Rumah Goyang

Rumah goyang

Pemenang Pertama Sayembara Tabloid Rumah “Rumah Kokoh Aman Gempa” 2011

by; Raden ahmad grenaldy

(perspektif mata orang)

Fenomena

Ketahanan suatu bangunan terhadap gempa berarti seberapa jauh bangunan tersebut mempunyai kemampuan berdeformasi tanpa runtuh. Sehingga memang untuk gempa besar, elemen-elemen struktural boleh rusak tetapi bangunan tidak boleh runtuh sebagian atau seluruhnya agar penghuni dapat menyelamatkan diri terlebih dahulu.

Melawan alam adalah tindakan yang memang tidak seharusnya dilakukan. Lalu mengapa tidak kita mencoba untuk memulai dengan tidak melawannya? Gaya inersia atau kelembaman adalah kecenderungan semua benda fisik untuk menolak perubahan terhadap keadaan geraknya. Memberikan potensi pengurangan gaya inersia masing-masing elemen dengan memisahkan struktur atap, badan, dan kaki pada bangunan memungkinkan bangunan untuk dapat bergoyang, bergerak lentur.

Layout simetris dan sederhana

Bangunan didisain 2 massa dengan massa utama berbentuk persegi dan massa belakang dengan bentuk gazebo. Bentuk bulat sebenarnya adalah bentuk yang paling kuat melawan gempa, namun dikarenakan bentuk tapak kotak dan simetri adalah bentuk kedua yang paling kuat menahan gempa. layout ruang dalam dibuat sesederhana mungkin namun tetap tepat guna dengan memberikan ruang seni berupa amphiteater kecil mengingat aktifitas pengguna yang merupakan dosen kesenian dan guru musik. bangunan pun memiliki jarak antar dengan dinding tetangga sejauh 120cm untuk mengatisipasi runtuhnya bangunan tetangga saat terjadi gempa dan dapat digunakan sebagai emergency exit.


(gambar denah)


Konsep goyang

Dengan memberikan join sendi pada tiap hubungan struktur di bangunan ini, momen inersia dapat muncul banyak sehingga dapat tercipta deformasi dengan lentur dan meminimalisir terjadinya patah.

3 konsep goyang menjadi  senjata pada bangunan ini. Pertama adalah pondasi goyang dengan pengangkatan bangunan dari tanah dan penggunaan teknologi  pondasi ramah gempa sederhana dengan menggunakan karet. Yang kedua adalah dinding goyang. Dengan penggunaan kayu deret acak yang disusun lalu digantungkan menggunakan besi pada balok dan kolom sehingga dapat bergoyang. Kemudian adalah atap goyang, penggunaan kayu sebagai bahan utama atap memang masih terlalu rawan terhadap gempa dikarenakan beratnya, namun dengan lokalitas dan hubungan per elemen yang didominasi kayu merupakan alasan utama. Atap tidak memakai balok tarik sehingga beban terpusat pada kaki-kaki yang diberi dudukan besi sehingga diberikan potensi untuk bergoyang juga.

 

(gambar pondasi goyang)

(gambar dinding goyang)

(gambar atap goyang)


Terapi trauma

Hal yang jarang dilihat oleh perancang dalam pembangunan rumah pasca bencana adalah efek psikologis dari masyarakat yang pernah mengalami bencana. Dengan memberikan terapi trauma pada perancangan interior rumah dapat membantu penghuni merasa aman dan mengurangi trauma akan gempa yang pernah dialaminya. Ide liar yang pertama adalah menggunakan dinding ringan kayu dan transparan. Transparan disini adalah dengan memberikan celah-celah acak tiap deret kayu sehingga memberikan kesan dekat dengan ruang luar. Terapi trauma yang kedua adalah dengan menggantungkan lonceng atau benda-benda berbunyi pada atap yang berfungsi sebagai penanda pertama saat gempa terjadi, bunyi adalah ide untuk penyampaian bahaya pertama, tidak hanya melalui goyangan. Lalu terapi trauma yang terakhir adalah dengan memberikan plafon berupa jaring tali tambang. Dengan adanya jaring ini sedikit memberikan rasa aman apabila mereka mengingat atap yang runtuh. Dengan adanya jaring ini atap atau kayu yang jatuh akan tersangkut terlebih dahulu sehingga memberikan waktu untuk penghuni dapat keluar.

 

gambar terapi trauma (dinding ringan)

gambar terapi trauma (plafon jaring)

gambar terapi trauma (lonceng deteksi goyang)


Lokalitas

Eksplorasi struktur untuk bangunan anti gempa memang beragam. Banyak ide muncul dalam perkembangannya. namun berkaca pada bangunan tradisional indonesia masih terdapat nilai-nilai kultur dan budaya yang mampu berjalan selaras dengan alam. Ide bentuk dan pemilihan material konsep rumah goyang ini mengadopsi bentuk bangunan tradisional. Tidak perlu takut untuk disebut kuno, toh nilai yang terkandung dan bercerita masih banyak tersembunyi didalamnya.

(perspektif mata burung)


4 thoughts on “Rumah Goyang

  1. Eko Purwono

    Betapa sulitnya juri menilai karya peserta sayembara desain. Gagasan-gasan teknologi dalam desain tsb belum pernah dan sebagian besar–kalau tidak semuanya–tidak bisa diuji kebenarannya. Untuk mendapatkan desain yang tahan gempa tidak bisa didapat dengan sayembara diantara arsitek dengan juri arsitek, harus dengan kerjasama dengan berbagai pihak terutama ahli struktur dan model harus dites di laboratorium.

    Balas
  2. grenaldy

    @mas yu sing @ fajspro terimakasih senior2 sayembara😀

    @mas eko iya pak memang saya juga kaget dapat masuk di 5 besar soalnya setelah dilihat2 eksplorasi struktur tahan gempa disain2 lainnya sangat kreatif. tidak seperti saya yang sangat simple loh pak. yang lain memang belum teruji tapi idenya layak menang. atau gampangnya mungkin judul sayembaranya perlu dirubah jadi “konsep rancangan rumah tahan gempa”🙂 konsep2 aja, ya namanya juga mahasiswa.🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s