‘Arsitektur Waktu Luang dan Gaya Hidup Metropolis’

‘Arsitektur Waktu Luang dan Gaya Hidup Metropolis’

by Achmad D. Tardiyana*

”Work hard, play hard”.  Rasanya semakin sering kita mendengar istilah ini terutama diantara golongan menengah urban seperti Jakarta.  Golongan masyarakat ini di satu sisi semakin sibuk dan semakin keras bekerja, namun disisi  lain semakin intens juga melewatkan waktunya di berbagai fasilitas yang disediakan untuk mengakomodasi kesenangan mereka dalam menikmati hidup.  Pemanfaatan waktu luang ini tentu saja berkaitan dengan disposable income mereka yang semakin tinggi.  Dengan semakin tingginya pendapatan, maka semakin tinggi pula nilai uang yang bisa mereka  belanjakan.  Dengan demikian ‘waktu luang’ akan selalu diupayakan  untuk memenuhi gaya hidup tertentu yang berkaitan dengan pola konsumsi.  Waktu luang ini  adalah waktu yang dianggap berkualitas sebagai bagian dari proses  reproduksi sosial yang dilakukan secara spesifik melalui kegiatan yang menyenangkan di dalam sebuah fasilitas yang dirancang untuk memanjakan experience atau pegalaman.

Dalam satu dekade ini terjadi fenomena yang menarik dalam dunia arsitektur yang berkaitan dengan gaya hidup ini. Bisa dikatakan setelah krisis ekonomi tahun 1998, muncul berbagai fasilitas yang berkaitan dengan pemanjaan waktu luang melalui berbagai fasilitas seperti café, resto, spa, lounge, fitness centre, hotel butik dan sebagainya. Tapi bukankah fasilitas semacam itu telah ada jauh sebelumnya? Memang begitu, tapi fasilitas itu tidak berkembang secara kuantitas maupun kualitas seperti yang kita saksikan saat ini.  Bisa dikatakan café culture atau budaya nongkrong di café baru berkembang dalam satu dekade ini. Berbagai fasilitas ini telah berkembang sedemikian rupa dengan mengembangkan berbagai tema yang sangat spesifik untuk bisa masuk ke dalam persaingan usaha yang sangat  keras.  Namun seperti lazimnya sebuah dunia yang penuh persaingan, maka budaya arsitektur waktu luang ini telah menghasilkan eksplorasi-eksplorasi rancangan yang menarik agar selalu kompetitif.  Seperti yang dikatakan Virginia Postrel, seorang jurnalis budaya, kualitas mengenai “look” dan “feel” atau  kualitas sebuah rancangan dianggap mampu memberikan sebuah nilai lebih dan bisa dikatakan menjadi sebuah kebutuhan dari sebuah persaingan.  Dengan semakin tingginya tingkat persaingan diantara penyedia fasilitas gaya hidup semacam ini, maka  semakin tinggi kreativitas mereka dalam mengeksplorasi dan mengembangkan arsitektur waktu luang ini dengan menawarkan program dan suasana yang unik.

Masayarakat konsumer

Fenomena  ini tentu  tidak bisa dilepaskan dari kondisi masyarakat kita yang telah bergeser ke arah masyarakat konsumer. Masyarakat ini muncul sebagai konsekuensi logis perkembangan sistem kapitalisme  global yang telah mengalami metamorfosa. Masyarakat konsumer ditandai oleh bergesernya penekanan moda produksi kapital yang telah bergeser dari sistem yang berbasis produksi kearah konsumsi. Dengan berkembangnya gelombang ketiga ekonomi yang berbasis pada jasa, terjadi perubahan besar bagaimana masyarakat mengkonsumsi.  Tentu saja proses mengkonsumsi sudah terjadi saat perdaban manusia terbentuk, tapi kondisi masyarakat saat ini telah mencapai titik yang ekstrim dimana keberadaannya, disadari atau tidak, ditentukan oleh bagaimana mereka mengkonsumsi.  Konsumsi telah menjadi suatu proses penting penciptaan identitas.

Di awal abad 20, ahli sosiologi Georg Simmel dan Thorstein Veblen  menjelaskan bahwa konsumerisme muncul dalam sebuah proses dimana  seseorang  berusaha untuk berbeda dengan orang lain sehingga seseorang mampu mengekspresikan identitas sosial yang berbeda.  Gejala ini muncul sebagai respon terhadap kondisi yang menyeragamkan dari kekuatan mekanisasi dan teknologi yang didorong oleh industrialisasi selain implikasi dari urbanisasi. Kontras dengan pandangan Max Weber tentang pengendalian hasrat, masyarakat mulai mengkonsumsi sebagai moda utama dalam mengekspresikan diri. Konsumerisme menjadi bahasa umum dalam membaca dan menafsirkan tanda-tanda budaya. Pola ini mengalami percepatan pada paruh kedua abad dua puluh.  Hal ini sejalan dengan bergesernya negara kesejahteraan (welfare state) dimana negara memiliki peran yang besar dalam sistem ekonomi  kearah neo- liberalisme dimana swasta memegang peran yang sangat besat. Aspek-aspek yang tadinya banyak dikendalikan dan disediakan oleh negara seperti infrastruktur, pendidikan dan perumahan sekarang lebih banyak diserahkan ke dalam mekanisme pasar dan dikendalikan oleh swasta.  Dengan demikian proses komodifikasi berbagai aspek kehidupan kita saat ini semakin meluas.

Dengan hadirnya peran swasta yang sangat besar maka, usaha untuk melakukan berbagai simulasi melalui berbagai bentuk pencitraan agar masyarakat semakin selalu tergoda untuk mengkonsumsi semakin intensif.  Ini berkaitan dengan apa yang dikatakan Jean Baudrillard bahwa “the fundamental problem of contemporary capitalism is no longer production, but the contradiction between a virtually unlimited productivity and the need to dispose the product. It becomes vital for the system at this stage to control not only the mechanism of production, but also consumer demand”.  Kebutuhan golongan menengah metropolis  akan fasilitas waktu luang sejalan dengan proses yang dikatakan Baudrillard. Dengan semakin meningkatnya waktu yang digunakan golongan menengah urban dalam berbagai fasilitas waktu luang dan semakin tingginya tingkat kebutuhan kita pada fasilitas-faslitas itu, maka bisa dikatakan kita telah sepenuhnya berada di dalam sebuah masyarakat konsumer.

Namun kebutuhan untuk mengkonsumsi ini tidak datang begitu saja. Kebutuhan tersier ini sebetulnya merupakan sebuah proses simulasi dan pencitraan yang kompleks. Proses pencitraan ini memanfaatkan kecenderungan manusia dalam menyalurkan hasratnya. Hasrat manusia yang pada dasarnya bersifat imitatif, bahwa apa yang kita miliki paling pribadi dan personal, hasrat kita, tidak sepenuhnya milik kita: kita mengikuti hasrat orang lain.  Seperti yang dikatakan seorang pengamat sosial  “we want what others want, because they want it”.  Kita menginginkan gaya hidup tertentu karena teman sekantor kita melakukannya. Maka nonkronglah kita di Starbucks, walaupun kita bukan penikmat kopi atau sama sekali tidak peduli dengan rasa kopi. Kita nongkrong di tempat seperti itu karena itu sudah kita pilih menjadi gaya hidup.

Estetisasi kehidupan keseharian

Apabila hasrat kita untuk mengkonsumsi didasarkan pada kualitas penampilan obyek, maka segala sesuatu diangkat pada level estetik.  Oleh karena itu penampilan fisik seseorang menjadi sangat penting sehingga begitu banyak orang berusaha untuk mengubah penampilannya dengan berbagai cara. Jean Baudrillard menyebut cara-cara ini sebagai proses estetisasi. Maka apabila cara tadi dilakukan untuk menyempurnakan penampilan tubuh melalui  penataan rambut, operasi plastik, perbaikan gigi, manicure dan pedicure, pelangsingan tubuh dan sebagainya, maka tubuh telah mengalami proses estetisasi.  Istilah pria ‘metroseksual’ lahir dari proses estetisasi tubuh ini. Nilai seorang pria akan banyak ditentukan oleh citra yang ditampilkannya yang mendapat sentuhan salon, pakaian yang mengikuti trend terakhir, wangi dan licin.

Bagaimana proses estetisasi tubuh ini dikonsumsi tercermin pada bagaimana arsitektur merayakan ini. Fitness centre misalnya, bukan lagi menjadi fasilitas olah raga yang tempatnya tidak menarik dan  tertutup, tapi bisa berada ditengah-tengah shopping mall yang ditata sedemikian rupa secara transparan sehingga pengguna bisa menikmati suasana shopping mall dan sebaliknya pengunjung shopping mall bisa menikmati pengguna di dalam ruang kaca itu.  Pada level estetik ini pengalaman atau proses mengalami menjadi penting. Seperti pada kasus fitness centre diatas, semua proses bekegiatan di dalam fasilitas ini dimanipulasi sedemikian rupa menjadi sebuah rangkaian pengalaman  yang difasilitasi oleh serengkaian tata letak, komposisi bentuk, tekstur, material dan suasana tertentu.

Dengan demikian gaya hidup metropolis ini pada dasarnya adalah serangkaian kegiatan keseharian yang telah diangkat pada level estetik tertentu sehingga memiliki nilai dan gengsi tertentu pula. Dalam konteks ini proses meminum kopi telah diangkat menjadi sebuah pengelaman yang berbeda dengan hanya menyeruput kopi di rumah pada saat sarapan, tapi telah diletakkan dalam konstelasi sistem penanda yang berkaitan dengan identitas sosial. Proses minum kopi telah mengalami proses signifikasi yang menenempatkan pelakunya dalam status sosial tertentu.  Untuk menjadi bagian dari permainan penanda dan status sosial ini, para pelaku rela mengeluarkan biaya yang jauh lebih tinggi dari seharusnya harga secangkir kopi.  Nilai estetik yang menjadi bagian dari proses signifikasi ini ternyata memiliki harga yang sangat tinggi. Arsitektur memiliki peran yang sangat besar disini.

Arsitektur waktu luang

Arsitektur sebagai sebuah wadah kegiatan tentu saja mengalami perkembangan yang menarik dalam mengakomodasi gaya hidup metropolis ini.  Gaya hidup metropolis yang sangat mengandalkan pada suasana atau pengalaman memerlukan sebuah wadah yang memungkinkan pengalaman atau sensasi indrawi itu terjadi. Ruang, bentuk, tekstur, pencahayaan semuanya diarahkan untuk merangsang munculnya sebuah pengalaman yang unik. Oleh karena itu arsitektur menjadi sarana yang sangat penting dalam  mengangkat pengalaman pada tingkatan yang tinggi untuk mencapai suatu suasana tertentu.   Dalam konteks ini, arsitek didorong untuk menjadi semakin kreatif agar bisa menghasilkan suasana yang unik. Suasana ini bisa saja merupakan sesuatu yang futuristik, sesuatu yang mengingatkan pada kelompok etnik atau budaya tertentu.  Bahkan ada sebuah café yang mengembangkan tema bedroom, dimana para pelanggan  seakan-akan berada di diatas tempat tidur.

Saat ini fasilitas waktu luang yang berkembang paling gencar adalah cafe. Cafe  tidak saja menjadi fasilitas waktu luang tapi telah menjadi sarana bisnis dalam suasana yang lebih santai. Sebagian orang bahkan menjadikan cafe sebagai tempat untuk bekerja dsn mencari inspirasi.  Bisa dikatakan sebagian besar  golongan menengah metropolitan Jakarta melewatkan waktunya secara signifikan di fasilitas ini.

Budaya café menjadi salah satu fenomena dimana arsitektur dan rancangan interior memiliki peran yang sangat besar. Ditengah persaingan yang semakin tajam, kualitas rancangan menjadi salah satu faktor yang menentukan. Hal ini bisa kita perhatikan dalam perkembangan café saat ini yang terus berusaha untuk semakin inovatif dalam menawarkan suasana yang baru.  Café Lara Jonggrang di kawasan Menteng misalnya, merupakan sebuah upaya untuk menghadirkan kembali suasana Jawa kuna yang mistis dengan penggunaan elemen-elemen arkaik, penataan lighting yang sangat redup dan warna-warna yang cenderung berat.  Sementara ada café lain yang menawarkan suasana Maroko yang eksotis.  Secara arsitektural, cafe menawarkan demikian banyak kemungkinan suasana yang sangat menarik untuk dieksplorasi.

Kecenderungan lain yang menarik adalah kemampuan cafe dalam beradaptasi dengan bangunan historis. Bahkan beberapa cafe menawarkan suasana masa lalu dengan sentuhan baru ini sebagai daya tariknya. Cafe Batavia misalnya, menjadi contoh dari gelombang pertama budaya cafe pasca  krisis ekonomi yang memanfaatkan keberadaannya di dalam salah satu bangunan tertua di Jakarta  Kota. Kecenderungan yang sama  muncul pada beberapa cafe di kawasan Cikini Jakarta.  Saya kira ini adalah salah satu hal yang positif dari perkembangan cafe dimana suasana bangunan tua dan nostalgia yang ingin dibangun sejalan dengan usaha konservasi bangunan dan lingkungan.  Namun bisa dikatakan saat in, cafe lebih banyak bermunculan di shopping-mall. Cafe yang dikembangkan di dalam fasiltas ini lebih banyak merupakan gerai-gerai waralaba yang selalu berpenampilan sama dimana pun.

Fasilitas baru yang banyak bermunculan saat ini adalah lounge. Fasilitas ini merupakan perkembangan dari sebuah cafe atau kelab malam yang menawarkan suasana yang lebih santai dan suasana khusus. Pada fasilitas ini musik memegang peranan yang sangat besar sebagai elemen pembentuk suasana.  Karena suasana lebih santai yang ingin diciptakan, lounge lebih banyak menyediakan tempat duduk berupa sofa yang dibuat berkelompok.  Berbagai tema telah dikembangkan semata-mata untuk menciptakan keunikan sebuah pengalaman. Bahkan ada sebuah cafe dan lounge yang memperkenalkan tema tempat tidur sebagai suasana yang ingin dibangun.

Contoh lain yang menarik untuk diamati adalah toko buku.  Kita selama ini mengenal toko buku bukanlah tempat yang menarik untuk dikunjungi, kecuali oleh peminat buku.  Namun saat ini, kita bisa  melihat bagaimana sebuah toko buku menawarkan sebuah pengalaman yang tidak saja menarik penggemar buku tapi pelanggan lain yang lebih luas. Selain tata letak, display, pencahayaan, dan event-event khusus toko buku menawarkan suasana nyaman dengan menyediakan sofa bahkan  café.  Sehingga dengan kenyamanannya kadang-kadang orang tidak lagi menyediakan waktu secara khusus untuk berkunjung kesana tapi menjadi semacam gaya hidup melewatkan waktu luang. Syukur-syukur kalau menemukan buku yang menarik. Toko-toko buku yang berkaitan dengan gaya hidup biasanya merupakan gerai internasional atau yang secara signifikan menjual buku-buku penerbitan asing.  Saat ini beberapa toko buku lokal sudah mengarahkan pengembangan tokonya ke arah sana. Bahkan salah satu toko buku terbesar di Indonesia  yang selama ini dikenal hanya sebagai toko buku biasa bersedia utuk mengubah citranya agar bisa masuk ke sebuah shopping mall yang mensyaratkan toko bukunya diarahkan ke sebuah fasilitas gaya hidup.  Pada titik ini substansi rancangan mulai memainkan peranan yang sangat penting karena dia dituntut untuk mampu menciptakan sebentuk pengalaman yang tidak hanya mencari buku tapi sebuah pengelaman gaya hidup.

Fasilitas lain yang sedang mengalami booming adalah pusat-pusat perawatan tubuh berupa.  Fasilitas ini dibutuhkan sejalan dengan proses pencitraan tentang tubuh yang sempurna. Setelah dibujuk rayu melalui berbagai media, semakin banyak orang yang merasa perlu untuk membentuk tubuhnya sesuai dengan tubuh sempurna yang ditawarkan iklan. Tentu saja industri perbaikan penampilan ini merupakan bisnis yang sangat  besar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan fasilitas gaya hidup ini merupakan faktor pendorong berbagai inovasi asritektur. Dengan adanya keinginan untuk menghasilkan suasana yang sangat unik, arsitektur waktu luang mendorong arsitek dan perancang untuk mengembangkan kemampuannya untuk menghasilkan rancangan-rancangan cutting-edge yang inovatif. Pada kasus ini arsitek bisa memanfaatkannya sebagai sarana untuk mengembangkan berbagai kemungkinan penggunaan material dan eksplorasi ruang.

Gaya hidup urban dan ruang-ruang publik kita

“The body, landscape, time, all progressively disappear as scenes. And the same for public space: the theatre of the social and the theatre of politics are both reduced more and more to a large soft body with many heads. Advertising in its new dimension invades everything, as public space (the street, monument, market, scene) disappears. It realizes, or, if one prefers, it materializes in all its obscenity; it monopolizes public life in its exhibition… It is our only architecture today: great scenes on which are reflected atoms, particles, molecules in motion. Not a public scene or true public space but gigantic spaces of circulation, ventilation and ephemeral connections (Jean Baudrillard, “The Ecstasy of Communication”).

Gaya hidup golongan menengah perkotaan  memiliki potensi untuk menghidupkan ruang-ruang publik urban, namun di Jakarta  gaya hidup ini lebih terkonsentrasi di dalam bangunan-bangunan komersial seperti shopping mall. Perkembangan gaya hidup saat ini di kota-kota besar tampaknya belum banyak membawa dampak yang  positif pada ruang-ruang publik kota di Indonesia. Saat ini gaya hidup urban justru masih merupakan sebentuk pelarian dari kondisi ruang publik yang dianggap tidak nyaman dan tidak bersahabat. Kegiatan ini lebih banyak mengambil tempat di tempat-tempat privat dan tertutup seperti cafe dan mall yang tidak berkaitan langsung dengan ruang publik. Di kota besar seperti Jakarta misalnya, gaya hidup urban ini terjadi di mall-mall besar yang menjamur di berbagai bagian kota.  Hal ini salah satunya  diakibatkan oleh terjadinya kesenjangan ekonomi yang sangat jauh antara golongan masyarakat yang berada di ruang-ruang publik  yang didominasi oleh masyarakat golongan bawah dengan masyarakat golongan menengah keatas yang mampu membeli gaya hidup di dalam mall-mall itu. Berbeda dengan kota-kota Eropa, dimana budaya cafe sangat terikat dengan erat dengan ruang publik dimana sebagian besar kegiatan cafe misalnya selalu tumpah ke ruang-ruang publik. Di kota-kota tetangga kita di Singapura, Kuala Lumpur atau Bangkok  kita menemukan  contoh bagaimana gaya hidup urban ini bersinggungan dengan berbagai kegiatan lain  yang bersifat keseharian di ruang publik.

Gaya hidup metropolis di Jakarta, yang penuh dengan sofistikasi, tampaknya  hanya berhenti pada ruang-ruang privat, karena begitu memasuki ruang publik, pada saat mengendarai kendaraan misalnya, masyarakat kota dari hampir semua kalangan kembali dengan sikap yang tidak mencerminkan sikap urban yang seharusnya penuh dengan toleransi dengan  tidak menghiraukan  tata tertib dan peraturan. Saling  salip dan saling sodok dengan membunyikan klakson sekeras-kerasnya  menjadi pemandangan sehari-hari.

Di ruang-ruang publik terjadi juga berbagai gaya hidup keseharian yang penuh dengan perjuangan hanya untuk mendapatkan kesempatan hidup. Warung-warung kopi di kaki lima harus berebut tempat dengan pejalan kaki diatas ruang yang seadanya. Kecenderungan pembangunan kota yang sangat beorientasi pada pengembangan privat tidak disertai oleh visi pengembangan ruang publik memadai semakin mempertajam perbedaan gaya hidup keseharian sebagian besar masyarakat dengan ’gaya hidup’yang telah mengalami estetisasi yang hanya ditujukan  untuk dikonsumsi oleh golongan menengah keatas.

‘Tulisan pernah dimuat di Majalah Skala+’

*Pengajar pada Program Studi Arsitektur  dan Rancang Kota ITB

Associate Principal, PT Urbane Indonesia, Bandung

4 thoughts on “‘Arsitektur Waktu Luang dan Gaya Hidup Metropolis’

  1. sukasukaarsitek

    ya benar, fasilitas di ruang terbuka (pedestrian ways, city park, etc) kurg memadai jd
    mau melakukan aktivitas d ruang terbuka jg rasanya males.. :b
    ada trotoar buat jln kaki.. eh ujung2nya cuma bisa dipake jalan sekitar 20-30 cm krena dpake mang2 PKL jualan, trus dtmbah ada pohon gede yg dtanem nya bukan diantara jalan raya dn trotoar tp DI TENGAH2 trotoar..
    jd smakin bnyak aja y melakukan aktivitas dg kendaraan bermotor, bkin macet, polusi trus stress.😦

    Balas
  2. Fahmi Alhaqqi

    Selalu menarik melihat pemikiran dari pak apep🙂

    Saya lihat saat ini, gejala tersebut masih berlangsung dan terus berimprovisasi sesuai dengan kemajuan teknologi, bisa dilihat saat ini “arsitektur waktu luang” tersebut berlomba-lomba memberikan akses wi-fi agar pengunjung betah berlama-lama, tentu ini menjadi dua sisi mata pisau, di satu sisi menghidupkan ruang publik (privatisasi ruang publik tepatnya) namun di sisi lain menurunkan kualitas ruang publik itu sendiri. Dan tidak bisa ditampik, gaya hidup saat ini (di metropolitan) adalah gadget lifestyle, orang-orang kota saat ini memiliki kecenderungan untuk tidak bisa jauh dari gadget, dari anak kecil dengan PSPnya hingga ibu rumah tangga bergosip ria dengan blackberry messengernya.

    Memang gaya hidup selalu berjalan sejalan dengan tren dan tren selalu berotasi, saya yakin suatu saat terjadi kejenuhan dari tren tersebut dan saya hanya berharap mereka yang termarjinalkan dapat memiliki “ruang” yang lebih berkualitas daripada yang ada pada saat ini.

    Balas
  3. Novan

    bagi saya, sebagai arsitek memang harus peka dan selalu up to date dengan perkembangan gaya hidup (lifestyle) masyarakat urban yang berevolusi sangat dinamis. Sekarang arsitek itu tidak selalu berpikiran “single building” tapi harus berimajinasi menerawang ke arah yang lebih jauh, karena karya arsitektur kan untuk dinikmati di masa mendatang, bukan cuma ikut-ikutan tren yang sedang “hot” saat itu saja.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s