Pencarian Dalam Berarsitektur

Pencarian Dalam Berarsitektur*
by Eko Prawoto

Terpaan global

Globalisasi merupakan fenomena yang senantiasa terjadi. Bahkan dari sejarah kita dapat memahami bahwa budaya Indonesia terjadi sebagai hasil persilangan budaya global. Hanya saja yang kemudian dalam takaran intensitas yang membesar sehingga terasa hilangnya kemampuan sintesis untuk mencerna dan merefleksikan pengaruh luar ini seperti yang pernah terjadi. Yang lebih sering terjadi adalah peminggiran kemampuan serta pengkerdilan daya kreatif sehingga menjadi konsumen pasif yang bangga atas apa yang di hasilkan oleh negara lain. Sikap kritis atas terpaan global ini hampir hampir tanpa perlawanan, terlebih oleh adanya harapan yang berlebihan atas proses modernisasi dari luar budaya kita sendiri serta semakin menciutnya pemahaman serta apresiasi generasi muda atas berbagai pencapaian budaya sendiri. Budaya dianggap sebagai masa lalu yang tidak bernilai dan tidak punya kaitan lagi dengan kekinian.

Pendidikan pun kemudian dituding sebagai salah satu penanggung jawab atas memudarnya wawasan budaya kita. Sementara minimnya biaya penelitian sering kali dikeluhkan pihak akademisi yang berakibat pada minimnya dokumentasi budaya serta menipisnya pengetahuan lokal sehingga kampus nyaris berhenti memproduksi pengetahuan yang berpihak pada kepentingan lokal. Kampus lebih sering berperan sebagai distributor pengetahuan yang lebih bermuatan teknologi untuk kepentingan dan pementingan negara maju atau masyarakat golongan atas. Pendidikan sebagai kekuatan yang diharapkan mampu merubah serta memperbaiki keadaan nampaknya masih berjalan tertatih menyelesaikan persoalan dirinya sendiri.

Pendekatan budaya kemudian menjadi sangat gagap dilakukan, ketrampilan berkomunikasi lintas budaya menjadi sangat sulit dilakukan karena keterbatasan pengenalan budaya lain. Kehidupan manusia menjadi sangat terpilah serta terkotak.

Penalaran ala industri juga memberikan tekanan pada ketrampilan lokal. Kekayaan budaya yang sangat berragam ini nyaris punah hanya karena bahan serta teknologi baru secara serempak mendominasi budaya rancang bangun kita, yang serta merta menggeser meminggirkan endapan budaya lokal.

Format yang cenderung seragam dengan dalih perwujudan standard performa internasional sering kali justru sangat melemahkan bahkan tidak memberi kesempatan berkembang lagi karena menghilangkan adanya keragaman budaya yang kita miliki.

Sementara realita pencapaian kemajuan atau proses modernisasi yang terjadi masih berada pada tingkat permukaan. Kemudian yang terjadi adalah mampu menyerap dan menggunakan teknologi baru namun tanpa adanya kesadaran tentang nilai yang harus mengiringinya seperti displin, jujur, taat asas serta penghargaan tinggi pada nilai kemanusiaan.

Secara sosial kita kemudian mengalami amnesia budaya, ada keterbelahan kepribadian, hidup menjadi tidak seimbang, bahkan nyaris mengalami kekosongan spiritual. Hidup menjadi penuh dengan kekerasan dan kita kehilangan kepekaan pada hal hal yang sederhana dan tidak bisa lagi mensyukuri hidup.Berarsitektur pun diwarnai dengan semangat yang sama, adanya pelombaan dan penekanan berlebih pada pengolahan wajah bangunan, bangunan menjadi kehilangan integritasnya, lebih sebagai komoditas.

Mencari akar

Bagaimana berarsitektur dalam jaman yang bergerak pesat ini? Patokan apakah yang perlu diikuti dan dijadikan dasar pengambilan keputusan? Demi apa kita berarsitektur? Dapatkah arsitektur memperbaiki keadaan? Berbagai pertanyaan semacam ini senantiasa muncul dalam proses pencarian.

Melihat realita yang ada maka perasaan pesimisme dan optimisme senantiasa datang dan pergi.

Ada kegamangan dalam bearsitektur dimasa kini. Begitu banyak pilihan dalam hal bentuk maupun bahan baru hasil industri sebagaimana ditawarkan dalam media. Informasi yang secara cepat berganti itu pada akhirnya juga mempengaruhi cara pandang kita dalam berarsitektur. Seolah pencarian design justru mengabdikan pada perubahan, bukan lagi mencari sesuatu yang tetap atau abadi. Keabadian justru dianggap kuno dan tidak mengikuti jaman. Sementara dari aspek struktur dan konstruksi hal ketahanan serta kekokohan bahan bangunan sangat penting, bangunan dapat bertahan sampai puluhan tahun.

Apresiasi arsitektur pada aspek yang lebih dalam seperti makna ruang, citra atau identitas budaya serta nilai yang dibangunnya sangat kurang dilakukan, kalaupun ada hanyalah sebatas diskusi kelompok terbatas.

Adakah ini suatu krisis, atau suatu tahapan yang memang harus dilalui untuk mewujudkan suatu keseimbangan budaya yang baru?. Adakah proses ini akan berjalan dengan sendirinya atau…apakah yang harus dilakukan?

Pementingan pada aspek tampilan secara berlebih, tafsiran tunggal atas citra estetika budaya barat menjadi alat ukur pencapaian berarsitektur. Arsitektur kemudian justru berbenturan dengan budaya lokal,dengan kehidupan bahkan dengan dirinya sendiri, karena arsitektur diyakini sebagai entitas lepas secara sosial maupun budaya, sempurna pada dirinya sendiri . Benarkah harus demikian?

Kembali ke lokal

Dalam kegamangan serta kegalauan melihat masa depan, dalam percepatan perubahan yang tengah terjadi kita perlu sedikit menepi. Apakah pencapaian manusia yang terdahulu sebagai endapan budaya yang tergelar ratusan atau ribuan tahun benar benar telah kehilangan manfaatnya?

Mampu kah kita menghadapi persoalan kehidupan didepan tanpa bekal budaya masa lalu?

Dalam perbincangan dengan Balkrisna Doshi dia mengingatkan agar kita jangan takut menghadapi perubahan… you know when the butterfly dies but you dont know when the mountain dies, but everything change.

Pada akhirnya kita juga melihat bahwa tidak semua persoalan dapat terjawab dengan kemajuan teknologi. Justru kemudian yang terjadi adalah kesenjangan antara apa yang dipikirkan dan dilakukan dengan perasaan. Ada rongga yang tidak terisi didalam relung jiwa kita bahwa ada kehilangan dalam eksistensi kita seandainya terlepas dari akar budaya.

Dalam perjumpaan dengan Doshi beberapa tahun kemudian dia memberikan pencerahan pandangan bahwa Not everything change, there are many that remain un-change. Inilah hal yang tetap didalam diri kita yang selamaini tertutup atau diingkari keberadaannya. Hubungan kita dengan akar budaya, sumber nilai nilai yang melekat dalam sanubari kita. Bahwa ternyata hidup bukan sekedar aspek teknis ekonomis semata namun juga membutuhkan keserasian dengan aspek kehidupan yang lain. Hidup bukan tentang pemenuhan kebutuhan diri namun juga dalam kebersamaan, hidup tidak hanya meminta namun juga memberi.

Memaknai(lagi) tradisi

Kehidupan adalah perkembangan dan penyempurnaan, suatu proses yang berkesinambungan, bukan mendadak muncul secara serta merta dari luar dirinya. Kehidupan memerlukan suatu awalan. Endapan tradisi yang hampir terlupakan ini harusnya menjadi awalan yang penting. Dengan demikian pengembangan yang terjadi adalah pengembangan dari dalam, bukan perubahan yang penuh kejutan namun terpisah dari akar jiwa kita. Tradisi bukan sekedar mitos yang harus diikuti secara membuta. Namun lebih sebagai endapan pengetahuan dan ketrampilan untuk hidup laras dengan alam. Tidak ada tradisi yang memusuhi alam yang dapat hidup langgeng.

Tradisi sebagai sumber pengetahuan, didalamnya ada banyak ketrampilan dan kearifan lokal yang harus ditemu kenali lagi, ditemukan jiwa dan semangatnya kembali.

Prinsip kesederhanaan dan saling menghidupi perlu diangkat kembali menjadi dasar nilai kehidupan termasuk juga dalam berarsitektur.
Berarsitektur tidak selayaknya hanya sekedar olah bentuk saja melainkan merupakan instrumen untuk menjagai kehidupan, menjagai nilai nilai hidup bersama. Keragaman budaya Nusantara yang belum suntuk kita pelajari hampir terlanjur terlupakan. Namun keadaan belumlah terlambat, masih dapat kita mengupayakan untuk melakukan perjalanan kedalam tradisi budaya sendiri.

Berawal dari apa yang ada

Kepekaan untuk melihat dan memaknai yang biasa dan sederhana perlu ditumbuhkan kembali. Melihat kembali tradisi bukan untuk menegakkan semangat mengunggulkan etnisitas kita, namun lebih sebagai upaya untuk menemukan kesatuan jiwa kemanusiaan kita, menemukan nilai universal dalam keberadaan kita, menemukan kesatuan dalam kepelbagaian.

Pengakuan kepada keberagaman akan juga menyadarkan kita atas keunikan yang dimiliki tiap tempat serta komunitas. bahwa kekayaan budaya haruslah dijaga bukan dimusnahkan dengan penyeragaman paksa. Dalam berasitektur maka kita dapat melihat bahwa tiap site adalah unik dan memiliki kepribadian. Arsitektur haruslah menjadi bagian yang integral dengan site, baik secara social, budaya maupun lingkungan. Keberadaannya haruslah menjadi satu anyaman organic atas struktur alam ini.

Dalam tiap site sebenarnya telah tersedia banyak informasi yang perlu kita lihat dan dengar kehendaknya.

Berarsitektur hanyalah menggaris bawahi kepribadian dari site, memunculkan kualitas yang tersembunyi, memberikan tempat agar ruh mengejawantah.

Kreativitas wong cilik estetika pinggiran

Kemampuan mendesain sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Pada masyarakat tradisional kemampuan kolektif lah yang lebih dominan. Berbagai
pengetahuan dan ketrampilan membangun dimiliki secara merata oleh anggota komunitas. Ketrampilan ini merupakan buah hasil berinteraksi dengan alam dalam rentang waktu yang sangat panjang. Didalamnya terdapat kristalisasi pemahaman tentang karakteristik alam, termasuk juga bahan bangunan. Dalam keterbatasan bahan dan alat yang tersedia justru terjadi pendalaman dan penajaman pada esensi bangunan. Sekalipun demikian perkembangan serta munculnya kreasi baru sebagai varian tetap terjadi.

Semangat hidup laras dalam keterbatasan namun ruang bermain untuk kreativitas tetap ada.

Pengetahuan dalam berinteraksi dengan alam merupakan nilai yang universal dan memiliki nilai kebenaran yang hampir abadi. Sekalipun terjadi perubahan dialam ini namun keberadaan bangunan tradisional tetap mengajarkan tentang kebenaran yang tetap itu. Keterbatasan pengetahuan kita yang katanya lebih modern ini seringkali menghambat apresiasi positif kita.

Kemampuan kita yang cenderung mengolah permukaan menjadi lebih tertarik pada ornamen dan hiasan saja, atau lagi lagi melihatnya hanya sebagai syle. Bukan menggali dan menemukan prinsip prinsip universalnya.

Persoalan konsol pada tritisan rumah misalnya, terutama bukan pada hiasan atau ornamen ukiran kayu nya, namun lebih pada upaya mewujudkan pertemuan kolom dan balok penyangga yang aman terhadap cipratan air hujan di tanah tropis ini. Sehingga guratan guratan atau takikan tukikan kayu bukan sekedar hiasan namun sebagai cara untuk menghambat atau mencegah masuknya air dalam sambungan kayu,karena ini akan membuat kayu basah,lembab dan cepat lapuk. Bukankah kebenaran ini tetap?

Keterbatasanlah yang membuat seorang seniman menjadi kuat dan justru dalam kebebasan kreativitas menjadi tumpul, begitu kata Leonardo dari kota Vinci.
Dan agaknya pendapat dia masih benar. Kampung merupakan endapan dari pengalaman panjang manusia dalam rentang yang panjang untuk mengatasi persoalan dalam keterbatasan. Kampung merupakan jejak pergumulan,negosiasi terus menerus antara keterbatasan dan peluang untuk mewujudkan lingkungan hidup yang nyaman secara kolektif. Kualitas pencapaiannya bukan pada tercapainya yang diidealkan menurut ilmu arsitektur namun lebih pada bagaimana melakukan inovasi dalam keseimbangan kehidupan bersama. Semangat kepasrahan kreatif dalam melawan keterbatasan.Belajar tentang kampung adalah juga belajar tentang penciptaan ruang kehidupan, ruang bagi kehidupan, arsitektur yang sesungguhnya, yang kebenarannya menukik kedalam esensi ruh kehidupan universal melampaui keindahan visual permukaan semusim.

Keindahan yang dikandungnya bukanlah kemewahan atau kemahalan bahan pembentuknya, namun lebih pada keindahan ruangnya, keindahan rongga , bukan keindahan pelingkupnya.

Keindahan yang dimilikinya justru karena kesederhanaannya, kejujurannya, ketidak sempurnaannya, manusiawinya. Kita akan menemukan kembali nilai kemanusiaan, nilai kebersamaan dalam lorong lorong kampung.

Ketrampilan lokal craftmenship masihlah sangat hidup. Kesadaran serta apresiasi positif kita akan memberikan ruang hidup yang lebih panjang. Tradisi yang ada memang belum sempurna, pengembangan tentu masih diperlukan. Hanya saja bentuk atau model pengembangan yang seperti apa yang akan dilakukan. Tentu bukan sekedar perubahan kesan permukaan, namun sebaiknya lebih sebagai pengembangan dari dalam. Kita adalah pewaris yang sah dari budaya tradisi nusantara, di hati kitalah pengembangan itu diletakkan. kesederhanaan sebagai nilai, hidup laras, kepasrahan yang kreatif, melawan keterbatasan, lorong dan ruang kampung, indah karena benar, ada kesungguhan dalam hal hal sederhana : ani ani, sipat,

Senandung alam

Lewat pengenalan dengan budaya tradisi kita akan lebih mengenal alam. Budaya tradisi mengajarkan nilai nilai kehidupan yang laras dengan alam, bukan hubungan yang ekploitatif saling menindas dan hanya memikirkan jangka pendek. Kebenaran budaya tradisi terletak pada kesamaan sifat dan karakternya dengan alam, berada dalam satu kesatuan anyaman dengan alam. Menurut istilah YB Mangunwijaya…

bersatu hukum dengan alam, serta indah karena benar.

Dalam hingar bingar percepatan kemajuan teknologi serta obsesi kita pada kecepatan karena selalu merasa kekurangan waktu, merupakan kendala terbesar untuk mengapresiasi alam. Pengenalan serta menumbuhkan apresiasi pada alam memerlukan kerendahan hati, memerlukan keheningan jiwa untuk mengakui kebesaran Sang Pencipta . Alam merupakan turunan pertama atau buah karya tanganNya, keberadaannya merekam sifat sifat penciptanya.

Di dalam kesederhanaan itulah terkandung nilai nilai kehidupan.

Lihatlah misalnya tentang kejernihan detail pangkal daun atau keanggunan perletakan kelopak bunga, atau keteraturan organisasi tekstur pori2 daun yang menakjubkan, atau kekokohan dan keperkasaan ranting ranting pohon, dan keindahan geometri cangkang siput ….semua itu mengatakan sesuatu tentang alam ini. Ada pesan universal yang disenandungkan seandainya kita sudi mendengarkannya.

Berarsitektur sebaiknya juga meneruskan bahasa alam seperti itu, merupakan kelanjutan dari senandung alam, sehingga mampu menyentuh dan menyapa jiwa manusia. Bukan sekedar memukau sesaat namun juga membangun dialog untuk mengisi kekosongan relung jiwa, dengan demikian arsitektur adalah juga pengalaman bagi batin.

Seperti juga prinsip saling ketergantungan dalam alam ini, demikianlah juga arsitektur, didalamnya ada semangat harmonis untuk menjagai dan memberi hidup, keberadaannya harus juga membagikan manfaat bagi sekitar, seperti semerbak bunga atau kilauan embun di ujung daun.

Ada keindahan bahkan kemewahan namun bukan dalam semangat kesombongan yang hedonistik, melainkan perayaan bagi kebersamaan, keindahan yang memperkuat semangat hidup, sumber inspirasi bagi sesama.

Arsitektur untuk kehidupan Arsitektur seharusnya juga menopang kehidupandalam artian yang luas bahkan juga untuk sekitarnya. Keberadaan bangunan janganlah kemudian justru menjadi beban bagi lingkungannya atau secara social menjadi pemicu kecemburuan dan pertikaian.

Karena itu keberadaan arsitektur haruslah menjadi bagian integral dari anyaman kehidupan disekitarnya, menjadi satu kesatuan kehidupan.

Seperti yang sering dikatakan bahwa pada awalnya kita membentuk bangunan dan kemudian bangunan akan membentuk kita. Maka haruslah juga menjadi kesadaran sejak awal atas nilai apa yang sedang kita bangun dalam berarsitektur itu.

Adakah itu nilai nilai yang memusuhi kehidupan atau nilai yang menopang kehidupan.

Persoalan krisis dalam lingkungan hidup ini semakin menunjukkan bahwa kita tidak dapat hidup sendiri,karena itu perlu menghidupkan lagi semangat tenggang rasa dan saling memberi.

Bukan semangat merasa berhak karena kuat, melainkan merasa bertanggung jawab demi kehidupan bersama.

Setiap elemen bangunan ataupun penataan ruang pada dasarnya juga merupakan pengejawantahan nilai nilai. Misalnya semakin tinggi dan kokohnya pagar rumah akan juga menunjukkan betapa lemah dan rapuhnya struktur social kawasan itu. Semakin besar upaya upaya artifisial untuk meningkatkan kenyamanan akan juga menunjukkan betapa telah merosotnya kualitas lingkungan disitu. Arsitektur seharusnya juga ikut berperan dalam menyembuhkan kondisi yang sedang sakit ini baik secara sosial maupun lingkungan.

Berbagi nilai dalam kebersamaan

Pada akhirnya berarsitektur adalah lebih dari sekedar memproduksi bangunan melainkan lebih pada tindakan mengkonstruksikan nilai nilai. Dan untuk melakukannya bukanlah tanggung jawab serta peran tunggal arsitek. Ini merupakan kerja kolaboratif dengan semangat kebersamaan. Masing masing pihak memiliki peran yang sangat penting didalamnya, mulai dari pemberi tugas, penyedia bahan maupun para pekerja disamping juga arsitek tentunya, sebagai manusia pelaku. Namun ada juga peran yang diberikan oleh site dengan kondisi alam yang melingkupinya serta nilai budaya yang memayunginya.

Menafsir Sikap Kreatif Eko Prawoto
Sitok Srengenge

Pengalaman spiritual, juga hal-hal yang sungguh personal bahkan sebagian yang sosial, bisa diasosiasikan dengan leng. Kata yang semakna dengan lubuk dalam bahasa Indonesia itu adalah ruang natural yang pada dirinya sendiri menyimpan sejumlah paradoks. Ia eksis justru lantaran sesuatu yang absen. Mengada dari yang meniada. Ia mengandaikan keterbatasan sekaligus menyembunyikan ketakterhinggaan, atau ketakterdugaan.

Sesuatu yang mengada sebagai akibat dari hal lain yang meniada sesungguhnya adalah keniscayaan dalam hidup. Dari alam yang kian rusak kita dapat belajar banyak tentang hubungan sebab-akibat itu. Daun luruh demi bunga. Lalu bunga gugur demi buah. Begitu pula dalam budaya, aktivitas manusia, setiap pencapaian mensyaratkan kerelaan atas hilangnya sesuatu. Selalu. Sikap rela atas kehilangan itu bisa juga dimaknai sebagai syarat, tebusan, usaha, pengorbanan.

Medan kreativitas yang kerap dimaknai sebagai `mengadakan` sesuatu yang belum ada pun tak berjarak dari analogi leng. Seluruh pergulatan proses yang ditempuh sang kreator pada dasarnya adalah hal yang mengada serentak dengan berlangsungnya penerimaan atas kehilangan. Begitu pula karya yang dihasilkannya. Eksistensi yang kausalistis ini selaras dengan kearifan Jawa tentang hubungan integral antara sang pencipta dan si tercipta: ananingsun marga ira, ananira marga ingsung, adaku karena adamu, adamu karena adaku. Sang pencipta dan si tercipta tak terpisahkan dan saling mengadakan.

Dari ruang yang sempit tapi sekaligus tak terduga itu, leng, kita juga menemukan kesetaraan makna dengan kreativitas, yakni: menyadari keterbatasan dan mengolahnya menjadi kekuatan, menjadi sesuatu yang baru dan sering kali tak terduga.

Sebagaimana leng, ceruk yang menyuruk ke dalam, menyadari keterbatasan mensyaratkan sikap in world looking, kesanggupan untuk memandang ke jagat dalam diri. Sampai ke dasar lubuk nurani—ruang imajiner yang kedalamannya bahkan tak tertandingi oleh palung samudera. Tak terduga.

Kreativitas (tindakan) manusia, dengan demikian, menentukan kehadirannya, eksistensinya. Sementara itu, seluruh upaya untuk hadir, mengada, tak lain adalah proyeksi diri yang mengandaikan gerak membesar dan menjalar. Serupa lung, sulur tumbuhan.

Kita tahu, lung merupakan perpanjangan dari pangkal. Kehadirannya menegaskan keberadaan yang pokok dan mendasar. Ia wujud dari kemampuan mengelola plastisitas, bergerak mencari cahaya, namun siap dan ikhlas meliuk lentur jika sesuatu yang kaku dan keras menghadang dan membentur. Plastisitas itu adalah kesanggupan beradaptasi. Lung menjulur, serupa tangan terulur. Bukan untuk meminta, melainkan memberi. Sebab lung adalah juga sinom, ulam, tanda berlangsungnya regenerasi, kelahiran entitas baru, yang segar dan muda, seperti harapan.

Gerakan lung bukan pemberontakan. Tak mendobrak, tak menghancurkan. Ia adalah kesinambungan, meneruskan yang sudah ada dengan menambah sesuatu yang baru, merawat yang lama dan mungkin lekang dengan kesegaran yang elok dipandang, mengimbangi yang kaku dengan nuansa kelenturan.
Seorang perenung Jawa, Ki Ageng Suryamentaram, pernah menggunakan lung sebagai perlambang sikap hidup yang adaptatif: genah wayah, empan papan—bagaimana kita membawa dan menempatkan diri secara tepat saat dan tepat tempat. Ajarannya tentang mulur-mungkret, selain mengandung petuah tentang kemampuan ber-iritabilita, juga bisa ditafsir sebagai sikap skeptis yang selalu mempertanyakan kembali segala yang sudah ada dan yang akan diadakan, demi kematangan pemikiran dan tindakan.

Dalam proses kreatif, mulur-mungkret berarti kesanggupan mengerahkan dan menahan diri. Penciptaan hanya mungkin tercapai dengan mengerahkan kemampuan diri dan, di sisi lain, kreativitas juga mensyaratkan adanya kesadaran atas takaran. Konon, kreasi yang baik adalah yang wajar, yang sesuai takaran. Jika benar demikian, maka kesanggupan menahan diri cukup penting dalam proses kreatif, agar hasrat penciptaan tetap terarah, rendah hati, tak berlebihan.

*pernah dimuat di indonesiadesign

2 thoughts on “Pencarian Dalam Berarsitektur

  1. wilfreed

    saya sangat terinspirasi dengan pemikiran beliau (Eko Prawoto).. beliau dengan sikap kritisnya mencoba menembus pemikiran standar mati, pemikiran2 arus mati… untuk kembali mengangkat nilai2 lokalitas, denga tidak meninggalkannya menjadi sebuah cerita lawasan saja….

    sukses untuk ruang 17, blognya sangat menginspirasi…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s