Kelingan

Setelah Mengikutsertakan Rakyat (http://membacaruang.com/2014/02/24/mengikutsertakan-rakyat/) dalam proses revitalisasi desa, seperti dalam project stone-paved road, Home Stay, Coffe and batik Center, dan project from brick to fish, Selanjutnya Singgih S kartono mulai mengikutsertakan Pengunjung Desa untuk ikut membantu memikirkan perkembangan desa yang lebih baik.

Seperti apa kegiatannya?

Berikut ini catatan tiga hari (18, 19, 20 maret 2014) selama mengikuti International Conference on Village Revitalization bertema it’s time back to village di Desa Kandangan dan Desa Caruban, Temanggung. Jawa Tengah.

PEMBERIAN NAMA TEMPAT, biasanya mengandung maksud tertentu. Seperti nama tempat bedasarkan topografi atau keadaan alam tempat itu, Boven Digoel di Irian, misalnya. Ada juga nama tempat yang mengingatkan kita pada profesi utama sebagian penduduknya, seperti Pegangsaan, Penjaringan, dan juga Petukangan. Dan masih banyak lagi, tak terkecuali dengan tempat yang diberi nama karena harapan, seperti nama Dusun ‘Kelingan’ yang dalam bahasa Jawa berarti teringat; mungkin, ada harapan agar Dusun itu selalu teringat.

Dan memang itulah yang terjadi.

Tiga hari mengikuti International Conference on Village Revitalization, kita tak akan pernah lupa dengan ‘kelingan’. Kebun kopinya, jalan batu terasah yang ditata rapih, suara anak-anak yang ceria bermain di sore hari, juga kebun bambunya yang dijadikan tempat Konferensi dan diskusi.

Kelingan merupakan Dusun dari Desa Caruban, Temanggung, Jawa Tengah.

Di dusun inilah, usai Bamboo bike tour pagi hari (spedagi) keliling desa, peserta berkumpul dan berdiskusi. Tapi mengikuti bamboo bike tour yang dipandu langsung oleh ketua pelaksana acara, Singgih S kartono, jangan bayangkan kita hanya dimanjakan dengan sajian pemandangan Desa yang indahnya saja. Bamboo bike tour yang ia buat tak hanya mengajak pengunjung Desa melihat keindahan Desa saja, di program ini ia juga mengajak untuk melihat permasalahan Desa dan kemudian berpikir.

“Sampah ini misalnya,” Ucap Singgih ketika melihat pelastik di parit sawah, ia kemudian menerangkan, “Ada perubahan komsumsi dalam masyarakat desa. karena kemajuan yang pesat, perubahan komsumsi yang sebelumnya tak ada di desa, menjadi ada; seperti komsumsi yang memakai pembungkus pelastik. Desa kemudian memiliki sampah yang mereka sendiri kemudian tak tahu harus diolah seperti apa. Ini perlu sistem pengolahan sampah yang terpadu.“

Bersepeda melewati pematang sawah, Singgih sempat teringat peristiwa meletusnya Gunung Kelud, “Waktu abu letusan Gunung Kelud sampai di Desa Kandangan, saya melihat ada banyak sarang laba-laba di sawah,” Terang Singgih di antara para peserta yang kebanyakan datang dari Jepang, “Ya mungkin alam sudah mengatur cara mengatasi hama secara alami, tapi mungkin karena penyemprotan pestesida, laba-laba di sawah itu ikut mati.”

Penjelasannya mengingatkan saya pada buku ‘Secret Life of The Plant’. Di Rusia pada Oktober 1970, jutaan pembaca koran diperkenalkan pada gagasan bahwa tanaman mengkomunikasikan perasaan mereka pada manusia, ketika Pravda menerbitkan sebuah artikel yang berjudul ‘Apa yang Dikatakan Daun pada Kita.” Reporter Pravda, V. V. Chetkov, mengatakan bagaimana ia menyaksikan kejadian luar biasa ini di Moskow, ketika mengunjungi Laboratorium Iklim Buatan di Akademi Ilmu-ilmu Pertanian Timiryazev. Dengan bantuan perangkat elektronik khusus yang sangat sensitif, Chentkov mengakui “di depan mata saya, kecamba gandum benar-benar berteriak ketika akarnya dicelupkan ke dalam air panas.”

Bisa dibayangkan bagaimana ‘perasaan’ padi di sawah yang disemprot pestisida, padahal ia sudah punya pelindung hama secara alami? Bagaimana mungkin ia bisa menghasilkan padi yang baik, jika ia tak bahagia?

Kami berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta telah dirancang sedemikian rupa sehingga tak satu pun telah diciptakan dengan sia-sia. Tapi kebanyakan dari manusia tidak mengerti.

Singgih kemudian mengajak peserta bersepeda mengunjungi sawahnya, dengan mengembangkan pertanaman campuran atau polikultur, ia membudidayakan berbagai jenis tanaman pertanian pada lahan yang sama. Sistem ini meniru keanekaragaman ekosistem alami dan menghindari pertanaman tunggal atau monokultur.

Sebagai contoh adalah penanaman jagung bersamaan dengan kacang tanah dalam satu lahan dalam satu tahun. Pemilihan pola polikultur ini dipengaruhi salah satunya oleh aspek lingkungan. Seperti pada daerah Desa kandangan yang dimana aspek ketersediaan air begitu kurang, juga irigasi teknis yang tidak tersedia. Juga curah hujan yang tidak merata mungkin tidak akan mencukupi kebutuhan air untuk tanaman yang membutuhkan banyak air seperti padi.

Untuk meminimalisir gagal panen, maka pada musim di mana hujan sangat minim, lahan ditanaman dengan tanaman yang hanya membutuhkan sedikit air, seperti jagung atau kacang tanah.

Bicara mengenai ketersediaan air, Singgih lantas memperlihatkan ‘embung’ tadah hujan yang ia buat. “Dalamnya sekitar 3 meter, sebagai persediaan air pada musim kemarau. Ya ini airnya semua dari air hujan.” Terang Singgih di tepi ‘embung’ yang mengambil setengah hektar dari dua setengah hektar luas sawahnya.

LAIN DI SAWAH, lain juga di jalan pemukiman penduduk. Melintasi jalan beraspal yang mulai rusak, Singgih menjelaskan bahwa jalan beraspal yang dibuat di desa sebenarnya kurang tepat, dan ia mengusulkan kembali pada jalan terasa batu yang ditata rapih dengan pola yang unik.

Peserta yang bertanya-tanya kemudian menjadi tahu, Singgih punya alasan yang kuat;

“Pertama, Ilmu Desa dan Ilmu Kota.” Terang Singgih, “Jalan aspal ini ilmu orang kota dan uangnya, uang Orang Desa. Nah, kalau jalan ini rusak.” Lanjut Singgih yang kemudian memancing berpikir, “Yang punya ilmu siapa? Yang keluar biaya siapa?”

“Juga jalan desa yang di aspal membuat pengendara melaju cepat, padahal di Desa tak dibutuhkan aktivitas yang cepat. Akibatnya bisa timbul kecelakaan di jalan. Lalu kalau hujan, di jalan aspal air tak meresap, tapi mengalir ke tepi jalan, berarti tambah uang lagi buat saluran. Kalau jalan perkerasan batu, air hujan meresap.” Ujar Singgih sambil memperlihatkan jalan perkerasan batu yang tersisa di Desa. “Mungkin sebentar lagi jalan ini akan diaspal pula, karena itu kita mesti berlomba mengedukasi warga.”

Menyimak penjelasannya, saya berpikir kembali. Bukankah ini paradox; satu sisi ia ingin menarik ‘external resources’ untuk masalah di Desa, tapi satu sisi ia juga menghindari ‘ilmu orang kota’.

Ecternal resources yang seperti apakah yang diharapkannya? Jika boleh saya tebak, yang diharapkannya adalah mereka yang dengan segala kerendahan hati mau belajar kembali pada kearifan lokal Desa, agar pembangunan bisa lebih selaras dan punya akar pada tradisi setempat.

Di lingkungan pemukiman warga Desa ini kami lanjut bersepeda, dengan melintasi jalan yang memperlihatkan bahwa sebenarnya Pemerintah setempat tidak punya arah Desain Jalan yang jelas. Seperti terlihat jalan yang di beton hanya pada dua sisi; kanan dan kiri jalan, dan mengabaikan bagian tengah.

“Melihat pembangunan seperti ini warga jadi bingung,” terang Singgih sambil memperlihatkan satu bagian tengah jalan tersebut di depan satu rumah yang kemudian oleh warga disemen, “dan mereka kemudian merespon, yang sayangnya malah membuat Desain Jalan –pembangunan Desa- semakin tidak jelas.”

Bersepeda di pemukiman warga, terlihat rumah-rumah lama dengan atap pelana yang menerus hingga ke teras. Tapi ada juga yang rumah baru dengan gaya ‘rumah sinetron’.

Seperti hadirnya pagar tinggi depan rumah. Kenyataan ini menggambarkan mengenai masalah pemahaman masyarakat yang kurang tepat mengenai keamanan, atau juga semakin kurangnya interaksi sosial dalam Desa. Kami berkesimpulan, bahwa penyelesaian permasalahan keamanan sebenarnya bukan hanya persoalan fisik, tapi juga hubungan sosial yang dibangun bersama-sama.

Tak hanya fenomena pagar yang tinggi, kecepatan membangun masyarakat juga terlihat kurang selaras dengan akar budaya mereka. Rumah-rumah yang terbangun terlihat meninggalkan akar budaya mereka, atap-atap yang tak lagi menjangkau teras, diganti dengan plat datar yang nyaris tak berfungsi menghalau panas dan hujan.

“Masyarakat melihat apa yang ada di media,” Singgih menjelaskan “dan karena cepatnya arus informasi, masyarakat tak punya waktu untuk mengendapkan informasi dan merenungkan. Yang terjadi kemudian hanyalah penerimaan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan mereka.”

Pikir saya; mungkin karena medianya juga yang kurang bagus.

Sepanjang jalan bersepeda, kami dihadapkan dengan sejumlah permasalahan Desa yang sebagian kemudian diangkat menjadi bahan diskusi Siang hari, ketika kami beristirahat, di bawah tenda dalam rimbunan kebun bambu Dusun Kelingan.

Kebun Bambu

 (sketsa Kebun Bambu)

DI HARI KEDUA, 19 maret 2014. Di antara sekitar 45 peserta yang kebanyakan datang dari Jepang. Hadir juga Ibu Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Maria Pangestu. Ikut konferensi di bawah tenda dalam hutan bambu Kelingan, Maria pangestu dan peserta duduk menyimak presentasi-presentasi yang diutarakan langsung oleh mereka yang melakukan program dalam revitalisasi Desa.

Presentasi pertama adalah project From Brick to Fish, oleh Mas Fery dan Mas Burhan.

Di project ini, diceritakan bagaimana usaha pembuatan batu bata di wilayah pertanian Desa ternyata punya dampak negatif pada lingkungan. Petani yang memiliki lahan persawahan, ketika musim kemarau, mengambil lapisan tanah subur (top soil) untuk dijadikan batu bata, ini adalah kenyataan yang mengkawatirkan dan perlu solusi pemecahan masalah.

Fery yang menjadi pembuat batu bata, kemudian bercerita bagaimana permulaan ia mencoba beralih dari pembuat batu bata ke budidaya ikan Lele.

“Awalnya saya bertemu pak Singgih, yang waktu itu bersepeda melewati kebun dan tempat saya membuat batu bata. Setelah ngobrol dan berdikusi, atas usulan pak Singgih, saya jadi tertarik membuat kolam ikan Lele.”

Slide presentasi kemudian memperlihatkan foto kolam ikan Lele yang awalnya ia buat seadanya di kebun.

“Ya ini adalah inisiatif awal saya sendiri, kemudian pak Singgih melihat dan kembali berdiskusi. Lalu direncanakan bantuan pada saya untuk membuat kolam di sebelah rumah, agar lebih mudah terpantau dan kemudian mendapat ‘pendampingan’ dari tenaga ahli di bidangnya.” Terang mas Fery yang kemudian ditambah oleh penjelasan dari mas Burhan hingga selesai.

Pertanyaan menarik dari peserta adalah apakah keuntungan penjualan ikan Lele bisa mencukupi, atau paling tidak sebanding dengan penghasilan dari membuat batu bata?

Mas Burhan yang menjadi rekan mas fery menjawab, bahwa project ini masih dalam tahap permulaan, jadi belum terlihat keuntungan yang maksimal.

“Tapi dari hasil panen terlihat keuntungan yang lumayan cukup, dan warga sekitar yang melihat juga mulai mencoba membudidayakan ikan Lele. Menurut kami, ini adalah project jangka panjang yang kami harapkan juga dapat memberi dampak positif pada lingkungan,” ujarnya.

Selanjutnya ada Ibu Lilis dan mba Yuni, yang bercerita tentang batik Kelingan. Ceritanya cukup menarik; Kebun kopi dan batik center ini ditemukan tak sengaja oleh Singgih ketika bersepeda pagi. Diceritakan bagaimana awalnya Singgih melihat gubuk di kebun kopi dan menemukan tempat juga alat-alat pembuatan batik. Ia kemudian penasaran dan mencari tahu, hingga hari ini terwujudlah project Coffe and Batik center di Dusun Kelingan.

Untuk motif batik sendiri, ibu Yuni menjelaskan bahwa “Kelingan awalnya belum punya motif batik. Saya kemudian mengembangkan motif yang terinspirasi dari alam Dusun Kelingan,” terangnya.

Di layar infokus kemudian terlihat beragam motif batik yang ia buat.

“Ini ada motif daun bambu, batang bambu, … hingga motif biji kopi.” katanya seraya menambahkan bahwa semua motif-motif batik itu adalah bagain dari Dusun Kelingan; hutan bambu juga kebun kopinya.

Ibu Lilis sebagai pendamping juga menceritakan bagaimana ia mengembangkan metode pewarnaan batik dengan menggunakan pewarna alami, yang antara lain dengan menggunakanekstrak daun tembakau.

Presentasi dan diskusi kemudian mengalir di antara peserta dan presentator, dan di sela presentasi dan tanya jawab, Maria Pangestu mendapat kesempatan menyampaikan tanggapannya.

“Saya sudah datang ke acara konferensi di beberapa tempat di Indonesia dan luar Negeri, tapi konferensi di Desa ini memang berbeda dan menarik.” Ujarnya. Dijelaskan bagaimana pengembangan pariwisata yang saat ini sedang diupayakan adalah bagaimana agar para pengunjung (wisatawan) tidak hanya datang menikmati pemandangan lalu pulang. Tapi bagaimana agar pengunjung yang datang juga bisa ikut memberikan sumbangsi pikiran untuk kemajuan Desa.

“Ya Singgih juga cerita, bahwa ini masih percobaan dan belum terbayang nantinya akan menjadi apa. Tapi paling tidak ia sudah mencoba,” ucapnya.

Menanggapi Maria Pangestu, Singgih berkomentar tentang Staf Pemerintahan yang seharusnya menjadi ‘pelayan’ masyarakat.

“Saya orangnya keras terhadap pemerintah yang tak melayani masyarakatnya, tidak peduli dan tidak peka terhadap masyarakatnya. Tapi kalau Pemerintahannya peka dan melayani masyarakat, seperti ibu Maria Pengestu, ya saya jadi patuh,“ kritik dan candanya mencairkan suasana.

Pamit meninggalkan acara yang sebentar lagi berakhir, Maria pangestu kemudian menyempatkan berfoto bersama peserta dan juga warga Dusun Kelingan. Usai berpamitan, peserta kembali duduk untuk menyimak presentasi terakhir hari ini. Dan inilah bagian yang tak kalah penting untuk disimak; presentasi arsitek-arsitek muda yang berkontribusi dalam project Homestay.

Ada Errik Irwan, arsitek yang baru saja resign dari sebuah studio arsitektur di Bali. Ia menjadi arsitek kolaborasi bersama Nico dan Singgih di tiga project Homestay, terutama untuk Homestay Batik dan kopi Center Kelingan.

Ia mengaku awalnya tidak punya rencana khusus terlibat jauh dalam project Homestay bersama pak Singgih, “Awalnya ya saya berkunjung ingin melihat persiapan kegiatan dan membantu sekitar seminggu, tapi melihat keadaan yang tak bisa ditinggal pergi, ya akhirnya saya putuskan untuk ikut hingga tuntas.” Ujarnya memulai presentasi.

Dengan gambar-gambar yang menurutnya ‘yang penting komunikatif dan dimengerti tukang’ ia berkreasi seluas mungkin.

“Ya saya orangnya tidak bisa terlalu serius, jadi kadang saya gambar yang lucu-lucu.”

Terlihat disela-sela gambar-gambar kerjanya yang menyerupai komik, muncul karakter-karakter tokoh yang ia gambar dengan jenaka. Seperti karakter orang sedang berpose pada lubang bulat di dinding bata ekspose. Dan beragam gambar-gambar juga cerita dibalik proses pembuatan yang membuat peserta terhibur juga tercerahkan hingga akhir presentasinya.

Berbeda dengan Errik yang santai dan konsisten. Nico, arsitek dari Desa sekitar kandangan, juga ikut membantu dalam project Homestay, tapi karena kesibukan menyelesaikan tesis S2-nya di Semarang, ia mesti membagi waktu. Seperti juga Kristo dan teman-teman lain yang sedikit banyak telah berkontribusi dalam project Homestay.

 

FH

(image sketsa salah satu Homestay)

DUA HARI TELAH BERLALU, dan sampailah pada Hari terakhir.

Konferensi berlansung sejak pagi hari, menghadirkan sembilan pembicara dari dalam dan luar begeri, antara lain ada Daichi iwase dari Thailand dengan tema Pariwisata yang berkelanjutan, Eko Prawoto dari Indonesia yang menyampaikan pemikiran tentang arsitektur pedesaan, hingga Praveen dari India yang sedikit banyak membawa pemikiran Gandhi tentang Desa.

I would say that if the village perishes India will perish too. India will be no more India. Her own mission in the world will get lost. The revival of the village is possible only when it is no more exploited. Industrialization on a mass scale will necessarily lead to passive or active exploitation of the villagers as the problems of competition and marketing come in. Therefore we have to concentrate on the village being self-contained, manufacturing mainly for use. Provided this character of the village industry is maintained, there would be no objection to villagers using even the modern machines and tools that they can make and can afford to use. Only they should not be used as a means of exploitation of others.” – M. K. Gandhi

Setiap pembicara terus bergantian presentasi dan diskusi, hingga menjelang sore hari sampailah pada presentasi terakhir, Singgih S Kartono.

Tak banyak slide presentasi yang ia tampilkan. “Saya tidak membuat slide presentasi, dan tak ingin bicara terlalu banyak. Apa yang saya lakukan ini yang bisa teman-teman lihat,” Ujarnya.

Ia kemudian hanya menampilkan satu slide presentasi, yaitu selembar media cetak Entho Chotot. Media yang ia buat bersama istrinya, Tri Wahyuni, sekitar tahun 1999, di sinilah ia bercerita bahwa program revitalisasi Desa yang sekarang sudah dilakukannya sebenarnya adalah ide dan harapannya yang sudah ia tulis jauh hari.

“Ya di media Entho Chotot ini saya pernah menulis, terutama tentang Desa nadnagnaK,” terang Singgih.

Saya kemudian mendapat salinan media ini, dan membaca. Seperti tentang jalan Desa, ia menulis; Kondisi Dusun ini mengagumkan, wujud fisiknya teratur, rapi dan asri. Semua jalan sudah ditrasah batu yang ditata sangat rapi dengan pola-pola yang unik.

Mungkin inilah mimpi Singgih yang kini sudah mulai terwujud. Tentang jalan Desa yang ditrasah batu, yang ditata sangat rapi dengan pola-pola yang unik.

“Ya saya tidak bisa banyak bicara tentang apa itu revitalisasi Desa. Tapi teman-teman datang ke Desa, melihat kenyataan masalah di Desa, dan kemudian berdiskusi untuk kemajuan Desa yang lebih baik, itu juga merupakan usaha revitalisasi Desa.” katanya mengakhiri.

Sambil menunggu acara penutupan, peserta kemudian mengisi waktu luang untuk berkeliling Dusun Kelingan. Saya kemudian berjalan-jalan bersama peserta dari Jepang juga Indonesia. Kami mengunjungi pengrajin tas di sekitar Dusun Kelingan.

Melihat pengrajin yang sudah punya pasar yang cukup bagus, saya memilih duduk-duduk di luar rumah pengrajin. Hingga senja turun dan kami kembali ke kebun bambu Dusun Kelingan. Dengan perjalanan yang sesekali melihat keindahan gunung sumbing.

“Can you see that mountain?”

“Yes, I can. Beautiful”

“That mountain name is Sumbing.”

“O ya.. in Japan we have a Mountain, the cone shape like that”

“I know, let me guess; That Fuji, right?

“Wow… you know… ”

“Hehe…😀 “

Dan percakapan kami terus mengalir sepanjang jalan, tentang apa saja yang kami lihat di Desa.

Acara penutupan diisi oleh pertunjukkan tiap-tiap kelompok; Diiring akustik gitar, kelompok biru memulai pertunjukan dengan bernyanyi “… Ingatlah Hari ini…” Yang menariknya, anggota kelompok yang datang dari tiga negara berbeda kemudian membacakan harapan tentang desa, dalam bahasa India, bahasa Jepang, dan tentu saja bahasa Indonesia.

Lain kelompok biru, lain juga kelompok merah. Dan juga kelompok kuning. Masing-masing membawakan pertunjukan dengan cara yang membuat suasana menjadi semakin meriah.

Warga mulai berbaur ketika persiapan pentas Wayang Godhong dilakukan, pertunjukan yang berjalan kurang lebih dua puluh menit ini mengalir di sisa malam, berkisah tentang pak Singgih yang datang ke Dusun Kelingan dan mengajak warga untuk lebih menjaga alam dengan pembangunan yang berakar pada budaya setempat.

“Saya tidak menyangka wayangnya bercerita tentang program ini,” Ujar Singgih menutup acara, “Ya terus berjuang, Hidup Kelingan!”

MALAM SEMAKIN larut ketika peserta kembali ke Homestay. Sebelum esok pulang dan berpisah, mereka yang bermalam di Homestay tepi sawah yang hening, maupun mereka yang bermalam di Homestay kebun kopi yang hangat, mungkin akan memandang langit sama yang penuh bintang, dan kita bisa memetik satu pesan;

Akhirnya, setelah tiga hari mengikuti International Conference on Village Revitalization, apa yang bisa kita dapatkan antara lain adalah pelajaran, bahwa dengan sejumlah permasalahannya, Desa membutuhkan Sumber Daya Manusia (external resources) untuk memberikan sumbangsi pikiran bagi solusi pembangunan Desa yang lebih baik. Ini sebuah pesan tersirat, bagi mereka yang mencari kerja di Kota; it’s time back to village.

🙂

 

-Tulisan dan illustrasi oleh Muh Darman-

*keterangan: Harap maklum jika ada beberapa bagian acara, atau ada peristiwa selama acara yang tidak ditulis, dikarenakan kesibukan penulis sebagai Volunteer untuk Tour Guide di acara ini.😀

Untuk Teto Arsitek Keju

serius? ada tulisan fasis neolib begini [konteks], masak orang miskin dibilang cecunguk? gile beneeer… mendingan nulis di Ruang17  ..” Tulis Andrea Fitrianto dalam komentar di page FB ruang17.

Berikut ini tulisan Andrea Fitrianto yang ditulis untuk dimuat di ruang17, sebagai tanggapan untuk tulisan Farid Rakun yang dimuat di [konteks]

***

1

1 Depan rumah di Bukit Duri, Jakarta.

Dear Teto, makasih sudah nulis panjang lebar untukku. Aku sudah sampai di Rotterdam. Perjalanan dengan pesawat rasanya sebentar sekali kalau duduk sebelahan dengan arsitek Belanda yang ganteng ^_^ Kami sama-sama suka isu informalitas di Selatan Global, lalu kami bicara tentang gerakan arsitek komunitas trans-nasional. Menarik sekali! Sekarang aku bisa positif dan produktif, gak bakal cengeng lagi… Teto, plis deh jangan panggil aku bohay karena aku kaum terpelajar seperti kamu, bukan cuma objek seks!

Kenapa setelah pulang dari misi kemanusiaan di Aceh pasca tsunami aku pergi sekolah ke Belanda? Humanisme tidak bisa lepas dari sejarah Barat/Eropa. Setahuku, ada beberapa sebab dibalik kelahiran pandangan atau pemikiran ini. Abad pertengahan di Eropa ditandai dengan inkuisisi oleh Gereja terhadap para ilmuwan dan penemu, lalu ada serangkaian perang atas nama agama, atau singkatnya Gereja terlalu dominan dalam politik dan peri-kehidupan masyarakat. Lalu di akhir abad kegelapan lahir Renaisans,  masa pencerahan yang tidak hanya menawarkan penemuan-penemuan ilmiah baru tetapi juga kegiatan seni budaya yang cemerlang. Saat itu pengaruh Gereja menurun, sehingga akhirnya Gereja mereformasi diri. Sejak saat itu individu diyakini mempunyai potensi yang penuh pada dirinya, a priori tanpa perlu pengaruh kekuatan religius dan status keningratan.

Pencerahan, Revolusi Perancis, lahirnya kapitalisme klasik dan kekuatan kolonialis, lahirnya Palang Merah, Perang Dunia I-II, adalah tonggak-tonggak sejarah yang telah merevolusi bahasan tentang filsafat, sosiologi, dan teori politik yang kita tahu. Pada tingkat praksis lahir juga sosialisme, komunisme, hak asasi manusia, dan kegiatan kemanusiaan. Sementara itu pengetahuan mulai disebarkan dan diajarkan di universitas dalam bentuk disiplin; sosiologi, ekonomi, antropologi, sejarah, teknik, kedokteran, arsitektur, dsb. Disiplin-disiplin tersebut disebar-luaskan mengikuti keyakinan zaman baru, zeitgeist, zaman yang bebas dari penindasan agama dan feodalisme; zaman modern. Semangat yang sama melandasi pendirian sejumlah perguruan tinggi pionir di Indonesia.

Teto,

dulu Bung Hatta juga belajar ekonomi disini, di Rotterdam. Lalu pulang membawa konsep ekonomi kerakyatan bagi bangsa yang baru merdeka. Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru, jadilah murid Timur yang cerdas, Hatta sudah menjalankan seruan Tan Malaka itu. Tapi, lantas kehidupan bernegara dibawah kepemimpinan Bung Karno kental oleh slogan politik adalah panglima. Kemandirian dan identitas bangsa diserukan lewat semangat anti-kolonialisme dan gerakan Non-blok. Sementara kesenjangan ekonomi masih kentara, akibat penjajahan selama tiga-setengah abad maupun akibat hal-hal lain.

Meski masih dalam gerakan Non-blok, sejak Oktober 1965 negara ini bersanding dengan Blok Barat. Maka, pemerintah adalah pembuka gerbang utama bagi eksploitasi sumberdaya alam dan marjinalisasi masyarakat setempat. Bagi the smiling general Suharto ekonomi adalah panglima, tentu maksudnya ekonomi bagi keluarga dan kroni dia. Obsesi Orde Baru ada pada keteraturan dan ketertiban, yang diperoleh lewat todongan senjata. Maka, untuk mendirikan pondasi kekuasaan dan sekian mercusuar, jutaan rakyat menjadi korban piramidal Suharto. Gerakan mahasiswa yang bermuara pada Reformasi tahun 1998 berhasil menggulingkan Suharto, sekaligus memberi harapan baru bagi kesejahteraan sosial dan penegakan hak asasi di indonesia. Namun kenyataannya, sistim ekonomi pasar atau kapitalisme-akhir saat ini masih menyertakan model penindasan baru, yang terjadi di kota-kota terutama terhadap mereka yang digusur dan tak-bertanah. Maka, komitmen sarjana dan profesional di awal zaman modern tentang nilai-nilai kemanusiaan dan dihapusnya penindasan sudah saatnya didefinisi ulang.

Ngomong-ngomong, kamu sendiri kenapa pergi sekolah ke Belanda? Emang pernah mimpi jadi Starchitect seperti Rem Koolhaas?

Misalnya saja tentang kami yang mendapat beasiswa. Pada tahun 2007 ada hampir duaratus sarjana birokrat dan profesional muda dikirim untuk belajar lebih lanjut di Belanda melalui beasiswa StuNed dari Kerajaan Belanda. Kebanyakan dari mereka adalah PNS dari pemerintahan maupun akademik, lalu pegawai swasta dalam lingkup akademik dan media massa, sisanya adalah pekerja LSM. Ada benang merah diantara serangkaian profesi lintas sektor ini, mereka semua punya akses terhadap masyarakat dan maka dari itu berkaitan dengan kebijakan publik. Sektor birokrasi dan pendidikan tinggi adalah sendi-sendi utama dalam masyarakat dan dengan demikian perlu “diselaraskan” dengan ekonomi politik pasar yang dianut negara pemberi beasiswa.

Maka, beasiswa dari pemerintah asing tidak netral dan tidak bebas nilai. Institusi birokrasi dan pendidikan tinggi perlu diwarnai oleh sarjana lulusan Barat agar institusi tersebut mengadopsi Barat sebagai model; sebut saja structural adjustment! Tentu ada pengecualian dan kasus-kasus kecil dimana terjadi keseimbangan dalam transaksi ini. Namun demikian, sekian kopi hasil penelitian yang tinggal di kampus-kampus di Barat adalah informasi yang luar biasa kaya tentang wilayah dan penduduk negara asal penerima beasiswa. Dan itu semua secara eksklusif milik kampus di Barat. Kalau dulu Barat memerlukan catatan perjalanan dari Dias, da Gama, Columbus, Cook, atau Magellan sebelum merencanakan penaklukan dan lalu Hurgronje memuluskan kolonisasi, kini peran penjelajah pionir dan penyusup tidak diperlukan lagi; cukup dengan menyelenggarakan beasiswa pendidikan tinggi. Pengecualian dan keseimbangan transaksi dapat didekati dan dicapai hanya jika yang bersangkutan mengamalkan apa yang pernah dia teliti sehinga memberi manfaat praktis bagi masyarakat objek penelitiannya.

Aku setuju, bahwa di zaman ini segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Maka itu banyak orang habis waktunya untuk mencari uang. Tapi, ada juga yang tidak betah kalau hidupnya terbatas sekitar kegiatan cari uang dan belanja. Harta benda tidak menjamin kebahagiaan dan ketenangan batin, begitu bunyi kalimat klisenya. Maka, sebagian arsitek berhenti mencari klien orang kaya, keluar dari patronase arus utama, lalu menganut nilai-nilai yang lebih fundamental; kemanusiaan dan kesetaraan dan menemukan ketentraman berkarya, untuk itu bahkan ada yang sampai hilang nyawa.

Teto yang higienis dan estetis, testis kaleee….

Slum atau kampung miskin kota sudah ada sejak permulaan zaman industri pada abad-18, zaman Ratu Victoria di Inggris. Kita mengenal istilah Dickensian untuk narasi tentang kampung miskin kota yang tidak hanya kumuh dan dijangkiti penyakit tapi juga menjadi sarang penyakit sosial sehingga menjadi situs bagi pembunuhan, pemerkosaan, bahkan lebih jauh mereka menuduh slum sebagai lambang keruntuhan moral. Mitos diciptakan untuk mengendalikan perilaku. Moralis borjuis Victorian main otak-atik-gathuk mengaitkan kemiskinan di kota dengan kejatuhan moral hanya untuk menjustifikasi dan melanggengkan dominasi kelas penguasa. Disamping itu, kaum industrial adalah kaum yang pertama kali menciptakan polusi masif sehingga membuat punah satu spesies kupu-kupu. Begitu sejarah mencatat, kalau kita mau bicara tentang etika, moral, dan tanggung-jawab kelas maupun individu.

2

3

2. Warga Pakuncen, Membangun Balai, Yogyakarta. 

Setelah lebih dari dua abad, kita tahu bahwa kaum penguasa pun sering mencuri, membunuh, memperkosa bahkan secara sistematis dan masal melalui tangan-tangan kekuasaaan, seperti dilakukan pemerintah kita tahun 1965. Pengetahuan dan abad informasi membuat jelas, bahwa kondisi ekonomi tidak mutlak menentukan derajat moral manusia. Maka, kini hanya kaum neo-konservatif saja yang mencemooh warga miskin dan memanggil mereka dengan nama binatang, seperti pada judul film Danny Boyle di tahun 2008 Slumdog Millionaire. Awalnya para ahli biologi seperti Darwin yang mengajarkan taksonomi, rantai konsumsi, kompetisi; survival of the fittest. Tetapi, bisakah kita tinggalkan semua itu dalam biologi saja? Cukup sudah korban praktek ekonomi predatorial; para petani-nelayan gurem dan pekerja informal kota yang malang.

Sebelum bicara tentang integrasi pasar, kamu tau kalau lebih dari 80% tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal dan tradisional? Di kota mereka ada di kaki-lima, di sekitar pabrik, dan di kampung-kampung miskin. Pemerintah bukannya enggan menyertakan segenap rakyat angkatan kerjanya ke sektor formal tapi memang tak mampu! Tidak ada kapasitas kelembagaan dan dukungan infrastruktur untuk menyelenggarakan itu. Paham ekonomi pasar menganjurkan pemerintah yang ramping. Yang penting ada aturan dan hukum. Tetapi, Indonesia tidak punya keduanya, birokratnya gemuk dan tidak efisien, aturannya lentur dihadapan uang, hukumnya tajam kebawah tapi tumpul keatas. Bank memang ambisius untuk menyertakan segenap populasi pada pasar reguler meski pemerintah tak siap, karena hanya melalui cara itu bank punya lahan hidup.

Pada dasarnya, ekonomi pasar bersendi pada individualisme dan kapitalisme, kedua unsur ini yang membentuk liberalisme. Kepemilikan pribadi dilindungi a.l. lewat hak cipta/paten, dan merek dagang. Kaum pemodal diuntungkan dalam perdagangan, darimana modal mereka berawal? Paling gampang dari harta warisan atau dari teman bankir! Ini hukum ekonomi yang berlaku berabad-abad di Amerika Serikat. Hasilnya, kini pemerintah federal dan beberapa kota seperti Detroit jatuh bangkrut. Walaupun begitu, kaum super-kaya menguasai sekian aset di dalam dan luar negeri. Lewat lobi, angkatan bersenjata AS bisa diperalat untuk menyerang pemerintah-pemerintah yang menguasai kekayaan alam dan lokasi strategis, geopolitik. Dari pengalaman lokal maupun global, ekonomi pasar tidak menjanjikan apa-apa selain kerusakan alam dan lalu kepunahan ras manusia. Tapi, aku percaya ekonomi pasar saat ini sedang mereformasi diri, tidak bisa lagi business as usual.

Kamu juga pasti sudah tau kalau…

klub sepakbola Inter Milan itu punya orang Indonesia. Volvo, yang pernah menjadi pembayar pajak terbesar bagi Swedia di tahun 1970an, kini milik orang Cina. Lalu apa relevansi kategori lokal / luar negeri serta urusan dukung-mendukung antar negara? Tak ada! Korporasi sudah sejak lama bersifat trans-nasional, sejak pasar modal tersambung secara elektronik. Tetapi, institusi sosial, hukum, dan kenegaraan masih merujuk batas-batas teritorial. Masyarakat setempat tetap terfragmen sebagai kelas-kelas; ada preman, centeng, satpol PP, dan polisi untuk urusan ke(tidak)amanan dan ketertiban umum dalam spektrum infromal dan formal; ada komunitas yang digusur dan tak-bertanah misalnya di pedalaman Amazon, di perbatasan Syria, perbatasan Myanmar, yang digusur kebun sawit di Sumatra, atau oleh isu banjir di waduk Pluit. Maka, trans-nasionalisme tidak hanya relevan bagi korporasi tapi juga untuk jaringan rakyat dan advokasi. Maka akhir-akhir ini ada gerakan Occupy, Indignados, dan Arab Spring. Untuk warga miskin kota, mengenai hak bermukim di kota, sejak sebelumnya sudah ada HIC (Habitat International Coalition), SDI (Slum/Shack Dwellers International), dan ACHR (Asian Coalition for Housing Rights).

Lalu apa urusan arsitek dan perencana kota terhadap perkara-perkara tersebut? Banyak sekali, karena arsitek berurusan dengan pembangunan fisik yang melibatkan lahan, bahan, tenaga, sumberdaya, lewat masa perencanaan, konstruksi, maupun sepanjang masa hidup karya arsitekturnya. Setelah terwujud, mobilitas dan interaksi pengguna, penghuni, dan warga pun diartikulasi oleh arsitektur dan tata ruang kota. Menurut le Corbusier ruang memproduksi sosial , menurut Lefebvre sosial memproduksi ruang; sama saja, visa versa.

Adalah pengerdilan tiada-tara oleh mereka yang menganggap karya Mangunwijaya di Kali Code adalah semata-mata urusan cat warna-warni, lantas sekonyong-konyong karya tersebut mendapat penghargaan prestisius Aga Khan. Betul, bahwa sekian mahasiswa Seni Rupa ikut mewarnai permukiman tepi kali itu. Tapi, bukankah arsitektur di Kali Code dengan bahan organik kayu dan bambu sudah sejak sebelumnya dirancang, dibangun, dan dihuni oleh warga berikut sang arsitek? Pengecatan warna warni itu memperkuat rasa memiliki terhadap kampung sudah terbangun lewat proses partisipatif, ia bukan cause célèbre.

Mangunwijaya juga tidak pernah disebut sebagai Bapak Arsitektur Modern Indonesia seperti halnya Silaban, Soejoedi, dkk. Karena isu dominan tahun 1980-90an sudak tidak lagi soal proyek besar modernisasi Indonesia, tapi ekses-ekses pembangunan dan modernitas; urbanisasi, kesenjangan, penggusuran, kebuntuan saluran aspirasi politik, dsb. Maka itu, saat diminta untuk mengomentari kiprah AMI (Arsitek Muda Indonesia) yang  pada ‘90an sudah “dicap” sebagai Posmodernisme, Mangunwijaya bilang, “Ah, posmo kuno itu!” Terang saja, karena bagi Mangunwijaya posmodernitas utamanya adalah tentang poskolonialisme, regionalisme kritis, demokrasi yang relevan dan pembangunan yang adil bagi rakyat di Dunia-ketiga. Dan dengan demikian bukannya Post-Mo sebagai permainan bahasa seperti dijelaskan dan dipromosikan oleh Jencks dan Venturi. Maka, bagi Mangunwijaya arsitektur adalah keadilan sosial dan demokrasi, bukan seperti pada wacana Arsitektur Barat arus utama yang formalistik, dengan sikap fanatik terhadap pasar ortodoks; arsitektur yang bergantung pada patron, investasi, proyek, dsb.

Hunian atau rumah adalah fungsi arsitektural dengan ragam tipologi yang paling kaya. Sebut saja rumah Aceh, rumah Minang, rumah Jawa, rumah Pondok Indah, rumah susun, kentara sekali beda masing-masing. Masing-masing merepresentasi fungsi, konstruk, nilai-nilai, cara-hidup, estetika, yang etnosentris; satu konsep hunian tidak bisa ditukarkan untuk digunakan dan dihuni oleh yang lain. Konsep rumah modern kota, rusun, ruko, ditawarkan sebagai solusi one size fits all, lantas berapa banyak yang bisa mengadopsi itu? Kecil sekali, tidak signifikan di dalam populasi. Tetapi sayang, hanya ini utamanya yang diajarkan di kampus-kampus arsitektur. Arsitektur arus besar tidak mengakui kebhinekaan.

 4

3. Balai warga pakuncen, Yogyakarta.

Dalam rangka memahami yang liyan dan menyerap aspirasi dalam dunia permukiman rakyat/sosial dan perencanaan kota dikenal istilah partisipasi. Kata ini adalah konsep besar yang mudah disebut tapi jarang dijalankan. Seringkali arsitek perlu pencarian bertahun-tahun diluar comfort zone untuk memanifestasikan konsep ini dalam karya. Bagi John Turner, yang begitu lulus bekerja di Peru hingga transenden dari belenggu formalisme arsitektur, ia berarti adalah tentang kemerdekaan membangun. Sedangkan bagi Hassan Fathy di Mesir, arsitektur bagi kaum papa adalah kubah-kubah lempung di Gourna itu. Lantas, karya Fathy digolongkan dalam kategori regionalisme dalam wacana teori arsitektur yang teknis formalistik. Maka, isu sosial-politis seperti konteks kritis pos-kolonialisme dan hak terhadap akses bahan dan teknologi hilang ditelan proses historiografi arsitektur Barat yang reduktivis dan orientalistik, seperti yang dijelaskan oleh Edward Said.

Ada hal yang lebih relevan untuk dibahas selain trinitas arsitek ortodoks; bentuk, wujud, dan rupa. Kini kita perlu bicara tentang energi, bahan, dan konstruksi, lalu tentang bagaimana melestarikan modal sosial, gotong-royong, pada masa non-krisis dan pada masa krisis; bencana alam dan penggusuran. Di wilayah arus besar, sebagian besar investor kini tidak perlu lagi arsitek karena semakin tersedianya template, bank data, dan drafter. Maka, sudah saatnya para arsitek meninggalkan comfort zone memberi kontribusi sosial yang nyata kalau tidak mau kehilangan patron, pamor, hingga lenyap ditelan zaman, dilupakan masyarakat.

Terakhir, kenapa kamu tulis surat putus emangnya kita pernah jadian? Malu tauk, jalan sama kamu yang hobi nyengir … without a cause :p

Salam hangat,

-Atik

***