rumah heinz frick

Bangunlah di dalam angan-angan, sebuah atap ditengah hutan, sebelum rumah kau dirikan dalam lingkungan kota. Karena, sebagaimana kau mesti pulang setiap senja, demikian pula jiwa halusmu, yang mengembara sendiri senantiasa. dia tumbuh berkembang di sinar mentari, dia tidur di kala malam kelam dan sunyi dalam kelelapan yang tiada sepi dan mimpi. Tiadakah rumahmu mengenal mimpi? Dan selama bermimpi, dia akan tinggalkan kotamu melayang terbang ke gua-gua dan bukit biru? –khalil gibran, sang nabi-

Sebuah rumah dapat bercerita banyak tentang kehidupan. Di pucuk bukit semarang yang bongkok, curam. heinz frick yang berdiri tegak mungkin hendak menangkap keabadian yang selalu luput, sebuah mimpi untuk berinteraksi dengan hubungan timbal balik antara ia dan lingkungannya. Sebuah mimpi yang seperti dikembangkan saat ini untuk mendorong rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Rumah ini berdiri dengan sikap yang tak hendak mendamik dada pemukiman kampung di sekitarnya yang bersahajah. Melewati tanjakkan yang curam, lewat rumah-rumah kampung di perbukitan semarang, akan tampak sebuah bangunan yang hampir seluruh dinding terselimuti oleh tanaman merambat, seakan-akan semua dirancang tumbuh, tenang, dan memang tak tergesa-gesa.

Rumah ini menjadi berarti bukan karena kepiawaian membentuk atau membuat bentuk. Yang pertama dicari bukanlah penampilan, tapi denyut kehidupan di bawah permukaan kulit. seperti Air hujan dan bak penampungan airnya. Sampah dan Kompos untuk tamannya. Panel surya dan listriknya. Pewarna alami dan tepung tapioka sebagai perekatnya, juga dinding tebal dan tanaman merambatnya tampil menakjubkan justru karena di dalamnya ada bayang-bayang, atau gema, dari yang beda dan tak terduga dan sebab itu mempesona.

Mungkin itulah yang ingin diingatkan heinz frick ketika ia berbicara tentang arsitektur ekologis dalam bukunya yang berjudul ‘dasar-dasar arsitektur ekologis’. Ia hendak menyebut “kehidupan bukan menciptakan lingkungan menurut kebutuhannya, kehidupan bukan merupakan faktor penentu, melainkan sistem keseluruhan termasuk kehidupan dan lingkungan material”.

Heinz frick telah tiada, tetapi Kerja bisa mengabadikan yang terbaik dari manusia. Rumah ini akan selalu dikenang, karena disinilah heinz frick membangun rumah ekologinya yang termashur itu, membasuhi hasrat segenap makhluk untuk memperbaiki dirinya sendiri, dan kehidupan akan selalu kembali, untuk bumi yang satu ini.

tanaman ‘pacar tembok’ (namanya sok asik abis dah… wuakwkwkwk)

cat dinding menggunakan pewarna alami seperti pewarna batik, dan agar cat dapat menempel dengan baik, digunakan tepung tapioka sebagai zat perekat

material plafon terbuat dari kertas daur ulang

tempat sampah yang digunakan untuk menampung sampah organik, setelah lewat sebulan sampah dapat digunakan sebagai pupuk kompos

bak penampungan air hujan yang selanjutnya digunakan untuk mandi, dll.

bak penampungan air hujan yang langsung digunakan untuk menyiram tanaman

ngukur suhu ruangan (sok asik… wuakakakaka)

ops… nggak boleh ngerokok…🙂

14 thoughts on “rumah heinz frick

    1. dianABS

      juga, sangat sedih setelah mendengar berita berpulangnya p heinz setelah purna tugas dan kembali ke negaranya…. tokoh yang patut diacung jempol, dan angkat topi untuk semua pengabdiannya di dunia arsitektur..

      Balas
  1. emil prabowo

    (alm) heinz frick pernah menjadi dosen arst.ekologis di UNIKA SOEGIJAPRANATA Semarang, sehingga dalam mendesain rumahnya beliau juga menerapkan hal tersebut.
    rumah ini menggunakan 2 sumber energi listrik, 1 dari PV (solar cell) dan 1 nya berasal dari PLN, utk listrik dari PV beliau gunakan untuk peralatan elektronik (di rumah ini tidak akan kita temui TV, karena beliau tidak suka menonton TV namun membaca), dan listrik dari PLN hanya digunakan untuk penerangan. hal tersebut dikarenakan menurut beliau listrik PLN sering naik turun dan hal tersebut dapat membuat umur peralatan elektronik pendek (dan lagi-lagi hal tsb dikaitkan beliau dgn “ekologis”)
    yang unik dari beliau adalah, beliau mencuci mobil nya hanya beberapa kali dalam setahun, hal itu dikarenakan menurut beliau, mencuci mobil hanya akan membuang-buang air bersih (hal ini beliau sampaikan sewaktu beliau mengajar dalam perkuliahan).

    sekarang rumah tersebut diberikan kepada pembantunya yang telah mengabdi kepada beliau selama bertahun-tahun, semoga rumah ini tetap menjadi ekologis seperti sedia kala waktu rumah ini direncanakan dan dibangun oleh almarhum.

    Balas
  2. dewi fahmi

    dosen idolaq..saking ekologisny beliau berangkat kuliah dengan sepeda..pa ngak kebayang..tanjakan bendan duwur..wow..selamat jalan pak..ilmumu akan selalu berguna untuk bumi..

    Balas
  3. Tomi

    Ah kupernya diriku, baru tahu ternyata Pak Heinz telah berpulang lebih dari 2 tahun yg lalu.. hiks.. T_T Damai bersamamu Guru.
    Hampir semua sudut rumah itu pernah kupijak. Berkeliling bersama sambil mendengar kuliah privat Pak Heinz tentang eko-arsitektur. Sesekali kami bercanda dalam bahasa Jawa Kromo Inggil :))
    Berkat Pak Heinz, saya menemukan passion saya di green building.
    Terima kasih Guru..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s