tan tjiang ay

by : Vikki Juan

Pengalaman ini mungkin telihat “kurang kerjaan” bagi sebagian orang . hehe..  Saya coba plot titik dimana saya mulai tertarik dgn karya-karya pa tjiang ay , hmm… mungkin awalnya sejak saya duduk di bangku sma taun 1997, ketika itu keluarga saya mengharuskan pindah ke kota bandung lalu saya ditugaskan untuk mencari ‘calon’ rumah tinggal baru kami. Berbekal motor dan iklan rumah pada koran PR, mulailah perburuan dimulai, mengubek-ubek  kota bandung. Masa itu belum tertarik dgn yang namanya arsitektur.

Ditengah-tengah pencarian itu, wajar muncul kejenuhan ,rasa cape, karena beberapa rumah bekas yang saya datangi tak sesuai harapan. Dari sini saya mulai ‘berbelok’ , berubah haluan sekedar mencari suasana/ daerah baru untuk refreshing. Ada apa di jalan itu yang sepi? Kalau saya lurus, tembus kemana? Bla..bla..dll, rasa penasaran yang muncul bagi orang suka bertravelling. Untuk pertama kalinya saya mengarah ke jalan dago pakar, suasana adem , sepanjang jalan tertanam pohon pinus, suasana yang sesuai harapan, “bagai mendapat durian runtuh” , , tapi tetap saja harga rumah bekas didaerah ini terlampau mahal , tak sesuai harapan… stress, saya coba menelusuri terus jalan aspal ini hingga berubah menjadi jalan bebatuan.

(jl. Dago pakar utara)

(jl. Dago pakar utara)

Rumah ini lah yang saya temui di ujung  jalan ini, wuii tampak rumah belum jadi, mana atapnya? Mengacu pada bangunan poskamling disampingnya yang sudah diberi atap asbes. Mengapa rumah ini hadir di tengah-tengah hutan, jauh dari rumah-rumah penduduk. Walau terpasang baner “DIJUAL” tetap saja kejauhan, tak cocok utk beraktifitas .

Singkat cerita, setelah lulus kuliah, biasa, refreshing lagi, jalan-jalan ke ujung dago. Saya sendiri sudah lupa pernah ke jalan yang sama sewaktu sma, serasa de ja vu ketika melihat rumah ini kembali. Banner masih tepasang, ternyata semenjak tahun 1997 hingga tahun 2006 belum laku terjual.

Pengetahuan arsitektur sudah cukup, mulailah coba-coba meng-interpretasikan rumah ini. Terlihat biasa-biasa saja bangunan ini,but  don’t judge book by its cover. Ada sesuatu yang unik, seperti tebal plat lantainya tidak 12cm seperti yang saya pelajari di bangku kuliah. Terlihat jelas pada foto, langit-langit interiorpun hanya ekspose beton yang dihaluskan. Dicat putih. Rupanya plat lantai menganut sistem flat slab, balok anak menyatu dengan plat lantai. Sangat strukturalis.

Konstruksi kusen kayunya pun jarang dijumpai, saya tertarik dengan hal kecil-kecil seperti ini. Teknik pertukangan  yang tinggi, memang implikasi dengan  menerapkan sistem kusen knock down seperti ini , jatuhnya akan mahal dari segi biaya, namun sebanding dengan kualitas bangunan.

Siapa arsiteknya? Sepertinya ada kesamaan suasana yang dihasilkan dengan rumah yang ada di jalan yang sama, namun letaknya saling berjauhan. Berikut fotonya :

(jl. Dago pakar utara)

Pertanyaan demi pertanyaan muncul, bagaimana bisa dinding batako terpasang mengambang tanpa balok penahan ?terlihat  jelas diatas lubang entrance. Lalu tak ada garis-garis yang menandakan kolom beton, semuanya pure dinding batako. Lalu kemana balok lantainya? Krn bangunan ini berlantai 2, apa mungkin kalau benar pa tjiang ay perancangnya, balok tega disamarkan dengan dibuat garis-garis supaya menyerupai batako,bukannya sebagai seorang strukturalis mengharuskan adanya kejujuran struktural. Hehe.. unik. Ada kesamaan lain yaitu  pada dinding pagar batu dan proporsi bangunannya yang rendah jika dibandingkan dgn foto sebelumya.

Material batako dipakai pula pada karya yang lain, seperti pada foto dibawah ini, diambil dari artikel di internet.

(lembah dago pakar)

Terlihat kolom beton dicor berada di dalam batako. Sistem konstruksinya seperti ini:

(Sumber dari internet, karya tan tik lam yang meraih penghargaan aga khan award)

Dari pembanding diatas,  terlihat semua bangunan diatas dirancang oleh orang yang menganut style sama. Belum menyimpulkan, masih terlalu kurang referensi.

Rasanya pernah lihat kemiripan ini dengan bangunan lain yang saya pernah lihat di sayap dago. Ya,Konstruksi atap dan Pagar! Mulailah tahap penasaran selanjutnya. Masih terekam di memori otak alamat rumah yang saya cari. Ada di jl. Raden patah sayap dago. Terlihat pagar besinya, berupa rangkaian besi beton berdiameter kecil disusun rapat, sangat mirip dengan foto sebelumya. Jarak antar besi betonnya sama, warna cat finishingnya pun sama.

(jln. Raden patah)

Elemen detil bangunan yang sama selalu diulang pada karya lainnya, contohnya pada Konstruksi kusen kayu, konstruksi atap, lisplang, tipe &  merk  genteng, dinding tekstur kasar (dikamprot/dikarpet), pipa &, talang air lansekap, rabat beton, warna cat, pintu garasi, lampu entrance. Ciri khas lain terdapat pada model atapnya, baik pelana maupun perisai, Konstruksinya tidak menganut konstruksi umum berupa kuda-kuda, hanya ada kayu 6/12 yang ditopang begitu saja pada tiap-tiap tumpuannya. Sepintas atap  terasa ringan bila dilihat, atap seperti tak menempel pada bangunan utama, trik yang cerdas..

Terbaca benang merah dari karya yang satu dengan karya lainnya, dari era tahun 80’s sampai sekarang. Saya pribadi masih penasaran seperti apa rancangan pa Tan yang pertama kali dibangun di Bandung?

Semuanya dikerjakan secara rapi & presisi. Sang arsitek rupanya senang dengan hal-hal yang berbau teknis, machinery, teknik perkayuan.  Sampai rasa  penasaran berlanjut kepada siapa kontraktornya. Paling tidak  sudah ada kontraktor yang saya kenal dengan baik dan mau membagi ilmunya pada proyek yang telah saya kerjakan.

Intinya , karya seperti ini selalu ada pada lokasi yang tenang, berusaha menjauh dari keramaian, dan berada di daerah elit. Speechless…

Berbekal pengalaman “mengubek-ubek” kota bandung, TS mulai mencari lebih banyak karya ber- ‘nuansa’ seperti ini. Namun kadang kala terjebak, bahkan merasa tertipu, karena anaknya pun (Tan tik lam) menganut style yang sama………  tetapi, keduanya sama bagusnya. Tidak menjadi masalah.

Belum lagi ditambah karya2 yang copy paste, ambil detail sebagian saja.. sisanya dikombinasikan dengan ide lain si oknum. Begitulah  kira-kira. Hehe…

6 thoughts on “tan tjiang ay

  1. atmoko

    salam buat vicki pernah komen di forum yah,,,aku juga sering cari2 karya beliau masih kok sampai sekarang kdg melihat karya beliau ga bakal bosen,,masih menginspirasi…

    Balas
  2. Mario Andreti

    Pengalaman yang menarik Vikki. Saya juga setuju dengan mas Aat, karya beliau sangat menginspirasi. Disatu sisi karakter bangunan yang beliau buat juga begitu kuat. Sehingga sudah menjadi seperti identitas karya-karya beliau.
    Kalau ada pengalaman lagi monggo di share lagi ya. 🙂

    Balas
  3. gmwg

    koreksi sedikit, foto nomor 2 dari atas itu karya anaknya Pak Tan, namanya Tan Tik Lam, saya kebetulan pernah bertemu dengan owner nya, dulu memang projeknya pak Tan, namun dilimpahkan ke Tan Tik Lam karna ada bbrapa alasan, CMIIW.

    karya mereka memang dibilang mirip, namun Pak Tan memiliki permainan Garis yang tegas dan Pak Lemmy (sapaan sehari-hari Tan Tik Lam) lebih berani bermain dalam bidang dan bentuknya, walau prinsip nya sama.

    Balas
  4. atmoko

    halo vikky,,
    sepertinya karya tan tik lam jaugh lebih nge-pop di banding bapaknya,, mulai menunjukkan dirinya walaupun masih sebenang merah,,,,beberapa rumah kalo diperhatikan ada warna hijau, kuning dsb,,

    salam

    atmoko

    Balas
  5. hendra

    Hi, Viky,…mohon di share juga untuk karya karya tan tik lam serta lokasinya. mohon juga ulasannya, saya suka dengan karya beliau. Terima kasih ya,.. sebelumnya🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s