paradoks pintu kota

paradoks pintu kota*

by; ayu utami


pada mulanya bukan pintu, melainkan sesuatu yang menghubungkan kita dengan sang liyan. bukan wujud yang penting benar- kayu, besi, ataukah kaca-melainkan kemungkinan yang terbukakan. kemungkinan untuk berhubungan dengan dunia lain.

begitulah, setiap ibu tahu bahwa bocahnya selalu tertarik pada “pintu” (bukan daunnya, melainkan keterbukaannya). anaknya terpukau dengan pemandangan di balik pintu, lalu merangkak, atau tertatih, untuk melintasi ambang. lalu, hup! dia keluar. keluar ( ataukah masuk?) ke dunia lain. dia mendapatkan rasa senang dari perlintasan itu. dia tertawa, dia minta berpelukan, seperti dalam teletubbies. semua ibu tahu itu. juga bibi atau ayah yang baik.

pada mulanya pintu adalah bingkai. bukan daun. tapi kapankah “pada mulanya” itu? barangkali bukan zaman purba, melainkan awal hiduo setiap kita. ketika kita masih kanak-kanak murni, yang melihat pintu sebagai penghubung dengan dunia baru. tapi kapankah kita sebagai kanak-kanak murni itu? yaitu ketika orang tua masih bisa menjaga taman firdaus kita dan kita belum lagi memakan buah kuldi yang menyatakan bahwa taman itu ilusi ideal belaka. lalu kita terlempar ke kota.

katakanlah, kota telah membuat kemurnian itu menjadi jauh. bukan karena kota jahat, tetapi karena kota adalah pertemuan seribu satu keasingan. sang liyan, yang asing, bukan lagi menjadi sesuatu yang menarik, melainkan menjadi ancaman. dan di tengah seribu satu kemungkinan asing yang bisa mengancam, manusia membutuhkan identitas. semacam tanda pengenal. daun pintu adalah tanda itu juga.

sebagaimana tanda, ia menampakkan sekaligus menyembunyikan, ia membuka sekaligus menutupi. ia menyeleksi siapa yang bisa melintas dan kapan. meskipun kota modern tak memiliki lagi gerbang yang bisa dibuka-tutup, KTP dan birokrasi telah menjadi pintu bagi orang-orang kampung yang hendak menguju nasib di sana, seperti yang biasa berbondong-bondong datang seusai mudik lebaran. mereka akan menjadi satu sekaligus seribu keasingan, yang mencoba mencari pintu-pintu yang mereka kenal dan sudi mengenal mereka.

tak seperti di kampung, di mana orang bisa mengetuk pintu dan langsung menghubungkan mereka ke ruang tamu, di kota pintu tergembok sejak menuju pekarangan. tak seperti di kampung, di mana gerbang dan pagar, jika ada, setinggi pinggang, di kota tingginya melebihi mata dan rapat.

kelas menengah dan atas dalam masyarakat urban memisahkan ruang privat mereka dari dunia publik. sebab, ruang publik itu tidak tertib dan tidak dimengerti; ruang yang dijalankan lebih berdasar hukum rimba. kelas menengah dan atas tidak ingin kemasukan maling (sebetulnya, tak seorang pun ingin). mereka tak mau diganggu pengamen atau sales yang menyamar jadi tukang listrik. maka mereka pun memasang gerbang nan angker di perkarangan rumah.

sesungguhnya, bukan itu yang mereka inginkan. jika bisa tidak memasang pintu yang rapat, mereka memilih demikian. setiap manusia senang berada dalam komunitas yang akrab. setiap manusia rindu melepas tamengnya dan kembali kanak-kanak. kita rindu suasana ketika kita bisa membiarkan daun pintu terbuka. maka, yang terjadi adalah paradoks. pengembang perumahan menawarkan kompleks tetutup: sebuah kawasan hunian bagi orang-orang yang setara, sehingga pagar dan gerbang antar perkarangan tak dibutuhkan lagi. namun, untuk itu, terjadi penyeragaman dan penutupan, yaitu penyeragaman terhadap kelas sosial-ekonomi penghuninya (bahkan ada juga “real estate islami” -sebuah kompleks atas dasar agama), serta pembentengan terhadap kompleks, dengan adanya pintu bersama. setiap firdaus membutuhkan gerbang yang dijaga serafim.

pintu bersama itu tak perlu rapat. bentuknya bisa hanya berupa portal bercat hitam putih, tentu dengan penjaga yang berwenang membuka dan menutupnya. terkadang, ada juga pengembang real estate yang justru menjual gerbang yang padat dan rapat “bagaikan tembok cina” sebagai keunggulan kompleks mewah. artinya, manusia juga memang suka membentengi dirinya. dan kompleks tertutup demikian semakin mendapatkan pasar.

kita pun menemukan kembali kastil-kastil abad pertengahan -dengan benteng dan gerbang perkasa serta menara-menara jaga- di percaperca kota. hanya saja kastil itu tidak berbatasan hutan hijau tempat tinggal para peri seperti yang kita tonton dalam film disney. kastil perca kota itu tumbuh di antara belantara bangunan yang tak tertib.

tapi, kehidupan tidak bisa ditunjang hanya di dalam kelas yang sama. para penghuni kompleks tetutup itu tetap membutuhkan tukang sayur, tukang roti keliling, tukang bakwan, permak levis bersepeda yang juga ternyata bisa menjahit korden, tukang ojek… persisnya, sektor informal yang diisi oleh kelasekonomi bawah. mereka menghuni perkampungan tak tertib di sekitar real estate tertutup itu.

seorang arsitek muda memperhatikan gejala itu: budi pradono menyebutnya “soft gate”. gerbang lunak adalah pintu informal yang dibikin oleh kesepakatan kedua pihak sehingga pertemuan atas dasar kebutuhan itu bisa terjadi. gerbang lunak membuktikan bahwa benteng memiliki pori, dan pintu resmi bukanlah satu satunya pintu. gerbang lunak menampakkan bahwa manusia ingin menembus kakunya pengamanan, jika mereka telah menjalin hubungan dan kepercayaan. gerbang lunak itu bisa berupa kayu kecil yang menjadi jembatan pada sungai yang membatasi wilayah tertib dan wilayah luar. atau tangga semi permanen yang memungkinkan orang memanjat naik turun tembok benteng. atau celah yang dilebarkan pada pagar besi berdasarkan kesepakatan.

seperti sektor ekonomi, demikian pula pintu. ada yang formal, ada yang informal. semua terjadi karena ada keseimbangan antara penawaran dan permintaan. selama tak ada paksaan, tak ada kejahatan. selama ada persetujuan, jendela pun bisa menjadi pintu. begitu juga pagar tembok yang diberi tangga atau pagar besi yang dibengkokkan. orang-orang melintasinya sambil tertawa.

gerbang-gerbang lunak itu menyenangkan, kecuali bahwa mereka menunggu satu maling atau teroris yang memanfaatkan rasa percaya antar manusia, seperti tukang bunga yang ternyata memasang bom di sebuah hotel. orang-orang semacam ini mengkhianati kepercayan yang pelan-pelan terbangun diantara manusia.

manakala kepercayaan antar manusia itu runtuh, maka sistem mengambilalih. dan sistem cenderung impersonal dan dingin. lalu kita melihat gerbang yang semakin angker, dijaga oleh petugas yang semakin robotik. di hotel, apartement, gedung perkantoran, mal. ya, mal nyaris satu-satunya ruang publik yang aman bagi gadis-gadis berpakaian seksi. tempat-tempat ini memiliki pintu yang pada siang hari berupa kaca bening, dengan penjaga bersarung tangan bersih yang memindai bawaanmu dan mencurigai penampilan burukmu. sebab, mal adalah untuk mereka yang tidak akan mengganggu orang lain dengan mengemis dan berbau, atau menjamah tubuh perempuan -halhal yang, menurut perasangka, sering dilakukan orang di jalanan sana.

pada jam tutup, pintu mal itu tidak lagi kaca bening yang menggiurkan. pintu itu berubah menjadi lempeng-lempeng besi yang tertembus gergaji. lampu-lampu dimatikan.

manusia-manusia yang tadi lalu-lalang di dalam mal itu, juga yang tadi naik turun pencakar langit, pulang ke rumah masing-masing. para gadis dan jaka toko pulang ke perkampungan kumuh kota. mereka menyusurui gang danberhenti untuk membuka selembar pintu tripleks yang menghubungkan gang itu langsung dengan ruang; sejenis pintu yang tak menyelamatkan mereka dari tukang ngamen dan pengemis. sementara itu, para klien yang berbelanja di mal pun tiba di rumah. klakson mobil mereka memanggil jongos untuk membukakan gerbang besi. setelah itu, dari garasi mereka masuk ke dalam rumah. bukan melalui pintu depan, yang terbuat dari jati atau kayu nangka setebal lima senti, melainkan lewat pintu samping, yang menghubungkan kandang mobil dengan wilayah domestik. sebab, pintu depan itu, yang membuka ke foyer atau ruang tamu, lebih sering tertutup dari pada terbuka. ya, pada masa ini sangatlah jarang kita menemukan daun pintu berlapis seperti pada era indische woonhuizen -daun pintu dengan lapis yang satu berkaca untuk menerima matahari sembari menolak angin dan lapis kedua berjalusi untuk menerima angin sambil menolak mentari, yang digunakan sesuai kebutuhan dan cuaca. pada masa ini, pintu rumah gedong di kota menolak baik cahaya matahari maupun luar. karena itu, mereka lebih sering tertutup daripada terbuka.

pintu bagaikan paradoks. pada awalnya, ia adalah kemungkinan dibukakan. pada akhirnya, ia lebih menjadi daun daripada bingkai.

 

*dengan tujuan pendidikan, saya tulis ulang materi diskusi ayu utami dalam acara pameran 1001 doors; reinterpreting traditions, jakarta 3 february 2011.

2 thoughts on “paradoks pintu kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s