Merdeka untuk Merdesa

Merdeka untuk Merdesa:

Membaca Buku Teles & Buku Garing[1]

by :

Galih W. Pangarsa

FTUB Malang

galih.wp@gmail.com

Rumah adat Manggarai, Flores


Manusia dewasa sangatlah lemah-ringkih, jauh dari kemuliaannya, bila ia hidup-individual seorang diri. Arsitektur Nusantara yang sempat dewasa dan menyesuaikan diri dengan kekinian zaman pun pasti akan tetap peka dan ringkih ―kalau dipaksa menjadi individu ―karena, ia dikodratkan sebagai makhluk individu-sosial. Pasti akan tertanggalkan pula kemuliaannya. Ia tak lagi berharga, menderita, dan mati dalam hidup. Jika yang lalu mati, bisakah pengetahuan arsitektur yang dipelajar-didikan di kampus-kampus Indonesia mengetahui benih kehidupan jabang bayi Arsitektur Nusantara masa-depan, membidani kelahirannya, lalu menjaga kehidupan dan menumbuh-kembangkannya di atas asas yang tetap? Apa itu?

Arsitektur pernaungan nan iyup (melindung-naungi) ―yang hanya dapat melangsungkan hidupnya pada masyarakat yang berperikemanusiaan nan guyub (damai-rukun). Arsitektur sebagai wadah kehidupan individual dan kota selaku wadah kehidupan komunal merupakan satu continuum. Arsitektur pernaungan tak dapat hidup di perkotaan yang individualistik. Jika pernyataan itu dibalik, jelaslah masalah apa sebab terjadi proses pemunahan Arsitektur Nusantara: individualisme perkotaan yang makin tak memberi hak hidup lingkungan arsitektur pernaungan. Padahal alam Nusantara (tadinya) lebih dari layak sebagai pernaungan. “Indonesia adalah bocoran surga“, kata Kyai Bejo, Cak Nun alias budayawan Emha Ainun Najib. Saya sependapat. Sayang tak seberapa jumlah manusia di negeri ini yang dapat mensyukurinya.

Arsitektur: Aktifitas Spiritual -Intelektual Yang Terpadu

Lalu bagaimana keterpaduan antara kehidupan individu dan sosial pada Arsitektur Nusantara? Pada fenomena lokalitas atau kesetempatan yang memuat konsep kekinian, ada universalitas atau kesemestaan. Di sisi lain, pada universalitas atau kesemestaan yang mengandung konsep kelanggengan, ada fenomena lokalitas atau kesetempatan. Nilai-nilai kesemestaan tak dapat diterapkan tanpa penjabaran pada fenomena kesetempatan. Dalam kesepasangan prosesnya, fenomena kesetempatan tak akan punya arah penumbuh-kembangan yang tepat-bijak-pasti, tanpa pengkristalan pada nilai-nilai kesemestaan. Sama persis pada kehidupan manusia: tanpa spiritualitas, kehidupan intelektualnya keras-kasar-kering mengerontang; tanpa intelektualitas, kehidupan spiritualnya hanyalah hitam-khayal-imajinasi panjang.

Arsitektur Nusantara bagai mengikuti hukum alam dunia flora. Di masa lalu, ada banyak ragam bhineka Arsitektur Nusantara yang tumbuh dari biji buah tradisi. Ia menjadi pohon yang bisa identik, bisa pula luwes-sigap-selalu berjuang mengaktualisasikan dan menyesuaikan diri dengan keadaan lahan baru tempatnya tumbuh ―bahkan mampu menjadi bonsai sekali pun, jika lingkungannya tak mengijinkan ia tumbuh normal. Sekarang, tradisi arsitektur masa lalu Nusantara laksana daun kering atau dahan yang sudah nyaris mati lapuk. Tak ada lagi yang berbuah. Matikah ia? Tidak!

Dahan ranting daun kuning coklat tua segera lenyap fisiknya. Bukan hancur, tetapi menjadi zat hara di dalam tanah, esok lusa muncul kembali sebagai tunas muda jenis tanaman baru: sebuah proses open ending. Sebagai salah satu contoh saja, ada praksis dari Arsitek Eko Prawoto. Konsep lawasan dan detailing-nya ibarat himpunan dari remah-remah dahan-ranting-daun. Boleh juga diibaratkan himpunan dari serpihan-serpihan, sisa-sisa artifak peradaban arsitektur lokal (dalam kasusnya, umumnya adalah arsitektur rakyat Jawa) yang tadinya berhamburan. Agar lanjut, zat hara penghidup yang hakiki mesti ditemukan dahulu dan dirumus-tumbuhkan lanjut ke dalam konsep-konsep berkonteks kesetempatan dan kekinian. Apakah itu? Sifat dasar kemanusiaan. Energi fitrah ini ibarat zat hara ini tak dapat hancur dan berhenti hidup, mengikuti keberadaan manusia. Mengikuti kemanusiaan yang diwadahi alamnya.

Lokalitas Indonesia dengan keberagaman tradisi arsitektural di berbagai tataran, mulai dari filosofi, paradigma, teori, dan metoda, adalah sebuah modal-kekuatan yang luar biasa. Lokalitas itu bukan mesti didapat dengan mengedepan-utamakan “grand architecture“, arsitektur masyarakat kalangan atas seperti misalnya kraton —yang sudah terlanjur dianggap sebagai “ikon budaya Jawa“ sebagai satu-satunya pustaka bahan pelajaran.

Ada perpustakaan yang jauh lebih kaya koleksinya dan tak memerlukan kartu anggota apalagi membayar biaya meminjam bacaan: Arsitektur Nusantara. Dalam tradisi belajar orang Jawa, ada istilah buku garing (kering) dan buku teles (basah). Buku garing ialah tulisan (harafiah, cetakan-analog-digital) untuk manusia, buku teles adalah fenomena alam-semesta termasuk lingkungan binaan manusia (istilah Pak Josef: tanpa teks). Jika ditinjau lebih dalam, pada buku garing dan buku teles, masih ada ranah meta-empirik. Ada aksara dari suara, ada aksara dari bunyi. Suara berbeda dengan bunyi. Manakah yang mesti kita pelajari? Dengan alat apakah?

Saya cenderung mengatakan bahwa Arsitektur Nusantara adalah arsitektur masa depan, buah dari ilmu arsitektur yang juga berpihak kepada alam dengan adil, selain menjadi alat bagi manusia untuk memakmurkan dirinya. Ilmu yang menempati titik perimbangan sumbu horizontal-intelektual-lokalitas dan sumbu vertikal-spiritual-universalitas. Untuk tumbuh, ia hanya membutuhkan siraman air kebeningan ruhani dan ketajaman akal dengan gayung kegigihan dari perigi keuletan. Kebeningan ruhani dan ketajaman akal itulah alat baca buku teles dan buku garing sekaligus. Baik membaca mapun menulis arsitektur, keduanya adalah aktifitas ruhaniyah-spiritual dan akliyah-intelektual secara terpadu. Jangan mengharapkan Arsitektur Nusantara masa depan sama dengan masa lalu. Yang masa lalu tinggal remah-remah dahan-ranting-daun.

Jika Arsitektur Nusantara masa depan tersirami di sepanjang pematang dua sumbu universalitas-lokalitas, ia akan terus-menerus mengidentifikasikan jati-dirinya sesuai dengan dinamika waktu dan ruangnya. Ketepatan dalam tiap jengkal sumbu vertikal-horizontal dalam proses-menerus menemu-kenali diri itu akan mendudukan Arsitektur Nusantara sebagai persawahan arsitektur lokal, nasional, regional dan sekaligus mondial dengan tepat dan pasti ―tanpa kecanggungan apa pun untuk menumbuh-kembangkan rerumpunan padi kebudayaan dan bulir-bulir peradabannya yang makmur.

Kita akan menyaksikan bukan hanya peradaban arsitektur profan yang Nusantara. Tetapi juga arsitektur kelenteng-kelenteng yang Nusantara dan bukan kelenteng-kelenteng Fujian atau Guangdong; bukan vihara-vihara Chiangmai atau Yangoon tetapi vihara-vihara yang Nusantara; bukan candi-candi Orissa atau Angkor tetapi candi-candi yang Nusantara; bukan pura Bali atau pura Lombok Barat saja, tapi pura yang Nusantara. Juga, gereja-gereja dan kapel-kapel yang Nusantara dan bukan yang Eropa Timur atau Barat; masjid-masjid dan mushola-mushola yang Nusantara dan bukan Arab, bukan Turki, bukan Iran dan bukan pula yang India Moghul. Kita akan menyaksikan peradaban Nusantara yang kuat dan kokoh.

Namun Nusantara yang demikian itu bukan berarti Nusantara yang mesti mengganti semua ciri komunitas-ide-kosmologis lintas-regional. Ada bahasa konvensional-mondial yang dengan sangat santun tetap dihargainya untuk memelihara kehidupan bangsa-bangsa nan damai: stupa, meru, altar, lonceng, salib, kubah, minaret,… Nusantara menjadi tuan rumah yang santun sekaligus bijak. Yang kurang sesuai diterima dulu dengan sabar; yang telah sesuai diterima tidak denga tergesa, namn dengan syukur, sampai pada akhirnya semua dapat duduk santun-bersila bersama di atas tikar anyaman peradaban Nusantara nan bersahaja.

Lebih penting lagi, adalah ciri utama ketunggalan geografi-sosial-budaya Nusantara-nya: Luwes-terbuka dalam segala pengertian, setimbang individual-sosial namun penuh dinamika dalam pernaungan lingkungan hunian dan kota yang dibina bersama. Itulah kesamaan ciri Arsitektur Bangsa Nusantara yang multi-kultural.


Konservasi tanaman langka,

Kebun Raya Purwodadi.


Arsitektur Bangsa Nusantara

Inti dasar Arsitektur Bangsa Nusantara ialah arsitektur iyup-terlindung-naungi ruang lingkungan-pepohonan nan ijo royo-royo; arsitektur dalam lingkungan yang guyub-rukun-damai dengan rajutan ruang sosio-budaya nan adem-ayem-tenterem. Arsitektur Bangsa Nusantara hakikatnya arsitektur rakyat. Bukan dalam arti “sama-rata-sama-rasa“, tetapi

berfitrah jamak-majemuk ―yang tetap akan mengerucut menurut kodrat-ketetapannya. Bukan pula untuk menjadikan yang di atas sebagai berhala sesembahan bagi yang berposisi di bawahnya. Demikianlah, sehingga sebenarnya, tidak perlu debat nasional tentang nasionalisme dalam arsitektur di Indonesia. Yang diperlukan ialah membuktikan tumbuhnya rasa kemanusiaan ―spiritualitas yang dapat mengika-satu-padukan kebhinekaan ke arah meluhur-muliakan manusia. Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangruwa.

Untuk membangun kekokohan berbangsa itu, perbedaan-perbedaan keyakinan tak perlu diperuncing. Perlakukanlah persis seperti adicara perdesaan menyantap tumpeng: Bukan justru melanggengkan puncak tumpeng dengan medali atas prestasi starchitect dan gengsi starchitecture. Marilah kita potong puncaknya yang memang sudah bertamsil cabai merah-terbelah ―yang membuat perut siapa yang menyantapnya menjadi gerah. Puncak itu ialah nilai-nilai universalitas atau kesemestaan yang pasti berbeda-beda menurut setiap keyakinan tiap lokalitas-daerah-suku-ras-golongan-kaum-kelompok-komunitas-insan-individu warga-bangsa. Yang perlu dibina-bersama dengan sikap saling memberi berasas belas kasih dan kemudian didaya-manfaatkan untuk memperkuat sifat memberi daripada meminta, ialah bagian bawah yang penuh lauk-pauk. Itulah jatah rakyat. Rakyat bangsa tumpeng yang suka damai saling harga-menghargai, saling selamat-menyelamatkan, saling hidup-menghidupi. Itulah rakyat Bangsa Nusantara.


Generasi muda, merekalah pemilik masa depan bangsa.

Bocah-bocah desa, Sikka

Sayangnya, terlalu banyak pemimpin yang lalai jika bagian atas itu mesti dipotong dan alpa pula bahwa yang dipimpin adalah rakyat berkebhinekaan sangat tinggi. Ia khilaf bahwa puncak tumpeng yang lancip-bertelur adalah peringatan agar tak sedetik pun ia boleh lengah. Pemimpin memang bagai telur di ujung tanduk kewaspadaan berujung sangat tajam: penuntutan tanggung-jawab atas apa-dan-siapa yang dipimpin. Sungguh sangat disayangkan, jika ada yang bertahun-tahun justru memberi contoh untuk merompak tandas segala kemakmuran lauk-pauk tumpeng kehidupan berbangsa itu ke bagian atas ―dengan selera perut yang terlanjur terbakar gerah cabai merah. Pada batas ketahanan alamiahnya, tumpeng itu pasti roboh-hancur dalam hitungan menit, tanpa seorang pakar politik pun sanggup memprediksi sebelumnya. Bukankah itu sudah (berkali-kali) terjadi?

Arsitektur Bangsa Nusantara yang mengutamakan keadilan, kedamai-tentraman, keselaras-serasian hidup bersama antarmanusia dan antara manusia dengan masyarakat-alam“[2] hanya akan lahir lewat prasyarat. Lewat jiwa kemanusiaan nan halus-lembut penuh belas-kasih. Lewat jari-jari ruhani yang cekatan tak kenal lelah menyiapkan gelaran tikar kebangsaan yang bersahaja, dan merupakan anyaman segala kebhinekaan. Lewat daya juang yang membebaskannya untuk memancarkan keluhuran nilai-nilai kesemestaan. Indonesia-nya jiwa kemanusiaan dan jemari ruhani yang kedengaran senyap itu, sebetulnya berdaya-ketenagaan sangat dahsyat. Bukan hanya menyangkut arsitektur saja. Tetapi menyangkut pengembalian harkat kemanusiaan semua Bangsa Nusantara. Bunyinya luas-berdentang-gema, membangunkan juang sekalian anak negeri memerangi gelap hidup budaya bangsa: merdeka!

Merdeka untuk merdesa[3].


[1] Muatan tulisan ini diambil dari Pangarsa, 2008, Arsitektur untuk Kemanusiaan. Teropong Visual Culture atas Karya-karya Eko Prawoto, Lanas Wastu Grafika, Surabaya, khususnya bagian kesimpulan. Tulisan ini disajikan untuk Diskusi “Implementasi Kearifan Lokal Menuju Arsitektur Berkelanjutan”, 12 Agustus 2008, Jurusan Arsitektur UNS, Surakarta. Juga terbit di http://arsiteknusantarawacana.blogspot.com/

[2] Pangarsa, 2006. Merah-Putih Arsitektur Nusantara, Andi, Jogjakarta, h 26

[3] Merdesa, artinya layak, patut, beradab (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1988). Merdeka dengan penuh perjuangan untuk meraih kembali nuansa hidup berperi-keadaban yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan. Terimakasih kepada Ki Bimo (Bimurwoto B. Gutama, aktifis Dialog Sosial-Budaya, Malang) yang mengingatkan kembali istilah merdesa tersebut kepada saya.

One thought on “Merdeka untuk Merdesa

  1. Ping balik: Tweets that mention Merdeka untuk Merdesa « ↓ -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s