Berpikir di titik nol

“Tidak ada kebenaran sejati dalam semua ciptaan manusia,

Kebenaran sejtai hanya ada dalam semua ciptaan tuhan.”

-Danny Wicaksono-

Apa  yang salah dengan pernyataan diatas ? kecuali tentang kesahihan yang masih bisa diperdebatkan, menurut saya,  tidak ada yang salah dengannya.

Pernyataan itu hanyalah sebuah pandangan dari seseorang yang berusaha untuk mencari sudut pandang hidup.

Menjadi mungkin untuk dipersalahkan ketika pernyataan itu diucapkan oleh seorang mahasiswa tugas akhir yang hidup di kampus dengan indeks prestasi yang pas-pasan.

Beberapa mereka yang lebih bergelar akan menganggap pernyataan ini tak lebih dari sebuah ke sok-tahuan. Beberapa mungkin lawakan, dan beberapa yang lain mungkin akan menganggukkan kepala dan berusaha untuk mencari anti-tesisnya.

Semua sah saja…..

Dunia kampus dan pembatasan pemikiran.

Di kampus sebagian dari kita terbiasa untuk mendogmakan buku. Apa yang dikatakan di buku adalah kebenaran  yang terkukuhkan dan tidak tergoyahkan. Teori yang tertulis di buku adalah pakem wajib yang menjadi salah jika tidak diikuti.

Perlukah kita seperti itu ?

Perlukah kita membatasi pikiran kita sebatas 15 bab yang tertulis singkat ?

Menurut Derrida (Jacques Derrida,red), buku tidak dapat di percaya karena buku tidak dapat memberikan argumen ketika kita memiliki pertanyaan atas apa yang tertulis di dalamnya.

Jika kemudian kita mempunyai pertanyaan tentang apa yang tertulis, kita hanya bisa berasumsi, lalu kemudian berdebat kusir tanpa tau apakah hal yang kita diskusikan masih relevan dengan maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Setelah sebuah kesimpulan tercetuskan, apakah buku itu masih pantas kita buat sebagai pegangan ?

Setelah ada pemikiran yang kita taruh dalam persepsi kita tentang isi dari buku itu, apakah kemudian buku itu masih bisa kita jadikan sebuah pegangan yang utama ?

Buku adalah buah pikir. Sebuah relik pemikiran manusia yang dituliskan bukan untuk kemudian kita jadikan sesuatu yang akan terus mengikat pemikiran kita, tetapi sebagai sebuah manifestasi pemikiran, sehingga pemikiran itu bisa tersampaikan kepada khalayak ramai bukan sebagai sebuah pernyataan yang terbakukan, melainkan sebagai sebuah batu loncatan baru untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran baru yang lebih baik dari apa yang telah tertuliskan di dalam buku itu.

Apa guna buku, jika kita hanya membacanya lalu mengikuti dengan mentah apa yang di tuliskan dalam buku, itu tanpa ada pemikiran kritis atas apa yang coba untuk disampaikannya ? menurut saya, sejatinya sebuah buku ada untuk di tentang, bukan di amini atau malah ditelan mentah-mentah.

Arsitektur, Pemikiran dan Kekangan kreatifitas.

Sebuah karya arsitektural adalah sebuah manifestasi 3 dimensi terbangun dari pemikiran sang arsitek tentang ruang. bukan hanya sebatas gambar denah, tampak dan potongan.

Membuat sebuah karya arsitektural seharusnya bermakna lebih dari sekedar menyelesaikan gambar denah, tampak dan potongan saja.  Ada hal-hal lain yang seharusnya kita tambahkan dalam bangunan yang kita rancang.

Sebagian dari kita  mungkin melihat merancang sebagai tugas yang harus diselesaikan, hasil keringat dan kerja keras. Mungkin itu  yang membuatnya sedikit lebih berat dari yang seharusnya.

Bagaimana jika kita melihat proses merancang bukan sebagai sebuah tugas yang harus diselesaikan, tetapi sebagai sebuah perjalanan pemikiran arsitektural tentang ruang. Mungkin dengan begitu kita bisa menghasilkan sebuah masterpiece awal karir (daripada hanya sebuah gambar diatas kertas) yang pada akhirnya akan memberikan kita kebanggaan arsitektural (daripada hanya sekedar nilai bagus).

Namun siapa yang harus disalahkan jika kemudian banyak dari kita yang merasa terkekang, tidak bisa menajdi kreatif dan merasa tidak bisa menghasilkan karya yang baik ?

Berhentilah menyalahkan orang lain dan mulailah menyalahkan diri anda sendiri !

Salahkanlah diri anda yang mengekang diri anda untuk tidak menjadi kreatif karena anda selalu menghalangi pikiran kreatif anda dengan berbagai pembatasan yang ada.

Salahkanlah diri anda ketika anda merasa yang anda punyai sudah cukup baik.

Bebaskanlah diri anda dari semua batasan dan lihatlah semua hal dari berbagai sudut pandang. Berhentilah berpikir “mustahil” dan mulailah berkembang dengan berpikir “mungkin”.

Orisinalitas diri

Tulisan ini ingin mengajak anda untuk melihat semua hal yang pernah di buat manusia dari sudut pandang yang berbeda.

Bahwa mereka juga manusia dan bahwa tidak ada jaminan bagi kita untuk tidak bisa melakukan hal-hal hebat yang mereka lakukan.

Bahwa kita juga bisa membuat hal-hal yang sama dengan hal-hal yang mereka buat, yang kita anggap benar.

Bahwa mungkin bagi kita untuk menemukan  kebenaran kita sendiri.

Tidak ada hal yang orisinal di dunia ini, tapi jika kita mau merenung sejenak, melepaskan semua refrensi dan pembatas yang kita temui dalam hidup, melihat semua hal dari esensinya dan membangunnya sendiri dengan pemikiran kita, maka mungkin kita akan menemukan orisinalitas, setidaknya untuk diri kita sendiri.

Dan dengan hal itu kemudian menjadi seorang arsitek yang lebih baik.

Pertanyaan berikutnya, apa sikap anda terhadap tulisan ini?

-Danny Wicaksono-

7 thoughts on “Berpikir di titik nol

  1. ruang17 Penulis Tulisan

    @ wilfreed and indra : silahkan baca tulisan-tulisan yang lainnya juga…😀
    @ adinwardhani : akan sangat membantu bila secepatnya di publish… hehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s