau keapa-adaan situasi. Estetika-nya tidak berasal dari ideal-ideal atau cetak biru, melainkan dicarinya dalam dialog dengan keadaan lapangan.

…arsitektur […] nomor satu bukan dia ikut mazhab Le Corbusier, Mies van der Rohe, atau dia klasik, atau dia itu nusantara, atau Pancasila. Bukan itu. Tapi, yang menjadi sumber karyanya sebetulnya tidak beda dengan seorang dokter, atau seorang SH, atau seorang presiden. […] dia mulai dari kehidupan. Kehidupan yang riil. Jadi, bukan mazhab, bukan gaya Jerman atau Kenzo Tange, tapi kehidupan…(Paparan lisan di Universitas Atmajaya Yogyakarta dalam Erwinthon P. Napitupulu, “Watak dan Warta dari Wastu Mangunwijaya” dalam Penziarahan Panjang Humanisme Mangunwijaya.)

Kehidupan baginya ada mendahului apa pun. Kehidupan mendahului konsep-konsep. Dengan demikian, kampung miskin di kali Code tidak membutuhkan estetika dan standar yang sama dengan real estate Bumi Serpong Damai. Berkarya di bantaran sungai itu, ia memperbaiki jalur air, sanitasi, ruang bermain dan ruang publik agar kampung itu dapat dihidupi dengan ramah dan sehat–tanpa harus menggunakan beton, tembok batu, ataupun bahan-bahan berat lain yang dalam dunia modern ini telah diterima tanpa pertanyaan sebagai bahan standar kelayakan rumah.

Sekali lagi, di sini Mangunwijaya justru seorang yang anti-modernis. Modernitas punya kecenderungan menyeragamkan standar peradaban. Seperti sikap pemerintah di masa itu, yang hendak menggusur perumahan di bantaran Code karena menganggapnya tidak layak huni. Bagi Romo Mangun, selama pemerintah tidak bisa menyediakan alternatif yang layak, maka satu-satunya jalan adalah membuat kampung itu menjadi layak huni dengan ketersediaan yang ada. Artinya, dengan ukuran-ukuran yang disediakan oleh situasi setempat. Ukuran yang otentik.

Sedangkan untuk perencanaan bangunan dengan anggaran memadai, ia juga dikenal eksentrik karena menghabiskan porsi untuk ongkos tukang lebih besar daripada untuk belanja material. Ini, tentu saja, perhitungan yang bertentangan dengan ukuran modernitas dan kapitalisme yang menekankan efisiensi biaya. Di sini pun kita melihat keberpihakannya pada manusia, bukan pada benda-benda.

Mangunwijaya menekankan dimensi pertukangan (craftmenship) dalam arsitektur. Kritik keras dan kekecewaannya yang besar dalam pengajaran arsitektur di perguruan tinggi Indonesia menghilangnya kemampuan bertukang dan pengenalan akan material yang otentik.

—–

semoga bermanfaat

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s